Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 REKENING YANG MEMAKAI NAMAKU
Kaluna terdiam. Ucapan Veyra menghentikan langkahnya tepat di depan pintu. Mobil penjemput sudah menunggu di halaman, tetapi selama beberapa saat suara mesinnya terasa jauh.
“Aku mengatakan apa?” tanya Kaluna.
Veyra melirik ke arah ruang bermain. Elara masih berada di dalam bersama Arsen. Suara mereka terdengar samar. Kaluna tidak bisa menangkap apa yang sedang mereka bicarakan.
“Bukan di sini.”
“Kamu yang memanggilku.”
“Aku tahu.”
“Kalau memang ada sesuatu yang pernah kukatakan, bilang sekarang.”
Veyra merapatkan kedua tangannya di depan tubuh. “Beberapa hari sebelum kecelakaan, kamu mengirim pesan. Kamu bilang kalau sesuatu terjadi, aku harus menjaga Elara.”
“Pesannya masih ada?”
Veyra sempat terdiam.
“Masih atau tidak?”
“Masih.”
“Perlihatkan.”
“Aku tidak membawanya sekarang.”
“Teleponmu ada di tangan.”
“Pesan itu tersimpan di perangkat lama.”
Kaluna memperhatikan wajah adik angkatnya. Veyra tampak tegang. Kaluna tidak merasa Veyra sedang mengarang kebohongan saat itu juga.
“Kenapa baru sekarang kamu mengatakannya?”
“Karena sejak kamu kembali, kamu bertindak seolah aku mengambil hidupmu tanpa alasan.”
“Kamu menikahi suamiku dan membesarkan anakku sebagai anakmu.”
“Karena kamu dinyatakan meninggal.”
“Dan cuma karena satu pesan, kamu percaya aku memang mau pergi?”
“Bukan hanya pesan itu.”
Napas Kaluna tertahan. “Apa lagi?”
Veyra menggeleng. “Aku akan menunjukkan semuanya. Tapi bukan saat Elara ada di dekat kita.”
“Kapan?”
“Besok.”
“Jangan menghilangkan pesan itu.”
Veyra menegang. “Aku tidak akan menghapusnya.”
Kaluna hampir mengatakan bahwa dirinya tidak lagi tahu apa yang mampu dilakukan Veyra. Ia memilih menahannya.
“Aku datang besok,” katanya.
“Bicarakan dulu dengan Arsen.”
“Aku tidak datang untuk menemui Elara. Aku datang untuk melihat pesan itu.”
Kaluna berbalik dan meninggalkan rumah.
Sepanjang perjalanan menuju kantor Salindri, ucapan Veyra terus mengikutinya. Ia pernah meminta Veyra menjaga Elara. Kalimat itu bisa berarti banyak hal—sekadar titipan sebelum perjalanan singkat atau ucapan seorang ibu yang merasa sedang terancam.
Jika isi pesannya terdengar seperti perpisahan, orang lain bisa menganggap Kaluna memang sudah berencana meninggalkan semuanya.
Seseorang telah membuat tiket ke Singapura dan membuka rekening di luar negeri atas namanya.
Orang yang sama juga mengirim foto hotel kepada media.
Jika pesan kepada Veyra juga dipalsukan, berarti rencana itu tidak hanya ditujukan kepada perusahaan dan pengadilan. Seseorang sengaja menanam kebohongan di dalam keluarganya sendiri.
Naren dan Salindri sudah menunggu ketika Kaluna tiba. Di atas meja terbentang sejumlah dokumen mengenai rekening Singapura. Sebagian besar berbahasa Inggris dan sudah dilengkapi catatan terjemahan.
“Kamu lebih lama dari perkiraan,” kata Naren.
“Veyra mengatakan aku pernah mengirim pesan agar dia menjaga Elara kalau sesuatu terjadi.”
Salindri menghentikan gerakan tangannya. “Kapan?”
“Beberapa hari sebelum kecelakaan.”
“Pesannya masih ada?”
