Update Setiap Hari dijam yang sama 12.00 WIB
Bagaimana jika jodoh ternyata bukan pilihan sendiri, tetapi dari kiriman ayah?
Reina Lunox harus menghadapi Tuan Muda Angkuh dari anak sahabat ayahnya. Meski, awal ia menolak untuk perjodohan itu. Reina tidak bisa menolak kemauan ayahnya.
Apa yang akan Reina lakukan untuk menaklukkan Tuan Muda Angkuh, Jino West? Ikuti kisah mereka!!
Karya Author// DILARANG PLAGIAT//
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Batas Antara Dua Dunia
Suara ketukan jari Jino di atas meja kaca ruang kerja pribadinya terdengar berirama, menciptakan ketukan monoton yang kian memperkeruh suasana di dalam ruangan kedap suara itu. Di seberangnya, layar laptop menyala terang menampilkan draf dokumen kerja sama bisnis antara perusahaannya dan kelompok usaha keluarga Lunox. Namun, alih-alih fokus pada angka-angka profit, pikiran pemuda itu justru melayang pada insiden di koridor kampus beberapa hari lalu.
Gadis itu—Reina Lunox—benar-benar di luar prediksinya. Selama dua puluh enam tahun hidupnya, Jino terbiasa dikelilingi oleh orang-orang yang selalu menunduk hormat, tersenyum patuh, atau bahkan sengaja mencari muka di hadapannya. Tidak pernah ada satu pun wanita yang berani menatap matanya dengan kilat kemarahan separah Reina, apalagi terang-terangan melontarkan kata-kata sinis di depan umum.
Kucing liar, batin Jino dalam hati, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sekilas nyaris tak terlihat. Ada sensasi asing yang menggelitik rasa penasarannya, meski segera ia tepis dalam-dalam di balik topeng dingin dan arogansinya. Bagi Jino, pernikahan ini murni urusan bisnis dan bentuk penghormatan terakhir kepada Tuan Demian serta mendiang ayahnya. Cinta atau keharmonisan rumah tangga sama sekali tidak pernah masuk dalam kamus hidupnya yang serba terstruktur.
Sementara itu, di belahan kota yang berbeda, Reina tengah mondar-mandir di dalam kamarnya yang berantakan dengan lembaran kertas revisi skripsi berserakan di atas tempat tidur. Gadis itu mengacak rambutnya frustrasi, melampiaskan kekesalannya pada bantal guling di dekatnya.
"Pria arogan, menyebalkan, es batu berjalan, sok berkuasa!" maki Reina tanpa henti, melampiaskan seluruh uneg-unegnya ke udara kosong. "Berani-beraninya dia meremehkanku di depan umum! Awas saja, kalau bukan karena Ayah yang sedang sakit, aku pasti sudah kabur ke luar negeri dan mengganti identitas!"
Telepon genggam di atas meja rias mendadak berdering nyaring, membuyarkan gerutuan panjang Reina. Nama sang ayah tertera jelas di layar. Dengan helaan napas berat, ia mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Ayah?" sapa Reina, berusaha melunakkan nada suaranya agar Demian tidak curiga.
"Reina, sayang. Malam ini, tolong bersiaplah pukul tujuh malam," suara Demian terdengar di seberang sana, tenang namun menyiratkan titah mutlak. "Kita diundang makan malam bersama keluarga Tuan William dan Jino di restoran Hotel Grand Victoria. Ini acara penting untuk mematangkan tanggal pertunangan kalian minggu depan. Jangan membantah, ya."
Belum sempat Reina melayangkan protes atau alasan untuk menolak, sambungan telepon sudah terputus lebih dulu. Reina menatap layar ponselnya dengan rasa horor yang menggelayut di dada. Makan malam lagi? Dengan pria es batu itu lagi? Hidupku benar-benar sudah dijual oleh Ayah!
Pukul tujuh malam tepat, mobil sedan mewah yang dikemudikan oleh sopir pribadi keluarga Lunox berhenti di depan lobi megah Hotel Grand Victoria. Reina melangkah turun dengan balutan midi dress berwarna emerald green yang membungkus tubuhnya dengan sempurna, dipadukan dengan heels senada dan riasan wajah natural yang menonjolkan kecantikan alaminya. Meski hatinya enggan setengah mati, ia tetap menjaga harga diri keluarga Lunox dengan tampil memukau.
Begitu ia memasuki restoran private rooftop hotel tersebut, matanya langsung menangkap sosok-sosok yang sudah menunggu. Demian dan Tuan William tampak tengah berbincang santai, sementara di kursi seberang, Jino duduk dengan setelan jas navy formal yang membuat aura dominannya semakin menguar tajam.
Mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Jino mengangkat wajahnya. Untuk sepersekian detik, manik mata kelam pemuda itu sempat tertegun menangkap penampilan Reina malam ini. Ada kilat kekaguman yang melintas di matanya, namun dengan cepat ia tutupi kembali di balik ekspresi datarnya yang biasa.
"Malam, Om Demian, Om William," sapa Reina dengan senyuman paling profesional yang bisa ia simpulkan, meski matanya sempat melirik sekilas ke arah Jino dengan tatapan penuh permusuhan terselubung.
