"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."
Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.
Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.
Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rampung
Tujuh hari berlalu dalam keheningan yang tegang di kedalaman Sektor Zero.
Sore hari di laboratorium steril lantai tiga, suasana terasa sangat sunyi dan membeku. Lampu gantung fluoresens memancarkan pendar kebiruan yang dingin, menerangi tengah ruangan di mana sebuah kursi mekanis medis khusus berbahan besi hitam telah disiapkan.
Di sekeliling kursi tersebut, berdiri perangkat utama Neuro-Memoria Proyektor yang telah disempurnakan oleh Dr. Anthony. Konsol indikator gelombang sinapsis berukuran raksasa mengibarkan grafik-grafik digital berwarna hijau dan oranye di udara, sementara kabel-kabel serat optik tebal bergelantungan rapi menuju helm serat karbon hitam di atas meja.
Di sudut ruangan, para penguasa tertinggi Red Crows berdiri membisu. Argus berdiri tegap mengapit cerutunya, raut wajah mewahnya dipenuhi oleh pelipis keringat dingin yang sangat jarang diperlihatkannya. Di sampingnya, Mike berdiri dengan jas hitamnya yang kencang bersedekap dada, sementara pasangan Double L—Lukas dan Lingga—yang biasanya selalu dipenuhi kehebohan tengil kini diam mematung dengan pandangan mata yang sangat serius dan cemas.
Di tengah ruangan, Daren berdiri di samping kursi mekanis.
Dengan gerakan perlahan dan tenang, Daren merosotkan dan melepas kemeja taktis hitam yang membungkus tubuhnya.
SSET!
Kemeja itu terlepas, menampilkan otot-otot dada, lengan, dan perutnya yang terbentuk sangat presisi (sixpack). Namun yang paling menyita perhatian adalah deretan bekas luka tembak, goresan pisau, serta beberapa bekas jahitan medis yang membentang di sekitar pinggang dan bahunya—jejak-jejak pertempuran berdarah yang diukirnya selama enam tahun bertaruh nyawa di dunia bawah tanah.
Daren melangkah perlahan, lalu merebahkan tubuh tegapnya di atas kursi mekanis medis tersebut.
Dr. Anthony dan Firman melangkah mendekat dengan jemari yang sedikit gemetar. Firman memasangkan elektroda-elektroda pemantau biometrik pada kulit dada, lengan, dan pelipis Daren. Sementara Dr. Anthony dengan ketelitian tinggi menurunkan helm serat karbon hitam khusus, memasangkannya dengan pas melingkupi seluruh kepala Daren.
Setelah seluruh kabel optik dan sensor terhubung secara sempurna pada konsol utama, Dr. Anthony menghentikan jemarinya di atas tombol sakelar pemicu berwarna merah.
Dokter senior berambut uban itu menatap Daren melalui celah transparan helm, matanya memancarkan keraguan yang luar biasa besar.
"Daren..." suara Dr. Anthony bergetar pelan melalui mikrofon internal helm. "...aku masih merasa ragu. Gelombang stimulasi sinapsis ini sangat kuat. Jika sel otakmu tidak sanggup menahan tekanan memori traumatik ini... kau bisa mengalami amnesia permanen atau kelumpuhan saraf."
Argus melangkah satu maju dari sudut ruangan, menatap murid kesayangannya itu dengan mata penuh ketakutan akan kehilangan. "Daren... batalkan saja jika kau merasa ada keraguan sedikit pun di dalam dadamu. Kita bisa mencari cara lain!"
Lingga yang berdiri di dekat tiang membungkukkan badannya sedikit, matanya berkaca-kaca cemas. "Iya, Daren! Jangan dipaksa, Bro! Gue lebih suka lu jadi Daren yang sekarang daripada lu harus amnesia!"
Daren tidak memejamkan matanya. Melalui celah transparan helm serat karbonnya, sepasang mata kelabunya menatap Argus, Dr. Anthony, dan kawan-kawannya dengan keteguhan baja yang tak tergoyahkan.
Daren menarik napas dalam-dalam, menyuarkan permohonan tulus dari kedalaman jiwanya.
