Reyga membenci aturan ayahnya. Berry membenci cinta karena perceraian orang tuanya.
Keduanya memilih hidup bebas dengan cara masing-masing—sampai mereka menyelamatkan seorang bayi berusia sembilan bulan dari penculikan.
Tak tahu siapa orang tua bayi itu, Reyga dan Berry terpaksa merawatnya bersama.
Dua lelaki yang bahkan tak tahu cara mengganti popok itu perlahan belajar tentang tanggung jawab, pengorbanan, dan perjuangan seorang ibu.
Di saat Reyga mulai jatuh cinta pada Amelia, reporter muda yang selama ini selalu ia hindari, Berry justru dihantui masa lalu bersama Melda—perempuan polos yang pernah ia sakiti hingga harus menghadapi kehamilannya seorang diri.
Namun ketika identitas bayi mulai terungkap, mereka sadar bahwa penculikan itu bukan kebetulan.
Bayi kecil yang awalnya mereka anggap sebagai beban ternyata menjadi jalan bagi dua lelaki yang terluka untuk menemukan cinta, keluarga, dan kesempatan kedua.
Bila suka ceritanya, jangan lupa subscribe, like, komentar & votenya ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 : MAKAN MALAM YANG MENYEMBUNYIKAN RAHASIA
...BAB 32...
...MAKAN MALAM YANG MENYEMBUNYIKAN RAHASIA...
Alessia tiba di kafe dengan wajah yang jauh lebih cerah dibandingkan saat meninggalkan apartemen Berry tadi.
Begitu melihat Reyga duduk di salah satu meja dekat jendela, senyumnya langsung mengembang.
Reyga tidak datang sendirian. Berry duduk di sampingnya sambil memainkan ponsel.
“Reyga!” serunya.
Reyga mengangkat wajah. “Duduklah.”
Alessia langsung mengambil kursi di hadapan Reyga. Senyum cerah menghiasi wajahnya begitu melihat lelaki itu sudah lebih dulu menunggunya.
“Aku nggak menyangka kamu yang ngajak aku ketemu duluan,” katanya antusias.
Reyga hanya tersenyum tipis. “Memangnya kenapa?”
“Biasanya kamu susah banget diajak ketemu.”
“Aku cuma lagi ada waktu.”
Alessia terkekeh kecil. Ia kemudian meletakkan tasnya di samping kursi. “Tapi aku senang kamu yang menghubungi aku.”
Reyga mengangguk pelan. Sebenarnya ada alasan lain kenapa ia sengaja mengajak Alessia bertemu hari ini. Selain Alessia bisa pergi dari apartemennya Berry, Ia juga ingin memastikan sesuatu tanpa membuat perempuan itu curiga.
“Semalam kamu nggak balas pesanku,” ujar Alessia kemudian.
Reyga sempat terdiam. “Oh, itu. Malam aku sudah tidur.”
Alessia mengangguk. “Pantas saja. Aku sempat menunggu balasanmu.”
“Maaf.”
“Tidak apa-apa.” Alessia tersenyum lagi. “Yang penting sekarang kamu ada di sini.”
Reyga hanya membalas dengan senyum kecil.
Untuk beberapa saat, percakapan mereka berlangsung ringan. Alessia sama sekali tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang Reyga pikirkan.
“Oh ya, aku juga mau membicarakan soal undangan makan malammu itu.”
Mata Alessia langsung berbinar. “Jadi?”
Reyga menarik napas. “Aku akan datang.”
“Benarkah?” Alessia hampir berdiri karena terlalu senang.
Berry menatap Reyga dengan alis terangkat. Lelaki itu tahu alasan sebenarnya. Reyga menerima undangan tersebut bukan karena tiba-tiba tertarik pada Alessia.
Ia hanya ingin memastikan gadis itu tidak lagi kembali ke apartemen Berry. Terutama setelah Alessia mendengar suara Bintang di telepon pagi tadi.
“Besok malam aku datang,” lanjut Reyga.
Senyum Alessia semakin lebar. “Terima kasih, Reyga!”
Ia bahkan sampai menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
“Aku akan meminta Papa menyiapkan makan malam yang spesial.”
Reyga tersenyum tipis. “Jangan terlalu repot.”
“Tidak repot kok.” Alessia terlihat begitu bahagia.
Sementara Reyga hanya mengangguk. Dalam hati, ia berharap satu hal.
