Kaisar Iyan: Kebangkitan Raja Iblis Abadi
Kaisar Iyan hanyalah seorang pemuda pemalas yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan menghindari masalah.
Namun suatu hari, ia terbangun di dunia yang sama sekali berbeda.
Tanpa mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai di sana, Iyan menemukan bahwa tubuhnya memiliki kemampuan yang tidak pernah dimiliki manusia biasa.
Ia dapat menciptakan clone dirinya sendiri.
Ia dapat memanggil pahlawan dan monster dari dunia lain.
Ia bahkan mampu membangkitkan mayat dan tulang menjadi pasukan undead yang tidak mengenal kematian.
Namun kemampuan paling mengerikan yang dimilikinya adalah sebuah kekuatan yang memungkinkan pasukannya bangkit kembali setiap kali terbunuh—selama mana miliknya masih tersisa.
Awalnya, Iyan hanya ingin hidup tenang.
Sayangnya, dunia baru ini tidak memberinya kesempatan.
Perang, kerajaan, bangsawan, monster, pahlawan, dan pengkhianatan perlahan menyeretnya ke dalam konflik yang jauh lebih besar.
Sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BENTENG KEDUA DAN PASUKAN SUMMON
Hari kedua akhirnya tiba.
Namun, pasukan Orc masih belum terlihat.
Di sisi lain, Sebas masih berada bersamaku. Sejak kemarin, dia terus memberikan nasihat kepadaku seperti seorang kakek yang sedang menasihati cucunya.
Aku mulai sedikit kesal ketika sedang berbaring di tempat tidur.
Sebas masih saja menceramahiku.
Aku bergumam dalam hati.
Astaga... apakah dia ini benar-benar seorang pelayan?
Bahkan dia berani menceramahiku.
Sedangkan para pelayan di sini bahkan tidak berani menatapku. Para prajurit saja terlihat takut ketika melihat mataku.
Aku kemudian mulai mengingat kembali sesuatu.
Sebenarnya, apa yang telah dilakukan oleh pemilik tubuh ini sebelumnya?
Tiba-tiba hologram sistem muncul di hadapanku.
[Informasi pemilik tubuh telah terbuka.]
Aku terdiam membaca informasi tersebut.
Ternyata tubuh yang sekarang kutempati terkena kutukan Tujuh Dosa Besar.
Pemilik tubuh ini dulunya adalah seorang bangsawan yang sangat buruk.
Ayahnya adalah seorang Count, dan pemilik tubuh ini merupakan anak pertama dari empat bersaudara.
Namun, karena berbagai perbuatannya, ia akhirnya diusir dan dihukum oleh ayahnya.
Salah satu kesalahannya adalah ia hampir melakukan pelecehan terhadap putri bangsawan lain.
Tidak hanya itu, ia juga sering menindas rakyat jelata dan melakukan berbagai tindakan buruk lainnya.
Akibat perbuatannya, ia dibenci hampir di seluruh Kekaisaran.
Akhirnya, ayahnya memberikan hukuman yang cukup berat.
Ia ditempatkan di benteng timur bersama rakyat jelata, para budak, pasukan buangan, dan para kriminal lainnya.
Namun, ayahnya masih memberikan satu orang pengawal untuk mengawasinya.
Orang itu adalah...
Jenderal Serof.
Aku terdiam.
Astaga...
Akhirnya aku mengerti kenapa Serof selalu menatapku seperti itu.
Ternyata pemilik tubuh ini jauh lebih bajingan daripada diriku.
Aku menghela napas panjang.
Kemudian aku menoleh kepada Sebas.
“Sebas, apa kau bisa berubah menjadi naga?”
Sebas menjawab dengan tenang.
“Saya sendiri adalah seekor naga, jadi tentu saja saya bisa berubah menjadi naga. Saya mengambil wujud manusia agar bisa selalu melayani Rajaku.”
Aku terdiam.
Ternyata Sebas benar-benar makhluk yang setia.
