Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:758.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13

Jena baru saja turun dari taksi ketika matanya menangkap sosok seorang gadis yang baru saja melesat pergi dengan motor. Ia mengernyit. Entah kenapa, dari samping tadi, gadis itu terasa familiar.

"Seperti pernah lihat..."

Jena masih berdiri di pinggir jalan, berusaha mengingat, ketika suara seseorang membuyarkan lamunannya.

"Jena?"

Jena menoleh.

Budi berdiri di balik gerobak roti bakarnya. Wajah laki-laki itu tampak jelas menunjukkan keterkejutan.

"Jena." Panggilnya sekali lagi, seolah memastikan bahwa perempuan yang berdiri di depan gerobak roti bakarnya benar-benar Jena.

Ia sama sekali tidak menyangka Jena akan datang ke tempatnya. Bukankah beberapa hari lalu perempuan itu sudah mengatakan bahwa urusan mereka selesai? Tidak ada lagi alasan untuk bertemu. Tapi malam ini, Jena justru muncul di depan gerobaknya.

"Kamu...kesini." Budi tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.

Jena mengangkat bahu. "Tadi nggak sengaja lewat, terus pingin mampir."

Budi melirik jalanan di belakang Jena, kemudian kembali menatapnya. "Emang dari mana kok lewat sini?"

"Adalah."Jena mendekati gerobak Budi, memperhatikan deretan roti dan toping di gerobak kaca tersebut.

"Mau roti bakar?"

"Nggak."

"Gratis."

"Nggak mau."

"Yang mahal juga boleh."

Jena menatapnya sinis. "Siapa bilang aku nggak mampu beli?"

Budi tertawa. "Nah, berarti mau?"

"Nggak."

Jena kemudian berjalan menuju kursi plastik di depan gerobak dan duduk.

"Masalahnya...kursi itu hanya untuk pelanggan, yang boleh duduk cuma yang beli aja."

Jena mendengus.

"Mau rasa apa? Gratis, tenang aja." Budi terkekeh pelan. "Suka macha kan?"

"Bolehlah."

Budi segera membuatkan roti bakar dengan toping macha dan coklat. Varian yang merupakan best seller.

Jena memperhatikan Budi yang sedang membuat roti bakar. Gerakan tangannya cekatan. Mengoleskan margarin, memanggang roti, kemudian menambahkan topping,

Laki-laki itu terlihat begitu menikmati pekerjaannya. Tidak ada pakaian mewah. Tidak ada ruangan ber-AC. Tidak ada meja besar penuh orang yang membicarakan bisnis. Hanya gerobak sederhana, lampu kecil, dan aroma roti bakar.

Budi yang sedang memotong roti meliriknya "Kamu kenapa, kusut banget mukanya?"

"Aku habis kabur."

Tangan Budi berhenti. "Kabur?"

Jena akhirnya terkekeh kecil. "Iya, dari acara makan malam. Awalnya gak tahu mau kemana, karena kalau pulang, pasti habis dimarahi bokap. Lewat jalanan ini, langsung keinget kamu."

Budi mengangkat alis. "Kenapa harus kabur dari acara makan malam, bukannya enak ya?"

"Orang-orangnya yang bikin aku stres. Gila gak, zaman sekarang, masih aja ada acara perjodohan."

"Perjodohan!" pisau di tangan Budi hampir terlepas. Ia terdiam.

Jena kemudian menghela napas panjang. "Tadi aku dikenalin sama anak temannya Papa. Semua orang di sana sibuk ngomongin bisnis. Aku malah merasa seperti barang yang sedang dinegosiasikan."

Budi kembali melanjutkan pekerjaannya, tetapi kali ini jauh lebih pelan. "Terus kamu kabur?"

"Iya."

"Gimana orangnya, ganteng?"

"Siapa?"

"Yang dijodohin sama kamu."

"Mayanlah."

"Oh..." Budi tersenyum kaku. Entah kenapa, kabar Jena dijodohkan, membuatnya tak nyaman, apalagi mendengar ternyata calonnya lumayan.

"Eh, Mbak bukannya cewek yang dulu nabrak gerobak Budi ya?" tanya Mang Udin.

Jena menoleh pada penjual nasi goreng di samping gerobak Budi. "Masih ingat, Pak."

