Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Kembali ke suasana studio kumuh di kampus Institut Musik Nusantara.

Jreng!

Suara gitar akustik Stevan kembali mengalun, kali ini serangannya jauh lebih bertenaga.

Clara memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba memfokuskan aliran udara di dalam tubuhnya sesuai instruksi anatomi Stevan.

Ia menarik napas panjang hingga otot perut bagian bawahnya mengembang maksimal.

"SEKARANG BERSIAPLAH!"

Teriakan Clara kali ini meledak dengan sangat dahsyat, bulat, dan menggema.

Suaranya memantul keras ke dinding-dinding studio tua itu hingga membuat debu di langit-langit berjatuhan.

Resonansi yang keluar tidak lagi terdengar menyakitkan tenggorokan, melainkan sangat tebal dan memekakkan telinga.

Stevan yang berada di jarak satu meter sampai harus sedikit menyipitkan matanya karena tekanan getaran suara itu.

Tuk.

Stevan kembali menghentikan permainannya dan langsung memberikan tepuk tangan tanpa suara yang sangat meriah.

Clara membuka matanya dan terengah-engah mencari udara, dadanya naik turun dengan cepat.

Gadis itu tersenyum luar biasa lebar melihat reaksi puas dari wajah seniornya.

"Aku berhasil, Kak! Kepalaku terasa sedikit berdengung, tapi suaraku keluar sangat keras!" seru Clara kegirangan.

Stevan mengacungkan ibu jarinya tinggi-tinggi tanpa ragu sedikit pun.

Ia mengambil ponselnya dan mengetik pesan persetujuan dengan cepat.

"Itu baru resonansi asli dari bakat peringkat atas. Pertahankan teknik pernapasan itu."

"Dengan volume setebal ini, kau sama sekali tidak akan butuh mikrofon untuk membungkam mulut sombong mereka di panggung."

Clara mengusap keringat dingin di pelipisnya menggunakan punggung tangan kanannya.

"Terima kasih, Kak. Tanpa instruksi anatomi darimu, pita suaraku pasti sudah robek malam ini," ucap gadis itu sangat tulus.

Stevan mengangguk pelan menerima ucapan terima kasih itu dan melihat jam di pergelangan kirinya.

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, seluruh area kampus sudah sangat sepi, gelap, dan sunyi.

[TING!]

[PERINGATAN SISTEM!]

[Deteksi ancaman niat jahat terarah pada tuan rumah dan entitas yang berafiliasi.]

[Probabilitas serangan fisik dalam 48 jam ke depan mencapai angka 98 persen.]

Mata Stevan seketika menyipit tajam layaknya mata elang membaca deretan kalimat peringatan beraksen merah di layar birunya.

Ancaman fisik?

Ia sebenarnya sudah menduga hal kotor semacam ini akan terjadi.

Tikus got yang tersudut ke tembok oleh gertakannya pasti akan mencoba menggigit dengan cara yang paling biadab.

Stevan segera mematikan saklar lampu studio dan memasukkan gitar akustiknya ke dalam kotak penyimpanan tebal.

"Kita pulang sekarang juga," ketik Stevan dan menyodorkan layar ponselnya ke depan wajah Clara.

Clara sedikit terkejut melihat gerakan Stevan yang tiba-tiba berubah menjadi buru-buru.

"Ada apa, Kak? Kakak terlihat sedikit tegang malam ini," tanya Clara dengan nada sangat polos.

Stevan tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung.

Ia hanya meraih pergelangan tangan Clara dan menarik gadis itu perlahan keluar dari studio.

"Mulai besok pagi sampai acara semifinal selesai, kau tidak boleh berjalan sendirian barang sedetik pun," ketik Stevan dengan satu tangan saat mereka di lorong.

"Kenapa, Kak? Apa ada bahaya dari pihak panitia lagi?" tanya Clara mulai tertular kepanikan.

"Dion sepertinya sudah kehabisan akal sehatnya untuk menang."

"Dia pasti akan menggunakan preman bayaran untuk menyerang tubuh kita di luar area panggung," balas Stevan melalui teks.

Mata Clara membulat sempurna karena ketakutan yang menjalar di hatinya.

Kekerasan fisik adalah sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan akan terjadi di dunia musik yang bersih.

"Lalu apa yang harus kita lakukan, Kak? Ayo kita lapor polisi kampus saja sekarang!" usul Clara dengan suara bergetar.

Stevan menggelengkan kepalanya dengan gerakan yang sangat tegas menolak ide tersebut.

"Polisi butuh bukti kejadian untuk bertindak, dan kita belum diserang sama sekali."

"Jika kita lapor sekarang, Dion hanya akan menyangkal dan mengubah rencana serangannya menjadi jauh lebih tersembunyi."

"Lalu kita harus pasrah dipukuli mereka?" tanya Clara dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Stevan menoleh ke arah Clara dan tersenyum sangat dingin di balik maskernya.

Sebuah senyuman tanpa ampun yang membuat udara malam di lorong itu terasa semakin membekukan tulang.

[TING!]

[Misi Darurat: Pertahanan Diri Mutlak.]

[Deskripsi: Patahkan serangan fisik dari pihak musuh tanpa mengalami cedera serius dan pastikan instrumen aman.]

[Hadiah Misi: Peningkatan Refleks Saraf dan Keahlian Bela Diri Jarak Dekat Tingkat Lanjut.]

Stevan mengetik pesan terakhirnya malam itu sebelum mereka berdua berjalan keluar dari gerbang kampus.

"Kita sama sekali tidak akan pasrah dipukuli."

"Kita akan membiarkan mereka datang menyerang kita dengan tangan kosong."

"Dan saat mereka masuk ke perangkapku, aku akan memastikan para preman bayaran itu menyesal pernah mencari masalah dengan orang bisu."

Clara menelan ludah membaca teks yang dipenuhi aura membunuh itu dengan dada yang berdebar kencang.

Meskipun ia masih sangat ketakutan terhadap ancaman preman, ia memilih untuk percaya.

Ia percaya penuh bahwa pria jenius di sebelahnya ini selalu memiliki rencana gila untuk menyelamatkan mereka dari jurang kematian.

1
Rifqy Channel
nah gini dong 😭🙏🤣🤣
Rifqy Channel
tolong dong itu the zeros mereka harus ungkap identitas biar supaya mereka shock itu. jangan pelit dengan hadiah nya lah.
Nissa Safira: Sabar yaa kak🤣🙏
Aku mau mereka shocknya pas lagi di atas tahta, bukan pas masih di tangga. Tunggu final, hadiahnya bukan cuma identitas yang kebuka, tapi satu industri yang runtuh. Janji deh gak bakal pelit hadiahnya🤣🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!