Aku pernah mendengar bahwa naga memiliki harga diri dan kehormatan yang sangat tinggi.
Namun, naga yang satu ini justru memilih untuk menjadi pelayan.
Aku akhirnya memindahkan kesadaranku ke dalam tubuh clone-ku.
Clone-ku kemudian mengenakan baju zirah dan membawa pedang serta perisai.
Aku menggerakkan tubuh tersebut dan bergumam.
“Baju zirah ini sedikit berat.”
Aku bersama Serof kemudian berada di atas benteng.
Kami menunggu kedatangan para pengintai yang sedang mengawasi pergerakan pasukan Orc.
Dua jam berlalu.
Akhirnya, para pengintai kembali.
Mereka segera memberikan laporan.
“Tuan, pasukan Orc tidak terlihat.”
Serof mengerutkan kening.
“Tidak terlihat?”
“Benar. Bahkan di reruntuhan benteng kedua yang berada di depan kita, tidak ada satu pun Orc.”
Pengintai tersebut terlihat ragu sebelum melanjutkan.
“Namun... kami menemukan banyak mayat.”
“Mayat Orc dan penduduk.”
“Selain itu, banyak mayat yang menghilang.”
Serof semakin serius.
“Yang menghilang?”
“Benar. Bahkan zirah dan pedang milik pasukan yang sebelumnya gugur juga tidak ditemukan.”
Serof mulai berpikir.
Ada sesuatu yang janggal.
“Sepertinya kita harus mengirim beberapa pasukan untuk memeriksa benteng kedua.”
Ia menunjuk ke arah reruntuhan benteng tersebut.
“Jika benteng kedua masih bisa diperbaiki, itu akan sangat membantu. Setidaknya kita memiliki dua benteng untuk mempertahankan wilayah ini.”
Aku hanya terdiam sambil berpikir.
Mungkin tidak ada salahnya mengambil alih benteng kedua.
Lagipula, di benteng utama sudah ada Sebas.
Tidak ada yang perlu kutakutkan.
Sebas juga sedang melindungi tubuh asliku.
Aku akhirnya menjawab.
“Oke, Serof. Kita akan berangkat satu jam lagi.”
Aku kemudian memberikan perintah.
“Siapkan 30 prajurit, 20 petualang, dan 40 tentara bayaran.”
“Kita akan bersiap untuk berangkat.”
“Baik, Tuan.”
Sebelum berangkat, aku kembali melihat sistem.
Mataku tertuju pada satu kemampuan.
Necromancer.
“Necromancer... apa itu?”
Aku ingin mencoba kemampuan tersebut.
Sistem kemudian memberikan penjelasan.
[Necromancer adalah ilmu sihir gelap yang dilarang dan dikekang oleh Gereja serta para pengguna sihir suci lainnya.]
[Kemampuan Necromancer hanya dapat digunakan pada mayat atau tulang-belulang makhluk yang telah mati.]
Aku kemudian bertanya lagi.
“Apakah aku bisa mendesain pasukan atau menentukan bentuk pasukan yang ingin kuciptakan?”
Sistem menjawab.
[Tidak bisa.]
[Necromancer merupakan ilmu hitam yang hanya dapat digunakan pada mayat atau makhluk yang telah mati.]
Aku mulai berpikir.
Kalau begitu...
Saat sampai di benteng kedua nanti, ada banyak mayat yang bisa kujadikan eksperimen.
Sebuah ide mulai muncul di kepalaku.
Aku kemudian pergi ke belakang benteng, menuju tempat yang sepi.
Aku ingin melakukan summon beberapa prajurit untuk mengawalku.
Aku menutup mata dan membayangkan seorang prajurit legendaris.
Namun, sistem kembali memberikan informasi mengenai kemampuan Summon milikku.
[Jumlah dan jenis summon bergantung pada Rank.]
