Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?
Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.
Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17
Pagi menyingsing di atas megahnya Vance Group Tower dengan warna abu-abu baja yang mengancam. Pukul delapan lewat empat puluh lima menit. Gelombang hawa dingin dari AC sentral merayap menembus ruang rapat pleno di lantai lima puluh, lantai tertinggi tempat keputusan-keputusan eksekutif berdarah biasa dieksekusi tanpa belas kasihan.
Di ujung meja kaca oval sepanjang sepuluh meter, duduk Sebastian Vance, di sebelah kirinya, Claudia Ophelia duduk anggun mengenakan gaun wol krem mahal, tangannya memegang cangkir porselen dengan ketenangan yang dibuat-buat.
Di samping Claudia, Liam Vance menyandarkan tubuhnya dengan gaya melambaikan pena mahal, menyunggingkan senyum tipis yang memancarkan keangkuhan seorang pewaris yang merasa di atas angin.
Pintu ganda berlapis kayu mahoni berat terdorong terbuka.
Nico melangkah masuk. Jas hitamnya terpotong sangat sempurna, membalut bahunya yang tegap. Langkah kakinya yang berat dan mantap memutus kesunyian ruangan seketika. Di belakangnya, Matteo membawa sebuah koper kulit hitam yang terkunci rapat.
"Kau terlambat lima menit, Nicolas," ujar Sebastian dingin tanpa mengangkat pandangannya dari dokumen di depannya.
"Ada urusan internal rumah tangga yang harus kuselesaikan lebih dulu, Ayah," jawab Nico datar seraya menarik kursi di ujung meja, tepat berseberangan dengan Liam dan Claudia.
Liam tertawa kecil, suara kekehannya memancarkan nada ejekan yang terselubung. "Urusan rumah tangga? Atau kau sibuk mengurusi pelayan pembunuh yang sedang sekarat di rumah sakitmu, Kak? Kudengar gadis Sinclair itu memicu banyak kekacauan di penthouse-mu."
Claudia mengusap jemarinya dengan lembut, menimpali dengan suara penuh kepura-puraan simpati. "Nicolas, sebagai ibu sambungmu aku hanya khawatir. Kau menahan musuh besar keluarga kita di bawah atapmu sendiri. Itu tidak hanya memicu rumor buruk di kalangan komisaris, tapi juga membahayakan fokusmu mengawal akuisisi PT Vance Logistik."
Nico tidak menyela. Sepasang mata kelabunya menatap Claudia dan Liam bergantian dengan kebekuan yang sanggup membekukan darah.
"Akuisisi Vance Logistik sudah selesai," ujar Nico tenang seraya menyandarkan punggungnya.
Liam mengerutkan dahi, senyum di wajahnya memudar perlahan. "Apa maksudmu selesai? Laporan analisis aset dari pihak independen bahkan belum diserahkan ke dewan komisaris hari ini. Aku dan Ibu sudah menyiapkan laporan pembanding yang membuktikan bahwa nilai valuasi yang kau ajukan terlalu berisiko bagi kas perusahaan."
"Laporan pembanding?" Nico memiringkan kepalanya sedikit. "Maksudmu laporan yang kau peroleh dari dokumen rahasia yang dicoba curi oleh Arleen tadi malam?"
Atmosfer di dalam ruang rapat pleno mendadak merosot ke titik beku.
Porselen di tangan Claudia bergetar halus, menimbulkan bunyi kecil saat beradu dengan tatakannya. Liam tersentak kaku di kursinya, namun dengan cepat berusaha menguasai raut wajahnya.
"A-apa yang kau bicarakan, Nicolas?" potong Claudia dengan nada tersinggung yang dibuat-buat. "Arleen adalah pelayan senior yang kukirim untuk membantumu mengurus rumah. Jangan melempar tuduhan tak berdasar hanya karena kau kewalahan memimpin perundingan."
Nico memberi isyarat pelan pada Matteo.
Matteo melangkah maju, membuka koper kulit hitam di atas meja, lalu mengeluarkan sebuah proyektor portabel dan meletakkan dua buah tablet digital di hadapan Sebastian Vance.
"Tolong periksa, Tuan Sebastian," ujar Matteo tegas.
Layar proyektor di dinding utama menyala seketika.
Video rekaman interogasi berdurasi singkat berputar. Di layar besar itu, terlihat Arleen yang terikat di kursi besi ruang bawah tanah, menangis histeris seraya mengaku secara rinci bagaimana ia dibayar oleh Claudia Ophelia untuk memata-matai ruang kerja Nico dan memfitnah Sienna Sinclair atas kerusakan barang-barang pribadi ibu kandung Nico.
