Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.
Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.
Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HABISNYA CINTA SUAMIKU
Makanan laut mewah yang tersaji di atas meja kayu itu mendadak kehilangan selera dan aromanya. Kepulan asap tipis dari udang saus padang dan cumi goreng renyah yang tadi tampak menggugah selera, kini terasa bagaikan tumpukan racun yang menyiksa indra penciuman Gema. Pria itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, membiarkan jemarinya yang gemetar saling menaut kaku di atas paha.
Keheningan melingkupi sudut privat restoran dan area kantor Lumiere Bakehouse itu. Suara langkah kaki Alana dan isak tangis pelan Tania yang perlahan menjauh menuju dapur produksi seolah meninggalkan lubang hampa yang teramat besar di dada Gema.
Gema meneguk ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa begitu kering, menyisa rasa pahit yang tak tertahankan. Selera makan pria itu telah menguap sepenuhnya, berganti menjadi gulungan rasa malu dan penyesalan yang kian mencekik leher.
"Ya Tuhan... apa yang baru saja aku lakukan?" bisik Gema pada dirinya sendiri. Suaranya bergetar lirih, sarat akan keputusasaan yang teramat dalam.
"Bisa-bisanya aku... aku bahkan tidak tahu kalau istriku sendiri alergi sama makanan laut?"
Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat di atas paha hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya bergemuruh hebat, dikuasai oleh rasa malu, hina, dan penyesalan yang membakar jiwanya tanpa ampun. Bagaimanakah mungkin seorang suami yang telah mendampingi seorang wanita selama hampir tujuh tahun tidak mengetahui alergi dasar yang bisa mengancam nyawa istrinya?
Untuk mengalihkan rasa sesak yang kian menghimpit leher, Gema berdiri perlahan. Langkah kakinya terasa amat berat, seolah-olah ditarik oleh beban berbobot ton saat menyusuri koridor kecil yang menghubungkan meja makan privat itu langsung ke dalam ruang kerja pribadi Alana. Pintu ruangan itu memang sengaja dibiarkan sedikit terbuka oleh Alana tadi.
Gema menghela napas panjang yang terasa menyiksa, lalu mendorong pintu kayu jati itu hingga terbuka lebar. Pria itu melangkah masuk ke dalam ruangan yang selama hampir tujuh tahun pernikahan mereka belum pernah sekali pun ia injak atau sudi ia perhatikan.
Ruang kerja Alana berukuran tidak terlalu luas, namun ditata dengan keanggunan dan estetika yang luar biasa. Aroma vanila manis dan kayu cendana yang menenangkan merayapi indra penciuman Gema. Penerangan ruangan yang hangat menyoroti dinding-dinding yang dicat dengan warna krem lembut.
Namun, saat pandangan Gema menyapu dinding sebelah kanan, langkah kakinya seketika terhenti kaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak detik itu juga.
Di dinding sebelah kanan, terbingkai rapi puluhan sertifikat berbingkai emas dan kayu mahoni. Tak jauh dari sana, di atas lemari kaca yang berdiri kokoh di sudut ruangan, berjejer piala-piala berkilauan dengan berbagai ukuran.
Gema melangkah mendekat dengan mata membelalak tak percaya. Pria itu membaca satu per satu tulisan yang tertera di sana dengan suara gemetar.
"Penghargaan Koki Pastry Terbaik Tingkat Nasional... Sertifikasi Seni Dekorasi Kue Tingkat Internasional... Juara Pertama Kompetisi Bisnis Kuliner Kreatif... Penghargaan Toko Kue Berpengaruh dan Terfavorit Tahun Ini..."
Gema mengeja tulisan di dinding itu satu per satu dengan napas yang makin tersengal. Tangannya terangkat, menyentuh permukaan kaca bingkai dengan jemari yang bergetar hebat.
"Hampir tujuh tahun..." bisik Gema, suara monolognya bergema pilu di ruangan yang hening itu. "Tujuh tahun kita hidup di bawah satu atap yang sama, Alana... dan aku sama sekali tidak tahu kalau kamu sehebat ini? Aku pikir kamu cuma mengelola toko kue kecil buat mengisi waktu luang... Aku pikir kamu cuma wanita pendiam yang penurut... wanita tanpa ambisi yang cuma menumpang hidup dari uangku..."
Gema memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata hangat perlahan menetes membasahi pipinya yang kaku.
"Kenapa kamu tidak pernah cerita, Alana? Kenapa kamu sembunyikan semua prestasi besar ini dari aku?" tanya Gema pada keheningan ruangan.
Namun seketika itu juga, logika dan nuraninya menyanggah pertanyaan bodoh itu dengan tamparan yang luar biasa kejam.
"Bukan Alana yang menyembunyikannya, Gema! Kamu yang tidak pernah mau tahu! Kamu yang tidak pernah bertanya bagaimana harinya! Kamu yang selalu menganggap pekerjaan dan urusan Alana adalah hal yang sepele dan tidak penting!"
Rasa bersalah itu kian menghantam jiwanya saat bayangan percakapannya dengan mama mertuanya semalam kembali berputar liar di kepalanya. Suara mertuanya yang meremehkan pendarahan lambung Alana, suara yang menuduh Alana selalu caper dan iri pada Kirana, kini bergema bersahut-sahutan di dalam pikirannya.
