Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN DI LUAR KESUNYIAN
Dunia tempatku tinggal selalu mengajarkanku satu hal: memperhatikan detail-detail kecil yang kerap diabaikan orang lain.
Karena aku tidak bisa mendengar, mataku belajar bekerja dua kali lebih keras. Aku belajar membaca raut wajah orang, gestur tubuh yang tak disengaja, hingga perubahan ritme napas seseorang. Namun, di balik semua kejelian yang kubanggakan itu, aku sering kali buta terhadap hal yang paling nyata di depan mataku sendiri.
Pagi itu, udara musim gugur mulai terasa menggigit kulit. Angin dingin berembus melewati lorong-lorong batu di Fakultas Hukum. Aku berdiri di balik pilar gedung, mendekap erat buku catatan tebal di dada. Kelasku baru saja usai sepuluh menit yang lalu, dan aku sengaja berjalan ke gedung fakultas Kaito untuk menunggunya selesai kuliah.
Dari kejauhan, aku melihat sosoknya keluar dari pintu kaca utama. Kaito mengenakan mantel cokelat tua dengan syal rajut berwarna abu-abu syal yang kubuatkan untuknya sebagai hadiah ulang tahun dua tahun lalu. Ia berjalan sendirian seraya menunduk, sesekali membenarkan posisi kacamata tipisnya yang meluncur turun.
Aku tersenyum lebar. Rasa hangat langsung menyelimuti dadaku saat melihat keberadaannya. Tanpa ragu, aku berlari kecil menghampirinya, lalu mengetuk bahunya pelan.
Kaito terperanjat sedikit. Ia menoleh, dan seketika itu juga raut wajahnya yang tadinya tampak lelah berangsur-angsur melunak. Sebuah garis senyum tipis terukir di bibirnya.
Ia segera mengangkat kedua tangannya ke udara, membentuk rangkaian bahasa isyarat yang begitu halus dan familiar bagiku. [Hana? Kenapa berdiri di sini? Udara di luar sangat dingin, kamu bisa masuk angin.]
Aku menggeleng pelan seraya terkekeh tanpa suara, lalu membalas isyaratnya dengan lincah. [Aku sengaja menunggumu. Kelasku sudah selesai. Hari ini ada kedai ramen baru di dekat stasiun, mau pergi bersama?]
Kaito menatap jemariku yang bergerak, lalu beralih menatap mataku. Untuk sesaat, ada jeda samar yang tak biasanya hadir di antara kami. Kaito tidak langsung menjawab. Jemarinya tertahan, mengambang ragu di udara sebelum akhirnya bergerak kembali.
[Maafkan aku, Hana,] isyarat Kaito terasa lebih perlahan dari biasanya. [Hari ini aku ada tugas kelompok dengan teman-teman fakultasku. Kami harus menyelesaikan analisis kasus di perpustakaan sampai sore.]
Rasa kecewa kecil berdesir di dadaku, namun aku dengan cepat mengusirnya. [Ah, begitu ya? Tidak apa-apa! Pekerjaan kuliahmu jauh lebih penting. Kita bisa pergi lain kali.]
Kaito mengangguk pelan. [Iya, lain kali kita pasti pergi. Pulanglah lebih awal, jangan menyusuri gang sepi sendirian.]
Ia mengusap puncak kepalaku dengan lembut sebuah kebiasaan manis yang selalu ia lakukan sejak kami masih anak-anak. Namun entah mengapa, sentuhan tangannya kali ini terasa sedikit ragu, seolah ada jarak tak kasatmata yang berusaha ia pancarkan. Aku membalas senyumannya, melambaikan tangan, lalu berbalik jalan meninggalkan gedung hukum.
Aku tidak pernah tahu bahwa hari itu, Kaito sebenarnya tidak memiliki tugas kelompok. Aku tidak tahu bahwa ia hanya ingin memberiku ruang, setelah semalam ia melihat unggahan foto di akun media sosialku sebuah foto cangkir kopi dengan bayangan seorang pria berjaket denim di seberang mejaku.
Foto bersama Haruto.
Siang berganti menjadi sore yang temaram. Langit di atas kota berubah warna menjadi jingga keemasan yang syahdu. Langkah kakiku membawaku ke studio seni rupa di ujung kampus tempat yang dalam satu minggu terakhir ini menjadi tempat favorit baruku.
Suasana studio itu sangat berbeda dari duniaku yang sunyi dan teratur. Di sini, bau cat minyak, tumpukan kanvas, dan goresan warna-warni yang berantakan menciptakan atmosfer yang begitu liar dan bebas. Dan di tengah-tengah kekacauan indah itu, ada Haruto.
Haruto sedang berdiri di depan kanvas besar, memegang kuas panjang dengan noda cat hitam di pipi kirinya. Begitu melihatku berdiri di ambang pintu, ia langsung meletakkan kuasnya. Wajahnya berbinar ramah, dan ia melambaikan tangannya tinggi-tinggi.
Ia meraih papan ujian kecil yang selalu ia siapkan khusus saat bersamaku, lalu menyodorkan kertas bertuliskan spidol hitam:
‘Kamu datang! Aku pikir kamu lupa janji kita sore ini.’
Aku menyunggingkan senyuman, lalu mengambil spidol di tangannya dan membalas di kertas yang sama: ‘Mana mungkin aku lupa. Kamu bilang ingin memperlihatkan lukisan terbarumu.’
Haruto tertawa terkekeh. Ia menarik lenganku pelan, membawaku mendekati kanvas besarnya. Di sana, terlukis lanskap pemandangan kota di bawah langit senja. Warna-warnanya sangat berani campuran merah cabai, ungu tua, dan pendar emas yang menyilaukan.
