Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Kehidupan Kedua Dimulai
Sudah tiga hari sejak kejadian di Hutan Elaria. Tiga hari sejak malam di mana puluhan mata merah mengepung rumah, tiga Horned Direwolf tumbang karena pohon tumbang dan parit licin, monster bermahkota tiga tanduk memanggil namanya, dan perempuan rambut putih bermata merah berdiri di atas pagar sambil meninggalkan Requiem Flower yang tumbuh dari makamnya sendiri.
Tiga hari yang seharusnya membuat seluruh desa gempar, membuat penjaga desa berpatroli ekstra, membuat ayahnya tidak tidur sambil memegang pedang baja di ruang tengah.
Tapi desa tetap tenang. Terlalu tenang.
Ayah hanya berkata pada penduduk, "Hanya serigala hutan yang tersesat, sudah kuusir." Ibu hanya berkata, "Yamada hanya demam lagi, jangan dijenguk dulu." Tidak ada yang tahu tentang monster yang bisa bicara, tentang perempuan rambut putih, tentang bunga yang berubah jadi lingkaran sihir dan memutar memori kontrak lima tahun.
Hanya Yamada— dua Yamada dalam satu tubuh— dan sistem yang error malam itu yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dan mereka sepakat untuk diam, untuk saat ini.
Yamada mulai terbiasa dengan kehidupan barunya. Atau lebih tepatnya, tubuhnya mulai terbiasa, dan jiwanya yang pemalas mulai menemukan kembali ritme idealnya.
Bangun. Tidak terlalu pagi, sekitar jam tujuh lewat, setelah Elena selesai berteriak-teriak dari luar jendela. Tidak perlu alarm, karena Elena adalah alarm paling berisik.
Makan. Sarapan sup hangat buatan ibu, dengan roti panggang yang agak gosong di pinggirnya karena ibu masih memikirkan kejadian tiga hari lalu. Makan siang seadanya, kadang hanya buah dan air. Makan malam bersama ayah dan ibu, dengan suasana yang masih canggung tapi jauh lebih hangat daripada tiga hari lalu.
Membaca. Di bawah pohon maple tua di belakang rumah, persis di sebelah makam kosong miliknya yang kini ditumbuhi rumput liar lagi setelah Requiem Flower-nya hilang. Membaca buku-buku dari rak bukunya yang ternyata jauh lebih banyak dari yang dia kira: buku sihir dasar, sejarah Asteria, flora fauna Elaria, bahkan buku tentang cara bertani yang benar.
Berlatih sebentar. Sepuluh menit, tidak lebih. Latihan ayunan pedang kayu yang sudah diganti dengan yang baru oleh ayah— yang lebih berat dan lebih keras— dan latihan merasakan mana di dalam perut seperti yang diajarkan buku. Sepuluh menit itu sudah cukup untuk membuat sistemnya berbunyi [Proficiency +2%] dan itu sudah memuaskan.
Kemudian tidur. Tidur siang di bawah pohon, dengan buku menutupi wajah, dengan angin yang menggerakkan daun maple di atasnya.
Rutinitas sederhana. Tidak ada monster, tidak ada sistem error, tidak ada perempuan rambut putih yang muncul di jendela jam dua pagi. Hanya rutinitas desa yang damai.
Dan menurut Yamada— pemalas yang sudah mati sekali karena ditabrak truk saat sedang malas beli roti krim—
"Ini cukup ideal. Bahkan lebih ideal daripada kehidupan pertamaku." Gumamnya pelan, sambil bersandar di bawah pohon maple tua, dengan buku Dasar Sihir Tingkat Lanjut yang terbuka di halaman tentang cara membuat api tanpa lingkaran sihir, tapi matanya setengah terpejam karena mengantuk.
Hari itu, hari ketiga yang damai, dia duduk di bawah pohon seperti biasa, dengan punggung bersandar pada batang pohon yang kasar, dengan bayangan daun yang menari-nari di wajahnya.
Elena berdiri di depannya dengan wajah kesal, dengan tangan disilangkan di depan dada, dengan pedang kayu latihan di samping kakinya yang menancap di tanah. Rambut kuncir kudanya sedikit berantakan karena dia baru saja selesai latihan sendirian di lapangan belakang.