"Ibu kamu sendiri bilang kalau kamu tidak pernah dianggap di rumahmu sendiri..." rintih Gema seraya memegang dadanya yang terasa makin sesak dan terbakar. "Kamu tidak pernah dapat kasih sayang dari orang tuamu... Kamu selalu disisihkan demi Kirana... Kamu selalu dijadikan anak nomor dua yang harus mengalah... Dan saat kamu menikah denganku, berharap mendapat perlindungan... aku malah menyiksamu dengan rasa dingin dan keabaian yang sama..."
Gema mengepalkan kedua tangannya, memukul dada kirinya sendiri yang terasa luar biasa ngilu.
"Kamu rela mengorbankan masa mudamu... Kamu rela membesarkan Tania, anak dari wanita yang selama hidupnya jadi sosok pembanding yang menghancurkan hatimu... Kamu pasang dada menahan lapar akan kasih sayang... Kamu telan sendiri sakit pendarahan lambungmu sampai pingsan... Dan apa yang aku berikan sebagai suamimu? Aku malah membawa makanan laut yang bisa membunuhmu, cuma karena pikiran bodohku masih tertambat pada Kirana!"
Gema melangkah dengan tubuh limbung mendekati meja kerja kayu milik Alana yang tertata sangat bersih dan rapi. Di atas meja tersebut, berdiri beberapa bingkai foto dalam berbagai ukuran.
Pria itu mengulurkan tangannya yang bergetar untuk meraih salah satu bingkai foto kayu berwarna putih. Di dalam foto itu, terlihat Alana sedang tertawa lepas sebuah tawa jujur yang tak pernah Gema lihat di rumahnya sambil memangku Tania yang masih berusia tiga tahun di sebuah taman bunga. Di foto lainnya, ada gambar Tania yang memakai toga kelulusan TK-nya sambil mencium pipi Alana dengan penuh rasa sayang.
Hanya ada Alana dan Tania.
Di seluruh sudut ruang kerja itu, di antara puluhan foto yang mengabadikan momen-momen bahagia perjalanan hidup Alana dan Tania, tidak ada satu pun foto keberadaan Gema. Pria itu sama sekali tidak memiliki tempat di dalam kenangan yang disimpan oleh istrinya.
"Tidak ada aku..." bisik Gema seraya menatap foto-foto itu dengan dada yang terasa dihantam beban berbobot ton. "Di ruangan ini... di kesuksesanmu... di momen-momen berharga Tania... bahkan di dalam hidupmu... aku sama sekali tidak punya tempat, Alana. Kamu sudah menghapusku sejak lama..."
Gema tertawa hambar, sebuah tawa getir yang penuh dengan ratapan penyesalan atas kebodohannya sendiri yang tak bertepi.
"Lucu sekali kamu, Gema..." umpatnya pada diri sendiri dalam monolog yang makin emosional dan pecah. "Di atas meja kantor megahmu, kamu malah memajang foto Kirana yang sudah meninggal enam tahun lalu... Kamu bahkan bayar mahal editor foto profesional cuma buat bikin foto editan seolah-olah Kirana sempat membesarkan Tania sampai sekarang..."
Gema merosot meluruhkan tubuhnya ke lantai, berlutut di samping meja kerja Alana seraya mendekapkan bingkai foto Alana dan Tania rapat-rapat di dadanya.
"Sementara wanita nyata yang merawat anakmu... wanita yang menyiapkan bajumu tiap pagi... wanita berprestasi yang berjuang dari nol tanpa meminta satu rupiah pun uang nafkah pribadi darimu... tidak pernah kamu beri tempat di atas mejamu! Bahkan tidak pernah kamu beri tempat di dalam hatimu!"
Tangis Gema akhirnya pecah tanpa bisa dibendung lagi. Bahu bidang pengusaha sukses yang selalu tampak kokoh dan dingin itu kini bergetar hebat dalam kerapuhan total di sudut ruangan yang sunyi. Isak tangis penyesalan yang menyayat hati memenuhi ruang kerja Alana.
"Maafkan aku, Alana... Ya Tuhan, maafkan aku..." racau Gema berkali-kali di sela isak tangisnya yang pilu, menyembunyikan wajahnya di atas permukaan bingkai foto. "Aku yang buta... aku yang jahat... Aku menyembah bayangan masa lalu yang sudah mati, sampai aku tega menginjak-injak dan menghancurkan malaikat hidup yang ada di depanku..."
Gema menyadari betapa kejam dan mengerikannya dosa-dosa keabaian yang telah ia tanam selama bertahun-tahun. Alana tidak pernah menyembunyikan prestasinya secara licik; Alana hanya membangun dunianya sendiri dengan rapi, membentengi dirinya dari kedinginan Gema, dan menyiapkan fondasi agar ia tetap bisa berdiri tegak saat rumah tangga ini benar-benar hancur.
Gema mendongak perlahan, menatap pintu ruangan yang masih terbuka dengan mata yang merah, bengkak, dan basah oleh air mata. Ketakutan yang amat besar dan kelam kini menyergap jiwanya sebuah ketakutan bahwa benteng penolakan yang dibangun Alana sudah terlalu kokoh, hatinya telah mati seutuhnya, dan Gema telah terlambat untuk kembali mendapaikan maaf dari wanita yang baru saja ia sadari amat sangat berarti dalam hidupnya.
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....