“Katanya tersimpan di telepon lama.”
“Kita perlu salinan lengkapnya. Sekalian data pengirimannya.”
“Besok dia akan menunjukkan.”
Naren bersandar di kursi. “Kalau pesan itu memang dikirim dari akunmu, belum tentu kamu yang mengirim.”
“Aku tahu.”
Kaluna duduk di depan meja. “Sekarang jelaskan rekening ini.”
Naren memutar laptop agar layarnya menghadap Kaluna.
“Rekening dibuka atas nama Kaluna Adiswara, menggunakan salinan kartu identitas, paspor, dokumen perusahaan, dan bukti alamat.”
“Alamat mana?”
“Apartemen yang dulu tercatat atas namamu.”
“Aku masih tinggal di sana sebelum kecelakaan.”
“Iya. Karena itu dokumennya terlihat sah.”
Kaluna mengambil lembar pertama. Foto paspor, nomor identitas, dan tanda tangannya tercantum dengan benar.
“Bank membuka rekening tanpa aku datang?”
“Pembukaan dilakukan melalui layanan nasabah perusahaan. Ada verifikasi jarak jauh.”
“Panggilan video?”
“Dalam catatan tertulis ada verifikasi identitas melalui mitra administrasi.”
“Siapa mitranya?”
“Perusahaan yang mengurus pembukaan rekening lintas negara untuk jajaran direksi dan pemegang saham.”
Salindri menyodorkan dokumen lain.
“Mahardika Medika pernah memakai layanan itu untuk beberapa transaksi internasional. Jadi permohonan atas namamu tidak langsung dianggap mencurigakan.”
Kaluna membaca nama perusahaan penyedia layanan tersebut.
Asteria Corporate Services.
“Aku pernah mendengar nama ini?”
“Kami belum tahu,” jawab Naren. “Tapi mereka tercatat pernah menangani dokumen dua perusahaan yang bekerja sama dengan Mahardika Medika.”
“Sentra Arunika?”
“Belum ada dalam daftar yang kami dapat.”
Kaluna menunjuk bagian kontak pemilik rekening. Nomor teleponnya memakai kode Indonesia, tetapi bukan nomor yang pernah digunakannya. Alamat surelnya juga asing: kaluna.adiswara.private@protonmail.com.
“Aku tidak pernah memakai alamat ini.”
“Kami sudah memeriksa perangkat dan catatan akunmu yang masih tersedia,” kata Naren. “Tidak ada bukti kau pernah mengakses surel tersebut.”
“Nomor teleponnya?”
“Kartu prabayar. Sudah tidak aktif.”
“Atas nama siapa?”
“Registrasinya memakai identitas seorang perempuan bernama Sulastri.”
“Siapa dia?”
“Seorang pekerja rumah tangga yang meninggal empat tahun lalu.”
Kaluna mengangkat wajah.
“Meninggal sebelum nomor itu digunakan?”
Naren mengangguk.
Identitas seorang perempuan yang sudah meninggal dipakai untuk mendaftarkan nomor telepon. Nomor itulah yang kemudian dipakai untuk mengendalikan rekening atas nama Kaluna.
“Jadi rekening ini benar-benar ada,” kata Kaluna.
“Iya.”
“Dan dibuka memakai dokumenku.”
“Iya.”
“Tapi nomor serta surelnya dikendalikan orang lain.”
“Untuk sekarang, itu yang paling masuk akal.”
Kaluna menelusuri daftar transaksi. Dana dalam jumlah besar masuk satu hari sebelum kecelakaan. Jumlah uangnya sama dengan angka yang tercantum dalam dokumen yang dikirim kepada media. Uang itu tidak bertahan lama.
“Dua hari setelah kecelakaan, dananya dipindahkan lagi,” katanya.
“Ke tiga rekening berbeda,” jawab Naren. “Lalu jejaknya dipecah menjadi transaksi yang lebih kecil.”
“Siapa penerimanya?”
