Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gejolak di Balik Jaket Kuning
Pagi pertamanya di Kampus Depok disambut oleh hembusan angin sejuk yang menggoyangkan dedaunan rimbun di sepanjang Boulevard Universitas Indonesia. Aroma tanah basah sisa gerimis semalam berpadu dengan riuh deru bus Kuning yang melintas teratur di antara gedung-gedung fakultas. Bagi Callista, berdiri di depan pelataran Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dengan mengenakan jaket almamater berwarna kuning khas UI memberikan sensasi yang sangat berbeda dibanding hari-harinya di SMA Wijaya.
Ada getaran kebanggaan, namun juga rasa asing yang seketika menyelusup kaku.
Di sekelilingnya, ratusan mahasiswa baru lalu-lalang dengan langkah cepat. Ada yang sedang berkumpul mendiskusikan penugasan pra-kaderisasi, ada yang sibuk membagikan brosur organisasi kemahasiswaan, dan tak sedikit yang berdebat dengan bahasa akademis yang terdengar begitu berat. Atmosfer persaingan dan kebebasan intelektual terasa membakar udara pagi itu.
Callista membetulkan letak tali tas ranselnya, merogoh saku jaket almamaternya, lalu mengeluarkan ponselnya.
Sebuah pesan singkat masuk dari Sean.
Sean: Gimana hari pertama pembekalan di FISIP, Bu Mahasiswi? Jangan lupa sarapan. Di UNJ ospek perdananya langsung disuruh lari keliling lapangan tiga kali, tapi tenang aja... fisik mantan kapten basket masih aman.
Callista menyunggingkan senyum hangatnya. Ketegangan yang sempat menyergap dadanya seketika mencair hanya dengan membaca beberapa baris kalimat sederhana itu. Ia dengan cepat membalas:
Callista: Lancar, Sean! Tempatnya luas banget sampai hampir nyasar tadi haha. Semangat ospeknya ya, jangan pamer gaya basket terus di sana!
Baru saja Callista menyimpan kembali ponselnya, sebuah suara perempuan berseru ramah di belakangnya.
"Callista Putri, kan? Delegasi Indonesia yang dapet Best Overall Project di Singapore kemarin?"
Callista menoleh. Seorang mahasiswi dengan kacamata bingkai hitam dan rambut sebahu yang diikat rapi berdiri sambil tersenyum lebar. Ia memegang binder tebal bertuliskan Departemen Hubungan Internasional UI.
"Iya, betul. Saya Callista," jawab Callista ramah.
"Gue Nadine, teman satu angkatan lo di HI!" seru cewek itu antusias seraya mengulurkan tangan. "Nama lo udah ramai diomongin senior dan anak-anak angkatan sejak daftar nama mahasiswa baru rilis minggu lalu. Keren banget proyek Bridge of Generations lo itu!"
"Makasih banyak, Nadine," balas Callista tulus, merasa kehangatan baru mulai menyapanya di kampus ini. "Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ya."
Namun, kehangatan itu tidak berlangsung lama. Saat mereka melangkah menuju ruang auditorium utama untuk mengikuti kuliah perdana Pengantar Ilmu Hubungan Internasional, dinamika keras perkuliahan langsung menyambut mereka.
Ruang auditorium berundak yang dingin itu dipenuhi oleh hampir seratus mahasiswa baru. Di depan podium, Prof. Aris—dosen senior yang terkenal kritis dan dingin—berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Di jurusan ini," ujar Prof. Aris dengan suara bariton yang menggema di seluruh ruangan, "kalian tidak dipersiapkan untuk sekadar menjadi penonton isu global. Kalian dituntut untuk memiliki analisis tajam, ketahanan mental, dan keberanian mempertahankan argumen. Siapa di antara kalian yang bisa memberikan definisi kritis mengenai pergeseran geopolitik di kawasan Asia Tenggara saat ini?"
Keheningan mendadak mencekam ruangan. Beberapa mahasiswa baru tampak saling pandang, ragu untuk mengacungkan tangan.
Callista menarik napas panjang. Pengalamannya berdebat dan menyusun analisis data bersama Kenzo selama di Singapura kembali membakar rasa percaya dirinya. Callista mengacungkan tangannya secara mantap.
"Saya, Prof," panggil Callista tegas namun santai.
Prof. Aris menaikkan alisnya, mengisyaratkan Callista untuk berdiri. "Silakan. Nama dan pemikiran kamu."
