Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.
Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.
Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.
Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arthur Sang Penjaga Kuda
20 Tahun Kemudian.
CTAR!
CTAR!
CTAR!
Suara itu terdengar jelas, sebuah suara yang terdengar memilukan. Sebuah cambuk berlapis dingin yang menggores punggung seorang pria.
Namun, rasa sakit itu tidak dirasakan oleh korban bernama Arthur. Hawa dingin membuat tubuhnya yang bertelanjang dada membiru.
Sebuah teriakan memilukan terdengar.
"Hentikan! Aku mohon hentikan! Jangan sakiti Arthur!" isak tangis seorang wanita yang sangat cantik, kedua tangannya ditahan oleh kedua tangan kekar.
Tiba-tiba—mata Arthur yang tadinya terpejam pasrah menunggu kematian, terbuka lebar. Matanya berkilat, berpendar dalam cahaya perak yang mistis.
CTAR!
CTAR!
"Dasar kotoran kuda tidak berguna!" umpat seorang pria yang memegang cambuk dan sejak tadi memukul punggung Arthur dengan cambuk Es nya.
Pria itu—
Arthur terdiam dengan mata menyipit. "Apa ini?" gumamnya, hanya dalam hati. "Apakah setelah bertahun-tahun... akhirnya jiwaku menemukan tubuh yang pantas?" Sudut bibir Arthur berkedut menahan senyuman. Cambukan di belakang tubuhnya sama sekali tidak terasa sakit.
Namun—mata Arthur langsung tajam, ia mengangkat kepalanya. Hal pertama yang dia lihat adalah salju turun di atas kepalanya.
Di hadapannya, beberapa pria dengan jubah biru tampak tertawa menyaksikan penderitaannya. Arthur menoleh—di sana seorang wanita berambut pirang yang sangat cantik sedang meraung, menangis, mencoba menyelamatkannya.
Namun kedua tangannya ditahan.
Tiba-tiba kepala Arthur berdenyut—ingatan tentang pemilik tubuh asli berputar seperti kaset luka.
"Arthur... seorang penjaga kuda yang malang," gumamnya. Sekarang ia tahu, saat ini dirinya berada di wilayah Klan Es.
"Enzo! Aku mohon hentikan! Ini salahku.. bukan salahnya," suara wanita bernama Aurelia itu semakin kecil dan pelan, ia seolah kehabisan tenaganya.
Pria bernama Enzo itu berjalan mendekat. Tiba-tiba, BRUK! Ia menendang perut Aurelia dengan kencang. Tubuh lemah itu terdorong ke belakang hingga tersungkur di atas tumpukan salju yang dingin.
"Tentu saja ini salahmu!" kata Arthur sambil tertawa sinis.
Enzo meludah ke samping, menatap Aurelia dengan tatapan jijik. "Selain terlahir dari rahim wanita murahan... kau malah bermimpi terlalu tinggi? Gadis bodoh sepertimu yang terlahir tanpa memiliki inti roh murni, bagaimana bisa bermimpi memiliki kekuatan Es?!" bentak Enzo menggelegar.
Aurelia terdiam. Air matanya luruh, membeku di pipinya yang pucat. Ia menangis dalam diam. Di tempat terkutuk ini, tidak ada yang peduli pada penderitaannya.
Ayahnya sendiri hanya menganggapnya sebagai sampah yang tidak sengaja terlahir ke dunia. Dan ibunya—wanita malang itu selalu mendapatkan siksaan keji dari istri sah ayahnya serta pelayan-pelayan di kediaman ini.
Namun Arthur... di mata Aurelia, pria itu lebih dari sekadar penjaga kuda. Arthur adalah satu-satunya manusia yang peduli pada kehidupannya yang hancur.
Sret!
Enzo mencengkram wajah Aurelia dengan kasar, memaksa gadis itu mendongak. "Kau ingin memiliki kekuatan Es, bukan?" Mata Enzo yang sebiru kristal es beralih menatap Arthur.
Pria penjaga kuda itu kini bersujud di atas salju dengan tubuh bertelanjang dada, memperlihatkan luka-luka cambuk yang menganga dan bersimbah darah di punggungnya.
"Kalau begitu kita lihat... apa yang bisa kau lakukan untuk menyelamatkan pelayan rendahanmu ini!" Enzo tertawa puas.
