Indonesia
NovelToon NovelToon
The Mafia’S Possession

The Mafia’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Roman-Angst Mafia / Cinta setelah menikah
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Jauhi suami saya!"

Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.

Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.

Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#13

Aroma kopi dan kue panggangan yang semula menenangkan di kafe SoHo itu mendadak menguap, berganti dengan aura jengkel yang pekat saat Lean tanpa rasa bersalah menarik kursi di samping Glow. Pria itu menyandarkan punggung tegapnya, menatap istrinya dengan tatapan lurus yang teramat santai.

"Karena kita sudah berada di luar," ucap Lean dengan suara rendahnya yang mantap, "aku butuh kau membelikanku beberapa set pakaian ganti dan perlengkapan pribadi sebelum kita terbang sore nanti."

Glow yang baru saja hendak menyesap cappuccino-nya mendadak menghentikan cangkirnya di udara. Ia menoleh perlahan, menatap Lean dengan dahi berkerut dalam. "Apa? Membelikanmu baju?"

"Ya," sahut Lean tanpa berkedip. Ia menarik kerah kemeja hitamnya sedikit dengan dua jari. "Pakaian formal buatan desainer seperti Collins ini membuat dadaku sesak. Bahannya terlalu kaku dan bikin sesak napas. Aku lebih suka pakaian kasual yang longgar."

CLANG!

Cangkir di tangan Glow mendarat cukup keras di atas piring porselen. Mata cantiknya membelalak sempurna, mulutnya menganga tak percaya mendengar penuturan tanpa dosa dari pria di sampingnya.

"Kau..." Glow menunjuk Lean dengan telunjuk yang gemetar menahan kejengkelan. "Kau ini benar-benar tidak tahu malu, ya?! Kau bertingkah seolah-olah kau ini keturunan asli keluarga Ashford yang terbiasa hidup mewah dan bisa memerintah seenaknya! Wah, tingkahmu benar-benar mengalahkan pemenang piala Oscar. Kenapa tidak jadi aktor saja, Hah?! Bakat menipumu menyedihkan sekali kalau tidak tersalurkan ke dunia seni peran!"

Glow bersedekap, menatap Lean dengan pandangan paling sinis yang ia miliki.

Namun, bukannya merasa tersindir atau malu, Lean justru memiringkan kepalanya sedikit. Sebuah kedutan kecil yang sangat provokatif muncul di sudut bibirnya.

"Aku tidak mau jadi aktor," balas Lean tenang, matanya menatap lurus ke dalam iris mata Glow. "Aku khawatir saat ada adegan ciuman, aku tak sengaja menggigit lidah lawan mainku hingga putus."

DEG.

Kalimat santai namun mengerikan itu menghantam kesadaran Glow. Bayangan lelucon kanibal pria itu kembali berputar di kepalanya. Dengan gemas dan refleks yang tak terbendung, Glow melayangkan pukulan-pukulan pelan dengan tas tangannya ke bahu tegap Lean.

"Kau... kau benar-benar bajingan kanibal!" umpat Glow dengan pipi yang mendadak memerah antara kesal dan merinding. "Stop membicarakan hal-hal menjijikkan seperti itu!"

Lean tidak menghindar sedikit pun. Ia hanya membiarkan Glow memukuli bahunya sampai gadis itu lelah sendiri, sementara Angelina di seberang meja hanya bisa menutupi mukanya dengan kedua tangan—menahan tawa sekaligus pusing melihat dinamika ajaib pengantin baru di depannya.

•••

Beberapa saat kemudian, mereka bertiga melangkah keluar dari area kafe menuju jalanan SoHo yang ramai. Angelina berjalan dua langkah di belakang mereka, meratapi nasibnya yang mendadak berubah menjadi nyamuk raksasa di antara pasangan absurd tersebut.

Namun, tepat ketika mereka melewati depan sebuah restoran bernuansa Italia di seberang jalan, sebuah teriakan nyaring membelah keriuhan trotoar.

"Tolong! Copet! Tas saya dicopet!" jerit seorang wanita paruh baya sambil menunjuk seorang pria berjaket hitam yang berlari kencang menerobos kerumunan orang.

Para pejalan kaki seketika heboh. Ada yang berteriak menunjuk-nunjuk, ada yang panik, namun tak ada satu pun yang benar-benar bergerak mengejar pencopet yang makin menjauh itu.

