Indonesia
NovelToon NovelToon
Cintaku Kalah Sama Dupa

Cintaku Kalah Sama Dupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Misteri
Popularitas:13.9k
Nilai: 5
Nama Author: Attalla Faza

Raya lemes ketika pacar yang sudah menemaninya saat miskin maupun sugih, saat waras maupun lagi nggak eling, saat susah maupun senang, kini hilang tidak ada kabar. Padahal Jaka sempat ajak Raya ke bazar kuliner sebelum menghilang.

Raya dan Jaka adalah pasangan seiya sekata senada dan seirama sejak 3 tahun lalu. Dulu Raya ketemu sama Jack saat lagi razia dagangan yang digelar depan panti jompo.

Raya suka ikut membantu bibinya jualan kembang kuburan dan aksesoris pemakaman, komisinya lumayan buat beli seblak bojrot. Apesnya hari ini sedang ada operasi gabungan sapu bersih dari tim Satpol PP.

" Ya Allah Pak, itu air mawar dan kendi-kendinya jangan dihancurin ya. Saya nggak punya modal lagi buat jualan kembang " mohon Bi Nur

Tiba-tiba ditengah kekacauan itu, muncullah pangeran tampan yang bikin hati Raya geter-geter kayak kena gempa. Lelaki yang baru turun dari truck Satpol PP itu adalah Jaka, ternyata dia adalah anak dari Komandan Pasukan yang bernama Pak Zaki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara di Tengah Malam

Keesokan harinya, Raya dan Dasha kembali menyambangi Sukabungah, kali ini dengan tujuan yang lebih jelas: dealer mobil tempat Jack bekerja selama ini. Setelah kejadian aneh dengan Mbah Wongso kemarin, keduanya sepakat untuk tidak lagi mengintai dari kejauhan seperti detektif amatiran. Mereka harus berani bertanya langsung.

"Sha, lo yakin kita bisa masuk gitu aja? Nanti kalau malah di tawarin beli mobil gimana?" tanya Raya sambil merapikan kerudungnya di depan kaca spion motor yang mereka parkir tak jauh dari pintu masuk dealer.

"Yaudah kita coba aja, Ray. Kalau ditanya sama security, bilang aja kita keluarga pegawai sini. " jawab Dasha mantap.

Mereka melangkah masuk ke ruang pameran yang sejuk berpendingin udara, deretan mobil baru mengilap tersusun rapi dengan tag harga tergantung di kaca depan masing-masing. Beberapa staf berseragam rapi tampak sibuk melayani calon pembeli yang sedang mengelilingi unit-unit terbaru.

Raya mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang familiar. Tak lama, matanya menangkap seorang pria paruh baya berkumis tipis, mengenakan seragam biru dongker dengan name tag bertuliskan "Hadi - Sales Supervisor" di dada kirinya.

"Itu Kang Hadi, Sha," bisik Raya, menarik lengan Dasha pelan.

" Yaudah buruan kita uber! "

Mereka menghampiri pria itu yang sedang berdiri di dekat meja resepsionis, sesekali mengecek berkas di tangannya.

"Kang Hadi..." panggil Raya pelan.

Kang Hadi menoleh, matanya sedikit terbelalak kaget begitu mengenali sosok yang memanggilnya. Ada sesuatu yang berubah dari raut wajahnya, sebuah kegugupan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya meski ia sudah berusaha memasang senyum ramah.

" Raya... tumben kesini. Ada perlu apa, Neng?" tanya Kang Hadi, suaranya terdengar sedikit terburu-buru, matanya sesekali melirik ke arah lain seolah mencari alasan untuk mengalihkan pembicaraan.

"Kang, saya mau tanya soal Jaka," ucap Raya to the point "Sudah hampir 3 bulan dia nggak ada kabar. Kang Hadi kan yang bilang katanya Jack lagi pelatihan disini, tapi saya udah cari kemana-mana, nggak ada tanda-tanda dia ada di Dealer Sukabungah. Masa pelatihannya lama banget udah kayak mau masuk TNI"

Kang Hadi terdiam sejenak, tangannya yang memegang berkas tiba-tiba terlihat sedikit gemetar. Ia menghela napas, mencoba menata kata-kata dengan hati-hati.