Rank SSR: 1 Pahlawan
Rank SSS: 1 Pahlawan
Rank SS: 1 Pahlawan
Rank S: 1 Pahlawan
Rank A: 2 Jenderal
Rank B: 4 Elite
Rank C: 10 Prajurit
Rank D: 20 Budak/Tukang
Aku terkejut melihat susunan rank tersebut.
Jadi ini jumlah makhluk yang bisa kupanggil dalam satu hari?
Aku kemudian berpikir.
Aku membutuhkan sepuluh prajurit agar bisa membantu pasukan lainnya.
Sistem kembali memberikan informasi.
[Pemanggilan Pahlawan membutuhkan jumlah mana yang sangat besar serta jiwa dan mental yang kuat.]
[Sistem menyarankan pengguna untuk sementara memanggil Rank A, B, C, atau D.]
[Pemanggilan Pahlawan memiliki hasil yang sangat acak.]
Aku mengangguk.
“Baiklah. Aku mengerti.”
Aku mulai menutup mata.
“Aku akan memanggil sepuluh prajurit.”
Mana mulai berkumpul.
FWOOSH!
Asap hitam pekat muncul di hadapanku.
Dari dalam asap tersebut, perlahan muncul bayangan sepuluh orang.
Satu per satu, mereka keluar dari asap hitam.
Mereka semua memiliki tubuh seperti manusia dan mengenakan pakaian serta perlengkapan perang berwarna gelap.
Begitu seluruhnya muncul, mereka langsung berlutut.
“Hormat kepada Raja Iblis Agung!”
Aku langsung berkeringat dingin.
Astaga!
Jangan berteriak seperti itu!
Aku langsung melihat ke sekitar untuk memastikan tidak ada orang yang mendengar.
“Jangan panggil aku Raja Iblis Agung!”
Aku berbicara dengan suara pelan.
“Panggil aku Tuan Iyan saja.”
Kesepuluh prajurit tersebut menjawab secara bersamaan.
“Baik, Rajaku!”
Aku terdiam.
Sial...
Mereka sama seperti Sebas.
Aku menghela napas.
Huff... ini bakal merepotkan.
Aku kemudian melihat status mereka.
[Status]
Nama: Belum Ada
Usia: 200 Tahun
Rank: C
Status: Prajurit
Keahlian: Penjaga — Pelindung — Rahasia
Aku sedikit terkejut.
Rahasia lagi?
Bahkan sistem tidak dapat menjelaskan beberapa keahlian mereka.
Aku memperhatikan tubuh mereka.
Mereka terlihat seperti manusia biasa.
Namun, ada satu hal yang membedakan mereka.
Mata mereka berwarna keemasan.
Sama seperti mata Sebas.
Sistem kemudian memberikan informasi tambahan.
[Rank Prajurit Summon berbeda dengan sistem Rank Kekaisaran.]
[Prajurit Summon Rank C setara dengan Prajurit Kekaisaran Rank A hingga B.]
Aku terdiam.
Apa...?
Berarti kekuatan Sebas benar-benar di luar nalar.
Jika prajurit Rank C saja setara dengan prajurit Kekaisaran Rank A sampai B...
Berarti mereka semua sangat kuat.
Aku kemudian memandang kesepuluh prajurit tersebut.
“Kalau begitu, aku akan memberikan nama kepada kalian.”
Mereka semua menunggu.
“Karena kalian semua datang bersamaku dan kalian semua laki-laki...”
Aku mulai menyebutkan nama mereka satu per satu.
“Pertama, Florin. Kau menjadi kapten.”
“Yang kedua, Flor.”
“Ketiga, Elbor.”
“Keempat, Ben.”
“Kelima, Sen.”
“Keenam, Ren.”
“Ketujuh, Ken.”
“Kedelapan, Ten.”
“Kesembilan, Ron.”
“Dan yang terakhir, Rento.”
Aku tersenyum.
“Karena kalian datang bersama-sama, aku rasa nama-nama itu cocok untuk kalian.”
Aku tertawa kecil.
“Hahahaha!”