Indonesia
NovelToon NovelToon
Tipuan Cinta

Tipuan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:493
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.

Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.

Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.

"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.

Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Janji Manis di Layar Kaca

Layar ponsel retak milik Intan terpancar terang di dalam kamarnya yang gelap.

Angka-angka di layar mobile banking menunjukkan saldo tabungannya: dua juta seratus ribu rupiah.

Itu adalah seluruh harta yang berhasil ia kumpulkan rupiah demi rupiah dari keringatnya sendiri.

Setiap lembar di dalam angka itu memiliki cerita tentang matanya yang mengantuk saat membantu ibu mengaduk adonan kue hingga larut malam.

Namun malam ini, jemari Intan yang gemetar bersiap memindahkan hampir seluruh nominal itu kepada seorang pria yang bahkan belum pernah ia temui secara tatap muka.

"Sudah dibuka aplikasinya, Sayang?"

Suara Rian kembali terdengar di telinga Intan melalui panggilan telepon yang masih terhubung.

 Nadanya terdengar sangat lembut, sarat akan kehangatan yang seolah mampu meluluhkan segala prasangka.

"S-sudah, Mas Rian."

Jawab Intan berbisik. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.

"Nomor rekening tujuan yang Mas kirim tadi... atas nama Rekening Bersama Supplier, kan?"

"Iya, betul sekali."

"Itu rekening penampungan material."

Sahut Rian tanpa ragu, suaranya terdengar begitu meyakinkan.

"Kamu tidak perlu cemas, Intan."

" Mas tidak mungkin mempertaruhkan harga diri dan hubungan kita demi uang dua juta."

"Besok jam sembilan pagi, begitu kliring bank selesai, Mas transfer balik empat juta sekalian buat hadiah kecil karena kamu sudah bantu Mas malam ini."

Janji manis itu terngiang merdu. Di mata Intan yang polos, kata-kata Rian bagaikan embun penyejuk.

Pria mana lagi yang mau memberikannya perhatian sebesar ini?

Pria mana yang berjanji akan datang menyunting gadis desa yang terlupakan dan pemalu sepertinya?

"Mas... Intan tidak butuh hadiahnya."

"Yang penting uang tabungan Intan bisa kembali besok, dan... Mas Rian benar-benar datang ke rumah."

Ucap Intan polos, mengutarakan isi hatinya yang paling jujur.

Terdengar tawa kecil yang terdengar amat hangat dari seberang telepon.

"Pasti, Intan."

"Begitu urusan proyek ini selesai besok, Mas langsung pesan tiket dan meluncur ke desamu."

"Mas ingin sungkem sama orang tuamu, minta izin untuk serius sama kamu."

"Sekarang, selesaikan dulu transaksinya ya, biar materialnya tidak dialihkan ke pembeli lain."

Rasa takut akan kehilangan kesempatan masa depannya mendesak Intan.

Tanpa berpikir panjang lagi, jemarinya menekan tombol 'Konfirmasi Transfer'. Ia memasukkan PIN enam digit miliknya.

Bip.

Layar ponselnya berganti menampilkan centang hijau besar dengan tulisan 'Transaksi Berhasil'.

Saldo di rekeningnya seketika merosot tajam, menyisakan angka seratus ribu rupiah saja.

Intan menarik napas panjang, meretakkan ketegangan di dadanya. Ada rasa lega yang aneh bercampur kecemasan yang samar.

Ia mengunggah bukti transfer itu dan mengirimkannya lewat pesan singkat kepada Rian.

"Sudah Intan transfer, Mas."

"Buktinya sudah Intan kirim."

Kata Intan dengan napas berembus lega.

"Bentar ya, Mas cek dulu," ujar Rian.

Hening sejenak. Hanya terdengar helaan napas Intan yang memburu di kamar yang sunyi. Tak lama kemudian, nada suara Rian berubah menjadi makin manja dan penuh sanjungan.

"Luar biasa... Uangnya sudah masuk!"

"Kamu benar-benar penyelamat Mas malam ini, Intan."

'Terima kasih banyak ya."

"Sekarang kamu tenang saja, istirahat dan tidur yang nyenyak."

Besok pagi jam sembilan, siap-siap cek rekeningmu lagi."

"Iya, Mas."

"Mas Rian juga jangan lupa istirahat."

Balas Intan, senyuman tipis mengembang di bibirnya.

"Pasti."

Oh ya, Intan... boleh Mas minta satu hal sebelum kamu tidur?"

