Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:602.2k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.

Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 - Racun kecurigaan

Di kamar yang remang-remang, Bram duduk merosot di atas sofa. Piyama sutranya sudah kusut, sewarna dengan wajahnya yang kuyu dan dipenuhi guratan frustrasi.

Di atas meja di hadapannya, berserakan belasan lembar koran bisnis nasional dan ponsel yang layarnya masih menyala, menampilkan halaman utama yang sama: potret pernikahan megah Larissa dan Bayu.

Bram menatap layar ponsel itu dengan sepasang mata yang memerah akibat kurang tidur. Tangannya yang memegang gelas wiski bergetar halus hingga cairan di dalamnya berguncang.

"Bagaimana bisa... Bagaimana bisa wanita sialan itu berdiri di sana?" desis Bram dengan suara serak yang sarat akan racun kecemburuan.

Melihat Larissa dibalut gaun pengantin sutra Prancis, memakai tiara berlian, dan ditatap dengan begitu penuh perlindungan oleh seorang miliarder sekelas Bayu, membuat dada Bram terasa seperti dihantam gada besi.

Ada rasa tidak terima yang membakar batinnya. Selama lima tahun pernikahan mereka, Bram selalu memperlakukan Larissa sebagai pajangan yang tidak berharga. Dia sengaja menyembunyikan Larissa karena menganggap wanita itu tidak membawa hoki dan memalukan untuk dibawa ke lingkaran bisnis.

Namun kini wanita yang dia buang itu justru bertransformasi menjadi sosok permaisuri yang paling diagungkan di seluruh negeri.

Rasa cemburu yang tersembunyi berpadu dengan runtuhnya harga diri membuat Bram kian kehilangan kendali atas emosinya.

Ditambah lagi sejak pagi tadi ponselnya tidak berhenti menerima pesan bernada sindiran dari rekan-rekan bisnisnya yang menanyakan mengapa dia cukup bodoh untuk menceraikan wanita yang kini memegang takhta tertinggi di Megah Corp.

Suara pintu kamar mandi yang terbuka dengan sentakan kasar seketika memecah keheningan. Vera melangkah keluar dengan mengenakan jubah mandi handuk berwarna krem, wajah cantiknya tampak kaku dan pucat tanpa polesan kosmetik.

"Mas Bram, bisa tidak kamu berhenti meneguk minuman itu? Bisnis kita sedang di ujung tanduk, tapi kamu malah terus-terusan menatap foto si mandul itu!" ketus Vera, mencoba menyembunyikan kepanikan batinnya sendiri dengan nada suara yang meninggi.

Bram menoleh dengan lambat, sepasang matanya menatap Vera dengan murka. Sentilan dari Vera mendarat tepat di atas lukanya yang sedang menganga lebar. Pria itu berdiri dari sofanya, menghentakkan gelas wiskinya ke atas meja hingga menimbulkan bunyi dentangan yang keras.

"Tutup mulutmu, Vera!" bentak Bram melangkah lebar mengikis jarak di antara mereka.

"Kamu tidak punya hak untuk menceramahi aku! Lihat dirimu sekarang! Apa yang sudah kamu lakukan untuk rumah tangga ini sejak kita menikah? Tidak ada!"

Vera tersentak mundur, matanya membelalak. "Mas, apa maksudmu? Aku ini istrimu!"

"Istri yang tidak becus!" balas Bram tanpa ampun, egonya yang terluka membuatnya tega melampiaskan seluruh frustrasinya pada wanita di hadapannya.

Bram menunjuk ponsel di atas meja dengan jarinya yang gemetar karena berang. "Lihat berita itu! Larissa digambarkan sebagai ibu sambung yang sempurna untuk putra Bayu! Dia cerdas, dia anggun, dan dia dihormati oleh seluruh keluarga besar Wicaksono!

Sementara kamu? Sebulan ini kamu cuma bisa mengeluh pusing, pura-pura pingsan di rumah sakit, dan gagal hamil! Kamu bahkan tidak bisa memberikan satu pun ahli waris untuk keluarga Baskoro!"

"Mas Bram, jaga ucapanmu!" teriak Vera, air matanya pecah karena merasa terpojok oleh kalimat keji suaminya.

"Kamu lupa bagaimana aku membantumu mengurus analisis operasional kantor? Kamu menyalahkan aku karena belum hamil, padahal kita baru menikah beberapa bulan!"

"Aku tidak peduli!" raung Bram, menyentak kasar tangan Vera yang mencoba memegang lengannya.

"Kenyataannya, sejak aku menikahimu, bisnis Konstruksi Baskoro hancur lebur! Investor kabur, dan reputasiku di luar sana jadi bahan tertawaan orang karena desas-desus pengusiran Larissa! Kamu tidak lebih dari sekadar wanita pembawa sial di rumah ini!"

