Sudah dua tahun Senja menikah dengan Adam. Pernikahan mereka memang berawal dari ketidaksengajaan. Saat itu, Adam di tinggalkan oleh calon istrinya bernama Arum satu minggu sebelum pernikahan. Selama pernikhan dua tahun itu kecanggungan sangat terasa di antara mereka. Memang tak ada tuntutan apapun dari keduanya dalam pernikahan itu. Mereka menikah hanya demi menyelamatkan harga diri keluarga Adam.
Pernikahan dingin dan hanya selayaknya seperti orang yang sedang ngkost, karena memang mereka berdua adalah teman kampus. Walau Senja tak pernah mengenal Arum. Namun enam bulan terakhir kedekatan mereka mulai terlihat walau Adam masih memberikan jarak untuk Senja.
Tiga bulan terakhir Adam mulai berubah dan sering pulang larut bahkan sering ada tugas ke luar kota. Hingga akhirnya Senja tahu kalau Adam kembali menjalin hubungan dengan Arum. Dan ternyata Arum juga sudah menikah,"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja 13
Angkasa tidak menghiraukan Adam. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Senja yang berdiri menahan napas.
"Bu Senja," panggil Angkasa datar, suaranya tak membantah.
"Ikut saya sekarang. Ada berkas analisis keuangan mendesak yang harus kamu revisi bersama saya."
"Tapi Pak Angkasa, maaf, ini urusan pribadi saya dengan istri saya..." potong Adam menyela, mencoba menegakkan dadanya di depan Angkasa.
Angkasa mengalihkan pandangannya ke arah Adam. Tatapannya begitu dingin, menusuk bagai bilah pisau es.
"Urusan pribadimu mengganggu ketertiban di area perusahaan saya, Saudara Adam," desis Angkasa pelan, namun sanggup membungkam Adam seketika.
"Dan dokumen di tanganmu itu adalah milik staf saya. Kembalikan."
Rian melangkah maju satu tapak, secara halus menarik amplop cokelat dari tangan Adam yang terpaku dan menyerahkannya kembali ke jemari Senja.
Angkasa melirik jam di pergelangan tangannya. "Waktu makan siangmu tersisa empat puluh menit, Bu Senja. Ikut saya ke mobil."
Senja memegang rapat amplop cokelatnya, mengangguk cepat. "Baik, Pak Angkasa."
"Senja! Kamu mau ke mana?!" teriak Adam panik, hendak mengejar Senja saat wanita itu melangkah mendekati Angkasa.
Namun Rian dengan sigap memblokir langkah Adam dengan tubuh tegapnya. "Mohon maaf, Pak Adam Surya. Harap jaga sikap Anda di area perkantoran kami. Jika Anda terus membuat keributan, pihak keamanan akan memaksa Anda keluar."
Senja melangkah mengekor di belakang Angkasa menuju mobil SUV hitam yang sudah menanti di depan lobi. Sebelum pintu mobil dibuka oleh sopir, Senja sempat menoleh ke belakang, menatap Adam yang berdiri mematung di tengah lobi dengan wajah pucat pasi dan hancur.
"Masuk, Bu Senja," perintah Angkasa seraya melangkah masuk lebih dulu ke dalam mobil.
Senja menghela napas panjang, melangkah masuk, dan membiarkan pintu mobil mewah itu tertutup rapat.
Pintu mobil SUV hitam itu tertutup rapat, membungkam seluruh kebisingan lobi kantor dan meninggalkan Adam yang masih berdiri mematung di luar. Suasana di dalam kabin mewah beraroma cedarwood itu mendadak hening dan amat intens.
Senja duduk di kursi penumpang belakang, mendekap erat amplop cokelat di pangkuannya. Jantungnya masih berdegup kencang, bukan hanya karena pertengkarannya dengan Adam barusan, tetapi juga karena keberadaan pria berkuasa yang kini duduk tepat di sampingnya.
Angkasa menyandarkan punggungnya pada sandaran jok kulit, menyilangkan kaki, lalu melirik jam tangan perak di pergelangan tangannya.
"Ke mana tujuanmu?" tanya Angkasa singkat, suaranya bariton dan datar, tanpa menoleh ke arah Senja.
Senja tersentak pelan dari lamunannya. "Maaf, Pak? Bapak tadi bilang ada revisi berkas keuangan..."
"Itu hanya alibi agar suamimu tidak membuat keributan lebih panjang di lobi saya," potong Angkasa cepat, kini mengalihkan pandangan mata elangnya tepat ke wajah Senja.
"Sekarang saya tanya sekali lagi. Ke mana tujuanmu sebenarnya jam makan siang ini membawa dokumen itu?"
Senja menelan ludah, jemarinya meremas pinggiran amplop cokelat di pangkuannya. "Saya... saya mau ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan, Pak. Untuk memasukkan berkas gugatan cerai."
Angkasa menatap amplop yang didekap Senja, lalu menaikkan sebelah alisnya. "Ternyata kamu bergerak lebih cepat dari yang saya duga."
Senja mengulas senyum tipis yang getir. "Saya tidak punya alasan untuk menundanya lagi, Pak."