"Iya Neng, si Jaka emang lagi pelatihan. Tapi... ya gitu, jadwalnya padat jadi susah dihubungin," jawab Kang Hadi, matanya tak sepenuhnya menatap Raya, lebih sering teralih ke arah lain.

"Padat kayak gimana, Kang? Masa sampai 3 bulan nggak bisa kirim pesan sama sekali?Akang sendiri kan yang biasa komunikasi sama dia soal kerjaan, masa nggak tau perkembangannya?" desak Raya, suaranya mulai bergetar menahan emosi yang begitu besar.

Kang Hadi tampak semakin canggung, ia melirik sekilas ke arah rekan kerjanya yang lalu lalang di sekitar mereka, seolah khawatir percakapan itu akan didengar orang lain.

"Neng... saya juga sebenarnya nggak terlalu paham detailnya. Saya cuma dikasih tau atasan kalau Jaka dipindah tugas sementara. Soal kenapa dia susah dihubungin, saya juga kurang tau pasti," jawab Kang Hadi, nada suaranya terdengar begitu berhati-hati, seperti sedang menjaga sesuatu yang tidak boleh terlalu banyak terungkap.

Dasha yang sejak tadi memperhatikan gelagat Kang Hadi, akhirnya ikut bersuara.

"Kang, kalau boleh tau, Jaka dipindah tugas kemana ya? Biar kita datangi kesana."

Kang Hadi terdiam cukup lama, matanya menerawang seolah sedang menimbang-nimbang apakah harus menjawab jujur atau tidak. Ada kilat kegelisahan yang begitu jelas terpancar di wajahnya.

" Maaf Ray, bukan wewenang saya untuk membicarakan urusan pribadi karyawan, kami sudah beda divisi sekarang." ucap Kang Hadi akhirnya, suaranya terdengar begitu hati-hati memilih kata, "yang jelas, Jaka baik-baik aja. Cuma memang lagi sibuk sama urusan pekerjaan."

"Urusan pekerjaan yang seperti apa?" tanya Raya cepat, matanya menatap tajam ke arah Kang Hadi, mencoba mencari celah kejujuran di balik jawaban yang terasa begitu dijaga itu.

" Dia lagi suruh bangun candi kali, Ray. " celetuk Dasha.

Kang Hadi tampak gelagapan, ia buru-buru melirik jam tangannya seolah mencari alasan untuk segera mengakhiri percakapan yang mulai memojokkannya.

"Maaf Neng Raya, saya harus segera meeting sama pimpinan. Nanti kalau ada kabar dari Jack, saya kabarin kamu ya." ucap Kang Hadi terburu-buru, melangkah mundur perlahan sambil terus menjaga senyum canggungnya.

"Kang, tolong Kang, saya cuma pengen tau kebenarannya aja," ucap Raya, suaranya sudah mulai bergetar menahan tangis yang hampir tumpah.

Kang Hadi berhenti sejenak, menatap Raya dengan tatapan yang entah kenapa terasa begitu penuh iba, seolah menyimpan sesuatu yang begitu berat namun tak sanggup ia ungkapkan.

"Neng... yang saya tau, Jack itu orang baik. Apa pun yang terjadi sama dia sekarang, saya yakin dia punya alasannya sendiri." ucap Kang Hadi pelan, sebuah kalimat yang terdengar begitu ambigu namun menyimpan begitu banyak makna tersirat di baliknya, "Neng sabar aja ya, semoga semuanya cepat selesai."

Setelah berkata demikian, Kang Hadi bergegas pergi meninggalkan Raya dan Dasha yang masih terpaku dengan berbagai pertanyaan yang tak kunjung terjawab, hanya menyisakan jawaban-jawaban setengah hati yang justru semakin menambah kecurigaan di benak mereka.

"Sha, lo denger kan cara ngomongnya Kang Hadi tadi? Kayak nyembunyiin sesuatu," bisik Raya begitu mereka sudah keluar dari area dealer.

"Iya Ray, gue juga ngerasa begitu. Dia kayak tau sesuatu, tapi sengaja nggak mau cerita detail. " jawab Dasha, ikut merasakan kejanggalan yang sama.

