Sinopsis
Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.
Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.
Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.
Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.
Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.
Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab. 16
Gadis Geng Motor Adalah Istriku
Bab 16 — Pertemuan Pertama dengan Mami
Malam semakin larut.
Setelah mendengar suara wanita di telepon, Clara masih berdiri terpaku di tengah rumah tua itu.
Ponsel berada di tangannya.
Tatapannya kosong.
Satu kalimat terus berputar di kepalanya.
“Maafkan Mami.”
Suara itu.
Lembut.
Hangat.
Meski hanya terdengar beberapa detik, Clara yakin.
Itu suara ibunya.
Suara yang selama ini hanya tersimpan samar di dalam ingatan masa kecilnya.
“Mami masih hidup…”
Bisikan Clara membuat Fedro menatapnya.
Ia mendekat lalu memegang kedua bahu istrinya.
“Clara.”
Clara menatapnya.
“Aku mendengar suara Mami.”
“Aku percaya.”
“Bukan halusinasi.”
“Aku tahu.”
Clara menggigit bibir.
“Kenapa Mami tidak datang menemuiku selama ini?”
Fedro tidak langsung menjawab.
“Mungkin ada alasan yang belum kita ketahui.”
Clara menunduk.
“Aku marah.”
“Aku tahu.”
“Tapi aku juga rindu.”
Fedro menggenggam tangannya.
“Kalau begitu besok kita cari dia.”
Clara mengangkat wajah.
“Besok?”
“Tidak.”
Fedro mengambil foto berisi alamat rumah di tepi laut.
“Kita berangkat malam ini.”
Raka yang sejak tadi memeriksa sekitar langsung menoleh.
“Aku setuju.”
Clara mengangguk.
“Aku ingin bertemu Mami.”
---
Mereka meninggalkan rumah tua tersebut.
Fedro mengemudikan mobil dengan kecepatan stabil. Raka mengikuti dari belakang.
Clara duduk di kursi penumpang sambil memegang foto ibunya.
Matanya tidak pernah lepas dari wajah wanita di dalam foto.
“Mami…”
Ia menyentuh foto itu perlahan.
“Apa Mami benar-benar menungguku selama ini?”
Fedro meliriknya.
“Mungkin.”
Clara tersenyum sedih.
“Kalau begitu kenapa Mami tidak pernah mencariku?”
“Karena mungkin mencarimu justru akan membahayakanmu.”
Clara terdiam.
Ia teringat isi surat.
Papi dan Mami tidak pernah meninggalkanmu. Kami melakukan semua ini untuk menyelamatkanmu.
Selama bertahun-tahun Clara membenci kedua orang tuanya karena merasa ditinggalkan.
Namun sekarang, keyakinannya mulai runtuh.
Mungkin selama ini mereka justru berusaha melindunginya.
Ponsel Clara kembali berdering.
Nomor yang sama.
Clara langsung mengangkatnya.
“Halo?”
Tidak ada jawaban.
“Mami?”
Hening.
Kemudian suara wanita itu terdengar.
“Jangan datang bersama banyak orang.”
Clara langsung menegang.
“Kenapa?”
“Karena mereka sedang mengawasimu.”
“Siapa?”
“Orang yang sama yang selama ini mengejarmu.”
Clara menggenggam ponsel erat.
“Di mana Mami?”
“Pergilah ke rumah di tepi laut.”
“Kami sedang menuju ke sana.”
Suara itu terdiam sejenak.
“Clara…”
“Ya?”
“Kalau kamu sudah sampai, jangan langsung masuk.”
“Kenapa?”
“Perhatikan jendela lantai dua.”
Clara mengerutkan kening.
“Apa yang harus kulihat?”
“Lampu.”
“Lampu?”
“Kalau lampunya menyala tiga kali, berarti aman.”
“Kalau tidak?”
“Jangan masuk.”
Sambungan terputus.
Clara langsung menatap Fedro.
“Dia memberikan petunjuk.”