Semoga dengan datang ke acara itu, Alessia berhenti mencari tahu tentang apartemen Berry.
*****
Keesokan harinya, di malam Minggu...
Sore itu, apartemen Berry kembali ramai. Bintang baru saja selesai makan.
Amelia sedang membersihkan meja kecil tempat bayi itu bermain, sementara Berry duduk di sofa.
Reyga keluar dari kamar. “Mel.”
Amelia menoleh. “Iya?”
“Malam ini lo jangan pulang dulu.”
Tangan Amelia yang sedang membawa kain lap langsung berhenti.
“Hah? Menginap lagi?" Amelia mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Malam ini, gue ada acara makan.”
Amelia langsung terdiam. “Makan malam?”
Reyga mengangguk. “Di rumah Alessia.”
Hati Amelia terasa seperti ditarik pelan. Namun ia berusaha tidak menunjukkannya.
“Oh.” Amelia mengangguk pelan.
Berry yang sedang duduk di sofa langsung melirik Amelia. Ekspresinya berubah seperti orang yang baru menemukan bahan gosip baru.
Reyga melanjutkan. “Berry juga belum tentu bisa mengurus Bintang sendirian kalau malam.”
Berry langsung protes. “Hei! Gue bisa!”
Reyga menatapnya. “Lo kemarin hampir memberikan susu bayi pakai takaran yang salah.”
“Itu cuma sekali!”
“Dan popoknya pernah lo pasang terbalik.”
Berry terdiam. Amelia menahan tawa. Reyga menunjuk Bintang. “Pokoknya gue lebih tenang kalau ada lo di samping Bintang.”
Amelia memandang Bintang. Bayi itu sedang memainkan mainan sambil tertawa kecil.
Akhirnya Amelia mengangguk. “Baiklah. Aku menginap malam ini.”
“Terima kasih.” Reyga kemudian masuk ke kamar untuk bersiap.
Dua jam kemudian Reyga keluar lagi dari kamar, setelah mandi tadi. Amelia yang sedang menggendong Bintang mendadak terdiam.
Reyga mengenakan kemeja hijau botol rapi dengan celana panjang hitam. Rambutnya ditata lebih teratur. Wajahnya terlihat semakin tampan dengan aroma parfum yang samar memenuhi ruangan.
Amelia tanpa sadar menatapnya terlalu lama. Berry yang melihat langsung menyeringai.
“Waduh.” godanya.
Amelia tersadar. “Apa?”
Berry mengangkat alis. “Tatapan lo.”
“Ada apa dengan tatapanku?”
“Kayak orang baru lihat artis Korea turun dari layar TV.”
“Berry!” Amelia langsung memalingkan wajah. Kedua pipinya memerah.
Reyga tidak terlalu memperhatikan percakapan mereka. Ia hanya mengambil jam tangan. “Gue berangkat.”
Amelia mengangguk. “Ya. Hati-hati.”
Reyga menatap Bintang. “Jaga Bintang.”
“Iyaaa tak perlu khawatir..” sahut Amelia.
“Kalau ada apa-apa telepon gue.” pesannya lagi.
Amelia mengangguk lagi. "Iya."
Reyga berjalan menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia sempat menoleh lagi. “Dan jangan tungguin gue.” katanya.
Amelia terdiam. “Iya.” ucapnya pelan.
Pintu pun tertutup. Beberapa detik kemudian terdengar suara mobil Reyga menjauh.
Amelia masih berdiri sambil menggendong Bintang.
Berry menatapnya, mengangkat alis. “Cemburu?”
Amelia langsung menoleh. “Nggak! Kenapa aku harus cemburu?!"
“Jawabnya cepat banget.”
“Aku cuma...”
“Cuma apa?”
“Cuma capek.” jawabnya asal.
Berry tertawa. “Kalau capek, kenapa dari tadi lihat pintu?”
Amelia langsung memelototinya. “Berry, kamu bisa diam nggak sih!”
Berry mengangkat kedua tangannya. “Oke, oke.”
Namun senyumnya tidak hilang. Ia sudah melihat sesuatu yang Amelia coba sembunyikan.
Perempuan itu mulai menyukai Reyga. Dan mungkin Amelia sendiri belum berani mengakuinya.
Beberapa menit kemudian suasana kembali tenang. Bintang mulai mengantuk. Amelia membawa bayi itu ke kamar. Setelah menidurkannya, Amelia keluar dan duduk di sofa.