“Dua perusahaan luar negeri dan satu rekening perorangan. Kami masih menelusuri pemilik manfaatnya.”
Kaluna melihat tanggal-tanggal tersebut.
Saat Kaluna terbaring tanpa identitas dan tidak mampu mengingat siapa dirinya, seseorang mengendalikan rekening memakai namanya.
“Dana awal berasal dari mana?”
Naren membuka halaman lain.
“Pembayaran dikirim melalui rekening penampungan perusahaan. Dalam catatan Mahardika Medika, transaksi itu disebut pembayaran penyelesaian proyek.”
“Proyek apa?”
“Distribusi alat medis untuk cabang baru.”
“Vendornya?”
Naren terdiam sebentar sebelum menunjuk satu baris.
Sentra Arunika Logistik.
Kaluna membaca nama itu dua kali.
“Jadi uangnya tidak langsung berasal dari Mahardika Medika.”
“Benar. Mahardika membayar Sentra Arunika. Sebagian dana kemudian dipindahkan ke rekening Singapura atas namamu.”
“Supaya tampak seperti aku menerima uang hasil penggelapan.”
“Itulah dugaan kita.”
Salindri mengingatkan, “Kita tetap harus membuktikan uang itu memang bukan pembayaran sah untukmu.”
“Aku tidak pernah punya hubungan pribadi dengan Sentra Arunika.”
“Dokumen lama mungkin mengatakan sebaliknya.”
Kaluna membuka lampiran berikutnya. Sebuah surat persetujuan konsultan tercantum di sana. Isinya menyebut Kaluna menerima biaya atas jasa pengembangan sistem distribusi internasional. Tanda tangannya ada di bagian bawah.
“Ini palsu.”
“Bisa jadi tanda tangan dipindai seperti tanda tangan Arsen pada daftar hotel,” kata Salindri. “Dokumen asli harus diperiksa.”
“Siapa yang mengunggah berkas ini?”
Naren menunjuk bagian catatan internal bank. Permohonan diajukan melalui akun Asteria Corporate Services. Nama petugas yang menangani dokumen tercantum sebagai Dian Paramitha.
“Cari dia,” kata Kaluna.
“Sudah.”
“Apa hasilnya?”
“Dian tidak lagi bekerja di Asteria.”
“Sejak kapan?”
“Tiga minggu setelah kecelakaanmu.”
Kaluna mulai mengenali pola tersebut.
Lidia keluar beberapa bulan setelah kejadian. Telepon Revan dilaporkan hilang. Fadli menyusun pemeriksaan yang justru menyalahkan Kaluna. Petugas yang mengurus rekening juga pergi tidak lama setelah Kaluna menghilang.
“Alamat Dian?”
“Kami punya alamat lama. Tidak pasti masih berlaku.”
“Hubungannya dengan Mahardika?”
Naren menggeser layar ke dokumen profil pegawai.
“Sebelum bekerja di Asteria, dia pernah menjadi staf administrasi kontrak.”
“Di mana?”
Naren diam sebentar.
Kaluna membaca sendiri nama perusahaan yang tercantum di bawah riwayat pekerjaannya.
Mahardika Medika.
“Berapa lama dia bekerja di sana?”
“Dua tahun.”
“Bagian apa?”
“Sekretariat direksi.”
Kaluna menoleh kepada Salindri.
“Berarti dia bisa mengakses dokumen pribadiku.”
“Bisa saja.”
“Paspor, tanda tangan, alamat, dan berkas perusahaan.”
“Kalau tugasnya menangani perjalanan direksi, sangat mungkin.”
Kaluna kembali memperhatikan foto Dian. Perempuan itu tampak berusia akhir dua puluhan saat foto tersebut diambil. Wajahnya terasa asing.
“Aku tidak mengingatnya.”
“Perusahaan memiliki banyak pegawai,” kata Naren. “Kau tidak harus mengenal semua staf sekretariat.”
“Siapa atasannya?”
