Indonesia
NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibalik Kata Tanpa Janji

Keheningan mendadak merayap menutupi dapur kecil rumahku. Asap tipis membumbung tinggi dari panci berisi air yang mulai mendidih di atas kompor, tetapi tak ada satu pun dari kami yang bergerak untuk mematikannya.

Sentuhan jemari Adrian di punggung tanganku terasa amat hangat, berbanding terbalik dengan kakiku yang mendadak mati rasa. Pengakuannya yang polos, jujur, dan tanpa selubung itu berdengung berulang kali di dalam kepalaku.

Mas sayang sama Sera.

Aku terpaku, menatap lurus ke dalam iris matanya yang jernih. Tidak ada gurauan di sana. Tidak ada binar jahil yang biasanya ia tunjukkan saat menggoda Bastian atau Kania. Yang ada hanyalah kesungguhan yang begitu tenang, begitu lapang, hingga membuat dadaku sesak oleh desir yang tak sanggup kujelaskan.

"Mas..." suara yang keluar dari tenggorokanku terdengar sangat pelan, hampir tertutup oleh suara gelembung air yang makin bergolak di atas kompor.

Adrian tersenyum tipis. Ibu jarinya mengusap punggung tanganku dengan amat lembut sebelum akhirnya ia perlahan melepaskan pegangannya, memberiku ruang untuk bernapas, seolah tahu betapa paniknya pikiranku saat ini.

"Mas enggak lagi minta kamu buat jawab sekarang, Sera," ucapnya lembut, memotong kepanikanku sebelum aku sempat merangkai kata. "Mas juga enggak lagi nembak kamu buat minta kamu jadi pacar Mas hari ini."

Aku menahan napas, menatapnya dengan kening berkerut bingung. "Maksud Mas?"

Adrian mematikan tombol kompor dengan tangan kirinya, lalu menyandarkan pinggulnya santai di pinggir meja dapur. Tatapannya tak pernah lepas dariku.

"Mas cuma mau jujur sama perasaan Mas sendiri," lanjutnya dengan nada suara yang begitu dewasa dan menenangkan. "Mas tahu kamu butuh waktu, dan Mas enggak mau jadi orang yang buru-buru menuntut status hanya demi memuaskan rasa ingin memiliki."

Ia terkekeh pelan, kekehan khas yang selalu sanggup meluruhkan keteganganku.

"Mas cuma mau kamu tahu... ada Mas di sini. Perasaan Mas ke kamu itu nyata, bukan sekadar angin lalu. Tapi Mas enggak akan maksa kamu buat mengikat diri dalam sebuah hubungan kalau kamu belum siap. Mas mau kita mengalir aja. Kamu enggak perlu merasa terbebani sama ucapan Mas tadi."

Dadaku berguncang pelan. Pengakuannya tidak disertai desakan, tidak ada tuntutan agar aku membalasnya detik ini juga. Berbeda jauh dengan ekspektasi atau keharusan yang pernah kutemui, Adrian justru menawarkan sebuah ruang aman tanpa batas. Dia menelanjangi perasaannya sendiri, membiarkannya terlihat jelas, lalu menyerahkan kendali sepenuhnya padaku tanpa meminta imbalan apa pun.

"Kenapa Mas tiba-tiba bilang gitu?" tanyaku lirih, mencoba mencari pegangan pada realita.

"Karena Mas enggak mau berpura-pura," jawabnya mantap. "Mas cuma pengin jadi orang yang selalu ada buat ngelindungin kamu. Mas pengin jadi tempat kamu berteduh dan merasa nyaman, tanpa kamu harus takut dihakimi atau pura-pura kuat."

Kata-katanya menelusuri sudut-sudut hatiku yang paling sunyi, membalut setiap keraguan yang sempat singgah di dalam benakku.

"Nah, sekarang... mi rebusnya kasihan tuh, airnya udah mendidih dari tadi," goda Adrian memecah keheningan yang sempat membeku. Ia menunjuk ke arah kompor, menyadarkanku kembali pada mi rebus yang tertunda.

Aku mengerjipkan mata beberapa kali, berusaha menetralkan rasa panas yang mendadak mengumpul di sudut mata. "Ah, iya..." gumamku seraya buru-buru memasukkan sebungkus mi dan memecahkan sebutir telur ke dalam air mendidih.

Adrian memperhatikan gerak-gerikku sambil tersenyum hangat. Ia tidak menjauh, tetap berdiri di sampingku seraya membantuku menggunting bumbu mi rebus lalu menuangkannya ke dalam satu mangkok bening.

"Kamu beneran enggak mau makan sekalian, Sera?" tanya Adrian memastikan saat melihatku hanya menyiapkan satu mangkok dan satu pasang sendok-garpu.

"Enggak, Mas. Sera kan baru banget habis makan nasi ayam geprek," sahutku tertawa pelan mengingat perutku yang sudah kenyang. "Sera cuma nemenin Mas makan aja."

"Oke deh kalau gitu," jawabnya terkekeh.

Setelah mi matang dan kutuang rapi ke mangkok, Adrian membantuku membawa mangkok mi rebus yang masih mengularkan uap panas itu beserta segelas air dingin ke meja makan di ruang tengah.

Adrian duduk di sofa, sementara aku duduk di sebelahnya untuk menemaninya. Uap gurih mi rebus membumbung di udara, menyegarkan suasana rumah yang semula sepi.