"Saya mah, kalau sama orang cantik, susah lupa."

Jena tertawa, begitu pula dengan Budi.

"Belum selesai urusan sama Budi?"

"Udah kok."

"Kelihatannya kok dekat sama Budi?" Mang Udin menatap Jena dan Budi bergantian. "Jangan-jangan...setelah jatuh dari motor...eh jatuh hati."

"Hah!" Jena melongo beberapa saat, lalu tertawa. "Ada-ada aja si Bapak."

Budi yang sedang memotong roti, diam-diam mengaminkan ucapan Mang Udin.

Budi memasukkan roti bakar milik Jena ke dalam kotak, tanpa menutup, memberikan pada Jena. Sekalian, dia memberi sarung tangan plastik agar tangan Jena tidak kotor saat memakannya.

"Cobain. Kali aja habis dikasih gratisan gini, kamu jadi pelanggan setia aku."

"Aromanya enak." Jena mengambil sepotong setelah memakai sarung tangan plastik.

"Penjualnya juga ganteng," celetuk Budi.

"Dih, narsis."

Budi menarik kursi ke dekat Jena, baru mau duduk, ada pelanggan datang. Ia terpaksa kembali ke gerobaknya, membuatkan pesanan.

Sambil menikmati roti bakar yang ternyata lumayan enak itu, Jena kembali memperhatikan Budi bekerja.

Awalnya ia mengira gerobak sederhana di pinggir jalan itu hanya sekadar usaha kecil. Ternyata dugaannya salah. Semakin malam, semakin ramai pelanggan yang datang, bahkan sampai antri.

Dan yang membuat Jena sedikit heran, sebagian besar pelanggan Budi adalah perempuan. Apa ini yang namanya, good looking menyelesaikan setengah masalah hidup. Ia yakin, dagangannya bisa seramai ini, salah satu faktornya ya karena yang jualan ganteng.

Budi berjualan di tepi jalan, berjejer dengan penjual makanan lainnya. Ada penjual nasi goreng, sate taichan, dimsum, martabak, dan minuman. Tapi entah kenapa, gerobak Budi yang paling ramai.

Jam di ponsel Jena menunjukkan pukul sepuluh lebih dua puluh ketika pelanggan terakhir pergi.

Budi membersihkan alat panggang sambil menghela napas lega. "Habis."

Jena menatap gerobak yang sudah kosong. "Gila, baru jam sepuluh lebih udah habis."

"Alhamdulillah rame. Mungkin karena ada kamu, bawa hoki."

Jena tersenyum. "Setiap hari kayak gini?"

"Gak selalu habis jam segini, kadang sampai jam 12." Budi mulai membereskan gerobaknya.

Jena masih duduk di kursinya.

"Kamu belum mau pulang?" Budi menatap Jena.

"Udah gak boleh disini lagi ya? Ini kursi mau diberesin?" Jena buru-buru berdiri.

"Santai aja, aku masih beresin gerobak. Tapi... kalau kamu belum mau pulang, gimana kalau nemenin aku?"

"Kemana?"

"Ngopi. Mau gak? Tapi gak di coffee shop mahal, cuma di angkringan sana." Menujuk angkringan yang tak jauh dari tempat ia jualan.

Jena melihat ke arah yang ditunjuk. Sebuah angkringan lesehan dengan beberapa meja kayu pendek. lampu kuning temaram, dan kepulan asap dari tungku.

Jena lalu tersenyum. "Boleh."

Setelah membereskan gerobak dan kursi, Budi mengambil jaket lalu mereka berjalan berdampingan menuju angkringan.

Jena tidak tahu kenapa ia merasa jauh lebih nyaman berada di tempat sederhana seperti ini dibandingkan restoran mewah beberapa jam sebelumnya.

Di restoran tadi, semua orang membicarakan bisnis dan pernikahan. Di sini, hanya ada aroma kopi, suara kendaraan yang sesekali lewat, dan obrolan orang-orang biasa.

Mereka duduk lesehan di tikar, meja paling ujung, karena hanya meja itu yang kosong.

Budi kemudian memesan dua kopi, kopi hitam untuk dirinya, dan kopi susu untuk Jena.

"Sate-sateannya disini juga enak loh. Gak pengen nyobain?"