Raya menghela napas panjang, hatinya semakin dipenuhi tanda tanya besar yang belum juga menemukan jawabannya. Namun ia memutuskan untuk tidak memaksa lebih jauh hari itu, mengingat Kang Hadi sudah terlihat begitu ingin menghindar dari topik pembicaraan tersebut.

🌸🌸🌸🌸

Jarum jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam ketika tiba-tiba ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi panggilan masuk muncul di layar.

Jaka.

Jantung Raya seketika berdegup begitu kencang, matanya membelalak tak percaya melihat nama itu benar-benar muncul di layar ponselnya setelah sekian lama menghilang. Dengan tangan gemetar, ia buru-buru menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan itu.

Namun sambungan itu terputus lebih dulu sebelum sempat ia jawab.

"Aa! Aa!" panik Raya, jarinya cepat menekan tombol panggil balik. Namun nada sambung hanya berbunyi beberapa kali sebelum akhirnya berpindah ke pesan suara otomatis.

Raya mencoba lagi, dan lagi, namun hasilnya tetap sama. Panggilannya tak pernah tersambung.

Dengan hati yang berkecamuk, Raya akhirnya mengetikkan pesan singkat, jarinya bergerak cepat penuh harap.

[Raya: Aa,tadi Aa telpon Neng kan? Aa dimana? Neng khawatir banget]

[Raya: Aa gimana kabarnya? Kenapa baru sekarang aktif lagi nomornya?]

[Raya: Aa tolong bales ya, walau cuma satu kata. Neng cuma pengen tau Aa baik-baik aja]

Pesan-pesan itu terkirim satu per satu, namun centang biru tak kunjung muncul, apalagi balasan. Raya menatap layar ponselnya lama, berharap keajaiban terjadi malam itu.

Namun malam itu berlalu tanpa jawaban apa pun. Tak ada petunjuk apapun yang bisa ia dapatkan.

Keesokan harinya, Raya mencoba menghubungi nomor itu lagi di siang hari, namun hasilnya nihil. Panggilannya tak pernah tersambung, bahkan nada sambungnya pun tak terdengar sama sekali, seolah nomor itu memang benar-benar mati di siang hari.

Ia baru menyadari sebuah pola aneh setelah mencoba berkali-kali di waktu yang berbeda-beda. Entah mengapa nomor Jack hanya aktif di tengah malam. Siang hari, sore hari, bahkan menjelang malam, nomor itu selalu dalam keadaan tidak aktif.

"Aneh banget, Sha. Kok nomornya cuma nyala tengah malam doang?" ucap Raya bingung saat menceritakan hal itu pada Dasha melalui telepon.

"Mungkin dia emang cuma bisa pegang HP pas tengah malam, Ray. Siapa tau HP-nya disita atau gimana," terka Dasha, mencoba mencari penjelasan logis.

"TNI atau polisi yang masih pendidikan aja ada waktu buat kasih kabar, Sha. Emang dia pelatihan kek mana sih? Puyeng banget gue. "

Dasha terdiam sejenak di ujung telepon, ia sendiri tak punya jawaban pasti untuk pertanyaan sahabatnya itu.

"Coba lo telpon lagi malam ini, Ray. Siapa tau kali ini keangkat."

" Oke gue coba. "

Malam berikutnya, tepat pukul sebelas malam, Raya kembali mencoba peruntungannya. Ia duduk di tepi ranjang dengan jantung berdebar kencang, ia menekan tombol panggil dengan tangan yang sedikit gemetar.

Nada sambung terdengar sekali, dua kali...

Dan tersambung.

"Aa?!" seru Raya spontan, suaranya penuh harap yang begitu besar.

Namun bukan suara Jack yang langsung menyahut. Yang terdengar justru suara riuh di seberang sana, seperti percakapan dua orang yang sedang bercanda, disertai suara tawa renyah seorang wanita.

"Sayang, ada yang telpon. Tapi cuma panggil Aa aja. Iseng banget sih malam-malam ganggu orang ibadah." terdengar suara wanita itu berbicara, namun bukan ditujukan pada Raya, melainkan pada seseorang di sampingnya.

Raya membeku, telinganya menempel erat pada ponsel, mencoba memastikan setiap suara yang terdengar dari seberang sana.