Setelah memuntahkan makian kasarnya, Bram berbalik dengan sentakan emosi, melangkah lebar keluar dari kamardan membanting pintu dengan keras, meninggalkan Vera yang ambruk menangis sesenggukan di atas lantai marmer yang dingin.

Sementara itu, di dalam kamar tidur di kediaman utama Baskoro, Ibu Maya sedang berdiri di dekat jendela yang tirainya tertutup rapat.

Sejak sore tadi, ponselnya sengaja dia matikan karena tidak sanggup menerima ratusan pesan dari teman-teman sosialita yang berbisik-bisik, mengejeknya sebagai mertua bodoh yang telah mendepak seorang "mantan menantu yang membawa keberuntungan raksasa".

Wajah Ibu Maya tampak begitu kaku, dipenuhi oleh kabut kecurigaan dan stres yang memuncak hingga ke ubun-ubun.

Sikap menghindar Vera yang terlalu berpola selama satu bulan ini, mulai dari pusing, pingsan di kamar mandi, hingga pingsan secara dramatis di koridor rumah sakit tepat di depan pintu ruang periksa bukan lagi sebuah kebetulan di matanya.

Ibu Maya tahu ada sesuatu yang sangat busuk yang sedang disembunyikan oleh menantu barunya.

Tok, tok.

Suara ketukan pelan di pintu seketika mengalihkan perhatian Ibu Maya. Beliau melangkah cepat, membuka pintu tersebut sedikit, dan mendapati sosok seorang pria paruh baya mengenakan jaket kulit hitam dengan topi pet yang diturunkan rendah hingga membingkai separuh wajahnya.

Pria itu adalah seorang detektif swasta senior yang biasa menangani kasus-kasus rahasia kalangan elite.

Tanpa sepengetahuan Bram maupun Vera, Ibu Maya telah mengambil tindakan paling ekstrem pagi ini.

"Bagaimana hasilnya, Pak Hermawan?" bisik Ibu Maya dengan nada suara yang sangat rendah namun sarat akan ketegasan yang dingin.

Pria bernama Hermawan itu menundukkan kepalanya sedikit dengan hormat, lalu merogoh bagian dalam jaketnya untuk mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal yang disegel rapat.

"Saya sudah melacak seluruh jejak rekam aktivitas Nyonya Vera sebelum pernikahan mereka, Nyonya Maya," ujar detektif itu setengah berbisik.

"Termasuk daftar panggilan telepon yang mencurigakan dan riwayat kunjungannya ke beberapa laboratorium. Semua data awalnya sudah saya susun di dalam sini. Namun, ada satu nama oknum tenaga medis yang terus-menerus muncul di dalam log komunikasi pribadi Nyonya Vera saat kasus perceraian Tuan Bram dan Nona Larissa dulu terjadi."

Ibu Maya menerima amplop cokelat itu dengan jemarinya yang mengenakan cincin giok besar. Sepasang matanya menyipit tajam bagai belati. "Siapa nama oknum itu?"

"Seorang dokter penanggung jawab laboratorium bernama dr. Hendra. Berdasarkan data perbankan yang saya retas secara privat, ada aliran dana tidak wajar dari rekening pribadi Nyonya Vera ke rekening dokter tersebut sebelum hasil tes Nyonya Larissa keluar," jawab detektif itu.

Mendengar informasi awal tersebut, jantung Ibu Maya berdegup dengan ritme yang sangat cepat. Spekulasi liar dan firasat buruknya selama ini perlahan mulai menemukan titik terang yang mengerikan.

"Terus selidiki pria bernama Hendra ini. Cari tahu di mana keberadaannya sekarang dan cari dokumen asli dari lab itu. Berapa pun biayanya akan aku bayar. Kebenaran ini harus bongkar sebelum keluarga Baskoro hancur total."

"Baik, Nyonya. Saya akan segera bergerak kembali," sahut detektif itu sebelum memutar tubuhnya dan pergi dengan cepat.

Ibu Maya mencengkeram amplop cokelat itu dengan sangat kuat hingga kertasnya berderit kaku. Racun kecurigaan kini berubah menjadi sebuah misi pembongkaran kedok yang siap meledakkan seluruh dinding kebohongan yang dibangun oleh Vera dari dalam rumah mereka sendiri.

Pukul sebelas malam lewat tiga puluh menit.

Suasana di dalam kamar tidur telah kembali sunyi setelah badai pertengkaran hebat tadi. Vera sedang berada di dalam kamar mandi, menyalakan pancuran air shower untuk membasuh tubuhnya yang lelah akibat menangis.

Suara gemercik air yang menghantam lantai keramik, mendominasi keheningan ruangan.

Bram melangkah masuk ke dalam kamar dengan sisa-sisa aroma alkohol yang menguar dari tubuhnya.