Belum sempat Claudia berdiri untuk memprotes, layar proyektor berganti menampilkan rekaman interogasi kedua, perawat penyamar bersertifikat palsu, Tiffany yang mengakui bahwa ia disewa oleh jaringan pribadi Liam Vance untuk memasukkan racun saraf ke dalam kateter infus Sienna di ruang ICU.
"Ini fitnah!" jerit Liam seraya bangkit berdiri hingga kursinya terdorong ke belakang dengan suara keras. "Ini rekayasa, kau menggunakan orang-orang bayaran untuk menjatuhkanku di depan Ayah!"
"Rekayasa?" Nico terkekeh dingin. "Matteo, tampilkan jejak rekening cangkang."
Di layar proyektor, muncul diagram aliran dana perbankan yang sangat mendalam. Alur dana sebesar dua miliar rupiah mengalir dari rekening atas nama perusahaan cangkang di Kepulauan Cayman, yang dokumen kepemilikan manfaat resminya terdaftar atas nama Liam Vance, langsung menuju rekening agen tentara bayaran di Singapura tepat enam jam sebelum percobaan pembunuhan di rumah sakit terjadi.
Sebastian Vance perlahan mengepalkan tangannya di atas meja. Wajah tua itu memerah karena amarah yang membara. Ia menoleh kaku ke arah istri dan anak mudanya.
"Liam... Claudia..." suara Sebastian begitu rendah dan berat.
"Apakah ini benar?" tanya Sebastian memastikan.
"Ayah! Dengarkan aku dulu!" teriak Liam panik, peluh dingin mulai membasahi dahinya. "Aku melakukan ini demi keluarga Vance. Gadis Sinclair itu berbahaya, Nicolas terlalu terikat padanya. Jika gadis itu tidak disingkirkan-"
"Cukup!" bentak Sebastian seraya menghantam meja kaca dengan telapak tangannya.
Gelas-gelas di atas meja bergetar keras.
"Kau mencoba membunuh seorang saksi kunci di dalam fasilitas rumah sakit keluarga Vance sendiri!" amuk Sebastian, matanya menyipit tajam menatap Liam. "Kau menggunakan cara-cara murah seperti penjahat jalanan, dan kau melakukannya begitu amatir hingga bukti kejahatanmu dipegang penuh oleh saudaramu sendiri."
Claudia memegang lengan suaminya, air mata manipulatif meluncur di wajahnya yang terpoles riasan mahal. "Sebastian, tolong... Nicolas sengaja memancing Liam. Nicolas yang menjebak kami agar dia bisa menguasai seluruh saham utama Vance Group."
Nico berdiri perlahan dari kursinya. Tingginya yang menjulang menutupi pendar cahaya lampu gantung di atas meja, melingkupi Claudia dan Liam dalam bayangan kegelapan yang pekat.
"Aku tidak perlu menjebak kalian," desis Nico, setiap kata yang keluar dari bibirnya menancap tajam bagaikan sembilu. "Kalian hancur karena keserakahan kalian sendiri."
Nico menatap ayahnya. "Sesuai dengan pasal empat belas anggaran dasar Vance Group mengenai pelanggaran berat etika dan kejahatan finansial yang mengancam stabilitas perusahaan, saya mengajukan pencopotan tidak dengan hormat atas Liam Vance dari jabatan Wakil Presiden Direktur Operasional."
Sebastian Vance memejamkan matanya rapat-rapat. Sebagai seorang pemimpin yang berdarah dingin, ia tahu betul bahwa bukti yang dipegang Nico terlalu solid. Jika kasus ini meledak ke publik atau ke tangan kepolisian, saham Vance Group akan anjlok drastis dan otoritas klannya akan runtuh.
"Permohonan disetujui," putus Sebastian kaku, tanpa memandang wajah Liam. "Mulai detik ini, seluruh akses eksekutif Liam Vance dibekukan. Claudia, kau akan ditarik dari dewan pembina yayasan keluarga."
"Ayah!" jerit Liam kaget tak percaya.
"Keluar dari ruangan ini," perintah Sebastian dingin.
Dua pengawal bertubuh tegap pimpinan Matteo melangkah masuk, memegang kedua lengan Liam dan mengawalnya keluar dari ruang rapat pleno secara paksa, disusul oleh Claudia yang melangkah pergi dengan langkah gontai dan wajah hancur penuh kebencian.
Ruang rapat kembali senyap.
Nico merapikan kancing jasnya, menatap ayahnya yang tampak bertambah tua sepuluh tahun dalam hitungan menit.