"Orang nggak ada kerjaan, Sayang. Yaudah biarin aja, kita lanjutin lagi yang tadi." terdengar suara lain menyahut, suara yang begitu familiar di telinga Raya. Suara yang sudah begitu ia kenal selama tiga tahun terakhir.

Suara Jack.

Namun anehnya, panggilan itu tidak langsung diputus. Justru terdengar suara wanita itu tertawa kecil, seolah sengaja membiarkan sambungan tetap terhubung, seolah ingin Raya mendengar semuanya.

" Sayang kaki aku pegel, seharian pake high heels. " rengek wanita itu.

" Yaudah aku pijitin ya."

" Pijitin kakinya loh Yank, jangan yang lain. " nada bicara centil menjijikkan.

Raya menahan napas, tangannya mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Air matanya sudah menggenang, namun ia tak sanggup memutuskan panggilan itu, seolah tubuhnya membeku tak bisa digerakkan.

Suara tawa dan bisikan samar terus terdengar dari seberang, sebelum akhirnya sambungan itu terputus begitu saja, meninggalkan Raya dengan telinga yang masih berdenging dan hati yang hancur berkeping-keping.

Malam itu, Raya menangis dalam diam, ia tak sanggup lagi bercerita pada siapa pun, bahkan pada Dasha sekalipun. Ia hanya duduk terpaku di tepi ranjangnya, menatap layar ponsel yang sudah kembali gelap, mencoba mencerna kenyataan pahit yang baru saja ia dengar dengan telinganya sendiri.

🌸🌸🌸🌸

Meski hatinya sudah begitu hancur, rasa penasaran yang begitu besar justru mendorong Raya untuk mencoba sekali lagi. Ia butuh kepastian, meski kepastian itu mungkin akan semakin menyakitinya.

Pukul sebelas malam, ia kembali menekan tombol panggil dengan hati yang sudah dipenuhi firasat buruk.

Panggilan itu tersambung lebih cepat dari malam sebelumnya.

Namun kali ini, tidak ada suara percakapan atau tawa yang terdengar jelas. Yang terdengar hanyalah suara-suara samar, desahan pelan yang bercampur dengan gemerisik seprai, suara yang begitu jelas menandakan sebuah keintiman yang tak seharusnya Raya dengar.

" Akkkhhh.. kamu enak banget Sayang. " Ucap Jaka terdengar.

" Terus sayang... punya kamu juga enak. " ujar wanita jalang itu.

Raya membeku, dadanya terasa sesak begitu hebat hingga ia sulit bernapas. Air matanya jatuh begitu deras, membasahi pipinya tanpa bisa ia bendung lagi. Tangannya gemetar hebat, namun kali ini ia tak sanggup lagi bertahan mendengarkan lebih lama.

Dengan tangan yang gemetar, Raya segera memutuskan sambungan itu, melempar ponselnya ke atas kasur seolah benda itu adalah sumber dari segala rasa sakit yang kini menghantam dadanya begitu telak.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar hebat menahan isak tangis yang begitu dalam. Semua harapan yang selama ini ia pertahankan dengan doa dan kesabaran, kini seolah runtuh seketika, hancur oleh kenyataan yang begitu pahit dan menyakitkan itu.

"Aa..." lirihnya di sela isak tangis yang tak lagi bisa ia tahan, "kenapa Aa tega kayak gini sama Neng?"

Malam itu, Raya menangis hingga tenaganya habis, hatinya remuk redam dipenuhi luka yang begitu dalam. Namun di tengah kehancuran itu, satu pertanyaan besar masih terus menggantung di benaknya, sebuah pertanyaan yang membuatnya tak sepenuhnya percaya pada apa yang baru saja ia dengar.

Jika Jack memang sudah benar-benar berpaling dan bahagia dengan pilihannya yang baru, mengapa nomor itu hanya aktif di tengah malam? Mengapa semua terasa begitu disengaja, begitu dipertontonkan, seolah ada seseorang yang sengaja ingin Raya mendengar dan menderita?

Ataukah, di balik semua kepedihan ini, tersimpan sebuah kebenaran lain yang jauh lebih rumit dari sekadar pengkhianatan biasa?

Pertanyaan itu terus menggantung tanpa jawaban, sementara malam semakin larut membawa serta luka baru yang begitu dalam bagi hati Raya yang sudah begitu lelah menanti kepastian.