Angkasa mengangguk pelan, lalu menepuk bahu pengemudi di depan. "Pak Mamat, jalan ke Pengadilan Agama Jakarta Selatan. Cari jalur tercepat."
"Baik, Pak Angkasa," sahut sang sopir sigap seraya menginjak pedal gas.
Senja membelalakkan matanya terkejut. Ia menoleh sepenuhnya pada Angkasa. "Pak Angkasa... Bapak tidak perlu mengantar saya. Ini urusan pribadi saya, saya bisa naik taksi dari..."
"Waktu makan siangmu hanya satu jam, Bu Senja," potong Angkasa dingin, tak memberi ruang untuk bantahan.
"Jika kamu naik taksi dalam kondisi emosional seperti ini, kamu akan terlambat kembali ke kantor. Dan saya tidak suka staf saya membuang waktu."
"Tapi Pak..."
"Lagipula," sela Angkasa seraya memajukan tubuhnya sedikit ke arah Senja, membuat jarak di antara mereka terkikis. Aura dominannya mengunci pergerakan Senja seketika.
"Memastikan gugatan ceraimu masuk hari ini adalah bagian dari efisiensi rencana saya."
Senja mengerutkan kening, menatap manik mata hitam Angkasa yang begitu dalam. "Maksud Pak Angkasa?"
"Begitu dokumen perceraianmu resmi terdaftar, Adam Surya akan fokus mempertahankan posisinya yang terancam hancur," bisik Angkasa dengan nada dingin yang menyelimuti kepuasan.
"Dia tidak akan punya celah untuk menyuruh Lyra membantunya. Dan di saat yang sama... saya akan meratakan bisnis keluarga Lyra tanpa ada drama hubungan pernikahanmu yang ikut terseret."
Senja mematung. Pria di sampingnya ini benar-benar memikirkan setiap langkah seperti bermain catur. Kejam, terhitung, namun tanpa sadar memberikan jalan keluar paling aman untuk Senja.
"Terima kasih, Pak Angkasa," bisik Senja tulus. "Untuk bantuan Bapak... dan perlindungan Bapak secara tidak langsung."
Angkasa menyandarkan kembali tubuhnya, mengalihkan pandangan ke luar jendela mobil seraya mengulas senyum tipis yang samar. Angkasa sesungguhnya merasa sangat lega karena pada akhirnya memiliki alasan untuk tidak menikah dengan Lyra, wanita yang di jodohkan oleh kedua orang tuanya. Namun, dia tak akan bergerak buru-buru. Dia akan membiarkan mereka bersenang-senang dulu sampai waktunya tiba.
"Jangan berterima kasih dulu, Bu Senja," sahut Angkasa pelan, matanya menatap lurus ke arah deretan kendaraan yang padat di balik kaca mobil.
"Permainan ini baru saja dimulai. Saya bukan sedang menjadi pahlawanmu, saya hanya sedang membereskan sampah di kehidupan saya sendiri."
Senja terdiam, menatap profil samping wajah Angkasa yang tegas. Pria itu tampak begitu tenang, seolah skandal pengkhianatan tunangannya sendiri bukanlah sebuah pukulan berat, melainkan sekadar kalkulasi bisnis yang salah dan harus segera dikoreksi.
"Tapi bagi saya, Bapak sudah menyelamatkan harga diri saya," bisik Senja, suaranya pelan namun mantap.
"Kalau bukan karena Bapak yang mengambil dokumen ini dari tangan Mas Adam... saya mungkin harus beradu fisik dengannya di lobi. Dan dia pasti akan kembali menyeret saya ke rumah... Dan mengikat saya dalam pernikahan ini sebagai tameng untuk menutupi kebusukan mereka dari semua orang, termasuk kelaurganya. Sejujurnya saya memang sadar, dari awal pernikahan ini hanya saya yang mencintai Mas Adam..."
"Seharunya dulu, yang menjadi mempelai wanita adalah Arum. Namun, Arum malah pergi satu minggu menjelang resepsi tanpa kabar,"
"Lalu kamu di jadikan pengantin pengganti?" Angkasa menaikkan sebelah alisnya. Arum mengangguk.
"Iya, tentunya dengan syarat yang di ajukan oleh Mas Adam. Jika saya..."
"Tak boleh jatuh cinta dan juga mengurusi masalah pribadinya. Dan dia akan kembali saat Arum atau wanita bernama Lyra datang. Maka kalian akan berpisah. Namun sialnya, selama menikah kamu malah mencintai pria itu? Bukan begitu ceritanya, Senja?" Jawab Angkasa cepat. Senja mengangguk, karena semua ucapan Angkasa benar adanya.
Tanpa Senja menceritakan semuanya, Angkasa sudah lebih dahulu mencari tahu. Awalnya Angkasa tak peduli, namun setelah di fikir-fikir dia memang harus juga mencari semua bukti kebobrokan Lyra untuk dia lemparkan di depan kedua orang tuanya yang begitu menyukai Lyra. Wanita itu memang sangat pintar mengambil hati kedua orang tuanya.