Haruto mengetik sebuah pesan di layar ponselnya dengan cepat lalu menyerahkannya padaku: ‘Ini gambaran perasaanku setiap kali melihat dunia. Bising, penuh warna, dan tidak pernah diam. Bagaimana menurutmu, Hana?’
Aku menatap lukisan itu lama. Rasanya begitu asing, namun di saat yang sama... sangat memikat. Selama ini, duniaku bersama Kaito adalah dunia yang tenang, teratur, dan penuh dengan kesabaran. Kaito selalu mengajariku untuk berjalan pelan-pelan, melindungiku dari kebisingan dunia luar yang kejam.
Namun bersama Haruto, aku merasa seolah-olah ditarik paksa keluar dari zona nyamanku untuk melihat betapa luas dan indahnya dunia luar. Haruto tidak pernah memperlakukanku seperti seorang gadis rentan yang harus selalu dilindungi. Ia memperlakukanku seperti gadis normal yang menarik untuk diajak berpetualang.
Aku mengangguk-angguk kagum, mengetik balasan di ponselku: ‘Ini luar biasa indah, Haruto. Aku tidak pernah melihat kombinasi warna seberani ini.’
Haruto menatapku intens. Matanya yang tajam menatap langsung ke dalam mataku—sebuah tatapan yang membuat jantungku mendadak berdegup kencang secara tidak teratur.
Ia mengambil kembali ponselnya, jari-jarinya menari cepat di atas layar: ‘Hana, sabtu besok ada pameran seni malam di pusat kota. Mau pergi bersamaku? Setelah itu, aku ingin mengajakmu makan malam di restoran atap gedung.’
Sebuah ajakan kencan.
Dada rasanya berdesir hebat. Ini adalah sesuatu yang belum pernah kualami sebelumnya. Namun di tengah rasa gembira yang membuncah itu, sebuah bayangan mendadak terlintas di benakku: Kaito.
Sabtu malam biasanya adalah jadwal rutin kami. Setiap sabtu malam, Kaito akan datang ke rumahku membawa bahan-bahan makanan segar, lalu kami akan memasak nabe bersama seraya menonton film berbahasa isyarat di ruang tamu. Itu adalah tradisi kecil kami yang tak pernah terputus selama berbulan-bulan.
Jemariku mendadak ragu di atas layar ponsel. Rasanya ada rasa bersalah yang menyelusup pelan. Namun, suara bisikan di dalam hatiku mulai mencari pembenaran: Kaito kan sahabatku sejak kecil. Dia pasti mengerti kalau sekali ini saja aku ingin pergi bersama teman baruku. Kaito selalu ada, dia tidak akan marah.
Dengan keyakinan yang salah itu, aku mengetikkan balasan singkat untuk Haruto: ‘Tentu! Aku mau pergi bersamamu sabtu besok.’
Haruto tersenyum sangat lebar. Ia spontan mengusap bahuku pelan dengan perasaan gembira. Dan pada detik itu, aku merasa duniaku sedang mekar dengan warna-warna baru yang indah.
Malam harinya, hujan gerimis mulai membasahi jalanan kota. Aku duduk di dalam kamar, mengamati bulir-bulir air yang menempel di kaca jendela. Telepon genggam di atas mejaku bergetar pelan.
Sebuah pesan masuk dari Kaito.
‘Hana, sabtu besok aku sudah membeli tiket pameran buku dan bahan makanan untuk nabe kesukaanmu. Aku akan datang jam enam sore seperti biasa ya.’
Melihat pesan itu, dadaku mendadak terasa agak berat. Aku menarik napas panjang, lalu jemarinya mengetikkan balasan dengan cepat tanpa berpikir panjang:
‘Kaito, maaf sekali... sabtu besok aku tidak bisa. Aku sudah ada janji pergi dengan Haruto ke pameran seni di pusat kota. Kita tunda nabe-nya minggu depan saja ya?’
Aku menekan tombol kirim, lalu menaruh ponselku di atas kasur. Aku menunggu balasan darinya. Satu menit... tiga menit... lima menit berlalu. Layar ponselku tetap gelap. Kaito tidak membalas pesan itu dengan cepat seperti biasanya.
Baru sekitar lima belas menit kemudian, indikator pesan menyala kembali.
‘Begitu ya. Ya sudah, tidak apa-apa, Hana. Bersenang-senanglah dengan Haruto. Hati-hati di jalan, musim hujan sudah mulai.’
Pesan itu begitu singkat, begitu formal, dan sangat datar. Tidak ada stiker lucu atau ucapan perhatian panjang yang biasa ia sisipkan di akhir pesan. Namun di dalam kebodohanku saat itu, aku hanya menghela napas lega karena berpikir Kaito tidak keberatan sama sekali.
Aku tidak tahu bahwa malam itu, di sebuah kamar sempit yang remang, Kaito sedang duduk membisu di tepi ranjangnya. Di tangannya, ada dua lembar tiket pameran buku langka yang sudah susah payah ia perjuangkan demi mendapatkannya untukku—tiket yang kini hanya menjadi lembaran kertas tak berguna.
Aku tidak tahu bahwa malam itu, untuk pertama kalinya sejak kami kecil, Kaito mematikan lampu kamarnya dan menangis dalam kesunyian yang mencekat, menyadari bahwa posisinya di hatiku perlahan-lahan telah tergantikan oleh sosok lain yang baru saja hadir sekejap mata.
Dan jarak di antara kami... resmi membentang makin lebar.