Tawa itu menular dengan cepat, disusul oleh gelak tawa mengejek dari semua orang yang berdiri mengelilingi mereka.
"Tidak! Enzo! Jangan sakiti Arthur lagi... aku mohon..." rintih Aurelia dengan wajah memelas, mencengkeram jubah bulu Enzo.
"Kalau begitu selamatkan dia... jika kau bisa mengeluarkan kekuatan Es mu yang tidak berguna itu!" kata Enzo sambil tertawa remeh, melempar tubuh Aurelia kembali ke bawah.
Enzo memberi isyarat ke belakang. Azka—pria berbadan tegap yang memegang cambuk es itu—mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
Ia kembali bersiap mengayunkan cambuk berduri yang siap merobek daging. Semua orang yang menonton menunggu dengan tidak sabar, haus akan tontonan darah. Aurelia hanya bisa meraung histeris, menutup matanya tak sanggup melihat.
Namun, sesuatu yang sama sekali tidak terduga terjadi.
Tepat saat cambuk itu melesat membelah angin dan hampir kembali merobek kulit punggung Arthur, sebuah gerakan kilat memotong takdir. Tangan Arthur terangkat ke udara.
Tangan Arthur yang perlahan membiru dan memancarkan aura sedingin Es murni, mencengkeram kuat tali cambuk Es itu tepat sebelum menyentuh kulitnya.
Suasana seketika hening mencekam. Angin badai seolah berhenti berembus, dan mata semua orang membelalak tidak percaya.
"Kau—" Belum sempat Azka menyelesaikan kata-katanya akibat rasa terkejut yang mendalam, Arthur perlahan berdiri tegak. Dengan satu sentakan kuat, ia menghempaskan cambuk tersebut hingga hancur berkeping-keping, menjadi butir-butir es yang melayang di udara.
Kekuatan sentakan itu membuat tubuh kekar Azka terhuyung beberapa langkah ke belakang. Semua orang shock, saling berbisik panik menyaksikan pemandangan tak masuk akal itu.
Sementara itu, mata Arthur berkilat. Sinar mata yang tampak sangat berbeda dengan pemilik tubuh asli sebelumnya.
Sepasang manik mata itu kini menatap lurus penuh kilat tajam, sedingin gletser abadi, dan terkesan begitu anggun sekaligus tidak tersentuh.
Tidak ada satu pun orang yang sadar—raga lemah itu memang milik Arthur sang pelayan atau penjaga kuda.
Namun, jiwa yang kini menempatinya adalah milik Lucien, satu-satunya penyihir agung yang tidak tertandingi sepanjang sejarah, sang Penguasa Arcania yang paling di hormati dan juga di takuti dunia.
Arthur mengibaskan tangannya santai, merontokkan sisa-sisa bubuk es, lalu menatap sekelompok orang di sekitarnya dengan tatapan intimidasi yang mematikan.
"Apa hanya ini yang bisa dilakukan oleh orang-orang dari Klan Es?" Suara Arthur terdengar pelan, namun getarannya begitu tajam hingga menusuk gendang telinga siapapun yang mendengar.
"Hanya berani melawan orang yang lemah, dan..." Arthur menghentikan kalimatnya sejenak, mengalihkan pandangannya ke arah Aurelia yang menatapnya dengan syok. "...seorang wanita?" katanya lagi, suaranya sangat dingin bak vonis kematian.
Mendengar penghinaan terang-terangan itu, tangan Enzo mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya langsung menyulut harga dirinya yang tinggi.
"Berani sekali kau bicara!" teriak Enzo tajam, wajahnya memerah padam menahan murka. "Kau hanya seorang penjaga kuda rendahan! Siapa yang memberikanmu izin untuk membuka mulut di hadapanku, dasar bodoh!" raung Enzo, suaranya menggema di antara dinding batu.
Menghadapi kemarahan yang meluap-luap itu, Arthur sama sekali tidak gentar ataupun marah. Ia justru menarik sudut bibirnya, tersenyum tipis.
"Aku tidak membutuhkan izin dari siapa pun hanya untuk bicara," ucap Arthur. Suaranya terdengar sangat tenang, mengalun konstan di tengah hujan salju yang membasahi tempat itu. Ia melangkah maju satu demi satu, mengikis jarak. "Ini mulutku... ini suaraku... dan hak itu... adalah milikku."