"Dr. Anthony... Tuan Argus..." suara Daren keluar tebal, tegap, dan sangat mantap dari speaker helm. "...saya memohon pada Anda berdua. Saya telah menyiapkan jiwa dan fisik saya untuk momen ini selama bertahun-tahun. Percayalah pada saya... saya tidak akan hancur hanya karena ingatan ini. Tolong... nyalakan mesinnya sekarang."
Permohonan tulus dan keteguhan tak tergoyahkan dari Daren seketika membungkam seluruh keraguan di dalam ruangan tersebut.
Dr. Anthony menghembuskan napas panjang, menundukkan kepalanya tipis. "Semoga Tuhan melindungimu, Daren..."
Jemari Dr. Anthony menekan tombol pemicu merah di atas konsol.
KLIK!
BZZZZZZZZZZZZZZZZZZZZT!
Suara deritan daya listrik bertegangan khusus seketika bergema nyaring di dalam laboratorium! Kabel-kabel serat optik tebal menyala terang dipenuhi arus energi kebiruan yang mengalir kencang menuju helm yang terpasang di kepala Daren!
STAP!
Tubuh tegap Daren seketika menegang kencang di atas kursi mekanis! Seluruh otot-otot dadanya mengeras, rahangnya merapat kencang, dan urat-urat hijau melompat keluar di sepanjang leher dan lengannya akibat sengatan stimulasi gelombang sinapsis yang menembus sel otaknya!
"DAREN!" jerit Lingga dan Firman histeris!
Argus memukul pilar kaca di sampingnya, keringat dingin memercik kencang di dahinya saat melihat tubuh Daren yang berguncang hebat di atas kursi medis!
Namun, guncangan hebat akibat sengatan awal itu hanya berlangsung selama tiga detik penuh.
SZZZT...
Detak indikator jantung Daren di layar monitor mendadak kembali berirama teratur. Tubuh tegap Daren perlahan-lahan melunak, kembali berbaring tenang di atas kursi mekanis. Napasnya teratur, dan indikator gelombang otak pada konsol utama bergerak cepat memasuki fase REM (Rapid Eye Movement) tingkat dalam.
Dr. Anthony mengusap pelipisnya yang basah oleh keringat dingin, menghembuskan napas lega. "Detak jantung dan frekuensi sel otaknya normal... Dia telah berhasil masuk ke dalam alam bawah sadar memorinya."
Alam Bawah Sadar Memori – Lima Tahun Lalu
Dunia di sekeliling kesadaran Daren seketika berubah.
Sensasi dingin laboratorium hilang total, berganti dengan aroma hangat kayu jati, cat rumah, dan aroma masakan rumahan yang sangat dirindukannya.
Daren berdiri sebagai sesosok pengamat tak kasat mata di dalam sebuah rumah kayu bergaya klasik yang diterangi sinar matahari pagi.
Dari dalam sebuah kamar tidur berukuran sedang, terlihat sesosok anak laki-laki kecil berusia lima tahun keluar melangkah terburu-buru. Anak kecil itu mengenakan kaus polos biru muda dan celana pendek—Daren kecil di masa lalu.
"Daren! Ayo Sayang, turun! Ayah sudah menunggu di dalam mobil!" suara lembut seorang wanita bergema hangat dari arah tangga bawah.
Daren kecil menghentikan langkahnya di lorong. Dia memukulkan tangannya ke jidat kecilnya dengan gaya menggemaskan. "Ah! Mainan motor-motoranku ketinggalan!"
Daren kecil berbalik berlari kencang kembali ke dalam kamarnya. Di atas meja belajar kecilnya, terbaring sebuah mainan motor-motoran kayu buatan tangan berukuran kecil dengan cat hitam yang belum sepenuhnya kering—mainan motor kayu yang sama persis seperti yang ada di dalam kotak beludru hitam pemberian The Hell!
Daren kecil menyambar mainan motor kayu itu, mendakapnya erat ke dada, lalu berlari gembira menunju tangga bawah.