Callista berdiri tegap, mengutarakan analisis geopolitiknya dengan artikulasi bahasa Inggris yang fasih, memadukan teori keamanan kawasan dengan pentingnya diplomasi kebudayaan berbasis masyarakat. Penjelasannya lugas, berbobot, dan disampaikan tanpa nada ragu sedikit pun.
Saat Callista kembali duduk, gumaman kagum terdengar dari beberapa sudut ruangan. Prof. Aris mengangguk-angguk pelan—sebuah gestur pengakuan yang sangat langka dari dosen sekritis dirinya.
Nadine menepuk pelan paha Callista seraya berbisik antusias, "Sumpah, Cal! Lo keren banget! Langsung dapet nilai plus dari Prof. Aris di hari pertama!"
Callista menyunggingkan senyum tipisnya. Di dalam hatinya, ia membisikkan rasa syukur. Pendidikan disiplin yang pernah ia lewati bersama Kenzo dan dukungan tanpa putus dari Sean telah membentuk dirinya menjadi pribadi yang tidak mudah gentar di hadapan panggung apa pun.
Sementara itu, di kampus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Rawamangun, terik matahari siang membakar lapangan sarana olahraga. Suara tiupan peluit pengkaderan membahana di antara teriakan instruktur senior Fakultas Ilmu Keolahragaan.
Sean berdiri di barisan depan dengan kaos olahraga putih dan celana training hitam. Keringat membasahi pelipis dan lehernya, namun postur tubuhnya tetap tegap dan disiplin.
"Kalian di sini dibentuk untuk jadi penggerak dan pembina!" teriak salah satu senior pengkaderan di depan barisan. "Fisik yang kuat itu cuma syarat dasar. Yang paling penting adalah mental kepemimpinan dan dedikasi kalian pada olahraga!"
Setelah sesi fisik intensif selama dua jam usai, para mahasiswa baru diberikan waktu istirahat di pinggir lapangan. Sean melangkah menuju tribun, mengambil botol air mineralnya dan meminumnya hingga separuh.
Seorang mahasiswa baru berbadan tegap dengan potongan rambut papak mendaratkan duduknya di sebelah Sean.
"Bro, lo Sean mantan kapten SMA Wijaya yang dapet MVP di kejuaraan provinsi kemarin kan?" tanyanya antusias.
Sean menoleh, menyunggingkan senyum ramahnya seraya menyeka keringat dengan handuk kecil. "Iya, betul. Gue Sean. Lo siapa, Bro?"
"Gue Arga dari cabang atletik," jawab cowok itu seraya mengulurkan tangan. "Gue sempet nonton laga final lo kontra Nusa Bangsa. Tembakan and-one lo di detik-detik akhir itu gila sih! Anak-anak senior basket kampus dari kemarin udah pada nanyain lo, kata mereka lo wajib masuk tim utama Kampus buat Liga Mahasiswa semester depan."
Sean terkekeh pelan, menjabat tangan Arga erat-erat. "Puji Tuhan kalau masih dikasih kepercayaan, Bro. Tapi di sini kita semua mulai dari nol lagi."
"Setuju, Bro!" sahut Arga tertawa.
Dari kantong tas olahraganya, ponsel Sean bergetar. Sebuah foto masuk dari Callista.
Foto itu memperlihatkan Callista yang sedang tersenyum manis mengenakan jaket almamater kuning UI di depan danau kampus yang teduh, dengan latar belakang gedung rektorat yang megah.
Callista: Kuliah perdana selesai! Ternyata dosen di sini kritis banget, tapi puji Tuhan lancar. Gimana ospek fisik lo di UNJ? Masih utuh kan kapten?
Melihat foto dan pesan tersebut, seluruh rasa lelah akibat latihan fisik selama berjam-jam seketika sirnah dari tubuh Sean. Sean menyunggingkan senyum leburnya yang paling hangat. Ia mengambil foto dirinya sendiri yang masih berikatan handuk leher di tribun lapangan UNJ, lalu mengirimkannya kembali.
Sean: Fisik masih utuh 100%, Bu Mahasiswi! Jaket kuning lo cocok banget di lo, kliatan makin pinter dan anggun. Nanti sore gue jemput ke Depok ya, kita cari makan malam di stasiun.
Di seberang samudra, di kota Sydney, Australia, dinginnya angin musim gugur merayap menyusuri pelataran The University of Sydney. Gedung-gedung bergaya Neogotik yang megah berdiri kokoh di bawah naungan langit biru yang jernih.
