Indonesia
NovelToon NovelToon
Calon Suamiku Adalah Dosenku

Calon Suamiku Adalah Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.

Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11. Cara Pandangnya yang Tak Sama pada Orang Lain

Hari-hari berlalu dengan kesibukan perkuliahan yang tak kunjung reda. Setiap kali mata kuliahnya tiba, jantungku selalu berdetak lebih kencang dari biasanya. Bukan karena takut pada materi yang disampaikannya, melainkan karena aku tahu, sebentar lagi ia akan berdiri di depan sana, dan aku harus duduk tenang di tempatku—menyimak setiap ucapannya, sambil berusaha keras menyembunyikan segala rasa yang berkecamuk di dalam dada.

Namun seiring berjalannya waktu, satu hal mulai kusadari perlahan. Sesuatu yang sempat kurasa hanyalah perasaanku semata, ternyata memang nyata adanya. Cara pandangnya... tatapan matanya... tak sama dengan cara ia memandang mahasiswa lain di kelas ini.

Saat ia berdiri menjelaskan materi di depan, matanya menyapu seluruh ruangan dengan tatapan yang tenang namun tajam, datar, dan wibawa. Saat mahasiswa lain mengajukan pertanyaan atau menjawab soal, ia menatap mereka dengan senyum tipis yang sopan, namun terasa jauh, seakan ada jarak yang tak kasat mata di antara mereka. Tidak ada yang salah, semuanya tetap berjalan wajar dan profesional. Namun tatapan itu terasa sama untuk siapa pun. Setara, adil, namun tak memiliki kedalaman lebih.

Namun ketika tatapan matanya jatuh kepadaku... segalanya berubah.

Saat namaku disebut, atau saat ia melirik ke arah bangkuku tanpa sengaja, seketika itu pula sorot matanya berubah. Tak lagi setajam pada orang lain. Ada kelembutan yang samar namun terasa nyata, seakan ia sedang menatap bukan sekadar mahasiswinya, melainkan seseorang yang jauh lebih berarti baginya. Tatapan itu bertahan sejenak—sangat singkat, cukup bagi hatiku untuk bergetar, lalu kembali berubah dingin dan tenang sebagaimana mestinya. Namun perubahan kecil itu tak luput dari perhatianku. Aku merasakannya dengan jelas, sepanjang ruas nadiku.

Suatu siang, ia sedang memberikan pertanyaan kepada beberapa mahasiswa secara acak. Mulai dari bangku depan hingga belakang. Saat menjawab salah atau kurang tepat, ia akan menatap mereka dengan tegas, lalu memberikan penjelasan tambahan agar mereka paham. Tak ada beda perlakuan, tak ada kelembutan berlebih. Hingga akhirnya namaku terucap dari bibirnya.

"Lisna, coba jelaskan pendapatmu mengenai hal ini."

Darah seketika mengalir deras ke wajahku. Aku berdiri perlahan, menata napas agar tetap tenang, lalu mencoba menjawab dengan sebaik-baiknya. Di tengah ucapanku, aku memberanikan diri mendongak dan menatapnya. Saat itu, tatapan matanya terkunci tepat di manik mataku. Dan di sana... kulihat sesuatu yang tak pernah ia tampilkan kepada orang lain. Ada perhatian yang mendalam, ada harapan agar aku mampu menjawab dengan benar, dan secercah kelembutan yang membuatku seakan kehilangan kendali atas detak jantung sendiri.

Ketika jawabanku berakhir, ia terdiam sejenak menatapku, lalu mengangguk perlahan. "Baik. Penjelasanmu cukup runtut dan logis. Pertahankan cara berpikirmu."

Ucapan itu terdengar biasa saja di telinga teman-temanku. Namun bagiku, nada bicaranya, cara ia menatapku saat berbicara, dan senyum tipis yang nyaris tak terlihat terukir di sudut bibirnya... semuanya begitu berbeda dari saat ia berbicara pada siapa pun sebelumnya. Lembut. Menenangkan. Seakan ada pesan lain yang ingin disampaikannya lewat tatapan itu.

Begitu pula saat aku sedang menunduk mencatat, sesekali kurasakan ada sepasang mata yang tertuju padaku. Saat kuangkat wajah perlahan, ternyata benar—ia sedang menatap ke arahku. Namun seketika ia memalingkan wajah kembali ke papan tulis seakan tak terjadi apa-apa. Cepat, namun cukup bagiku untuk menyadari satu hal: pandangannya padaku tak sama dengan pandangannya pada dunia di sekitar kami.

Rasa hangat perlahan mulai menjalar di dadaku. Di balik sikap dingin dan tegasnya di depan umum, ternyata ada sisi lain yang hanya ditampakkannya kepadaku. Di balik lengan kemejanya yang menutupi cincin pertunangan kami, ada pandangan mata yang menjadi saksi bisu—bahwa meski rahasia ini tersembunyi rapat dari semua orang, ia tetap memandangku dengan cara yang tak sama pada siapa pun. Bahwa di antara sekian banyak orang di ruangan ini, akulah yang memiliki tempat istimewa di matanya, meski tak boleh diketahui oleh siapa pun.

Dan hal kecil itulah yang perlahan mengubah perasaanku. Yang tadinya penuh kegelisahan dan keraguan, kini mulai tumbuh sedikit demi sedikit rasa tenang. Karena aku tahu... meski ia tak boleh bersikap berbeda di hadapan orang lain, matanya tak pernah berbohong. Cara pandangnya kepadaku adalah bukti nyata—bahwa meski harus menyembunyikan segalanya, hatinya tetap tahu siapa aku sebenarnya baginya.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!