"Yamada." Panggilnya, dengan nada yang sudah hafal betul dengan kemalasan Yamada.
"Hm?" Yamada menjawab tanpa membuka mata, tanpa mengangkat buku yang menutupi setengah wajahnya. Suaranya malas.
"Kau sudah membaca selama tiga jam di sini. Dari jam sembilan sampai jam dua belas. Tanpa bergerak. Tanpa minum."
"Ya. Tiga jam yang sangat produktif." Jawab Yamada, masih dengan mata terpejam. "Aku sudah selesai membaca dua bab tentang teori konversi mana. Sangat melelahkan."
"Latihanmu? Latihan pedang yang kau janjikan kemarin? Kau bilang mau latihan satu jam setiap pagi."
"Sudah." Jawab Yamada singkat.
"Kapan? Aku tidak melihatmu di lapangan. Aku menunggu dari jam tujuh."
"Sepuluh menit. Jam tujuh lewat sepuluh sampai jam tujuh lewat dua puluh. Saat kau masih pemanasan, aku sudah selesai. Efisiensi, Elena. Aku menggunakan prinsip Lazy Genius." Yamada akhirnya membuka satu mata, mengintip dari balik bukunya.
Elena menghela napas panjang, napas yang sudah menjadi ciri khasnya setiap kali berhadapan dengan Yamada sejak mereka kecil. Napas yang setengah kesal, setengah pasrah, setengah khawatir.
"Dasar pemalas. Tidak berubah sama sekali sejak kecil. Bahkan setelah hampir mati dua kali, sifat pemalasmu masih sama."
Yamada menutup bukunya dengan pelan, menandai halamannya dengan selembar daun maple kering, dan menatap Elena dengan tatapan yang sedikit lebih serius dari biasanya.
"Aku lebih suka menggunakan otak daripada otot. Otot akan lelah, tapi otak kalau dipakai dengan benar, bisa membuat otot orang lain yang bekerja. Itu namanya delegasi. Atau manipulasi yang halus."
"Itu alasanmu sejak kecil. Sejak umur delapan tahun kau sudah bilang begitu saat disuruh membantu Ayah mengangkat karung beras." Balas Elena, tidak terkesan sama sekali dengan filosofi malasnya.
"Berarti konsisten. Konsistensi adalah kunci kesuksesan, kata buku." Jawab Yamada, dengan senyum tipis. "Orang yang konsisten malas, setidaknya jujur pada dirinya sendiri."
Elena ingin membalas dengan khotbah panjang tentang pentingnya latihan, tentang pentingnya menjadi kuat untuk melindungi desa, tentang bagaimana ayah Yamada dulu adalah kesatria hebat, tapi akhirnya dia hanya menggeleng, menyerah, seperti biasa. Dia sudah terlalu mengenal Yamada untuk berdebat soal kemalasan.
"Bagaimanapun..." Elena mengubah topik, suaranya tiba-tiba menjadi lebih pelan, lebih serius, dan sedikit... gugup. Dia duduk di sebelah Yamada, di bawah pohon yang sama, memeluk lututnya. "...besok kita berangkat. Jangan lupa."
Yamada yang tadinya sudah mau membuka bukunya lagi, mengangkat alis, benar-benar terkejut. Buku di tangannya berhenti di udara.
"Berangkat ke mana? Berangkat kemana lagi? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak pergi ke Hutan Elaria lagi? Ayah sudah melarang."
"Akademi." Jawab Elena, dengan mata yang sedikit berbinar, binar yang tidak bisa disembunyikan meskipun dia mencoba terlihat kesal tadi.
"Akademi?" Yamada mengulang, dengan nada bingung. Kata itu asing bagi Yamada yang pendatang, tapi tubuhnya bereaksi. Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat, ada rasa debar yang bukan rasa takut, tapi rasa... antisipasi. Rasa yang berasal dari ingatan tubuh ini, dari mimpi masa kecil pemilik asli tubuh ini.
