Indonesia
NovelToon NovelToon
SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

SUAMI TAK DIINGINKAN, CINTA TAK TERDUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:636
Nilai: 5
Nama Author: Arman A

"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."

Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.

Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.

Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Kejujuran yang Terlambat

Hujan di luar semakin deras, suaranya bergema di seluruh dinding rumah besar itu — der... der... der... — seakan langit sedang menangis mewakili apa yang terpendam di hati mereka berdua. Mo Ha masih berbaring memunggungi Su Yi, namun napasnya kini tidak lagi tenang. Ia berputar perlahan, hingga akhirnya tubuhnya menghadap ke arah wanita yang menjadi istrinya itu. Cahaya lampu tidur yang remang-remang menerangi wajah Su Yi yang tampak rapuh, namun matanya menatap lurus ke depan, seakan tak menyadari bahwa ia sedang diperhatikan.

"Su Yi..." panggil Mo Ha pelan, suaranya berat dan bergetar. Itu adalah pertama kalinya ia memanggil namanya dengan nada yang lembut, tanpa dingin, tanpa kepura-puraan.

Su Yi tersentak pelan, menoleh perlahan. Matanya membelalak sedikit, tak terbiasa mendengar nada seperti itu dari mulutnya. "Kenapa?" tanyanya singkat, berusaha tetap menjaga jarak.

"Sudah dua tahun," ucap Mo Ha pelan, matanya tak beralih dari wajah istrinya. "Dua tahun kita tidur di ranjang yang sama, makan di meja yang sama, hidup di bawah atap yang sama. Tapi rasanya... kita seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi tempat."

Su Yi terdiam, menggigit bibir bawahnya. Ia ingin berpaling, ingin mengakhiri pembicaraan ini, tapi ada sesuatu dalam suara Mo Ha yang menahannya — sesuatu yang tulus, yang selama ini tak pernah ia lihat. "Kau sendiri yang menginginkannya," jawabnya pelan, berusaha menahan suara agar tak pecah. "Kau tak pernah menganggapku istri. Kau selalu bilang... pernikahan ini hanya perjanjian bisnis."

Mo Ha menghela napas panjang, tangannya bergerak perlahan di atas selimut, seakan ingin menyentuh tangannya namun ragu. "Aku tahu. Aku pernah berkata begitu. Dan aku menyesalinya setiap detik sejak saat itu."

Su Yi menatapnya tak percaya. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, namun ia berusaha menahannya. "Kenapa sekarang? Kenapa baru sekarang kau mengatakannya?"

"Karena hari ini... aku hampir kehilanganmu," jawab Mo Ha jujur, matanya berkaca-kaca. Ia mengingat kejadian sore tadi — kecelakaan mobil yang hampir merenggut nyawa Su Yi, dan saat ia melihatnya terbaring tak berdaya di atas aspal yang basah, dunianya seakan runtuh seketika. "Saat aku melihatmu terluka... aku menyadari satu hal. Bahwa selama dua tahun ini, aku berpura-pura tak peduli. Padahal hatiku... hatiku sudah lama memilihmu. Aku hanya terlalu sombong dan terlalu takut untuk mengakuinya."

Su Yi terdiam diam, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. Selama ini ia bermimpi mendengar kata-kata itu dari mulut Mo Ha, tapi saat kata-kata itu benar-benar terucap, ia justru merasa takut. "Jangan bercanda, Mo Ha. Ini bukan waktu yang tepat untuk mempermainkanku."

"Aku tidak sedang bercanda," ucap Mo Ha tegas, lalu ia bergerak mendekat, jarak di antara mereka kini hanya beberapa sentimeter. "Aku tahu aku bersalah. Aku telah membuatmu menangis sendirian terlalu lama. Aku telah membiarkanmu merasa tidak diinginkan, tidak dicintai, tidak dihargai. Dan untuk itu... aku minta maaf. Sejujurnya, dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku minta maaf."

Mo Ha mengangkat tangannya perlahan, menyentuh pipi Su Yi dengan lembut — jari-jarinya menyeka air mata yang terus mengalir di sana. "Kau bertanya kenapa aku tak pernah menyentuhmu, kenapa aku selalu menghindar? Bukan karena aku tak menginginkanmu. Tapi karena aku takut. Aku takut jika aku mulai, aku takkan pernah bisa berhenti. Dan aku takut... jika aku mencintaimu dengan segenap jiwaku, aku justru akan menyakitimu lebih dalam lagi."

Su Yi menatapnya lekat-lekat, mencari kebohongan di matanya. Tapi yang ia temukan hanyalah ketulusan yang begitu dalam, begitu nyata, hingga hatinya yang telah lama tertutup perlahan mulai terbuka kembali. "Kau benar-benar mencintaiku?" tanyanya pelan, ragu namun berharap.

"Sejak hari pertama kita menikah," jawab Mo Ha tanpa ragu. "Hanya saja aku terlalu bodoh untuk menyadarinya. Dan terlalu pengecut untuk mengatakannya."

Mo Ha menarik tubuh Su Yi perlahan, mendekapnya erat di dalam pelukannya — bukan pelukan yang kasar, bukan pelukan yang penuh syarat, melainkan pelukan yang hangat, yang penuh perlindungan, seakan ia takkan pernah membiarkannya pergi lagi. "Beri aku kesempatan, Su Yi. Biarkan aku menebus semua kesalahanku. Biarkan aku menjadi suami yang seharusnya ada untukmu. Bukan karena perjanjian, bukan karena kewajiban... tapi karena aku mencintaimu. Hanya kamu."

Su Yi bersandar di dadanya, mendengar detak jantungnya yang berpacu cepat — sama seperti detak jantungnya sendiri. Selama dua tahun ia menunggu momen ini, dan sekarang saat momen itu datang, ia tak sanggup menolaknya. Ia memeluk pinggang Mo Ha erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang itu, dan menangis — bukan tangis kesedihan, melainkan tangis kelegaan yang tak terlukiskan.

"Kalau kau berani menyakitiku lagi..." isaknya pelan, suaranya teredam oleh kain kemeja Mo Ha. "Aku takkan pernah memaafkanmu."

Mo Ha tersenyum tipis, mencium ubun-ubun istrinya dengan lembut. "Takkan pernah. Aku berjanji. Mulai malam ini... kau bukan lagi istri yang tak diinginkan. Kau adalah satu-satunya wanita yang aku cintai, yang aku hargai, dan yang akan kujaga seumur hidupku."

Di luar, hujan mulai mereda, digantikan oleh angin malam yang sejuk dan menenangkan. Di dalam kamar itu, dua orang yang selama dua tahun saling menyakiti dan saling menjauh akhirnya menemukan jalan pulang — ke pelukan satu sama lain, ke hati satu sama lain, dan ke masa depan yang kini penuh harapan.

Malam itu bukan sekadar pergantian hari. Itu adalah akhir dari pura-pura, akhir dari luka lama, dan awal dari cinta yang jujur — cinta yang terlambat datang, tapi tak pernah terlambat untuk benar-benar dimulai.

 

1
Alia Chans
suka sama gendre perjodohan begini🤭🤭
salam interaksi thor😉
Arman: makasih kak
salam interaksi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!