Lorenzo Matteo Romano sudah mantap menceraikan Alina Seraphine Bellamy, setelah tiga tahun menikah.
Namun, kecelakaan terjadi tepat setelah Lorenzo mengajukan perceraian. Ketika sadar, Lorenzo justru mendapatkan kemampuan aneh—ia bisa mendengar isi pikiran Alina.
Betapa terkejutnya Lorenzo saat mengetahui bahwa wanita yang selama ini terlihat begitu patuh ternyata menyimpan segudang rahasia, keluhan, dan komentar pedas yang tak pernah berani diucapkannya.
Lorenzo akhirnya memutuskan berpura-pura amnesia agar perceraian mereka batal.
Sayangnya, rencana itu justru membuat Alina semakin stres. Sebab, di depan Lorenzo, Alina harus tetap menjadi istri yang lembut dan penurut.
Sementara di dalam hatinya, “Ya Tuhan, kenapa orang ini belum juga ingat kalau dia mau menceraikanku?!”
Sejak saat itu, pernikahan mereka berubah menjadi permainan rahasia: seorang istri yang tak sadar isi kepalanya bisa didengar, dan seorang suami yang berbalik mati-matian mempertahankan pernikahannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Pekerjaan sebagai sekretaris ternyata jauh lebih melelahkan daripada yang pernah dibayangkan Alina. Pagi hari dia sudah harus berhadapan dengan tumpukan jadwal, dokumen, telepon, rapat, dan berbagai urusan Lorenzo. Belum lagi atasannya sendiri yang sepertinya tidak mengenal istilah toleransi. Satu kesalahan kecil saja sudah cukup untuk membuat Lorenzo mengangkat kepala dari balik layar komputer.
“Alina, ini salah.”
“Maaf, saya perbaiki.”
“Jangan sampai salah lagi.”
“Iya.”
Belum lima menit berlalu, suara Lorenzo kembali terdengar. “Alina.”
“Ya, Tuan?”
“Dokumen ini belum ditandatangani.”
“Sebentar, saya—”
“Bukan sebentar. Sekarang.”
Alina menarik napas panjang. “Baik.”
Wanita itu merasa seperti sedang mengikuti pelatihan militer. Bedanya, bukan komandan yang berdiri di depannya, melainkan suaminya sendiri.
Lorenzo benar-benar berubah menjadi mode killer setiap kali berada di kantor. Tidak ada senyum, tidak ada candaan, apalagi toleransi terhadap kesalahan.
Menjelang sore, Alina sudah hampir tidak merasakan punggungnya. Dia masih duduk di depan komputer ketika Lorenzo akhirnya mengalihkan pandangan dari layar.
Pria itu melirik ke arah jendela kaca besar di belakang meja kerjanya. Cahaya matahari sudah mulai berubah warna. Langit yang sejak siang terang perlahan menjadi jingga.
Lorenzo kemudian berdiri dan merapikan jasnya. “Ayo, pulang.”
Alina mengangkat wajah. “Hah?”
“Hari ini kita disuruh datang ke rumah utama.”
“Oh. Ya.” Jawabannya pendek dan pelan. Alina segera mematikan komputernya.
Namun, Lorenzo bisa mendengar pikiran yang jauh lebih berisik daripada suaranya.
“Akhirnya selesai juga pekerjaan yang bagaikan neraka ini!”
Sudut bibir Lorenzo terangkat tipis. Dia sengaja membuat Alina sibuk seharian. Bukan karena ingin menyiksanya. Dia hanya ingin memastikan wanita itu tidak punya kesempatan untuk melamun dan memikirkan hal-hal aneh seperti siapa pria yang menghamili Rose, apakah dirinya impoten, atau berbagai pertanyaan lain yang terkadang membuat kepalanya sendiri ikut sakit.
Sayangnya, rencana itu tidak sepenuhnya berhasil. Alina memang sibuk bekerja, tetapi sesekali dia masih sempat memaki Lorenzo dalam hatinya dan Lorenzo mulai terbiasa mendengarnya.
Mereka pulang terlebih dahulu ke rumah. Tidak ada waktu untuk bersantai. Alina langsung masuk kamar untuk mandi dan berganti pakaian. Lorenzo juga melakukan hal yang sama. Setelah siap, keduanya kembali masuk ke mobil dan berangkat menuju rumah utama keluarga Romano.
