"Aku lulus, Bu... Karsa juara satu."
Bagi Karsa, selembar kertas kelulusan di tangannya adalah tiket untuk membawa ibunya keluar dari jerat kemiskinan desa. Ia berlari membelah terik siang dengan dada membuncah oleh bahagia, tak sabar ingin memeluk satu-satunya alasan mengapa ia bertahan menghadapi kerasnya hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sudut pandang
Tiga puluh menit berlalu dengan cepat. Suara deru motor bebek Jono memecah keheningan gang di depan mes karyawati. Jono turun dari motornya sambil menenteng dua kantong plastik berukuran besar yang penuh berisi buah-buahan segar hasil buruannya dari pasar sore tadi.
"Nih, logistik tempur kita malam ini!"
seru Jono penuh kemenangan sambil meletakkan kantong plastik itu di atas tikar plastik yang sudah digelar di halaman mes. Di dalamnya terlihat ada buah nanas, bengkuang, mangga muda, hingga beberapa sisir pisang batu untuk campuran bumbu rujaknya.
Dian yang melihat isi kantong itu langsung bersorak kegirangan. "Wahhh... ini mah bakal enak banget, Jon! Lengkap banget buahnya.
"Jono menyeka keringat di dahinya, mencoba bersikap rendah hati di depan para gadis.
"Ah ya seadanya aja dulu, Di."
Agus yang duduk di sebelah Salman tidak mau kalah eksis. Ia langsung menyambar obrolan demi menarik perhatian. "Tenang aja, ntar kalau kita udah gajian dan ada dana lebih, aku yang bakal traktir kalian makan di tempat yang lebih mewah!" serunya yang langsung disambut sorakan dari Jono dan Siska.
Suasana malam minggu itu menjadi semakin hidup. Ketiga wanita itu mulai sibuk membagi tugas. Siska, Dian, dan Tias dengan cekatan mengambil pisau dan wadah, lalu mulai mengupas kulit buah-buahan satu per satu sembari sesekali bergosip kecil.
Sementara itu, Salman hanya duduk bersandar santai di dekat tiang teras mes. Di sela jarinya, terselip sebatang rokok filter ukuran kecil yang asapnya mengepul tipis ke udara, ditemani sebuah minuman kaleng segar di sampingnya. Ia menikmati posisi sebagai pengamat, membiarkan Jono dan Agus yang lebih banyak mendominasi obrolan kocak dengan para wanita.
Melihat Salman yang terlalu pasif, Tias yang sedang mengiris mangga muda mendongak dan menegurnya sambil bercanda. "Eh, Man... jangan diam aja dong. Emangnya kita semua di sini patung apa?"
Salman hanya tersenyum tipis, tidak merasa tersinggung sama sekali dengan teguran itu.
"Iya tuh, Man," timpal Dian ikut menimpali. Ia menghentikan gerakan pisaunya sejenak lalu menatap Salman penasaran.
"Eh Man, kamu sebenarnya asalnya dari mana sih? Kok logat bicaranya agak beda?"
"Ujung desa bagian utara," jawab Salman singkat dan lugas.
Siska yang sedang memotong nanas langsung menyahut, "Wah, jauh juga ya ternyata?"
Salman mengangguk pelan, mengisap rokok gengsinya sekali lagi sebelum mengembuskan asapnya ke samping.
"Yah, lumayan lah. Perlu waktu satu hari satu malam penuh naik bis antarprovinsi baru bisa sampai ke kota ini."
"Kalo kami bertiga sih ya asal daerahnya dekat-dekat sini aja sebenarnya, Man," kata Siska sambil menunjuk dirinya dan kedua temannya.
Salman menaikkan sebelah alisnya, sedikit penasaran dengan kontradiksi tersebut. "Tapi, kok kalian malah memilih tinggal menetap di mes pabrik kalau rumahnya dekat?"
Jono dan Agus spontan tertawa mendengar pertanyaan polos Salman, sementara Tias hanya tersenyum penuh arti.
"Hahaha! Nanti juga kamu bakal tahu sendiri, Man... gimana enaknya dan bebasnya kalau kita hidup mandiri dan tinggal sendiri di mes kayak gini," jawab Tias dengan nada bangga khas anak muda yang merasa terbebas dari kekangan orang tua.
Namun, alih-alih setuju dengan opini kebebasan itu, Salman justru menggelengkan kepalanya dengan tatapan mata yang mendadak menerawang jauh.
"Susah," ucap Salman lirih namun terdengar sangat tegas.
Sontak saja, jawaban satu kata dari Salman itu membuat atmosfer obrolan yang tadinya penuh tawa langsung terhenti seketika. Jono, Agus, dan ketiga gadis pabrik itu langsung kaget dan saling pandang. Mereka tidak menyangka akan mendapat respons yang begitu dingin.
"Susah? Susah apanya, Man?" tanya Tias dengan raut wajah bingung, menanti penjelasan.
Salman menurunkan pandangannya, menatap kaleng minumannya sebelum kembali bersuara dengan nada yang sangat tenang namun sarat akan pengalaman hidup. "Yah... susah. Mau makan aja kita harus repot-repot masak sendiri atau keluar buat beli. Kalau di rumah ada keluarga
kan biasanya selalu ada yang masakin, atau setidaknya ada yang menyambut kita pulang kerja."
Salman menjeda kalimatnya sejenak. Bayangan tentang rumah gubuknya yang sepi di desa, kenangan tentang almarhum ibunya, serta kehangatan Ningsih di warung mendadak berputar kembali di kepalanya.
Ia tersenyum tipis, mencoba mengusir mendung di wajahnya, lalu menatap teman-teman barunya satu per satu.
"Memang ya... definisi 'enak' bagi tiap-tiap orang itu pasti beda-beda," pungkas Salman menutup kalimatnya.
Kalimat sederhana dari Salman itu seketika mengunci mulut semua orang yang ada di tikar tersebut. Jono dan Agus yang tahu persis status yatim piatu Salman langsung terdiam canggung, sementara ketiga gadis pabrik itu mendadak tersadar bahwa pemuda yang ada di depan mereka ini menyimpan sebuah kedewasaan hidup yang dipaksa matang oleh keadaan.