Di pelataran rumah, sebuah mobil sedan hitam keluarga terparkir rapi. Di balik kemudi, duduk seorang pria tegap berwajah tampan dengan garis rahang tegas dan sepasang mata kelabu yang membeku anggun. Di sampingnya, seorang wanita cantik bersenyum hangat sedang menata tas di pangkuannya.
Kedua orang tua kandung Daren.
Daren kecil melompat gembira melintasi pintu depan rumah. "Ayah! Gendong Daren!"
Sang ayah terkekeh hangat. Pria tegap itu melangkah keluar dari mobil, menyambar tubuh kecil Daren ke udara, menggendongnya di atas bahunya yang kokoh seraya membelai rambut hitam anak tunggalnya itu.
"Anak jagoan Ayah membawa motor besarnya lagi, hm?" goda sang ayah seraya mendudukkan Daren kecil di bangku belakang sedan.
Mobil sedan hitam itu meluncur mulus meninggalkan pelataran rumah, membelah jalanan poros utama Sektor Barat di bawah naungan cuaca sore yang tenang.
Di dalam mobil, Daren kecil duduk gembira di bangku belakang seraya memutar-mutar roda mainan motor kayunya di atas jok. Sang ibu memalingkan wajahnya ke belakang, tersenyum lembut menatap anak tunggalnya.
"Daren Sayang..." tanya sang ibu hangat, "...nanti sampai di Sektor Pusat, Daren mau beli es krim rasa apa?"
Sang ayah melirik ke arah spion tengah, tersenyum tegap. "Nanti mau beli apa saja sebelum kita pulang, Ayah yang bayar semua untuk jagoan Ayah—"
Namun... sebelum sang ayah sempat menyelesaikan kalimat hangatnya...
BRRRRRRRRROOOOOOOOMMMMMMM!
BRAAAAAAAAAAAASHHHHHHHHHHHHHH!
Suara klakson angin bertekanan tinggi dari sebuah truk kontainer raksasa tanpa pelat nomor mendadak meraung dahsyat dari arah persimpangan buta!
Truk kontainer itu sengaja melesat dengan kecepatan penuh, menghantam secara brutal tepat di samping bagian tengah mobil sedan mereka!
BAM! CRACK! BOOOOOM!
Daya hancur dari tumbukan truk raksasa itu membuat sedan hitam keluarga Daren terlempar tiga meter menembus udara, terguling-guling secara mengerikan di atas Aspal jalan raya sebelum akhirnya terhempas hancur menghantam tiang listrik!
Atap sedan ringsek total, kaca-kaca terpelanting pecah.
Akibat guncangan dan pecahan jendela belakang yang hancur, tubuh kecil Daren kecil terlempar keluar dari kabin mobil, tersungkur keras di atas bahu jalan yang berdebu.
Daren kecil yang terbaring lemah dengan pelipis berdarah berusaha menengadah. Pandangan matanya kabur, telinganya mendengung kencang.
Melalui sisa-sisa kesadarannya yang meredup, Daren kecil menyaksikan pemandangan paling mengerikan di dalam hidupnya: mobil sedan orang tuanya hancur tak berbentuk, dan di balik kemudi yang ringsek, kedua orang tua kandungnya terbaring kaku, tidak bergerak lagi dalam genangan darah pekat yang membasahi Aspal.
SSET! SSET! SSET!
Dari balik bayangan truk kontainer yang berhenti, puluhan pengendara motor berseragam jaket kulit hitam dengan kain slayer biru di lengan kiri—pasukan geng motor Blue Horns masa lalu—melompat turun dari kendaraan mereka.
Di barisan depan, sosok pimpinan eksekutor mereka melangkah mendekati Daren kecil yang terbaring kaku. Pria eksekutor itu tidak membantu atau memanggil ambulans; dia hanya menatap Daren kecil dan kedua orang tuanya yang bersimbah darah dengan pandangan dingin tanpa rasa kasihan, sebelum akhirnya memerintahkan pasukannya untuk pergi meninggalkan mereka membusuk di jalanan.
Di dalam laboratorium Sektor Zero...