Glow yang berdiri di samping Lean menghentikan langkahnya sejenak. Ia menyilangkan tangan di dada, memutar matanya malas lalu berbisik lirih yang sejujurnya hanya berniat ia ucapkan untuk dirinya sendiri.

"Untuk apa berteriak kalau dicopet? Bukankah itu cuma buang-buang waktu dan energi?" gumam Glow pelan.

Lean yang memiliki pendengaran sangat tajam seketika mengernyitkan alisnya. Ia menoleh, menatap istrinya dari samping dengan dahi berkerut heran.

"Jika posisi itu dirimu," tanya Lean dengan nada penasaran yang tak tertutupi, "apa yang akan kau lakukan selain minta tolong?"

Glow tersentak pelan, baru menyadari bahwa ucapannya terdengar oleh Lean. Sebelum Glow sempat menyusun kata-kata untuk bersilat lidah, Angelina yang berdiri di belakang mereka justru melangkah maju dan menjawab dengan sangat polos.

"Tentu saja dia akan menembak dari jarak jauh—Mmmph!"

Secara refleks dan dengan kecepatan luar biasa, tangan Glow melayang menutup rapat mulut Angelina. Glow merangkul leher sahabatnya itu dengan ketat, menahan napas sambil mengulas senyuman paling palsu yang pernah ia ciptakan ke arah suaminya.

Lean menyipitkan matanya rapat-rapat. Dahi pria itu berkerut makin dalam, menatap gelagat aneh dan panik dari istrinya. Sebagai seorang penguasa perdagangan senjata bawah tanah yang terbiasa membaca gerak-gerik manusia, Lean bisa merasakan ada sesuatu yang teramat aneh dari reaksi Glow.

Menembak dari jarak jauh? batin Lean. Keahlian macam apa yang disembunyikan oleh gadis bergaun pastel yang hobi mengoleksi barang mewah ini?

Melihat tatapan Lean yang makin mengintimidasi dan sarat akan kecurigaan, Glow cepat-cepat melepas bekapannya pada Angelina lalu mengibaskan tangannya panik.

"A-ayo kita ke mall!" seru Glow dengan nada suara yang dinaikkan satu oktav demi mengalihkan pembicaraan. "Katanya kau butuh baju ganti, kan?! Ayo cepat sebelum penerbangan kita terlambat!"

Tanpa menunggu jawaban Lean, Glow menarik lengan kemeja hitam suaminya itu dengan setengah menyeretnya menuju mobil yang sudah menunggu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Dua puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah pusat perbelanjaan paling megah di kawasan Fifth Avenue. Namun, harapan Glow untuk segera menyelesaikan urusan belanja baju ganti Lean dan pergi dari sana hancur berkeping-keping begitu mereka memasuki area pertokoan premium.

Kegilaan Lean tidak berhenti. Bukannya menuju ke area pakaian pria, langkah kaki panjang Lean justru berbelok santai memasuki sebuah boutique lingerie kelas atas yang didominasi warna satin dan renda-renda halus.

Glow yang berjalan di belakangnya membelalakkan mata sempurna. "Hei! Mau ke mana kau?! Baju prianya ada di lantai atas!"

Lean tidak mengacuhkan seruan istrinya. Pria itu melangkah tenang di antara jemuran gaun tidur tipis, lalu jemari panjangnya mengambil beberapa set lingerie berpotongan sangat minim dengan warna-warna berani seperti hitam legam dan merah marun. Tanpa ragu sedikit pun, Lean meletakkan pakaian-pakaian dalam wanita itu ke atas lengan Glow.

Glow mematung, menatap tumpukan kain tipis di lengannya lalu menatap Lean dengan napas memburu.

"Kau..." Glow menahan suaranya agar tidak menjerit di tengah toko. "Kau menumpukkan barang-barang ini padaku tanpa menanyakan ukuranku lebih dulu?! Dan kau mengambilnya seenaknya begitu tanpa tahu malu?!"

Lean menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya, menghadapi Glow sepenuhnya. Pria itu menyipitkan mata, menatap ke arah dada Glow dari atas ke bawah secara terang-terangan.

Kemudian, dengan gerakan tangan yang teramat santai namun terkesan sangat menyebalkan, Lean mengangkat sebelah tangannya di udara, memposisikan jemarinya seolah sedang mengukur atau meremas udara di depan dada Glow, lalu bergumam kecil dengan wajah tanpa dosa.