Dia tidak pergi jauh, hanya menenangkan diri di bar lantai bawah sebelum kembali ke kamar dengan emosi yang masih membara di balik dadanya.

Pria itu melempar ponselnya ke atas kasur, lalu melangkah mendekati meja rias milik Vera untuk mengambil sebotol air mineral.

Tepat saat langkah kakinya berhenti di depan meja rias, layar ponsel milik Vera yang diletakkan di samping kotak kosmetik mendadak menyala terang, bergetar hebat di atas permukaan kaca.

Bzzz... Bzzz...

Bram mengernyitkan alisnya samar. Di bawah cahaya layar yang kontras di dalam kamar yang temaram, sepasang mata elang Bram yang setengah mabuk menangkap sebuah nama kontak yang masuk, memanggil lewat aplikasi panggilan suara internet privat.

Sebuah nama nama kontak tertulis dengan jelas di sana: "Dokter Lab (Hendra Emergency)"

Bram terpaku diam di tempatnya berdiri. Keningnya berkerut sangat dalam, menciptakan lipatan tegang di antara kedua alisnya. Rasa heran yang teramat sangat seketika merayap naik, mengikis sisa-sisa pengaruh alkohol di dalam otaknya.

Dokter lab? Hendra? Emergency?

Pikiran Bram mulai berputar dengan cepat. Mengapa istrinya, masih menyimpan dan memiliki hubungan komunikasi yang sedemikian intens dengan seorang dokter laboratorium?

Suara gemercik air shower dari dalam kamar mandi masih terus terdengar, menandakan Vera masih belum akan keluar dalam waktu dekat.

Sementara itu, ponsel di atas meja rias terus bergetar tanpa henti, memancarkan cahaya yang seolah menantang Bram untuk segera menjulurkan tangannya dan menekan tombol hijau.

Benih kecurigaan yang ditanamkan oleh ibunya seketika mendadak tumbuh raksasa di dalam kepala Bram, mengunci fokus pandangannya pada ponsel tersebut dengan rasa penasaran, siap membuka pintu gerbang kehancuran bagi seluruh sandiwara besar yang selama ini Vera sembunyikan rapat-rapat.

Bersambung

1
Herlina Niputu
kayaknya Larissa terlalu kejam,masak sampai tanah kuburan diambil
Ninik Rochaini
males bc lht org oon n goblok
Ninik Rochaini
sek goblok ae
Ninik Rochaini
msh jg goblok
Deni marvianawati
kapan unboxingnya kok tiba² udah hamidun 😄 padahal yg di tunggu part unboxingnya
༻♛A̷͙ͭͫ̕ḑ̴̞͛̒ỉ͔͖̜͌r̴̨̦͕̝a̤♛༺
🙂
say't
wow mau dong 1 kyk bayu #halu 🤭
say't
🤣 karma burukmu sdh berjalan vera si bram pst lg cari cwek buat bersenang2 tanpa ikatan 🤪 mabok n making lope itu yg akan dilakukan si bram 🤣
say't
bram istri keduamu akan mmbuatmu jatuh sejatuhx bhkn gelandangan lbh terhormat dari dirimu bram
say't
tenang hbs gelap trbitlah terang pisah dari batu kali(sungai) hbs ni dpt batu berlian permata jamrud dsb kau lar
say't
kutunggu karmamu bram n famiily pst nanti kecewa bhwa anak yg dikandung vera bkn anakmu cz hasil "tabungan bersama" ibumu mati krn serangan jantung n loe bram dipenjara n mati bunuh ke diri 🤪 sebel aq 😤
siska nirmala
kok bodoh banget sie karakter larissa disini
pipin rezky1010
harrys nya Bayu dan Larisa kena karma dulu atas kekejaman nya baru di tamatin
pipin rezky1010
dari ratusan novel yg pernah sy baca,baru ini Nemu novel yg begitu kejam dan tidak. berbelas kasih PD sesama manusia apa yg. di lakukan Bayu dan Larisa itu lebih kejam dari figur2. mafia yg pernah sy baca/tonton,tidak ada kata ampun,terlalu sombong
pipin rezky1010
terlalu kejam...katanya Larisa ga marah,ga dendam,tapi smpy segitu kejam nya,smpy benar2 menghancur leburkan jiwa dan raga bram dan ibu nya
𝐃ITA💋𝐀𝐍𝐍𝐈𝐕⑤🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
oh mungkin kepleset ya namanya😎
𝐃ITA💋𝐀𝐍𝐍𝐈𝐕⑤🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
lana siapa ya.. perasaan namanya Larissa deh😎
Wirda Wati
Rasain
Emi Widyawati
bagus ceritanya.... kejam? kurasa enggak yaa, pembalasan yang sepadan dengan kejahatan nya. 👍👍
MiMi Chan
nice story teach for all woman not giving up even in hard time👍😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!