Kenzo Alexander melangkah keluar dari perpustakaan Fisher Library dengan membawa mantel tebal dan tas dokumen di tangannya. Penampilannya tampak sangat matang. Gaya bicaranya yang makin terstruktur dan ketenangannya yang dingin membuatnya dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan akademis internasional.
Kenzo berjalan menuju sebuah kafe kecil di dekat kawasan Darlington, melangkah mendekati meja di tepi jendela. Ia membuka laptopnya, memeriksa draf tugas analisis manajemen ekonomi yang baru saja ia selesaikan.
Ponselnya di atas meja bergetar pendek. Sebuah notifikasi dari grup percakapan tiga sahabat mereka muncul.
Grup: Wijaya's Trio
Callista: (Mengirim foto dirinya berjaket almamater UI di Danau Kenanga)
Sean: (Mengirim foto dirinya dengan jersey ospek UNJ di tribun lapangan)
Kenzo menatap layar ponselnya. Senyuman tipis—senyuman paling dewasa dan damai—terbit di sudut bibirnya. Ia menyentuh foto kedua sahabatnya itu, merasa kehangatan dari tanah air menembus jarak ribuan mil yang membentang di antara mereka.
Kenzo membalas pesan tersebut, mengetik kalimat dengan gaya bahasanya yang khas:
Kenzo: Selamat atas hari pertama kalian di UI dan UNJ. Jaket kuning cocok buat lo, Callista. Dan Sean, pastikan fisik lo gak habis sebelum Liga Mahasiswa dimulai. Dari Sydney, salam hangat untuk langkah baru kita semua.
Malam harinya, pendar lampu Stasiun Universitas Indonesia membiaskan cahaya keemasan di atas rel kereta api. Angin malam bertiup sejuk, membawa aroma KRL yang baru saja berlalu meninggalkan peron.
Callista berdiri di dekat gerbang keluar stasiun, memegang secangkir cokelat hangat. Tak lama kemudian, sosok jangkung yang sangat ia kenal melangkah keluar dari area parkir motor.
Sean berjalan mendekati Callista. Ia mengenakan jaket kulit hitam santai dengan jam tangan pemberian Callista yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya.
"Udah lama nunggu, Cal?" tanya Sean lembut begitu berdiri di depan Callista.
Callista menggeleng pelan, mata cokelatnya berbinar bahagia menatap sosok di hadapannya. "Enggak kok, baru lima menit. Gimana hari pertama ospeknya?"
"Capek sih, tapi seru," jawab Sean terkekeh renyah. Tangannya terulur, secara alami menepuk pelan puncak kepala Callista—sebuah kebiasaan yang tak pernah berubah meski status mereka kini telah berganti menjadi mahasiswa. "Gue denger dari foto lo tadi, lo langsung bikin gempar dosen FISIP ya?"
Callista tertawa kecil, melangkah beriringan bersama Sean menuju deretan kedai makan di kawasan stasiun. "Nggak gempar juga, cuma jawab pertanyaan Prof. Aris soal geopolitik. Tapi rasanya lega banget, Sean. Kampusnya luas dan temen-temennya kritis."
"Lo emang pantes ada di sana, Cal," tutur Sean dengan intonasi suara yang begitu tulus dan hangat seraya menatap profil wajah Callista dari samping. "Di SMA Wijaya lo udah hebat, di UI lo bakal jauh lebih bersinar."
Callista menoleh, menatap mata cokelat jernih milik Sean. Kehangatan yang dipancarkan oleh cowok di sebelahnya ini selalu menjadi tempat berlabuh paling aman bagi jiwanya, di tengah perubahan besar dunia perkuliahan yang mulai mereka jalani.
Callista merogoh sakunya, menggenggam kantong kain merah pemberian Mama Sean yang selalu tersimpan rapi di dalam tasnya.
"Makasih ya, Sean... karena selalu ada di setiap transisi hidup gue," ucap Callista lembut.
Sean tersenyum manis, meremas pelan jemari Callista dalam genggamannya saat mereka melangkah menyeberangi jalanan malam kota Depok yang dihiasi pendar lampu kota.
Di awal babak perkuliahan ini, meski jarak kampus, kesibukan baru, dan tuntutan masa depan mulai membentang di hadapan mereka, Callista dan Sean tahu... ikat rasa percaya, doa, dan kedewasaan yang telah terbina tidak akan pernah goyah oleh waktu. Perjalanan mereka di dunia dewasa baru saja dimulai, dan mereka siap menaklukkannya bersama-sama.