"...Rata."

WHAT?!

Napas Glow seketika tercekat di tenggorokan. Matanya hampir melompat keluar dari rongganya mendengar satu kata mematikan yang meluncur mulus dari mulut suaminya.

"Apa kau bilang?!" jerit Glow dengan bisikan histeris, wajahnya memerah padam akibat guncangan harga diri. "Kita ke sini untuk kebutuhanmu, Sialan! Bukan untuk kebutuhanku!"

Lean menyandarkan bahunya pada pilar display, bersedekap dengan santai. "Bukankah ini kebutuhan pria setiap malam, Istriku? Aku harus memastikan kau mengganti warna pakaian dalammu dengan warna lain selain warna merah muda. Aku sakit mata melihatnya."

DUARRR!

Kalimat itu menghantam kesadaran Glow bagaikan ledakan bom atom di tengah toko. Pipi Glow yang tadinya hanya memerah kesal kini membara panas hingga ke leher dan dadanya.

"Kau..." suara Glow gemetar hebat, memegang tumpukan kain tipis itu dengan cengkeraman mencengkeram. "Bagaimana bisa kau tahu kalau aku... kalau aku mengoleksi pakaian dalam warna merah muda?! Hah?!"

Lean mengulas senyum sinis yang teramat tipis, menunduk sedikit mendekatkan wajahnya ke telinga Glow yang sudah terbakar panas.

"Dengan enteng aku harus jujur," bisik Lean rendah, suaranya sarat akan nada godaan yang mematikan, "semalam aku tak sengaja melihatnya saat kita tidur bersama. Dan sejujurnya... merah muda sama sekali tidak cocok dengan label 'istri kanibal'."

Harga diri Pearl Glow Hurt seketika hancur berkeping-keping di atas lantai marmer toko tersebut. Rasa malu, syok, dan amarah yang meledak menjadi satu membuat Glow rasanya ingin mencabik-cabik wajah tampan, mesum, dan sok misterius milik pria di hadapannya saat ini juga!

1
Astrid Kucrit
gek sat set pria kanibal 🤣🤣
Astrid Kucrit: wkwkwkwowk 😂😂
total 2 replies
Astrid Kucrit
geli nggak glow 🤣🤣
Rosdianah 🌷: hahah 🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan khawatir glow,suamimu sangat mencintaimu
Astrid Kucrit
seru nihh
Astrid Kucrit
hajar le 😂😂
Astrid Kucrit
siap2 pisah kamar 😂
Rosdianah 🌷: wkwkkw🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
makin dag dig dug bacanya...keren Thor /Good/
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
hu... semangat 2 kk Thor 💪💪💪🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii ma'aciww 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di hajar kamu glow 🤣🤣
Astrid Kucrit
selamat berbuka puasa 🤣🤣
Rosdianah 🌷: wkwkw 🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
gpp up dikit kk..yg penting tetap semangat 💪 berkarya 🤗🤗
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Bu Dewi
hari ini gak update tah kak..? bolak balik liat tapi belum ada update an/Smile//Smile//Smile/
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍
Rosdianah 🌷: huhu author minta maaf ya kak 🙏🏻 author sedikit sibuk dunia nyata hari ini. besok up banyak 🫠
total 1 replies
Nita Nita
pada hal gampang buat glow tau siapa lean 😎
Rosdianah 🌷: wkwkw 🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
kayak Mr and Mrs Smith Thor😜😜😜
Rosdianah 🌷: ow iya kak, wkwk🤭
total 3 replies
Bu Dewi
update lagi dunkz kak😍😍😍😍😍
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Nita Nita
Glow bkn bisa nembak ya
safaana
cerita othor emang gak pernah gagal meskipun ada sedikit typo tapi ke tutup sama jln ceritanya semangat Thor semoga sehat selalu
Rosdianah 🌷: Ma'aciww banget kak🫶
total 1 replies
safaana
aku penasaran itu Leon Ama kakaknya di banting kemana Thor,,gak ada jejak
Rosdianah 🌷: nanti di bab selanjutnya kak 🙏🏻
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat 2 up Thor 💪💪
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
keren bgt🤗🤗orion...
Rosdianah 🌷: anak siapa itu🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!