Rumah utama itu sangat besar. Bangunan megah tersebut berdiri di atas lahan luas dengan halaman yang tertata rapi. Beberapa bodyguard berjaga di berbagai titik. Mereka bekerja bergantian selama dua puluh empat jam penuh untuk memastikan keamanan keluarga. Meskipun begitu, suasana di rumah tersebut justru terasa tenang, tidak ada suara berisik. Setiap orang bekerja di tempatnya masing-masing.
Begitu mobil berhenti, seorang pelayan segera membukakan pintu. Lorenzo turun lebih dahulu, kemudian Alina menyusul.
Mereka berjalan masuk ke dalam rumah. Belum sampai beberapa langkah, suara seorang wanita langsung menyambut mereka.
“Lorenzo!”
Valentina datang menghampiri putra semata wayangnya. Tangannya langsung memeriksa lengan dan bahu Lorenzo seperti seorang ibu yang memastikan anaknya benar-benar pulang dalam keadaan utuh.
“Kamu jangan memaksakan diri saat bekerja,” ujar Valentina lembut. “Jangan sampai sakit lagi.” Tatapan matanya tampak berkaca-kaca.
Lorenzo tersenyum kecil. “Aku sudah sehat, Ma. Mama tidak usah khawatir.”
Valentina masih memandangi wajah putranya. “Kepala kamu sudah tidak pusing?”
“Tidak,” jawab Lorenzo tersenyum tipis. "Cuma pusing dengar ocehan isi hati Alina saja," batinnya.
“Kakinya?”
“Sudah baik.”
Baru setelah yakin, Valentina mengembuskan napas lega. Kemudian tatapannya beralih kepada Alina. Ekspresi lembut di wajahnya berubah sedikit lebih tegas.
“Alina.”
“Iya, Ma?”
“Kamu harus memperhatikan segala kebutuhan Lorenzo. Kesehatan dan keselamatan Lorenzo menjadi tanggung jawab kamu.”
Alina tersentak kecil. “Iya, Ma.”
Namun, pikirannya langsung menggerutu.
“Huh! Apa tidak salah aku yang harus menjaga Lorenzo? Dia kan pria dewasa, bukan bayi lemah.”
Lorenzo menoleh kepadanya. Alina pura-pura tidak melihat.
Belum sempat Valentina mengatakan sesuatu lagi, terdengar suara langkah dari arah ruang keluarga.
“Lorenzo, cucu kesayangan Nenek!” Isabella muncul dengan wajah cerah.
Wanita tua itu langsung menghampiri Lorenzo dan memeluk cucu kesayangannya. “Kamu baik-baik saja, kan?”
“Iya, Nek.”
Isabella melepaskan pelukannya, lalu memegang kedua pipi Lorenzo. “Kamu kelihatan kurus.”
Lorenzo tersenyum manja. “Aku baik-baik saja, Nek.”
“Nenek harus memastikan kamu makan dengan baik.”
“Iya.”
“Tidur juga cukup?”
“Cukup.”
“Jangan terlalu banyak bekerja.”
“Iya.”
Alina berdiri beberapa langkah dari mereka sambil menatap keduanya. Sudut bibirnya bergerak sedikit. Dia sudah hafal drama antara Lorenzo dan Isabella. Kalau berada di dekat neneknya, pria itu mendadak berubah menjadi cucu kesayangan yang sangat patuh.
Alina memalingkan wajah. Dia sudah bisa membayangkan panjangnya omelan Isabella.
“Kalau nanti Lorenzo mulas dan kentut terus, jangan-jangan aku yang bakal disalahkan. Karena salah kasih makan dan masuk angin.”
Tak lama kemudian, mereka semua duduk di meja makan. Meja panjang itu sudah dipenuhi berbagai macam hidangan. Jumlah makanannya bahkan terlihat berlebihan untuk lima orang.
Alina memandangi meja tersebut mulai dari makanan pembuka sampai penutup. Bahkan beberapa hidangan khusus yang hanya disiapkan dalam porsi tertentu.
Hal itu memang sudah menjadi kebiasaan keluarga Romano. Setiap anggota keluarga memiliki makanan kesukaan dan alergi yang berbeda-beda, sehingga meja makan selalu terlihat penuh.
Alessandro duduk di kursi utama. Meskipun usianya sudah berkepala lima, pria itu masih terlihat sangat tegap dan terawat. Rambutnya tertata rapi, bahunya lebar, dan posturnya masih kokoh. Jika orang yang tidak mengenalnya melihat Alessandro berdiri bersama Lorenzo, mungkin mereka akan mengira Alessandro adalah kakak sulung Lorenzo, bukan ayahnya.
