Indonesia
NovelToon NovelToon
RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: CAHAYA BARU DI LANGIT ARKAIS

Sesuai dengan titik koordinat dan waktu yang tertera di dalam surat misterius itu, Rangga melangkah mantap memasuki gedung pusat konvensi bintang lima di kawasan segitiga emas Jakarta. Malam itu, tempat tersebut sedang menyelenggarakan sebuah pameran seni eksklusif sekaligus gala bisnis amal kelas atas yang hanya bisa dihadiri oleh kalangan terbatas.

Rangga berjalan memecah kehangatan lampu aula besar dengan mengenakan setelan tuksedo hitam potongan modern yang sangat pas di badannya, memancarkan aura seorang pengusaha muda sukses yang mapan dan berwibawa.

Suasana di dalam aula terasa begitu megah dan anggun. Alunan musik selo dan biola beritme tenang mengalir memenuhi ruangan, berpadu dengan gemerincing halus gelas kristal yang saling bersentuhan dari para tamu undangan.

Dinding-dinding aula dipenuhi oleh deretan lukisan kontemporer bernilai tinggi yang disinari oleh lampu sorot khusus. Rangga berjalan pelan di antara kerumunan para diplomat, kurator seni, dan taipan bisnis papan atas, sembari matanya tetap bergerak waspada ke setiap sudut ruangan.

Ia sedang mencari tahu apa sebenarnya tujuan takdir membawanya ke tempat semewah ini.

Meskipun beberapa mitra bisnis barunya sempat menyapa dan mencoba mengajaknya mengobrol tentang perkembangan pasar atau ekspansi usaha percetakan digital terbarunya, fokus pikiran Rangga sama sekali tidak berada di sana.

Ia merasakan sebuah desakan intuitif yang sangat kuat di dalam dadanya.

Sebuah radar tak kasatmata yang berbisik bahwa surat hitam berlambang rasi bintang Arkais kemarin akan menunjukkan pembuktiannya malam ini.

Rangga melangkah makin dalam menuju area galeri seni yang lebih sunyi di bagian belakang aula, menjauh dari riuh rendah obrolan formalitas dunia bisnis.

Di sudut galeri seni yang agak redup dan hanya diterangi oleh lampu sorot temaram, perhatian Rangga mendadak terkunci pada sebuah instalasi seni pahat kaca yang berdiri di tengah ruangan.

Langkah kakinya perlahan melambat.

Hingga akhirnya berhenti total.

Tepat di samping instalasi kaca tersebut, berdiri seorang wanita yang sedang membelakanginya. Ia tampak tengah mengamati detail karya seni di depannya dengan fokus yang sangat tenang.

Wanita itu mengenakan gaun malam berwarna biru dongker yang elegan, memancarkan kesan misterius namun sangat berkelas.

Namun, bukan keindahan gaun atau keanggunan postur tubuh wanita itu yang membuat mata Rangga melebar seketika.

Fokus pandangan Rangga tertuju sepenuhnya pada pergelangan tangan kanan wanita tersebut yang sedang terangkat pelan.

Di sana, melingkar sebuah gelang perak kuno berdesain rumit yang menangkap pancaran cahaya lampu sorot di atasnya.

Logam perak pada gelang itu memantulkan sinar keperakan yang sangat jernih, membentuk sebuah pola ukiran geometris yang sangat tegak dan kaku.

Pola ukiran di gelang itu adalah susunan garis rasi bintang Arkais.

Sama persis dengan segel lilin pada amplop hitam yang ia temukan kemarin.

Dan sama persis dengan rasi bintang yang menyala terang di langit malam Borneo dua tahun lalu.

Rangga menahan napasnya sejenak.

Seluruh sendi di tubuhnya mendadak kaku.

Lambang yang selama ini ia cari dalam kesunyian hidupnya, lambang yang mengontrol seluruh arah keputusan besarnya, kini mewujud nyata di depan mata, melekat pada sosok orang asing di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta.

Pada detik yang sama, wanita misterius tersebut seolah merasakan ada sepasang mata yang sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak biasa.

Ia perlahan-lahan memutar tubuhnya.

Berbalik sepenuhnya menghadap ke arah posisi Rangga berdiri.