Naren membuka catatan struktur lama. Nama bagian tertera jelas, tetapi nama pemimpin unit telah dihapus dari salinan yang mereka dapat.
“Hilang lagi,” kata Kaluna.
“Bukan hilang,” jawab Naren. “Kolomnya dikosongkan.”
“Siapa yang memberikan data ini?”
“Mantan staf sumber daya manusia.”
“Bisa mendapatkan versi asli?”
“Sedang dicari.”
Salindri mengumpulkan beberapa lembar yang paling penting.
“Ini cukup untuk mengajukan permintaan pemeriksaan terhadap rekening dan melawan tuduhan bahwa Kaluna mengendalikannya.”
“Belum cukup. Kita belum tahu siapa yang membuka,” kata Kaluna.
“Kita tidak mungkin menyelesaikan semuanya hari ini.”
Kaluna bersandar, tetapi pikirannya terus bergerak.
“Apa alamat korespondensi rekening?”
Naren membuka halaman lain.
“Bukan apartemenmu.”
“Lalu?”
“Sebuah kotak surat perusahaan yang disewa Asteria Corporate Services.”
“Siapa penerima suratnya?”
“Ada nama petugas kontak.”
Kaluna mendekat.
Nama itu bukan Dian.
Revan Daneswara.
Tak ada yang bicara.
Kaluna menatap layar tanpa berkedip.
“Revan lagi.”
Naren mengangguk. “Namanya tercantum sebagai kontak perusahaan untuk pengiriman dokumen fisik.”
“Berarti dia tahu rekening ini.”
“Belum tentu tahu isinya,” kata Salindri. “Nama asisten memang sering dipakai untuk menerima berkas.”
“Surat kematianku, telepon hotel, akses arsip, sekarang rekening Singapura.” Kaluna menarik napas. “Berapa kali lagi namanya muncul sebelum kita berhenti menganggap ini kebetulan?”
“Saya juga tidak menganggap ini kebetulan.”
“Hubungi dia.”
Naren menelepon nomor Revan. Tidak aktif.
Kaluna mencoba nomor yang dipakai Revan untuk mengirim pesan.
Hasilnya sama.
“Dia mematikan semuanya,” katanya.
Naren membuka aplikasi pesan. “Terakhir aktif tadi pagi.”
Kaluna kembali memperhatikan foto formulir bank.
Revan mungkin hanya menerima amplop tanpa mengetahui isinya. Ia bisa saja kembali menjalankan perintah seperti yang selalu dikatakannya.
Nama Revan sebagai kontak penerima tidak mungkin dipilih secara acak.
Seseorang memakai nama dan posisi Revan untuk menghubungkan semua proses, sementara nama pemberi perintah tetap tidak pernah muncul.
Telepon Salindri berdering. Ia menerima panggilan dari staf kantornya. Setelah mendengarkan beberapa saat, ia menyalakan pengeras suara.
Seorang perempuan menjelaskan bahwa mereka berhasil memperoleh catatan pengiriman dokumen rekening dari perusahaan kurir.
“Ada tanda tangan penerima?” tanya Salindri.
“Ada.”
“Revan?”
“Bukan.”
Kaluna langsung mendekat.
“Siapa?”
Suara di seberang membuka berkas.
“Dokumen dikirim ke Asteria Corporate Services. Pada lembar penerimaan, nama Revan memang tercantum sebagai kontak, tetapi paket diterima orang lain.”
“Namanya?”
Suara di seberang membuka berkas sekali lagi.
“Veyra Andalas.”
Kaluna membeku.
Salindri memintanya mengulang.
“Penerima menulis nama Veyra Andalas dan menandatangani paket. Tanggal penerimaan empat hari sebelum kecelakaan Kaluna.”
Kaluna melihat tanggal pengiriman.
Empat hari sebelum ia jatuh ke sungai—sehari sebelum pesan atas namanya dikirim kepada Veyra.
Kini nama Veyra muncul pada dokumen rekening yang digunakan untuk menuduh Kaluna melarikan diri.