Zakia Sukma, wanita sederhana yang memikul banyak beban di bahu kecilnya, membantu keluarga, memperjuangkan kuliah, semua itu ia tanggung sendiri, prinsip Zakia "Jika masih bisa diusahakan sendiri maka jangan menerima bantuan dari orang lain."
Namun, sebuah tragedi yang tak disangka Zakia merenggut harga dirinya, kejadian itu jugalah yang membuat Zakia bertemu dengan pria bernama Daren, Laki-laki yang baru pulang setelah menyelesaikan studinya di luar kita tiba-tiba disuruh menikah dengan Zakia karena tuntutan keluarga.
Akankah pernikahan yang berawal dari tuntutan itu bisa menjadi pernikahan penuh cinta? Atau hanya menjadi pernikahan di atas kertas saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Daren menatap ragu isi makanan yang ada di kantong plastik belanjaannya, apakah Zakia akan memakan semua ini? atau Zakia malah tidak suka? Karena jujur saja, Daren tidak benar-benar tahu apa yang disukai oleh Zakia dan apa yang tidak disukai oleh wanita itu.
Sudah berusaha untuk bertanya dengan Rega, tapi Rega pun memberi jawaban seperti itu. "Ya udahlah kalau dia ga suka, entar gue kasi ke Rega aja," gumam Daren.
Daren sudah berdiri di depan ruangan Zakia, ia membuka pintu dengan pelan dan terdiam beberapa saat, Zakia tidak ada di brankarnya. Matanya meneliti ke setiap ruangan, tapi ia tak melihat keberadaan istrinya itu.
"Tu anak ke mana?" tanya Daren pelan. Tak dapat dipungkiri, sedikit rasa khawatir menyelinap di hati Daren, wanita itu belum sepenuhnya sembuh dan kalau pun ingin ke mana-mana dia pasti butuh bantuan.
"Zakia!" panggil Daren. Tak ada jawaban, orang terakhir yang berada di sini bersama Zakia adalah Rega dan juga kakaknya.
Tangan Daren dengan cepat membuka ponselnya dan mencari nomor mereka, ia menelfon tapi sayangnya tidak ada jawaban. Daren ingin ke luar, ia ingin bertanya kepada perawat yang mungkin melihat keberadaan istrinya sekarang.
"Ren!" Terdengar suara seseorang, Daren menarik kembali tangannya yang sudah memegang kenop pintu Kepalanya menoleh, suara itu berasal dari kamar mandi. Tapi itu bukan suara Zakia!
Daren dengan cepat meletakkan kantong plastik belanjaannya di meja yang berada di dekat pintu tersebut, ia bergegas berjalan ke depan pintu kamar mandi.
"Ren, ini mama, Zakia lagi di dalam, kamu bisa bantu gendong dia kan?"
Pintu kamar mandi pun terbuka, terlihat Zakia yang menahan ngilu juga sedang duduk di atas closet, wajahnya menahan sakit dan tangannya meremas ujung baju Rumah Sakit yang ia kenakan.
Zakia melirik Daren lalu kembali menunduk, dia sungguh malu dengan dirinya sendiri. Bahkan untuk urusan pribadi pun Zakia harus dibantu oleh orang lain.
"Ren," panggil Sinta.
Daren tersadar dari lamunannya, ia mengangguk dan ikut masuk ke dalam kamar mandi. Sinta pun mulai menjauh, karena urusan seperti ini biarkan laki-laki yang mengeluarkan tenaganya.
"Pegangan yang kuat, maaf kalau lo ga nyaman," bisik Daren. Zakia menahan nafasnya sejenak dan mengangguk, ingat Zakia, suamimu itu hanya membantu, tidak lebih dari itu!
Daren menyelipkan tangannya ke bawah lutut Zakia dan juga ke punggung wanita itu. Sedangkan Zakia dengan kuat sebelah tangannya memegang leher Daren. Tubuhnya terangkat, Zakia baru sadar bahwa tubuhnya sekecil dan seringan ini di depan suaminya, buktinya Daren mengangkatnya dengan enteng tanpa ada rasa keberatan sedikitpun
Daren pelan-pelan membawa Zakia ke brankar wanita itu, tapi siapa yang tahu kalau mereka berdua sama-sama gugup dan bahkan merasakan detak jantung yang berdegup kencang.
Sesampainya di brankar, Daren menurunkan Zakia pelan-pelan untuk kembali berbaring, namun tangan Zakia yang menempelan di dada Daren membuat Daren menghentikan pergerakannya.
"Gue mau duduk," ucapnya.
Sinta yang mendengar itu bergegas ingin memperbaiki posisi bantal anaknya, namun pergerakannya terlambat oleh tangan cekatan milik Daren. Di depan mata Sinta, Daren bisa melihat bagaimana pedulinya dia terhadap putri tunggalnya.
"Bentar, gue beresin dulu bantalnya." Daren memperbaiki posisi bantal Zakia dengan sebelah tangannya, sedangkan sebelah lagi masih menampung punggung Zakia.
