Indonesia
NovelToon NovelToon
The Shadow'S Sanctuary

The Shadow'S Sanctuary

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Iblis / Akademi Sihir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Lucius Aurelius

Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 34

Bab 34: Desah di Antara Tirai Kabut, Peta Petualangan, dan Cita-cita di Ujung Horizon

​Malam di Istana Gunung Seribu Kabut selalu datang bersama helaan napas salju yang dingin dan keheningan yang agung. Cahaya bulan memantul pada pilar-pilar kristal es, menciptakan pendar keperakan yang menembus celah jendela sutra di kamar utama. Di dalam ruangan yang hangat oleh sihir pemelihara suhu, keheningan malam itu sirna sepenuhnya, berganti dengan gejolak gairah yang tak pernah surut.

​HAAAH... HAAAH...

​Hembusan napas William memburu di atas ceruk leher Kitsune. Tubuh tegapnya yang dipenuhi guratan luka yang mulai memudar menempel rapat pada kehalusan kulit mulus sang Dewi Rubah. Setiap kali jemari William meremas pinggang ramping Kitsune, ketujuh ekor perak wanita itu mengembang raksasa, mengibas lembut menutupi sprei kasur kapuk yang telah berantakan, membungkus mereka berdua dalam kepompong bulu hangat yang sarat akan aroma bunga purba.

​"W-William..." bisik Kitsune seraya memiringkan kepalanya, membiarkan bibir William menjelajahi garis rahang hingga ke tengkuknya. Sepasang telinga perak di atas kepala Kitsune bergetar hebat, merona merah keemasan akibat stimulasi yang meluap-luap. "Pelan-pelan... Suamiku..."

​Namun, bisikan lembut itu justru disambut oleh pacuan gerakan William yang kian intens dan dalam. Penyatuan dua darah purba—Hati Iblis yang membara dan Darah Dewi Rubah yang mengalir fleksibel—meledakkan gelombang kehangatan kosmik di dalam kamar. Setiap sentuhan, kecupan, dan penyatuan fisik mereka malam demi malam bukan sekadar pelampiasan gairah, melainkan penyelarasan jiwa yang menyembuhkan sisa-sisa luka pembuluh darah William dengan amat sempurna.

​Kitsune memekik pelan, melingkarkan kedua kaki mulusnya di pinggang William, menyatukan jemari lentiknya di antara sela-sela jari tangan William. Ciuman panas kembali meletus di antara bibir mereka, menyerap seluruh desah dan bisikan cinta hingga fajar perlahan menyingkap kegelapan malam.

​Keesokan harinya, sinar keemasan pagi menerobos celah tirai.

​Di ruang makan utama istana, Hephaestus duduk di atas kursi kayu raksasanya dengan mata merah, lingkar hitam tebal di bawah mata, dan raut wajah yang teramat sangat menderita. Sang Dewa Pengrajin memegang cangkir kopi hitamnya dengan tangan yang gemetar hebat.

​CREAK...

​Pintu ruang makan terbuka. William dan Kitsune melangkah masuk dengan wajah yang begitu segar dan bercahaya. Kitsune mengenakan kimono rumah tangga berwarna merah muda ramping, berjalan dengan anggun seraya menyandarkan tangannya di lengan tegap William. William sendiri tampak sangat bugar, energi jiwanya memancar penuh ketenangan.

​Begitu melihat pasangan suami-istri baru itu duduk berdempetan di depannya, Hephaestus seketika menghentakkan cangkir kopinya ke meja hingga airnya memercik!

​BAM!

​"BISAKAH KALIAN BERDUA MEMBERIKAN WAKTU TIDUR YANG LAYAK UNTUK SEORANG KAKEK TUA?!" teriak Hephaestus dengan suara cempreng raksasanya yang penuh dengan keputusasaan!

​William tertegun, merapikan kerah bajunya seraya menatap Hephaestus bingung. "Ada apa denganmu pagi-pagi begini, Hephaestus? Kau tampak seperti zombie yang baru bangkit dari kubur."