"Selamat makan, Mas," ucapku tersenyum.

"Makasih ya, Sera. Selamat melihat Mas makan," gurau Adrian menangkupkan kedua tangannya sebentar lalu meraih sendok dan garpu.

Ia menyantap mi rebus itu dengan lahap. Aku memandangnya dari samping; rambut bagian depannya agak jatuh menutupi dahi, membuatnya terlihat jauh lebih santai dari biasanya. Ada rasa hangat yang tak tertandingi melihat pria jangkung ini duduk di ruang tamuku, menikmati mi buatan tanganku dengan begitu nikmat.

"Sera," panggilnya di sela-sela kunyahannya.

"Iya, Mas?"

Aku memangku kedua tanganku di atas meja, menimbang-nimbang sesuatu di dalam kepala sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. "Mas... soal foto anak kecil yang Mas foto di ponsel Mas tadi malam..."

Adrian menghentikan kunyahannya sejenak, lalu menatapku. "Kenapa?"

"Kenapa difoto, Mas? Penasaran aja..." tanyaku malu-malu.

Adrian tersenyum tipis, matanya berbinar jenaka. "Fotonya lucu aja, Ser. Muka kamu waktu kecil gemes banget, pipinya *chubby*. Makin dilihat rasanya makin lucu, makanya Mas simpan di ponsel."

Wajahku mendadak terasa panas mendengar alasannya yang begitu kasual namun sukses membuat dadaku berdebar. "Ih, Mas Adrian mah... kirain ada apa," gumamku menyembunyikan senyum.

"Memangnya kamu mikir apa?" godanya menaikkan satu alisnya.

"Gak mikir apa-apa kok!" sahutku cepat.

Tak butuh waktu lama sampai mangkok mi di hadapannya bersih tak tersisa. Selesai makan, aku hendak berdiri membawa mangkok kotor itu ke dapur, tetapi Adrian lebih cepat merampas mangkoknya dari tanganku.

"Biar Mas yang cuci," katanya tegas.

"Eh! Jangan, Mas! Mas kan tamu," protesku mencoba merebut kembali mangkok itu.

"Kan tadi Mas sendiri yang bilang kalau *chef* banyak yang cowok? Berarti *chef* juga harus bisa cuci mangkoknya sendiri," kilahnya terkekeh seraya berjalan santai menuju bak cuci piring.

Aku hanya bisa berdiri di pintu dapur, memandangi punggung tegapnya yang kini sibuk membilas mangkok dan gelas dengan air mengalir. Gesturnya yang biasa, tindakan-tindakan kecilnya yang penuh perhatian... semuanya merayap pelan-pelan meruntuhkan benteng pertahanan yang sudah kubangun bertahun-tahun.

Bagaimana bisa seorang pria bertubuh jangkung dengan senyum jenaka ini mampu menghadirkan rasa aman yang begitu besar hanya dalam hitungan hari?

Setelah membalikkan mangkok yang sudah bersih di rak pengering, Adrian mengeringkan tangannya dengan serbet. Ia berjalan mendekat ke arahku yang masih berdiri tertegun di tepi dapur.

"Mas pamit ya," pamitnya lembut. "Hari udah sore, sebentar lagi Ibu kamu mungkin pulang."

Aku mengangguk pasrah. "Sera antar ke depan."

Kami melangkah bersama menuju pintu depan rumah. Udara sore yang sejuk menyapa kulit kami saat kami melintasi halaman. Adrian menghampiri motor besarnya yang terparkir di dekat pagar, lalu meraih helm hitamnya.

Sebelum mengenakan helm tersebut, ia berbalik menatapku. Jarak kami hanya berkisar satu langkah. Ia mengulurkan tangannya, lalu secara mengejutkan, jemarinya mendarat di atas kepalaku, mengacak rambutku pelan dengan gerakan yang teramat penuh kasih sayang.

"Jangan terlalu banyak pikiran ya, Ser," bisiknya halus. "Soal ucapan Mas tadi... jangan bikin kepala kamu pusing. Jalani aja seperti biasa. Mas selalu ada buat kamu."

Sentuhan di kepalaku terasa begitu ajaib. Dadaku berdesir hebat sekali lagi.

"Iya, Mas. Terima kasih ya..." ucapku tulus, menatap lurus ke dalam matanya.

"Mas pulang dulu. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan, Mas."

Adrian mengenakan helmnya, memutar kunci kontak, dan menyalakan mesin motornya yang menderu halus. Ia melambaikan tangan singkat sebelum akhirnya memutar gas, meluncur meninggalkan halaman rumahku dan menghilang di belokan kompleks.

Aku tetap berdiri di dekat pagar besi untuk beberapa saat, membiarkan angin sore berhembus menyapu wajahku.

Tidak ada status pacaran. Tidak ada ikatan resmi yang menuntut tanggung jawab besar. Namun sore ini, di balik pengakuannya yang tanpa janji itu, aku tahu satu hal pasti: hatiku tak lagi sepenuhnya milikku sendiri. Ada benang merah yang kini ditarik lebih kencang, menautkan rasaku pada sosok Adrian.

1
wlnnn
gemessss deh adrian😍
wlnnn
gemes deh adrian/Drool/
Sunflower Girl
lanjutkan
Fellyc
unchhh😍
Fellyc
semangat yaa
yaya
ngerasa balik lagi ke masa SMA
Ardianto Nugraha
👍
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!