Fedro mengangguk.
“Dan kita harus berhati-hati.”
Raka terdengar melalui alat komunikasi.
“Aku akan memeriksa daerah sekitar lebih dulu.”
“Baik,” jawab Fedro.
Clara memandang jalan di depan.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa semakin dekat dengan jawaban tentang keluarganya.
---
Dua jam kemudian, mereka tiba di sebuah desa kecil di tepi laut.
Suara ombak terdengar dari kejauhan.
Jalanan hampir tidak memiliki lampu.
Fedro memperlambat mobil.
“Alamatnya di sini.”
Clara melihat ke luar jendela.
Di antara beberapa rumah sederhana, terdapat sebuah rumah putih yang berdiri menghadap laut.
Jantung Clara berdegup lebih cepat.
“Itu.”
Fedro menghentikan mobil beberapa meter dari rumah tersebut.
Raka turun terlebih dahulu.
Ia memeriksa sekitar.
“Tidak ada orang.”
Clara menatap rumah itu.
“Jendelanya…”
Lampu lantai dua mati.
Clara menahan napas.
Mereka menunggu.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian lampu menyala.
Sekali.
Mati.
Menyala lagi.
Mati.
Untuk ketiga kalinya, lampu menyala.
Clara langsung menutup mulut.
“Itu tandanya aman.”
Fedro turun dari mobil.
“Kita tetap berhati-hati.”
Mereka berjalan menuju rumah.
Clara berdiri di depan pintu.
Tangannya gemetar.
Fedro berdiri di sampingnya.
“Kamu siap?”
Clara mengangguk.
“Aku sudah menunggu momen ini selama bertahun-tahun.”
Fedro menggenggam tangannya.
“Kalau kamu takut, aku ada di sini.”
Clara tersenyum.
Kemudian ia mengetuk pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
Tidak ada jawaban.
Clara mengetuk lagi.
“Mami?”
Pintu perlahan terbuka.
Seorang wanita berdiri di baliknya.
Rambut panjangnya tergerai.
Wajahnya terlihat lebih dewasa daripada foto yang Clara pegang.
Namun mata itu…
Clara mengenalinya.
Mata yang selama ini muncul dalam mimpi masa kecilnya.
Wanita itu menatap Clara.
Air matanya langsung jatuh.
“Clara…”
Clara membeku.
Bibirnya bergetar.
“Mami?”
Wanita itu mengangguk.
“Ya.”
Clara tidak mampu bergerak.
Wanita itu melangkah maju.
Namun Clara justru mundur satu langkah.
Ada terlalu banyak perasaan yang bercampur.
Rindu.
Marah.
Sedih.
Kecewa.
Wanita itu menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.
“Maafkan Mami.”
Air mata Clara jatuh.
“Kenapa?”
Wanita itu menunduk.
“Karena Mami membiarkanmu tumbuh tanpa Mami.”
“Kenapa Mami membiarkanku berpikir Mami sudah meninggal?”
“Karena kalau mereka tahu kamu masih memiliki hubungan dengan Mami, kamu akan menjadi target.”
Clara menggeleng.
“Siapa mereka?”
Wanita itu melihat Fedro dan Raka.
“Masuklah.”
Mereka masuk ke dalam rumah.
Pintu segera dikunci.
Mami Clara berjalan menuju ruang tengah.
Di sana terdapat banyak foto lama.
Foto Clara ketika masih kecil.
Foto ayahnya.
Dan foto keluarga mereka.
Clara melihat salah satunya.
Ia tersenyum sambil menangis.
“Aku bahkan hampir lupa wajah ini.”
Mami berdiri di belakangnya.
“Setiap malam Mami melihat foto-foto itu.”
Clara berbalik.
“Kalau begitu kenapa Mami tidak datang?”
“Karena Mami tidak ingin membawamu kembali ke dalam bahaya.”
“Bahaya apa?”
Mami terdiam.