Makan malam berlangsung tenang. Sampai akhirnya Alessandro membuka pembicaraan.
“Lorenzo.”
Lorenzo meletakkan sendoknya. “Ya, Pa?”
“Apa kamu sudah mendapatkan laporan terbaru dari kepolisian mengenai kecelakaan itu?”
Lorenzo mengangguk.
“Katanya itu kecelakaan murni, Pa. Tidak ditemukan tanda-tanda sabotase.”
Alessandro tidak langsung menjawab. Jarinya mengetuk meja pelan. Alessandro terlihat berpikir beberapa saat.
“Kamu tetap cari orang untuk menyelidiki kejadian itu secara menyeluruh. Tanpa melihat hasil penyelidikan polisi?”
Alessandro menatap putranya dengan serius. “Cari tahu dari awal. Jangan hanya mengandalkan laporan yang sudah ada.”
Lorenzo mengerutkan alis, diam mendengarkan. Lalu, dia mengangguk. “Baik, Pa.”
Alina hanya mendengarkan sambil menikmati pudingnya. Pembicaraan seperti itu bukan sesuatu yang asing baginya. Keluarga Romano memang selalu berhati-hati. Terutama para pria dalam keluarga tersebut. Mereka terbiasa memastikan segala sesuatu sebelum mempercayai kesimpulan.
Alina melirik Lorenzo.
“Entah kenapa yang satu ini agak melenceng sedikit.”
Dia kembali menyendok puding. Alina kemudian melanjutkan makannya dengan santai. Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Alessandro tiba-tiba menoleh kepadanya. “Alina.”
Alina berhenti mengunyah. “Iya, Pa?”
“Kalian sudah menikah selama tiga tahun. Kenapa belum juga hamil?”
Sendok di tangan Alina berhenti di udara. Dia berkedip dua kali. Pertanyaan itu benar-benar di luar dugaannya. Selama ini Alessandro tidak pernah membicarakan soal anak dengannya. Biasanya, orang yang paling sering ribut mengenai keturunan adalah Isabella.
Alessandro melanjutkan dengan nada tenang. “Sekarang sudah saatnya kalian memikirkan keturunan Romano.”
Alina menelan pudingnya dengan susah payah. “I-iya, Pa.”
Lorenzo diam di sampingnya. Dia juga tidak menyangka ayahnya akan membahas hal tersebut malam ini.
Alina menunduk. Pikirannya mulai berputar. Bagaimana menjawab pertanyaan seperti itu? Mereka sudah menikah tiga tahun, tetapi hubungan mereka bahkan tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Alina menggigit bibir. Dia melirik Lorenzo. Kemudian sebuah pikiran melintas begitu saja.
“Bagaimana mau punya anak ... Burung Lorenzo saja tidak hidup!”
Lorenzo yang saat itu sedang meneguk air langsung tersedak.
“Uhuk!”
Air yang ada di dalam mulutnya menyembur keluar. Air itu tepat mengenai wajah Alessandro.
Semua orang di meja makan langsung membeku. Alina membelalakkan mata. Valentina menutup mulut. Isabella terdiam dengan sendok masih di tangannya. Sementara Lorenzo sendiri membeku dengan mata membesar.
Alessandro perlahan mengusap wajahnya. Satu tetes air masih mengalir dari dagunya. Tidak ada seorang pun yang berani bersuara.
Alina menunduk sangat dalam. Wajahnya memerah.
“Ya Tuhan ....”
Lorenzo memejamkan mata. Dia tidak tahu harus marah kepada siapa. Semuanya gara-gara satu pikiran Alina.
1. dia selingkuh selama pernikahan, berniat menceraikan istrinya demi menikahi wanita lain, membiarkan istrinya diperlakukan semena-mena dikeluarganya, tapi tidak dihargai dirumah, 2.Alin dibuat bertahan 3 tahun dengan suami yang dingin, tidak menghargai istri dan selingkuh dengan pacarnya, sekaligus tekanan dari keluarga suami, tidak punya Sandaran, mengurus rumah dan sekaligus masih bekerja dikantor suami yang mana entah itu privat / disembunyikan.
coba kesampingkan humor tentang membaca pikiran, yg aku tangkap dari rumah tangganya itu semua, rasanya terlalu mudah dimaafin, padahal untungnya cuma Alin gak cinta, dan Lorenzo gak celap celup. sisanya kalo dipikir sakit ya
nyesel lho klo beneran Lorenzo lari k wanita lain, apalagi dia skarang mulai menyukai kaaaamu....