"Malam juga, putri kesayangan Ayah. Cantik sekali putri Ayah malam ini," puji Demian tulus, menyambut Reina dengan usapan lembut di puncak kepalanya.
Jino berdehem pelan, menarik kursi kosong di sebelah tempat duduknya untuk Reina. "Silakan duduk, mahasiswi bau kencur," ucap Jino dengan suara rendah yang sengaja hanya bisa didengar oleh Reina, diucapkan tepat di dekat telinga gadis itu saat ia hendak duduk.
Reina langsung menoleh tajam, melayangkan tatapan membunuh di bawah meja, sementara bibirnya tetap tersenyum manis seolah tidak terjadi apa-apa di hadapan kedua orang tua mereka. Dasar pria menyebalkan! maki Reina dalam hati sambil mendengus pelan.
Sepanjang hidangan pembuka hingga hidangan utama disajikan, suasana meja makan terasa jauh lebih menegangkan dibanding pertemuan sebelumnya. Tuan William dan Demian asyik membahas detail persiapan pertunangan, mulai dari konsep acara, jumlah tamu undangan, hingga lokasi cincin pertunangan yang dipesan khusus dari luar negeri.
"Bagaimana, Jino? Kamu sudah memilihkan cincin yang paling pas untuk Reina?" tanya Tuan William tiba-tiba kepada putranya di sela-sela potongan daging wagyu di piring mereka.
Jino meletakkan pisaunya secara perlahan, menatap ayahnya sejenak sebelum menoleh ke arah Reina dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Sudah, Pa. Aku sudah memesan cincin khusus dengan berlian hitam dan putih yang melambangkan kontras karakter kami berdua," jawab Jino tenang. "Satu sisi tampak elegan dan tenang, sementara sisi lainnya... keras kepala dan suka mencakar."
Reina yang sedang meminum air putih hampir saja tersedak. Ia melotot tajam ke arah Jino, sementara pemuda itu justru balas menatapnya dengan senyuman miring penuh kemenangan.
Dia benar-benar sedang mencari mati di hadapanku! batin Reina menggeram gemas.
"Baguslah kalau begitu," sahut Demian tertawa kecil, tidak menyadari ketegangan psikologis yang sedang terjadi di antara kedua anak muda tersebut. "Ayah senang melihat kalian mulai bisa beradaptasi satu sama lain menjelang hari besar kalian."
Beradaptasi apanya? Ini namanya menyiksa diri secara perlahan! Reina merutuk dalam hati, namun ia tahu ia tidak bisa melawan di hadapan ayahnya yang tampak begitu bahagia melihat rencana pernikahan ini berjalan lancar.
Menjelang akhir acara makan malam, ketika kedua orang tua mereka sibuk berbincang dengan manajer restoran di dekat pintu keluar, Reina dan Jino tertinggal sejenak di meja mereka. Reina segera membereskan tas kecilnya, berniat meninggalkan ruangan itu secepat mungkin untuk menghindari obrolan lebih lanjut dengan sang calon tunangan.
"Mau lari ke mana, gadis desa?" suara berat Jino menghentikan langkah Reina yang baru saja bangkit dari kursi.
Reina membalikkan tubuhnya, menatap Jino dengan dagu terangkat tinggi. Ia sudah lelah bersandiwara di depan orang tua mereka, jadi sekarang tidak ada lagi yang perlu ditutupi.
"Aku tidak lari, Tuan Muda Jino. Aku hanya ingin segera pulang dan tidur daripada harus membuang waktuku mendengarkan sindiran tidak berfaedah darimu," balas Reina tajam tanpa ragu.
Jino perlahan bangkit dari kursinya. Tinggi tubuhnya yang menjulang membuat Reina terpaksa mendongak. Alih-alih marah, Jino justru melangkah mendekat dengan perlahan—terlalu dekat hingga Reina bisa merasakan aroma parfum woody bercampur mint yang sangat khas dari tubuh pemuda itu. Reina reflek sedikit mundur hingga punggungnya mentok di tepi meja makan.
Jino menumpukan sebelah tangannya di atas meja di samping pinggang Reina, mengurung gadis itu dalam jarak yang sangat tipis. Manik mata kelam mereka saling mengunci dalam keheningan yang dipenuhi oleh percikan ketegangan.
"Ingat satu hal, Reina Lunox," bisik Jino tepat di depan wajah Reina, suaranya rendah, berat, dan menghipnotis. "Mulai minggu depan, nama belakangmu resmi menjadi bagian dari keluarga West. Kau boleh mendebatku, kau boleh mencakarku setiap hari, tapi satu hal yang pasti... kau tidak akan pernah bisa lepas dariku."
Reina menelan ludahnya susah payah. Jantungnya bergemuruh hebat, bukan karena rasa kagum, melainkan karena gelombang amarah dan rasa terperangkap yang luar biasa mendominasi dadanya. Namun, ia menolak untuk terlihat lemah di hadapan pria arogan ini.
Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Reina mendorong dada bidang Jino kuat-kuat hingga jarak di antara mereka kembali tercipta. Ia tersenyum sinis, menatap tajam mata kelam itu tanpa gentar sedikit pun.
"Kita lihat saja nanti, Tuan Muda Jino West," tantang Reina dingin. "Permainan ini baru saja dimulai, dan aku pastikan... aku tidak akan menyerah semudah itu."