Tanya Rian tiba-tiba.

"Minta apa, Mas?"

"Buka kamera ponselmu sebentar."

"Kita video call semenit saja."

"Mas ingin melihat wajah calon istri Mas sebelum tidur, biar mimpi indah."

Bisik Rian dengan nada menggoda yang sangat halus.

Pipi Intan langsung terasa panas membara. Ia memegang kedua pipinya yang merona merah dalam kegelapan.

Sejujurnya, Intan merasa sangat malu dan tidak percaya diri.

Penampilannya malam ini sangat acak-acakan—mengenakan piyama kaos longgar, rambut diikat asal-asalan, dan tanpa riasan sama sekali.

Wajahnya yang mungil tanpa polesan pasti terlihat seperti anak sekolah.

"T-tapi Intan tidak berdandan, Mas... Intan kelihatan jelek kalau malam-malam begini."

Tolak Intan halus, dibalut rasa canggung khas gadis introvert.

"Di mata Mas, kamu selalu cantik, Intan."

"Sederhana dan apa adanya, justru itu yang bikin Mas jatuh cinta."

"Ayo dong, sebentar saja..."

Bujuk Rian tiada henti, meniupkan janji-janji manis yang terus merobohkan tembok pertahanan Intan.

Terbuai oleh kalimat 'jatuh cinta' yang baru pertama kali ia dengar seumur hidupnya, Intan akhirnya mengalah.

 "Iya deh... Tapi sebentar saja ya, Mas."

Panggilan suara ditutup, dan detik berikutnya, undangan video call dari Rian masuk di layar kaca ponselnya.

Intan dengan buru-buru mengenakan hijab instan nya dan dengan tangan yang gemetaran, Intan menekan tombol hijau.

Layar ponsel berubah menayangkan wajahnya sendiri di sudut bawah, sementara bagian utama layar menampilkan sesosok pria.

Di sana, di balik layar kaca yang retak, tampak seorang pria tampan berambut rapi, mengenakan kemeja putih yang sedikit terbuka di bagian kancing atas.

Pria itu tersenyum sangat manis ke arah kamera, melambaikan tangan dengan penuh pesona.

"Tuh kan, kamu cantik banget, Tan."

"Sangat polos dan manis."

Puji pria di layar itu.

Intan menundukkan wajahnya, tak sanggup menatap langsung ke dalam kamera.

Jantungnya berdebar liar, dipenuhi oleh kebahagiaan semu yang meletup-letup.

Pria serapi dan setampan ini benar-benar memperhatikannya!

Pria ini benar-benar menginginkannya untuk jadi pendamping hidup!

"Mas... Intan malu."

Cicit Intan pelan, mencoba menutupi sebagian wajahnya dengan ujung kerudunnya.

Pria di dalam layar kaca itu terkekeh pelan.

"Ya sudah, kalau malu Mas tidak akan paksa."

"Yang penting Mas sudah lihat wajah manismu malam ini."

Tidurlah, Intan. Besok adalah awal dari kebahagiaan kita. Good night, calon masa depanku."

"Selamat malam juga, Mas Rian..."

Panggilan video itu pun terputus.

Intan memeluk ponselnya di dada. Ia berbaring di atas kasur tipisnya dengan senyuman yang tak bisa luntur dari bibirnya.

Bayangan wajah Rian di layar kaca tadi terus berputar-putar di dalam ingatannya.

Janji manis tentang masa depan, lamaran di hadapan orang tua, dan kehidupan baru di kota terus menghiasi imajinasinya.

Malam itu, Intan tertidur dengan lelap, dibalut oleh mimpi-mimpi indah yang dirajut dari kebohongan.

Ia sama sekali tidak menyadari satu hal penting: pria di dalam video call tadi menggunakan pencahayaan yang sangat remang dan sudut kamera yang ganjil.

Ia juga tak tahu bahwa teknologi kini mampu memanipulasi video, atau bahkan Rian yang ia lihat di layar hanyalah topeng curian milik orang lain.

Gadis lugu itu terlelap dalam buaian janji manis di layar kaca, tanpa menyadari bahwa esok pagi, matahari tidak akan membawa kebahagiaan—melainkan badai kehancuran yang siap meremukkan hatinya tanpa ampun.

Jangan lupa like, komen dan subscribe 😊

1
Nanik Arifin
lanjut.....
Nanik Arifin
lanjut Thor....
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
Nanik Arifin
yakin aj Tan , kamu pasti bisa !
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya
Nanik Arifin
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!