Di mata publik, Rania hanyalah anak bungsu Keluarga Baskara yang manja, dan menjadi beban keluarga. Semua orang lebih memuja kakaknya, Resti, yang merupakan model sukses. Padahal di balik layar, Rania adalah gadis mandiri yang membangun toko rotinya sendiri dari nol tanpa bantuan siapa pun.Malam pernikahan megah tiba, namun Resti justru kabur ke Prancis demi karier modelnya. Demi menyelamatkan nama baik Keluarga Baskara, Rania dipaksa menjadi pengantin pengganti untuk menikahi Rangga, CEO dingin pewaris Pratama Group.
Rangga murka karena merasa ditipu. Dia mengira Rania adalah gadis manja yang sengaja menjebak kakaknya demi harta. Namun, saat Rangga mulai tahu kemandirian Rania—dan aroma roti buatan Rania justru menyembuhkan penyakit mag kronisnya—sang CEO mulai cemburu buta dan gengsi untuk mengaku bucin.Sanggupkah Rania membungkam mulut semua orang yang dulu meremehkannya?
UP SETIAP HARI JAM 06.00
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Malam telah sepenuhnya membungkus gedung pencakar langit tempat penthouse mewah milik Rangga Pratama berada. Lampu-lampu hias kota berpendar lembut menembus jendela kaca raksasa, menciptakan bayangan temaram di lantai marmer yang bersih. Namun, kedamaian malam itu sama sekali tidak dirasakan oleh penghuni utamanya.
Rangga duduk di ruang kerjanya yang luas dengan sebuah dokumen laporan keuangan terbuka di atas meja. Alih-alih membaca deretan angka yang tertera di sana, mata tajam pria itu justru terpaku lurus pada pintu ruang kerja yang terbuka sedikit, mengarah langsung ke koridor sunyi tempat kamar pribadi Rania berada.
Sudah tiga hari berlalu sejak perdebatan sengitnya dengan Resti mengenai tuntutan surat cerai. Selama tiga hari itu pula, Rangga hidup dalam siksaan psikologis yang diciptakannya sendiri. Bayangan Rania terus-menerus menari di kepalanya, menuntut atensi yang dulu selalu ia abaikan begitu saja. Dan puncaknya, malam ini, ego seorang CEO besar yang terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah benar-benar runtuh berkeping-keping.
Rangga merasa frustrasi setengah mati. Ia tidak tahan lagi dengan keheningan ini. Keheningan di mana dia tidak lagi mendengar suara langkah kaki Rania di dapur, tidak lagi mencium aroma teh chamomile hangat di meja kerjanya, dan yang paling menyiksa—tidak lagi melihat tatapan teduh itu meskipun tatapan itu dulunya sering ia balas dengan ketus.
Aku harus melakukan sesuatu, batin Rangga bergejolak, merutuki kebodohannya sendiri. Aku tidak boleh membiarkan jarak ini semakin melebar.
Maka, dimulailah sebuah rencana amatir yang tidak pernah terbayangkan akan dilakukan oleh seorang Rangga Pratama—pria dingin, kaku, dan otoriter yang biasanya memerintah dunia dengan sebelah tangan. Malam ini, seorang CEO raksasa korporat berniat mencari perhatian istrinya sendiri dengan cara-cara konyol yang putus asa.
Rangga beranjak dari kursi kerjanya. Ia merapikan letak jam tangannya, menarik napas dalam-dalam untuk menata gugup yang mendadak melanda dadanya, lalu melangkah keluar dari ruang kerja menuju koridor utama.
Langkah pertamanya dimulai di depan pintu kamar Rania yang tertutup rapat. Rangga berdiri di sana selama beberapa detik, mondar-mandir gelisah seperti remaja yang bingung cara mendekati gadis idamannya.
Tok, tok.
Rangga mengetuk pintu kayu bercat putih itu pelan, lalu berdehem keras. "Rania? Kau di dalam?" panggilnya dengan nada suara yang dibuat-buat sibuk.
Tidak ada jawaban dari dalam. Suasana di balik pintu itu tetap sunyi.
