Chen Yiyi adalah pelayan di Puncak Sakte. Namun nyaris tak ada satu pun murid atau Tetua Sekte yang pernah melihat wajahnya. Dia tak pernah turun ke bawah, tak pernah bergaul, tak pernah meminta apa-apa.
Selama ini dia hanya mengurung diri di gubuk tua itu, merawat taman bunga obat dan menjaga tempat ini untuk orang yang pernah memberinya tempat bernaung — Tetua Puncak Sakte.
Hingga hari itu, kabar datang bagaikan badai: Tetua Puncak telah meninggal dunia. Tanpa pelindung, tanpa nama, tanpa keluarga, Chen Yiyi merasa tak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Di tengah malam yang sunyi, di dalam gubuk tua itu, dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Darah menetes ke lantai kayu yang lapuk. Matanya perlahan tertutup. Napasnya berhenti.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat kesadaran asli Chen Yiyi lenyap, seketika itu juga cahaya menyelimuti ruangan. Sebuah jiwa dari dunia lain, seorang manusia dari zaman modern yang baru saja meninggal, tersentak masuk ke dalam tubuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Kalah Telak
Hari pertemuan itu tiba. Cahaya matahari pagi menyinari puncak Gunung Awan Tinggi, namun tidak mampu menghangatkan suasana di aula utama.
Ketua Chang duduk di kursi kebesaran di ujung aula, wajahnya tenang namun matanya tak lepas dari pintu masuk.
Di sebelahnya berdiri para Tetua, dan di kedua sisi aula berbaris murid-murid terpilih. Di ruangan tersembunyi di bawah aula, para leluhur sekte sudah bersiap — puluhan ahli berkultivasi menanti isyarat. Semuanya diam, menunggu.
Ketua Chang tersenyum tipis di dalam hati. Meskipun mereka kuat, hanya tiga orang. Kami punya ratusan murid, para Tetua, dan leluhur yang sudah hidup ratusan tahun.
Apa yang bisa dilakukan tiga orang saja? Pikirannya penuh keyakinan. Jumlah dan persiapan adalah keunggulan mereka.
Tepat saat bayangan tiang tegak lurus, langkah kaki terdengar dari luar. Tiga orang melangkah masuk dengan tenang — tidak terburu-buru, tidak pula gugup.
Di depan berjalan Tetua Bai Yuan, jubah putihnya bersih, lis emas di pinggirannya berkilau lembut.
Di belakangnya dua Tetua lainnya berjalan tegak, tatapan mereka jernih dan tenang. Tidak ada yang membawa senjata. Namun setiap langkah mereka membuat udara di aula itu terasa lebih berat.
Bai Yuan berhenti di tengah aula, lalu menangkupkan tangan dengan sopan namun tetap tegas. "Perwakilan Sekte Surgawi Langit menyapa Ketua Sekte Awan Tinggi."
Ketua Chang tersenyum tipis, namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Selamat datang. Silakan duduk. Kami sudah lama menantikan kedatangan kalian."
Bai Yuan duduk di kursi tamu yang disediakan. Ia meletakkan bungkusan kecil di atas meja batu. "Sebagai tanda persahabatan, kami membawa dua buah persik roh dan satu pon teh pencerahan. Barang sederhana dari sekte kami."
Beberapa Tetua yang mendengar itu menahan napas. Persik roh dan teh pencerahan adalah barang yang sangat langka dan berharga — bahkan di sekte besar seperti mereka pun sulit didapatkan.
Namun Ketua Chang hanya melirik sekilas lalu mengangguk pelan. "Terima kasih. Silakan sajikan hadiah balasan."
Pelayan membawa piring berisi buah-buahan biasa dan teh biasa. Tidak ada yang istimewa. Perbedaan itu terlihat jelas, namun tidak ada yang berbicara.
"Kami mendengar banyak hal tentang sekte kalian," ucap Ketua Chang pelan, suaranya terdengar ramah namun ada sesuatu yang tersembunyi di balik kata-katanya.
"Berdiri dalam waktu singkat, menerima murid dari mana saja, bahkan mengajarkan teknik yang belum pernah dilihat orang lain. Sungguh luar biasa. Namun ada satu hal yang membuat kami penasaran — dari mana sebenarnya Ketua Sekte kalian berasal? Dan siapa gurunya?"
Pertanyaan itu terdengar polos, namun setiap orang di aula itu tahu — itu bukan pertanyaan biasa. Itu adalah awal dari sesuatu yang lebih besar. Semua mata tertuju pada Bai Yuan, menunggu jawabannya.
Bai Yuan menatap Ketua Chang dengan tenang. "Ketua Sekte kami tidak berasal dari sekte mana pun. Ia membangun sekte ini dari nol, dengan kekuatannya sendiri. Dan ia tidak membutuhkan guru lain — karena ia adalah jalan itu sendiri. Adapun asal-usulnya, itu adalah urusan sekte kami."
Jawaban itu sopan namun tegas — tidak bisa disanggah, tidak bisa dipaksa. Ketua Chang terdiam sejenak, lalu tersenyum lagi. "Benar juga. Maaf — aku terlalu penasaran. Mari kita minum tehnya."
Namun suasana berubah dalam sekejap saat Tetua Ming tiba-tiba berbicara dengan nada yang lebih tinggi. "Kami juga mendengar bahwa murid-murid kalian mengalahkan keluarga dan leluhur mereka sendiri. Apakah itu ajaran sekte kalian? Membangkang kepada leluhur dan menghancurkan klan sendiri?"