Suara mesin Neuro-Memoria Proyektor mendadak berdenyit kencang!
BEEP! BEEP! BEEP!
Grafik gelombang otak Daren di konsol utama memuncak tinggi, dan tubuh tegap Daren yang berbaring di atas kursi medis beberapa kali menegang dan bergetar hebat akibat luapan emosi traumatik di dalam memori bawah sadarnya!
Argus berdiri di samping kursi medis dengan pelipis basah oleh keringat dingin. Pria besar itu mengepalkan tangannya rapat-rapt, menatap Daren dengan rasa cemas yang teramat sangat.
"Daren... bertahanlah, Nak..." bisik Argus dengan suara yang bergetar penuh kepedulian.
Kembali ke Alam Bawah Sadar Memori
Sebelum insiden hantaman truk kontainer itu terjadi... kilasan memori bawah sadar Daren mendadak berputar mundur ke satu momen penting di dalam rumah kayu mereka, sejam sebelum mereka menaiki mobil.
Di dalam kamar kerja pribadi sang ayah yang beraroma kayu cendana...
Daren kecil sedang duduk di atas karpet seraya memegang sebuah benda asing yang ditariknya dari dalam laci meja ayahnya.
Benda itu adalah sebuah topeng berwujud wajah iblis berwarna hitam legam dengan ukiran tanduk melengkung yang sangat elegan—topeng iblis yang sama persis seperti yang dikenakan oleh sang pimpinan raksasa The Hell di kamar nomor 13 Hotel Grand Sovereign!
Daren kecil memainkan topeng iblis hitam itu dengan polosnya, mencoba memasangnya di wajah kecilnya.
SSET!
Sebuah tangan tegap sekeras baja merogoh lembut, mengambil topeng iblis hitam tersebut dari genggaman Daren kecil.
Sang ayah berlutut di hadapan Daren kecil seraya memegangi topeng iblis hitam itu di tangannya. Pria tampan beresepasang mata kelabu itu menggelengkan kepalanya pelan dengan senyuman hangat yang penuh nasihat.
"Daren Sayang..." ucap sang ayah dengan suara tebalnya yang lembut, "...jangan memainkan topeng hitam ini ya. Nanti Jagoan Ayah bisa takut dan tidak bisa tidur malam ini."
Daren kecil menengadah dengan polos, tertawa renyah. "Ayah! Pakai topengnya! Ayah mau lihat Ayah pakai topeng iblis itu!"
Sang ayah tersenyum tipis. Pria itu perlahan-lahan mengulurkan kedua tangannya, mengangkat topeng iblis berwarna hitam legam itu mendekati wajahnya...
Namun... tepat di detik saat topeng iblis hitam itu hendak menutupi wajah sang ayah...
BZZZZZZZZZZZZT!
Sensasi stimulasi listrik di dalam otak Daren mencapai batas maksimalnya!
Pandangan mata Daren kecil di dalam memori bawah sadarnya seketika mengabur pesat, tertutup oleh tirai kabut hitam pekat yang memutus rekaman memori secara mendadak!
BRAAAAASHHHHHHH!
Di dalam laboratorium Sektor Zero!
Suara ledakan halus dan percikan api menyembur dari modul konverter konsol utama Neuro-Memoria Proyektor! Komponen kristal pemroses memori di dalam mesin itu hancur berantakan akibat beban kelebihan arus gelombang otak Daren yang melonjak terlalu tinggi!
STAP!
Daren yang berbaring di atas kursi medis seketika mendudukkan tubuh tegapnya secara mendadak!
Helm serat karbon di kepalanya terlepas jatuh ke atas lantai semen. Daren menarik napasnya dalam-dalam dengan kencang, dadanya yang sixpack naik turun memburu, dan pelipisnya dibasahi oleh keringat dingin yang mengucur deras.
Manik mata kelabunya yang terbuka lebar memancarkan kepekatan pendar emosi, amarah, dan kebenaran mutlak yang kini telah terkumpul utuh di dalam memorinya!
"DAREN!"