Merasa panggilannya diabaikan, Rangga memutuskan untuk melancarkan aksi pertamanya: pura-pura sibuk di dekat kamar Rania.
Ia mengambil setumpuk berkas laporan proyek dari bawah lengannya—dokumen kantor yang sebenarnya sudah selesai ia pelajari berjam-jam lalu di ruang kerja—lalu mulai berjalan mondar-mandir di sepanjang koridor sempit itu. Ia sengaja membuat suara langkah kakinya sedikit lebih keras, berharap Rania akan terganggu dan membuka pintu untuk melihat apa yang sedang ia lakukan.
Ketika cara mondar-mandir itu tidak membuahkan hasil, Rangga meningkatkan taktiknya ke level yang lebih ekstrem.
Brak!
Dengan sengaja, Rangga menjatuhkan setumpuk berkas tebal di tangannya ke lantai marmer tepat di depan pintu kamar Rania. Kertas-kertas berhamburan ke segala arah, menciptakan suara bising yang cukup keras di keheningan malam penthouse. Rangga mendengus pelan di dalam hati, tersenyum miring penuh kemenangan, yakin seratus persen bahwa trik klise ini akan memaksa Rania keluar untuk memeriksa keadaannya.
Cklek.
Benar saja. Beberapa detik kemudian, suara gagang pintu berputar. Daun pintu kamar terbuka perlahan, menampilkan sosok Rania yang berdiri di ambang pintu dengan balutan piyama tidur katun berwarna biru lembut. Rambut hitam panjangnya tergerai natural di atas bahunya.
Rania menunduk sejenak, menatap lembaran kertas laporan yang berserakan di lantai, lalu mengangkat pandangannya untuk menatap wajah Rangga yang berdiri tegak di hadapannya dengan ekspresi canggung yang berusaha ditutupi oleh wajah kaku.
"Maaf," kata Rangga dengan nada suara yang dibuat sedatar mungkin, mencoba menyembunyikan rasa salah tingkah di dadanya. "Berkasku... tidak sengaja terjatuh karena lantai ini licin. Tanganku terlalu penat seharian memegang dokumen."
Sebuah alasan klise yang terdengar sangat bodoh bahkan di telinga Rangga sendiri. Pria itu menatap mata Rania, menunggu sebuah reaksi—entah itu helaan napas lelah, teguran kecil, atau sedikit kepedulian seperti di masa lalu ketika Rania selalu sigap membantunya memungut barang-barang yang berserakan.
Namun, yang didapat Rangga jauh di luar perkiraannya.
Rania tidak berjongkok untuk membantunya. Wanita itu sama sekali tidak menunjukkan rasa khawatir atau pun jengkel. Rania hanya berdiri tegak dengan tangan bersidekap di depan dada, menatap Rangga dengan sorot mata yang kosong, tenang, dan sangat berjarak.
"Lantai ini terbuat dari marmer kualitas terbaik, Tuan Rangga. Tidak licin," jawab Rania dengan suara yang tenang, lembut, namun bernada sangat formal. "Dan jika tanganmu penat, kurasa kau butuh istirahat di kamarmu sendiri, bukan mondar-mandir di depan kamarku sambil menjatuhkan berkas."
Deg!
Kalimat itu telak menghantam harga diri Rangga. Tuan Rangga. Panggilan formal yang sangat asing itu mencubit telinganya dengan kejam.
Tidak menyerah begitu saja pada kegagalan pertama, Rangga langsung melancarkan aksi berikutnya: bertanya hal-hal sepele.
Rangga berjongkok pura-pura memunguti kertas-kertasnya, lalu berdiri cepat dan menatap Rania lekat-lekat. "Ah, ngomong-ngomong soal istirahat..." ujar Rangga mencoba mencari topik pembicaraan apa pun agar Rania tidak menutup pintunya. "Uhm... Rania, apa kau tahu di mana aku meletakkan kemeja abu-abu bergaris biru milikku? Yang biasa kugunakan untuk rapat penting dengan klien luar negeri? Asistenku sepertinya lupa menyiapkannya di lemari utama."