Tatapan semua orang kini berubah curiga dan tajam. Itulah pertanyaan yang sebenarnya mereka tanyakan. Dan di seberang aula, beberapa orang perlahan menggeser posisi mereka — seolah memberi isyarat.
Bai Yuan meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas meja. Suaranya tidak keras, namun terdengar jelas di setiap sudut aula. "Mereka tidak membangkang. Mereka menegakkan keadilan. Keluarga yang mereka tinggalkan telah berbuat jahat kepada mereka sejak kecil — menyiksa, membuang, bahkan membunuh orang yang mereka cintai.
"Mereka tidak membunuh orang yang tidak bersalah. Mereka hanya menuntut apa yang seharusnya dituntut sejak lama. Jika menegakkan kebenaran dianggap membangkang... maka aku khawatir, apa yang sebenarnya diajarkan di sekte ini?"
Suasana menjadi hening total. Ketua Chang berdiri perlahan. Aura yang dipancarkannya perlahan meningkat, menekan siapa pun di aula itu.
Para Tetua di sekelilingnya ikut melepaskan aura mereka, menambah tekanan itu. Namun dua Tetua yang berdiri di belakang Bai Yuan tetap berdiri tegak tanpa perubahan sedikit pun.
"Kalian datang ke sini sebagai tamu. Tapi kata-kata kalian menuduh sekte kami membenarkan kejahatan," ucap Ketua Chang, suaranya mengandung ancaman yang jelas. "Apakah kalian datang untuk bersahabat... atau datang untuk menantang?"
Ia merasa percaya diri — di sekelilingnya ada belasan Tetua, dan di bawah aula puluhan leluhur sudah siap menyerang. Meski Bai Yuan lebih tinggi tahapnya, dengan jumlah sebanyak ini, mereka yakin bisa menekannya.
Bai Yuan tetap duduk tenang. "Kami datang untuk bersahabat. Tapi jika persahabatan berarti menutup mata terhadap kejahatan... maka persahabatan seperti itu tidak kami butuhkan."
Ketua Chang menyipitkan matanya. "Kalau begitu... biarkan kekuatan yang berbicara." Ia bersiap meledakkan serangan ke arah Bai Yuan.
Namun saat itu juga, Bai Yuan mengangkat kepalanya perlahan. Dan saat ia membuka matanya sepenuhnya, aura yang keluar dari tubuhnya menyapu seluruh aula dalam sekejap — jauh lebih kuat dan dahsyat dibandingkan saat pertama kali ia menghadiri undangan yang pertama.
Cahaya putih keemasan memancar dari tubuhnya, memenuhi seluruh ruangan hingga tidak ada tempat untuk bersembunyi. Tekanan itu begitu berat seolah seluruh langit jatuh menimpa pundak mereka.
Ketua Chang terbelalak, tangannya yang siap menyerang berhenti di udara, gemetar hebat. Kakinya perlahan tertekuk, lalu ia jatuh berlutut tanpa sanggup menahannya. "Itu... aura itu... tidak mungkin..."
Semua orang di aula itu jatuh berlutut satu per satu — para Tetua, para leluhur yang keluar dari ruangan tersembunyi, bahkan murid-murid di pintu masuk.
Tidak ada satu pun yang mampu mengangkat kepala. Mereka yang tadinya merasa percaya diri karena jumlah mereka banyak, kini sadar betapa kecil dan tidak berartinya mereka di hadapan kekuatan seperti ini.
Hanya dua Tetua di belakang Bai Yuan yang tetap berdiri tegak, mereka merasakannya — kekuatan Bai Yuan jauh di atas mereka, seolah langit dan bumi.
"Kalian ingin tahu seberapa kuat Sekte Surgawi Langit?" suara Bai Yuan terdengar tenang namun menggetarkan lantai dan dinding aula itu. "Kalian pikir jumlah orang bisa menutupi perbedaan kekuatan? Dengarkan baik-baik — dengan satu kali tamparan, aku bisa menghancurkan seluruh Sekte Awan Tinggi. Tidak ada satu pun dari kalian yang mampu menahannya."
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu. Ketua Chang menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu — itu bukan ancaman kosong. Itu adalah kenyataan pahit yang baru saja ia sadari.
Bai Yuan tidak bergerak pergi. Sebaliknya, ia mengangkat tangan kanannya perlahan. Cahaya putih keemasan berkumpul di telapak tangannya, lalu ia melambaikannya ke arah mereka.
Satu serangan yang tidak terlalu besar, namun cukup untuk membuat seluruh isi aula itu terpental dan jatuh terbaring di lantai. Rasa sakit yang menembus tulang membuat mereka merintih pelan, tubuh terasa berat dan lemah seolah energi mereka tersedot habis.
"Ini adalah balasan," ucap Bai Yuan dengan suara yang dingin, "karena beberapa bulan yang lalu kalian menyebarkan fitnah keji tentang sekte kami di seluruh wilayah. Sebagai pengingat — bahwa mulut yang berbicara sembarangan harus siap menanggung akibatnya."
Ketua Chang dan para Tetua berbaring di lantai, wajah mereka pucat dan penuh penyesalan. Mereka ingin berbicara, ingin memohon, namun tidak ada suara yang keluar.
Tiba-tiba, ekspresi Bai Yuan berubah sedikit. Ia menerima transmisi suara dari jarak yang sangat jauh — suara Lin Yue, terdengar jelas di telinganya seolah ia berdiri di sampingnya.
.
.
.
cerita nya seru banget.... singgah juga di karya baru aku ya🤭🔥🔥