​"ADA APA KATAMU?!" gerutu Hephaestus seraya menunjuk-nunjuk kamar utama di ujung koridor dengan wajah merah padam! "SEPANJANG MALAM! DARI DUA JAM SETELAH MATAHARI TERBENAM HINGGA AYAM JANTAN BERKOKOK! SUARA DESAHAN, LENGUHAN, DAN GUNCANGAN TEMPAT TIDUR KALIAN MENEMBUS DINDING KRISTAL ISTANA INI!"

​Pfft!

​Kitsune yang sedang menuangkan teh herbal seketika terkekeh renyah, menutup mulutnya dengan ujung lengan kimononya seraya mendelik jahil. "Ooh... Jadi suara kami mengganggu tidur nyenyakmu, Hephaestus?"

​"MENGGANGGU? ITU BUKAN HANYA MENGGANGGU, KITSUNE! ITU MENSIKSA BATIN DAN TELINGAKU!" cerca Hephaestus seraya meremas rambut berjanggutnya frustrasi. "Tiap kali aku hampir memejamkan mata, suara William memanggil namamu dan kibasan ekor perakmu membuat seluruh pondasi istana bergetar! Aku ini Dewa Penempa Besi, bukan pendengar rekaman percintaan kalian semalaman! Kalian benar-benar tidak punya rasa kasihan pada bujang tua sepertiku!"

​William terbatuk-batuk kecil, wajahnya memerah tipis akibat teguran telanjang tersebut, namun ia tetap tersenyum santai seraya merengkuh pinggang Kitsune dari samping. "Maafkan kami, Hephaestus. Tapi penyembuhan jiwaku membutuhkan... proses yang intensif."

​"PROSES INTENSIF APA YANG HARUS DILAKUKAN SETIAP MALAM TANPA HENTI?!" jerit Hephaestus menepok dahinya sendiri, membuat suasana sarapan pagi itu mendadak penuh dengan gelak tawa.

​Setelah sarapan pagi yang penuh dengan omelan kocak sang dewa tua, mereka bertiga berkumpul di meja bundar ruang tengah. William membentangkan sebuah peta dunia kuno yang terbuat dari kulit binatang purba.

​"Satu bulan dari sekarang, pertandingan final Koloseum Aethelgard akan selesai," ujar William seraya menunjuk titik kota Aethelgard di peta. "Setelah semua urusan di benua ini tuntas... aku berniat untuk pergi menjelajah. Aku ingin menjelajahi seluruh benua yang ada di planet ini untuk mencari keberadaan pecahan kunci dimensi dan petunjuk menuju benua asal tempat tinggal keluargaku."

​Mendengar kata menjelajah, mata tua Hephaestus yang semula kusam seketika berbinar-binar terang benderang bagaikan berlian!

​"MENJELAJAH?!" seru Hephaestus seraya meloncat dari kursinya hingga meja kayu bergetar! "Kalian serius?! Kita akhirnya akan meninggalkan benua perbatasan yang membosankan dan penuh debu ini?!"

​Hephaestus menari-nari kecil seraya mengayunkan martil penempaannya di udara dengan kegirangan luar biasa. "BHAHAHA! AKHIRNYA! Puluhan ribu tahun aku terkurung di gubuk bawah tanah ditemani bau besi tua! Aku ingin melihat benua raksasa di seberang samudra, meminum anggur dari Benua Elves, dan menempa bahan-bahan kuno yang belum pernah tersentuh oleh manusia! Aku ikut! Aku pasti ikut bersama kalian!"

​William terkekeh melihat tingkah kegirangan mentor tuanya. Ia kemudian berpaling menatap Kitsune yang duduk tenang di sisinya.

​"Bagaimana denganmu, Kitsune? Apakah kau mau menemani petualangan ini?" tanya William lembut.

​Kitsune menyunggingkan senyuman anggun, jemari lentiknya mengusap punggung tangan William. "Ke mana pun suamiku melangkah, di situlah rumahku berada. Lagipula... aku merindukan sensasi berpetualang ke benua-benua raksasa itu lagi."