Argus, Mike, Lukas, Lingga, dan Firman seketika mengepung kursi medis tersebut dengan rasa cemas yang luar biasa besar!
Dr. Anthony bergegas memeriksa indikator vital biometrik Daren. "Detak jantungnya kembali stabil! Dia selamat! Dia berhasil!"
Lingga menepuk bahu Daren seraya menahan air mata lega di matanya. "Astaga, Daren! Lu bikin kita senut-senut setengah mati dari tadi!"
Daren tidak membalas kehebohan kawan-kawannya. Dia duduk tegap di tepi kursi medis, mengusap pelipisnya yang basah oleh keringat.
Ingatan masa kecilnya yang sempat hilang selama belasan tahun kini telah terbuka sepenuhnya tanpa ada satu detail pun yang terlewat. Daren kini mengingat dengan sangat jernih wajah kedua orang tua kandungnya, detik-detik tragedi hantaman truk kontainer, serta wajah-wajah pasukan geng motor Blue Horns yang meninggalkannya berdarah di jalanan.
Namun... mengenai rahasia bahwa ayahnya adalah pemilik dari topeng iblis hitam milik The Hell... Daren memilih untuk mengunci rapat kenyataan itu di dalam relung jiwanya sendiri. Daren memutuskan untuk mencari tahu sendiri teka-teki raksasa di balik identitas asli ayahnya dan hubungannya dengan faksi bayangan internasional tersebut.
Daren menengadah, menatap Argus, Mike, dan Dr. Anthony secara bergantian dengan sepasang mata kelabu yang dipenuhi ketegasan membeku.
"Saya sudah mengingat semuanya," suara Daren keluar sangat rendah, tebal, dan bergetar oleh aura pembunuh yang pekat.
Argus merapatkan posisinya, menatap muridnya dengan serius. "Katakan pada kami, Daren... siapa yang kau lihat di dalam memorimu? Siapa yang merencanakan pembantaian orang tuamu?"
Daren menyisir rambut hitamnya yang basah ke belakang.
"Pasukan geng motor Blue Horns adalah eksekutor lapangan yang mengejar dan menghantam mobil orang tua saya malam itu," jawab Daren jujur mengenai bagian penyerangan. "Dan sosok dalang utama yang berdiri di balik truk kontainer dan menyewa mereka..."
Daren mendeskripsikan ciri-ciri fisik sang dalang utama secara mendetail: seorang pria paruh baya bertubuh tinggi besar dengan jas mahal, perhiasan emas di jemarinya, serta sepasang mata merah yang memancarkan kejataan tanpa batas—namun dengan satu detail khusus: pada lima tahun lalu, wajah pria itu belum memiliki bekas luka goresan panjang yang membentang dari pelipis ke pipinya.
Mendengar deskripsi ciri-ciri fisik yang disampaikan oleh Daren secara presisi...
Argus dan Mike seketika membelalakkan mata mereka dalam rasa terkejut yang luar biasa dahsyat!
Argus menghembuskan asap cerutunya kencang, menghantamkan kepalan tangannya ke atas pilar medis dengan amarah yang meledak!
"VIKTOR!" bentak Argus dengan suara tebal yang murka. "Pria dalang itu murni adalah Viktor—Pemimpin Tertinggi Viper Syndicate!"
Argus menatap Daren dengan mata yang membara oleh dendam dua belas tahun lalu. "Ternyata kecoa tua itu tidak hanya membantai anak dan istriku dua belas tahun lalu... tapi lima tahun lalu dialah yang menyewa Blue Horns untuk menghancurkan mobil orang tuamu!"
Bara dendam antara Red Crows dan Viper Syndicate kini telah menyatu sepenuhnya di dalam jiwa Argus dan Daren.
Daren berdiri tegap dari kursi medisnya, merapikan kemeja taktis hitamnya. Manik mata kelabunya menatap lurus ke depan dengan ketegasan mutlak yang tak tergoyahkan.
"Waktunya..." bisik Daren dingin, "...untuk menumpas seluruh jaringan Viktor dan menundukkan Blue Horns sampai ke akar-akarnya."