"Bagaimana dengan gadis Sinclair itu?" tanya Sebastian pelan, suaranya mengandung kelelahan yang dalam.
"Dia tetap berada di bawah pengawasanku," jawab Nico datar. "Kehidupannya adalah urusanku. Jangan ada lagi orang dari keluarga ini yang menyentuh barang milikku."
Nico berbalik dan melangkah keluar dari ruang rapat pleno, meninggalkan lantai lima puluh dengan kemenangan mutlak di tangannya.
...****************...
Sementara itu, di penthouse.
Sienna terbangun di atas tempat tidur empuk di kamar utama lantai atas. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui dinding kaca besar, membiaskan pendar hangat di atas sprei sutra putih yang bersih.
Tubuhnya terasa jauh lebih ringan. Rasa nyeri hebat di rusuknya telah mereda menjadi rasa pegal yang samar berkat suntikan vitamin dan antibiotik dosis tinggi yang diberikan Dokter Leo beberapa jam lalu.
Sienna perlahan duduk di tepi ranjang. Ia menatap sekeliling kamar utama yang luas dan mewah itu. Kamar ini beraroma kayu cendana dan citrus maskulin, aroma khas yang selalu melekat pada tubuh Nico Vance.
Pintu kamar mandi berdenting pelan. Seorang perawat muda wanita berseragam rapi, perawat baru yang dibawa langsung oleh Dokter Leo melangkah masuk membawa nampan berisi sarapan hangat dan obat-obatan.
"Selamat pagi, Nona Sienna," sapa perawat itu dengan ramah dan sopan. "Saya Maya, perawat pribadi yang ditunjuk langsung oleh Tuan Nicolas untuk mendampingi masa pemulihan Nona."
Sienna tersentak pelan, merasa asing dengan perlakuan hangat yang baru pertama kali ia terima di tempat ini. "S-selamat pagi Maya. Dimana... di mana Bi Arleen?"
Maya tersenyum tipis seraya meletakkan nampan di atas meja samping tempat tidur. "Pelayan Arleen sudah dipindahkan dari rumah ini atas perintah Tuan Nicolas tadi malam. Nona tidak perlu khawatir lagi. Mulai sekarang, seluruh kebutuhan Nona akan diurus oleh tim medis resmi dan staf terpercaya dari kantor pusat."
Sienna menggigit bibir bawahnya yang pucat. Rasa tidak percaya masih menggantung rapat di benaknya. Arleen, wanita yang selama ini menjadi sumber siksaan dan fitnah tak bertepi telah disingkirkan oleh Nico sendiri.
"Tuan Vance... tidak menghukum saya?" bisik Sienna pelan, lebih pada dirinya sendiri.
"Tuan Nicolas sendiri yang memerintahkan agar Nona dipindahkan kembali ke kamar utama ini," jawab Maya seraya menyiapkan pil obat. "Beliau juga menginstruksikan agar Nona istirahat total sampai kondisi fisik Nona benar-benar pulih."
Sienna menundukkan kepalanya, menatap jemari tangannya yang saling bertaut di atas pangkuan. Dadanya bergemuruh oleh campuran emosi yang kacau. Nico Vance adalah pria yang telah merenggut kebebasannya, pria yang mengurungnya di kamar linen yang dingin, dan pria yang memandangnya sebagai wadah dendam atas kematian ibunya.
Namun, pria itu pula yang baru saja menyelamatkannya dari jebakan racun di rumah sakit, membongkar kebohongan Arleen, dan memindahkannya kembali ke dalam kemewahan kamar ini.
Siapakah Nicolas Vance yang sebenarnya? Apakah ia seorang iblis tanpa belas kasihan, ataukah ia jiwa yang terluka dan kejam akibat penderitaan masa lalu?
Malam harinya, pukul sembilan.
Lampu-lampu kota memancarkan kilauan bagaikan hamparan permata di balik dinding kaca kamar utama.
Sienna duduk di atas sofa kulit di sudut ruangan, terbalut sweter rajut longgar berwarna krem. Ia sedang membaca sebuah buku novel tua yang ditemukannya di rak kamar ketika suara langkah kaki yang familiar terdengar mendekati pintu.
Klik.
Pintu kamar terbuka.
Nico melangkah masuk. Pria itu tampak lelah. Kemeja hitamnya terbuka dua kancing di bagian atas, dan dasinya telah dilepas. Wajahnya yang tegas memancarkan kelelahan fisik dan mental setelah seharian bertarung di meja perundingan politik keluarga Vance.
Sienna refleks berdiri dari sofa, menutup bukunya rapat-rapat. "T-Tuan Vance..."