Berry ternyata masih di sana. Namun kali ini wajahnya tidak lagi usil.
Ia terlihat termenung. Amelia memperhatikannya. “Kenapa?”
Berry menghela napas. “Amel.”
“Hm?”
“Gue boleh nanya sesuatu.”
Amelia mengangguk. “Tanya saja.”
Berry menunduk. “Kalau ada perempuan yang pernah gue sakiti...”
Amelia langsung diam.
Berry melanjutkan. “Dan perempuan itu sekarang benar-benar nggak mau dekat sama gue lagi...”
Suaranya terdengar lebih berat. “Menurut lo, gimana caranya supaya dia bisa memaafkan gue?”
Amelia menatapnya. Untuk pertama kalinya malam itu, Berry terlihat benar-benar serius.
“Siapa perempuan itu?”
Berry tidak menjawab. “Anggap saja seseorang.”
Amelia tersenyum tipis. “Kalau begitu, jangan mulai dari meminta dia kembali.”
Berry mengangkat wajah. “Maksudnya?”
“Kalau kamu benar-benar menyakitinya, mungkin dia bukan tidak punya perasaan lagi.”
Amelia berhenti sebentar. “Mungkin dia cuma takut disakiti untuk kedua kalinya.”
Berry terdiam. “Jadi gue harus bagaimana?”
“Buktikan.”
“Dengan apa?”
“Dengan tindakan.”
Berry menatap lantai. “Kalau dia nggak mau bertemu gue?”
“Jangan paksa.”
“Kalau dia menolak semua bantuan gue?”
“Jangan gunakan uang untuk membeli maafnya.”
Kalimat itu membuat Berry terdiam lebih lama.
Amelia melanjutkan. “Kalau kamu benar-benar menyesal, bantu dia tanpa meminta apa pun sebagai balasan.”
Berry menghela napas. “Kalau dia tetap nggak memaafkan?”
“Terima.” tegas Amelia.
Berry menatap Amelia. “Sesederhana itu?”
“Tidak.” Amelia tersenyum sedih. “Kadang mencintai seseorang berarti kamu harus menerima bahwa dia mungkin tidak akan kembali.”
Berry tidak menjawab. Dadanya terasa berat.
Wajah Melda kembali muncul dalam pikirannya. Perempuan yang bahkan menolak uang darinya. Perempuan yang berjalan pergi tanpa meminta apa pun.
Dan untuk pertama kalinya, Berry sadar, ia tidak takut kehilangan uang. Ia takut kehilangan seseorang. “Gue benar-benar sudah terlambat, ya?”
Amelia menatapnya. “Mungkin.”
Berry tertawa hambar. “Tapi gue masih ingin memperbaikinya.”
“Kalau begitu jangan menyerah.”
Berry mengangguk. “Terima kasih.”
Amelia tersenyum. “Semoga perempuan itu mau melihat perubahanmu.”
Berry menatap Amelia cukup lama. “Dan lo?”
Amelia bingung. “Aku, kenapa?”
“Kalau suatu hari Reyga menyakiti lo?”
Amelia mengernyit. “Kenapa tiba-tiba tanya begitu?”
Berry tersenyum kecil. “Cuma penasaran.”
Amelia memalingkan wajah. “Sudahlah.”
Berry terkekeh. “Gue sudah tahu.”
“Tahu apa?”
“Lo suka sama Reyga.”
Wajah Amelia langsung memerah. “Aku nggak—”
“Tenang.” Berry tertawa. “Gue nggak akan bilang siapa-siapa.”
Amelia memeluk bantal. “Berry!”
Berry semakin tertawa. Namun di balik tawanya, ia menyimpan kesedihan sendiri.
Karena sementara Amelia mulai merasakan sesuatu yang baru...
Berry justru sedang berusaha mendapatkan kembali seseorang yang mungkin sudah tidak ingin melihatnya lagi.
Dan malam itu, tanpa mereka sadari, dua hati sedang sama-sama berjuang menghadapi cinta.
Satu baru tumbuh. Satu lagi sedang berusaha memperbaiki luka.
Sementara jauh dari apartemen itu... Reyga baru saja tiba di rumah Alessia.
Dan sebuah makan malam yang sejak awal dirancang oleh dua keluarga besar, baru saja dimulai.
Bersambung....