"Boleh deh."

Mereka kembali berdiri, menuju gerobak angkringan untuk memilih sate. Ada banyak pilihan, mulai dari sate usus, jeroan, hingga telur puyuh. Setelah mengambil beberapa, mereka kembali ke tempat duduk, menunggu sate mereka dipanggang.

"Pakai ini." Budi menyodorkan jaketnya pada Jena.

"Gak usah, aku gak kedinginan kok."

"Bukan itu. Untuk menutupi kaki kamu, takut digigit nyamuk, kamu kan pakai rok pendek. Nyamuk disini nakal, sukanya sama yang cantik-cantik."

Jena terkekeh, lalu dengan ragu, menutupi kakinya dengan jaket hitam milik Budi. "Gak papa nih? Di bawah loh? Gak takut jaketnya kotor?"

Budi tersenyum. "Aku lebih takut kamu digigit nyamuk. Takut diminta pertanggungjawaban, yang ajak kesini kan aku."

Keduanya tertawa bersama.

1
aisyah
tapi aku nggak kasihan, gimana dong 🤭🤣
Oma Gavin
akhirnya juwita sudah memanen karma nya tinggal tunggu waktu mati saja sayang nya belum tobat habis ini pasti naura diajak ikut andhika bikin jena marah dan ngga mau lagi ketemu ayah nya
Putusri Martini
ceritanys menarik 👍👍
Sugiharti Rusli
apalagi dia sudah bercerai dari mama Asri, paling yang akan terganggu si Jena kan si Naura punya perasaan lain sama Budi
Sugiharti Rusli
meski bukan putri kandungnya, tapi Naura dirawat sejak lahir oleh Andika
Sugiharti Rusli
tapi sepertinya kalo si Juwita akhirnya berumur pendek sèpertinya Andika akan mengajak tinggal bersamanya lagi
Sugiharti Rusli
ternyata si Naura masih memiliki kakek-nenek dari pihak ibunya, jadi dia ga sendirian juga yah
Sugiharti Rusli
memang sih sebuŕuk apapun si Juwita bagi orang lain, di mata anak" nya mereka tetap sayang padanya,,,
L i l y ⁿʲᵘˢ⋆⃝🌈💦
Kasihan juga Juwi...mungkin Naura ikut dgn Andika
Eli Rahma
HIV
Opi Sofiyanti
kupikir pancreas tuh cm buat cowok.. 🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
karma bagi pelakor 😡😡😡
ntar Naura ikut Andika jangan sampai Dia juga jadi pelakor dalam Rumah Tangga Jena😡😡😡
Agus Tina
Aku kok nggak kas8han sama Juwita, ayo Andika saidara2 Juwita yg sudah kau tolong masukan mereka ke perusahaan sama sekalintidak mau menolong Juwita, itu karma buat Juwita. Tp mauku buat mereka melakukan kesalahan thor habis itu airih Jena pecat mereka
🌷Vnyjkb🌷
over alkohol pas LC tu,
🌷Vnyjkb🌷
susuknya lompat🤭😜😜
Diana Fitri.N
semangat kak semangat up nya 🥰
Kar Genjreng
kebanyakan diet makan kurma kali ya jadinya sakitnya gitu,,,,, saudaranya pada ga mau dekat lagi karena Juwita sudah hidupnya tidak seperti dulu,,,,ketika hidupnya bergelimang. mirip semut ngerubungi seperti gula,,, begitu sudah tak berdaya dan kismin. pada menjauh takut ketularan miskin,,,,maka jangan terlalu
bangga karena bnyak saudara. atau teman kala senang kala susah menjauh 🤔😮
ryuka
kasian ga kasian diihh tapi mungkin ini karmu juwita
Asih Rahmadhani Bohara
kasian banget sbnrnya sama Jena.. padahal udh jelas2 Naura bukan anaknya. msh aja peduli sampai skrg.. udh d khianati juwita berkali2.. msih aja ada rasa iba.. udh cocok banget bu asri mnta cerai
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
yaa pasti karena selama ini juwita sombong dan tak perduli sama keluarga nya. makanya saat juwita sakit, mereka ganti tak perduli dengan keadaan juwita. sekarang baru tahu kan? gimana rasanya di abaikan juwita...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!