Padahal, kemeja itu tergantung sangat rapi di dalam lemari pakaian pribadi Rangga di kamar utama. Ia hanya mencari-cari alasan kekanak-kanakan untuk mengajak Rania berbicara lebih lama.
Rania mengerjap pelan, menatap suaminya dengan tatapan datar yang menyiratkan bahwa ia tahu persis pria di hadapannya sedang mencari-cari alasan yang tidak penting.
Dengan nada datar tanpa emosi sedikit pun, Rania menjawab, "Cari saja di lemarimu. Aku tidak pernah mengurus pakaianmu lagi sejak minggu lalu. Kau tahu sendiri batas urusan kita."
Skakmat. Kalimat itu bagaikan hantaman palu baja yang menghancurkan sisa-sisa pertahanan emosional Rangga.
Rania menanggapinya seperti angin lalu—singkat, sangat sopan, namun berjarak jutaan mil dari jangkauannya. Tidak ada kehangatan, tidak ada kemarahan yang meluap-luap, tidak ada pula rasa peduli. Rania memperlakukannya seolah-olah Rangga hanyalah seorang tamu asing yang kebetulan numpang lewat di lorong rumah yang sama.
Melihat respons dingin tersebut, kendali emosi di dalam diri Rangga akhirnya jebol total.
Rasa frustrasi yang selama berhari-hari ia pendam mendadak meledak menjadi gelombang amarah dan keputusasaan yang tidak bisa ia kendalikan lagi. Jiwa CEO yang terbiasa mendominasi merasa terinjak-injak bukan oleh musuh bisnis, melainkan oleh ketidakpedulian istrinya sendiri.
Tanpa sadar, Rangga maju satu langkah ke depan. Tangannya terulur dengan cepat, mencengkeram pergelangan tangan Rania secara perlahan namun tegas untuk mencegah wanita itu menutup pintu kamarnya.
"Rania! Tunggu sebentar!" suara Rangga meninggi, sarat akan frustrasi yang membara. Pria itu menatap lurus ke dalam bola mata Rania dengan napas yang mulai memburu. "Sampai kapan kau akan bersikap seperti ini padaku, hah?! Kau mengabaikanku, kau bicara seolah-olah aku ini orang asing di rumah ini, kau memperlakukanku seperti angin lalu! Apa sebenarnya maumu, Rania?!"
Cengkeraman itu tidak menyakiti, namun cukup membuat Rania sedikit tertegun. Meskipun demikian, Rania tidak menunjukkan rasa takut sama sekali.
Wanita itu perlahan menunduk, melirik pergelangan tangannya yang dipegang oleh Rangga, lalu mendongak kembali menatap mata suaminya dengan sorot mata yang begitu tajam dan menusuk.
Dengan suara yang tenang, dingin, dan tanpa getar sedikit pun, Rania membalas:
"Aku tidak ingin apa-apa darimu, Rangga. Aku hanya sedang mencoba belajar hidup mandiri di rumah suamiku sendiri... suami yang sibuk memikirkan masa lalunya dan wanita lain di ruang sebelah." Rania menarik perlahan pergelangan tangannya dari genggaman Rangga hingga terlepas sepenuhnya. "Sekarang, izinkan aku istirahat. Selamat malam."
Cklek.
Pintu kamar tertutup rapat di depan hidung Rangga, dikunci dari dalam dengan bunyi klik yang menggema tajam di koridor yang sepi.
Rangga berdiri terpaku di tempatnya. Ia menatap permukaan pintu putih itu dengan napas yang terengah-engah dan dada yang bergemuruh hebat. Kepalanya terasa pening, dan hatinya dihantam oleh rasa sakit yang luar biasa. Untuk pertama kalinya dalam hidup, seorang Rangga Pratama merasakan kekalahan mutlak—bukan karena kebangkrutan bisnis, melainkan karena ia telah kehilangan hati wanita yang selama ini berada di dalam genggamannya.
•
•
•
•
Jangan lupa like ya😉