​Kitsune kemudian menyeruput tehnya pelan seraya menerawang jauh. "Sebenarnya... ribuan tahun lalu, aku sudah pernah menjelajahi hampir seluruh benua di planet ini. Bahkan... aku pernah menapakkan kaki di benua asal tempat tinggalmu, William."

​William dan Hephaestus seketika terbelalak kaget.

​"Kau... pernah ke benuaku?" tanya William terpana.

​Kitsune mengangguk pelan. "Ya. Dulu, saat aku baru tiba di benua tersebut, tempat tinggalmu sedang dilanda perang dahsyat. Pasukan Iblis Kegelapan sedang menyerbu benteng-benteng manusia. Aku yang saat itu hanya kebetulan lewat dan baru mendarat, tidak sengaja bertemu dengan pasukan iblis itu. Karena mereka mengganggu jalanku, aku membantu perang tersebut sebentar—membantai satu divisi jenderal iblis—lalu setelah situasi beres, aku langsung pergi melanjutkan pengembaraanku."

​William menggelengkan kepalanya seraya tersenyum takjub. "Jadi kau pernah menjadi pahlawan tak dikenal di benuaku... Dunia ini sungguh sempit."

​William memiringkan tubuhnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata emas kemerahan Kitsune dengan raut wajah yang penuh ketulusan mendalam.

​"Kitsune..." panggil William pelan. "...selama ribuan tahun kau mengembara, bertarung, dan melarikan diri dari kejaran para dewa... sebenarnya apa cita-cita terbesar di dalam hidupmu?"

​Suasana di sekitar meja mendadak hening dan hangat. Kitsune tertegun mendengar pertanyaan tersebut. Ia menyandarkan kepalanya di bahu tegap William, mengaitkan jemarinya di jemari William seraya berbisik dengan suara yang teramat sangat merdu.

​"Cita-citaku sederha, William..." bisik Kitsune penuh kepasrahan jiwa. "...aku hanya ingin bisa hidup dengan tenang, menghabiskan sisa keabadianku... bersamamu. Tanpa ada lagi perburuan, tanpa ada lagi perang, hanya ada kau, aku, dan kehangatan keluarga kita."

​Mendengar jawaban yang begitu tulus dari sang istri, dada William bergetar hangat. William memiringkan kepalanya, mencium kening Kitsune dengan teramat sangat dalam.

​"Aku berjanji padamu, Kitsune..." janji William mantap dengan pendar mata yang tak tergoyahkan. "...setelah semua pertempuran ini berakhir, aku akan mewujudkan cita-citamu itu. Kita akan membangun tempat tinggal yang tenang dan hidup bahagia bersama."

​Kitsune tersenyum bahagia, menyembunyikan wajahnya yang merona di dada William.

​Namun, momen kehangatan romantis yang begitu indah itu—

​"WOI! JANGANKAN MULAI LAGI DI SINI, OKE?!"

​Hephaestus mendadak berteriak seraya menggebrak meja, memecahkan suasana manis mereka secara instan!

​Hephaestus menunjuk William dan Kitsune dengan raut wajah melipat dan kesal setengah mati. "Apakah kalian berdua tidak punya rasa malu sedikit pun bermesraan dan saling mengumbar janji manis tepat di hadapan mukaku yang tua ini?! Hah?!"

​William dan Kitsune saling memandang satu sama lain selama satu detik, menyunggingkan senyuman jahil yang sama, lalu menoleh ke arah Hephaestus dan menjawab secara serentak dengan suara nyaring:

​"TIDAK!"

​"BHAHAHAHAHAHA!"

​Gelak tawa meletus hebat di dalam Istana Gunung Seribu Kabut! Suara tawa bahagia William, kekeh renyah Kitsune, dan gerutuan konyol Hephaestus membumbung tinggi menembus tirai kabut pagi, menyelimuti hari-hari persiapan menuju pertempuran final dengan kehangatan cinta dan persahabatan yang abadi.

1
Ed Troivan
lnjt👍
Ed Troivan
👍👍👍💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!