Sedangkan Sinta berdiri di samping brankar sambil memegang infus anaknya. Sedikit banyaknya Sinta merasa terharus dengan hubungan mereka berdua, ada yang bilang seorang ibu memiliki feeling yang kuat terhadap hubungan anaknya dan kini Sinta mengakui itu, awal-awal mungkin dia sedikit ragu tapi lama kelamaan Sinta pun akhirnya bisa memandang bagaimana besarnya rasa tanggung jawab menantunya ini.
"Dah beres, tinggal senderan aja," titah Daren. Lagi dan lagi Daren membantu Zakia, terhitung sudah berapa kali Daren membantunya, Zakia memang bersyukur tapi rasa rendah diri kembali memakan isi batinnya.
Setelah memastikan Zakia bisa duduk dengan nyaman, Daren pun menoleh ke arah Sinta yang sedang memperhatikan infus istrinya.
"Mama udah makan?"
Sinta menoleh dengan pandangan terkejut, "belum, ini bentar lagi mau makan," jawab Sinta. Tak lama kemudian ponsel Sinta berdering, terlihat di ponsel tersebut ada nama Rega.
Sinta menjawab panggilan itu dan berbicara dengan Rega sembari mengangguk paham.
"Iya mama ke sana," jawab Sinta dan mematikan panggilan tersebut.
"Mama diajak sarapan sama besan, sama Hana sama Rega juga, mereka udah di sana. Tinggal mama aja yang belum, kalau mama tinggal bentar gapapa ya."
Belum ada jawaban dari Daren dan Zakia, Sinta bergegas ke luar dari sana. Meninggalkan mereka berdua dalam kecanggungan yang mendalam, Zakia yang canggung karena digendong Daren seperti itu dan Daren yang masih canggung karena baru pertama kali menggendong wanita seperti itu.
Daren mengalihkan pandangannya ke sudut meja di dekat pintu, ia baru ingat tentang makanan yang dibelikannya tadi. Karena sibuk membantu Zakia, sampai lupa dengan sedikit jajanan yang ia belikan untuk istrinya.
Sedangkan Zakia yang masih melamun atas kejadian tadi, sontak terkejut saat Daren sudah berdiri di dekatnya dan menyodorkan satu buah kantong plastik.
"Ini apa?" tanya Zakia. Kantong plastik itu terbuka sedikit dan Zakia pun memilih untuk mengintipnya, ternyata ada banyak makanan di dalam.
"Jajanan, tadi gue liat lo keknya ngiler banget pas kak Hana sama Rega makan jajanan mereka, jadi ya gue beliin sekalian buat gue juga, tapi ... gue ga tau lo seleranya apa, jadi asal gue ambil aja sih mana yang menurut gue enak," ujar Daren.
Ia menggaruk lehernya bingung, sedangkan Zakia dengan senang hati ia menerima makanan itu, kapan lagi coba bisa dapat jajanan gratis seperti ini? Zakia meletakkan plastik tersebut di pangkuannya, ia langsung membuka lebar plastik tersebut, matanya membola. Ini semua makanan kesuakannya! Bagaimana bisa Daren mengatakan bahwa dia tidak tahu apapun alasannya tentang makanan kesukaan istrinya, lah buktinya ini apa?
"Makanannya banyak banget, makasih ya bang." Zakia tersenyum lebar usai mengatakan itu, ia membuka satu bungkus roti rasa susu dan mengambilnya sedikit lalu memasukkannya ke dalam mulut.
Daren bisa melihat mata wanita ini berbinar, ia terlihat menikmati makanan itu, apakah tanpa sadar Daren mengambil makanan yang disukai oleh istrinya?
"Bang Daren mau?"
Zakia menyodorkan sedikit potongan roti yang ia makan kepada Daren. Daren bingung, ia menatap tangan yang menggantung itu lalu menatap wajah Zakia.
"Tenang, ga gue sisain kok," lanjut Zakia. Zakia pikir pria itu mungkin jijik dengan bekas gigitannya, padahal Zakia sengaja tidak langsung menggigit roti itu melainkan mengambilnya sedikit demi sedikit menggunakan tangannya agar Daren bisa menikmatinya juga.
Tapi sayangnya Daren tak juga menerima suapan itu, "tapi gapapa deng, itu kan makanannya masih banyak, bang Daren ambil dari situ aja!" suruh Zakia. Begitu Zakia ingin menarik tangannya, Daren langsung menangkap tangan Zakia dan memakan roti yang berada di ujung jari wanita itu.
"Enak," ucapnya santai. Daren tidak tahu saja bahwa Zakia terdiam kaku atas perlakuannya barusan. Jangan lupa dengan wajah yang terasa panas dan rasa gugup itu, astaga ada apa ini!
INI GIMANA CERITANYA AKU YANG NULIS AKU JUGA YANG BAPERRR HUWAAAA