Nico melangkah pelan menuju meja bar kecil di sudut kamar, menuangkan sedikit whisky ke dalam gelas kristal tebal. Ia meminumnya dalam satu tegukan lambat, merasakan sensasi terbakar yang merayap turun ke tenggorokannya.
Setelah meletakkan gelasnya, Nico memutar tubuhnya dan menatap Sienna.
Tatapannya tidak lagi dipenuhi oleh api kemarahan liar seperti malam-malam sebelumnya, melainkan sebuah keheningan yang dalam dan pekat.
"Bagaimana tubuhmu?" tanya Nico, suaranya serak.
"Sudah jauh lebih baik, Tuan Vance," jawab Sienna pelan. "Terima kasih... atas bantuan Dokter Leo dan perawat Maya."
Nico melangkah mendekat, berhenti beberapa langkah di hadapan Sienna. Pria itu menatap wajah Sienna yang kini mulai dialiri Rona kehidupan.
"Liam dan Claudia sudah disingkirkan dari perusahaan," ujar Nico datar. "Mereka tidak akan bisa menyentuhmu lagi di rumah ini."
Sienna menahan napasnya. "Kenapa... kenapa Tuan Vance melakukan semua ini? Tuan bisa saja membiarkan Bi Arleen menyalahkan saya atau membiarkan saya mati di rumah sakit."
Nico menyipitkan matanya tajam. "Kau pikir aku melindungimu karena aku peduli padamu, Sienna?"
Sienna menundukkan kepalanya, tidak berani menjawab.
Nico maju satu langkah lagi, jarak di antara mereka kini begitu dekat hingga Sienna dapat merasakan hawa panas yang memancar dari tubuh Nico. Nico mengulurkan tangannya, ujung jemarinya yang dingin menyentuh dagu Sienna, mengangkat wajah gadis itu perlahan agar mata mereka saling mengunci.
"Kau adalah tawananku," desis Nico, suaranya rendah dan dalam, bergema tepat di depan wajah Sienna. "Nyawamu, penderitaanmu, dan kebebasanmu adalah milikku. Aku tidak akan membiarkan Liam, Claudia, atau siapa pun merenggut hak itu dariku. Jika ada yang berhak menghancurkanmu... itu hanya aku."
Kata-kata itu dingin dan penuh kepemilikan yang murni, namun di balik kebekuan itu, Sienna dapat merasakan ketegangan yang asing dari cengkeraman halus jemari Nico di dagunya. Cengkeraman itu tidak menyakiti, sebuah kontras yang membingungkan dibandingkan dengan kekasaran Nico di masa lalu.
"Saya paham Tuan Vance," bisik Sienna seraya menatap lurus ke dalam sepasang mata kelabu yang kelam itu. "Saya tidak akan lari."
Nico membeku sejenak. Kejujuran dan kepasrahan murni di mata cokelat Sienna menghantam kesadarannya bagaikan ombak yang membentur tebing batu. Pria itu perlahan melepaskan cengkeramannya dari dagu Sienna, melangkah mundur satu langkah.
"Istirahatlah," ujar Nico kaku seraya membalikkan tubuhnya. "Lusa kita akan pergi ke kediaman utama keluarga Sinclair yang lama."
Sienna tersentak kaget, matanya membelalak lebar. "R-rumah lama Ayah...?"
"Rumah itu sudah disita oleh bank dan dilelang minggu lalu," kata Nico tanpa menoleh seraya berjalan menuju pintu kamar. "Aku baru saja membelinya kembali atas namaku. Mungkin sana ada petunjuk tentang kematian ibuku dan kau yang akan membantuku mencarinya."
Sebelum Sienna sempat mengajukan pertanyaan lebih lanjut, Nico telah melangkah keluar dan menutup pintu kamar rapat-rapat, meninggalkan Sienna yang berdiri terpaku di tengah ruangan yang sunyi.
Sienna menyentuh dagunya yang masih menyisakan rasa dingin dari jemari Nico. Rumah lamanya, tempat di mana seluruh kenangan kebahagiaan masa kecilnya tercipta sebelum bencana itu menghancurkan segalanya, kini berada di tangan pria yang paling membencinya.
Di balik jendela kaca yang dingin, gerimis tipis kembali turun membasahi kota. Sienna memejamkan matanya rapat-rapat, menyadari bahwa perjalanan kembali ke masa lalu tidak hanya akan membuka luka-luka lama yang terpendam, tetapi juga akan menguji batas antara dendam, kebenaran, dan ikatan berbahaya.
...Bersambung......