Elena tersenyum, senyum yang lebar dan tulus, senyum pertama yang benar-benar cerah yang Yamada lihat darinya sejak dia bereinkarnasi.
"Akademi Sihir Asteria. Akademi terbaik di Kerajaan Asteria. Tempat di mana semua anak yang punya bakat sihir atau pedang dari seluruh desa dikirim untuk belajar. Ingat? Kita berdua mendaftar tahun lalu. Ujian masuknya bulan lalu, sebelum kau pingsan. Dan kita berdua... kita berdua lulus, Yamada. Surat penerimaannya datang kemarin sore, saat kau tidur di bawah pohon ini."
Yamada terdiam. Otaknya yang malas dipaksa memproses informasi baru yang besar ini. Akademi Sihir. Sekolah sihir. Asrama. Ujian. Pelajaran. PR. Guru. Aturan.
Semua hal yang paling dibenci oleh seorang pemalas.
Sebuah jendela sistem yang sudah tiga hari tidak muncul dengan warna merah, kini muncul dengan warna biru keemasan yang tenang dan megah, dengan suara lonceng yang merdu, bukan alarm.
[Main Quest updated.]
[Previous Quest: Return to Elaria - Status: Postponed (Danger level too high for current level).]
[New Main Quest: Enter Asteria Magic Academy.]
[Objective: Discover the truth about your body, your memories, and the contract of five years. Academy library contains restricted records about Soul Binding, Requiem Flower, and the White Witch.]
[Secondary Objective: Increase Level and Synchronization safely.]
[Reward: Access to Academy Library (Restricted Section), New Skills, New Identity Records.]
Yamada membaca tulisan itu dengan wajah datar, lalu menutupnya dengan kibasan tangan yang lelah.
Dia memandang Elena yang masih tersenyum menatapnya, menunggu reaksi terkejut bahagia darinya.
"Sepertinya hidupku yang ideal dan tenang selama tiga hari ini..." Yamada menghela napas panjang, napas yang sangat panjang, napas yang mengandung semua kemalasan dari dua kehidupan. "...mulai merepotkan lagi."
Elena tertawa kecil, tawa yang renyah, tawa yang membuat burung-burung di pohon maple terbang.
"Tenang saja. Di akademi, kau tidak bisa malas-malasan seperti di sini. Di sana ada guru yang akan memukulmu dengan tongkat kayu kalau kau tidur di kelas. Dan ada ujian setiap minggu."
Yamada menatap langit biru di atas daun maple, langit yang cerah tanpa awan, langit yang sangat kontras dengan masa depannya yang terlihat akan penuh dengan tugas, latihan, dan misteri yang belum terjawab.
"Justru itu yang membuatnya merepotkan."
Di dalam kepalanya, suara Yamada yang asli, yang sudah tiga hari diam dan hanya sesekali berkomentar saat latihan, terdengar pelan, dengan nada yang campur aduk antara takut, rindu, dan sedikit bersemangat.
Akademi... aku selalu bermimpi pergi ke sana bersama kakak Ren dulu. Kakak bilang, kalau aku masuk akademi, dia akan membelikan ku pedang baja sungguhan, bukan pedang kayu.
Yamada yang pendatang tidak menjawab dengan suara keras, hanya menjawab di dalam hati, sambil menutup bukunya dan bersandar kembali ke batang pohon, menikmati sisa-sisa kedamaian tiga hari ini sebelum besok harus berangkat.
Ya. Dan sekarang kita akan pergi ke sana. Bukan dengan kakakmu, tapi dengan Elena. Dan dengan dua jiwa dalam satu tubuh. Semoga di akademi ada perpustakaan yang nyaman untuk tidur siang.
Dan jauh di dalam Hutan Elaria, di makam tua yang bertuliskan YAMADA, Requiem Flower kedua mulai tumbuh, perlahan, dengan kelopak yang bergetar, seolah-olah merasakan bahwa pemiliknya akan segera pergi jauh dari desa, menuju tempat di mana kebenaran tentang kontrak lima tahun itu disimpan.
[Synchronization: 64% - Stable]
[Memory: 13% - Next fragment will unlock at Academy]
[Status: Ready to depart]