Kemudian ia berkata pelan,
“Rahasia keluarga Evellyn bukan hanya tentang perusahaan.”
Fedro langsung memperhatikan.
“Lalu tentang apa?”
Mami menatapnya.
“Jaringan yang dibangun jauh sebelum Clara lahir.”
Clara mengerutkan kening.
“Jaringan apa?”
“Orang-orang yang mengendalikan perusahaan, perdagangan ilegal, dan berbagai transaksi rahasia.”
Raka terdiam.
“Jadi proyek E-17…”
Mami mengangguk.
“Bukan sekadar proyek.”
Clara menatapnya.
“Lalu apa?”
“Daftar nama.”
“Nama siapa?”
“Orang-orang yang terlibat.”
Fedro mengerutkan kening.
“Dan siapa yang memimpin mereka?”
Mami menarik napas.
“Itulah masalahnya.”
Ia mengambil sebuah foto dari laci.
Foto itu memperlihatkan beberapa orang berdiri di depan sebuah gedung.
Clara memperhatikan satu per satu wajah di dalam foto.
Kemudian matanya membesar.
“Bastian…”
Fedro langsung mendekat.
Namun Mami menggeleng.
“Bukan dia.”
Jarinya menunjuk seseorang di sisi paling belakang.
Clara menatap pria tersebut.
Wajahnya terasa familiar.
Sangat familiar.
“Aku pernah melihatnya.”
Mami mengangguk.
“Kamu memang pernah.”
“Siapa dia?”
Mami menatap Clara dengan wajah serius.
“Dia adalah orang yang selama ini melindungimu.”
Clara membeku.
“Pelindungku?”
“Ya.”
“Lalu kenapa dia terlibat dalam semua ini?”
Mami menghela napas.
“Karena dia bukan hanya pelindungmu.”
Clara menahan napas.
“Dia juga…”
Mami belum sempat melanjutkan ketika terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah.
Raka langsung berjalan menuju jendela.
“Ada mobil.”
Fedro berdiri.
“Berapa orang?”
“Tidak tahu.”
Mami langsung mengambil sebuah kunci dari sakunya.
“Clara, dengarkan Mami.”
“Apa?”
“Kalau mereka masuk, bawa ini.”
Ia menyerahkan sebuah kunci kecil berbentuk burung.
Clara menerimanya.
“Untuk apa?”
“Untuk membuka ruangan yang selama ini disembunyikan ayahmu.”
Clara terkejut.
“Di mana?”
Mami menunjuk lantai bawah.
“Di bawah rumah ini.”
Tiba-tiba terdengar suara keras dari pintu.
Brak!
Clara terkejut.
Fedro langsung berdiri di depannya.
“Raka, bawa mereka ke belakang.”
Raka mengangguk.
Mami menggenggam tangan Clara.
“Sekarang waktunya kamu mengetahui semuanya.”
Clara menatap ibunya.
“Mami ikut.”
Mami tersenyum.
“Tentu.”
Pintu kembali dihantam.
Brak!
Fedro menatap Clara.
“Pegang tanganku.”
Clara menggenggamnya erat.
Kali ini ia tidak sendirian.
Ia bersama ibunya.
Bersama suaminya.
Dan bersama orang-orang yang masih mau memperjuangkan kebenaran.
Namun sebelum mereka sempat bergerak, terdengar suara dari luar.
“Clara!”
Suara itu membuat semua orang membeku.
Clara mengenalinya.
Itu suara Elena.
Mami Clara langsung pucat.
“Dia menemukan kita.”
Clara mengepalkan tangan.
“Kalau begitu…”
Ia menatap Fedro.
“Kita hadapi.”
Fedro mengangguk.
“Bersama.”
Di bawah rumah tua itu, sebuah rahasia besar sedang menunggu untuk dibuka.
Dan kali ini, Clara akan mengetahui kebenaran tentang keluarganya.
Termasuk siapa sebenarnya orang yang selama ini melindunginya.
Bersambung…