Saat wajah wanita itu terpapar oleh sinar lampu galeri, Rangga merasakan sebuah hentakan emosional yang sangat dahsyat menghantam bagian paling dalam dari kesadarannya.

Jantungnya mendadak berdegup dengan cara dan perasaan yang benar-benar berbeda dari yang pernah ia rasakan seumur hidupnya.

Getaran di dadanya saat ini sama sekali tidak sama dengan rasa kagum yang dulu ia miliki untuk Denia, juga sangat berganti dari rasa nyaman penuh kehangatan yang pernah diberikan oleh Sari di ruko lamanya.

Ini adalah sebuah getaran yang kaku, dingin, sekaligus agung—sebuah getaran yang lahir dari perasaan yang mendalam, seolah ada bagian dari jiwanya yang telah lama hilang kini mendadak bergetar menyambut kepingan pasangannya.

Wanita itu memiliki sepasang mata yang sangat tajam, jernih, dan memancarkan kecerdasan luar biasa yang mengunci pandangan mata Rangga.

Wanita itu tidak menunjukkan ekspresi terkejut atau canggung saat mendapati Rangga menatap gelangnya.

Sebaliknya, sebuah senyuman tipis yang sangat penuh arti dan sarat akan teka-teki terbit di bibirnya yang anggun.

Tatapan mata mereka bertemu di tengah keheningan sudut galeri yang sunyi.

Menciptakan sebuah jembatan komunikasi tak kasatmata yang menegaskan satu hal:

Pertemuan malam ini bukanlah sebuah kebetulan bisnis yang biasa, melainkan sebuah panggilan takdir sejati dari langit Arkais yang menuntut jawaban nyata.

Keheningan di antara mereka berdua seolah membuat seluruh suara musik biola dan riuh rendah obrolan para tamu di aula depan mendadak senyap tak terdengar lagi.

Rangga memperbaiki posisi berdirinya.

Ia menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan debaran di dadanya yang masih bergemuruh hebat.

Logika dewasanya yang biasa digunakan untuk menghitung keuntungan usaha percetakan digital kini lumpuh total, digantikan oleh dorongan insting yang memintanya untuk terus bergerak maju ke depan.

Rangga tahu, jika ia melangkah maju mendekati wanita ini, maka kehidupan lamanya sebagai seorang pengusaha muda yang tenang dan mapan mungkin akan segera berubah total menjadi penuh dengan ketidakpastian dan bahaya misterius.

Namun, keberanian di matanya yang sudah ditempa kerasnya persaingan ibu kota dan pedalaman Kalimantan menolak untuk mundur barang satu senti pun.

Janji masa kecil yang sempat terikat di bawah lakon pewayangan Desa Samudra kini telah bangkit sepenuhnya, menuntut pemenuhan hak atas garis hidupnya.

Dengan langkah kaki yang mantap, tegas, dan penuh rasa percaya diri yang mutlak, Rangga mulai mengayunkan langkahnya memecah jarak di antara mereka.

Ia melangkah maju menghampiri sosok wanita misterius tersebut, siap membuka gerbang babak baru yang sesungguhnya di dalam hidupnya.

Di bawah naungan takdir tersembunyi yang memancarkan sinar misterinya malam itu, Rangga melepaskan seluruh bayangan masa lalunya dengan ikhlas, bersiap menyambut kehadiran cahaya baru yang akan menuntun jalurnya di bawah langit Arkais.

Gerbang misteri baru kini telah resmi terbuka lebar di hadapan Rangga, mengaburkan zona nyaman bisnis kemapanan yang baru saja ia raih di ibu kota. Sosok wanita misterius bergelang perak rasi bintang Arkais itu seakan menjelma menjadi jangkar takdir baru yang memanggil jiwanya untuk melangkah lebih jauh. Sebagai narator, aku bisa merasakan desau angin takdir yang kian mendingin di sudut galeri malam ini. Siapa sebenarnya wanita anggun bermata tajam itu? Dan teka-teki apa lagi yang akan ia sodorkan ke hadapan Sang Kamajaya? Kita simpan dahulu tatapan mata yang penuh rahasia ini dan saksikan dialog pembuka mereka selanjutnya!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!