Bersambung...

1
gina altira
Manda bener" udah buta hati
Lailatul Qadriah
mantap kan man? belom slsay man..sabar y..masih permulaan🤭
Afsyura Novrianti
Berikan penderitaan paling berat dan menyakitkan untuk wanita berhati iblis itu jangan biarkan hidupnya tenang. Sudah banyak yang menderita karena ulah nafsu durjananya.
🔵🙏🏻OFF GC🙏🏻📴𝘠𝘢𝘴𝘮𝘪𝘯
Harusnya bukan dimasukkan ke penjara tapi ke RSJ.. dia tuh udah kena ganguan mental akut.. dia harus kasih sayang kepercayaan perhatian dan validasi dari orang tapi caranya ya gitu ekstrim
rasahaz
puas puas puaaaaas lo rasain rubah betina musang birahi,,, 😡😡
rasahaz
ciiiihh pngen dcintai,, yg da lo cintai sma jin dsar musang birahi,, lo mng pnya raga ny c jaka tpi ngga dgn hati ny,, smua itu palsu😏😏😏😏
🔵🙏🏻OFF GC🙏🏻📴𝘠𝘢𝘴𝘮𝘪𝘯
Bu lain kalie konfirmasi dulu sama anaknya or perempuan yg disukai anak bukan asal nelen idup² info yg gak jelas dan dari orang yang gak dikenal 🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️ Haduhhh ngaku orang pinter kok gampang bgt dibodohi

Bakar tuh jimatnya, Bu biar anakmu eling..
Mana ada orang pkk begituan bales dg tulus... Itu mah halusinasi gilamu sendiri.. dasar ulet keket /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Lailatul Qadriah
eh mandot g semua yg kita inginkan itu baik buat kita.hadeuhh Sush KLO punya otak dipke buat nget*t Mulu mh
gina altira
nah lho Manda,, ga da kapoknya dan ga mikir" sih
🔵🙏🏻OFF GC🙏🏻📴𝘠𝘢𝘴𝘮𝘪𝘯
No komen lah.. selama penyakit hati masih bertumbuh sampai kiamat juga masih aja kyk gitu
gina altira
kak Atha,, baru kali ini baca karya kak Atha yang bikin hati dongkol banget. Raya bikin kuat dunk lawan tuh si Manda.
Lailatul Qadriah
nth knp ko aku y kurg sreg SM razqa dn kluarg nya y...semoga raya BS dptin Gus Gus lah gt..yg punya ilmu kebatinan..yg BS jagain raya jg
nurul @zna
Doa Mamah Yana terkabul... Jack gak akan bs punya anak, meskipun dr perempuan yg berbeda... n sepertinya selain kena karma ats perbuatannya si Manda tuh kena ucapan/tulisannya sndiri ya... kan akun sosmednya @Mandul_Cantiq... maksudnya sih mungkin Manda ya tp diplesetin jd Mandul... eh mandul beneran...
🔵🙏🏻OFF GC🙏🏻📴𝘠𝘢𝘴𝘮𝘪𝘯
Setiap pilihan pasti ada resikonya.. entah itu jadi kebaikan dan keberkahan or jadi kesakitan dan kerugian yg bisa buat hidup jadi semakin terpuruk hingga akhir
.
Lagian orang waras mikir 1000x duwit segitu banyak habis buat hal gak jelas dan pasti cari cara buat usaha sendiri tanpa capek ikut aturan orang lain dg kejar target
🔵🙏🏻OFF GC🙏🏻📴𝘠𝘢𝘴𝘮𝘪𝘯
wahhhh sukurin tuh jadi aset masa depannya ancur lebur gitu 🙊 Astagfirullahalazim
🔵🙏🏻OFF GC🙏🏻📴𝘠𝘢𝘴𝘮𝘪𝘯
Alhamdulillah dukunnya meninggoy juga.. napa betina jadi² ikutan meninggoyy, Mak 😁
gina altira
Manda gimana rasanya kena sihir sendiri
gina altira
Sudah saatnya Manda ulat Keket itu menerima balasan
rasahaz
puas puas puas loh ,,, 😂😂😂 rasain kau l0nt3,,, 😂😂👍
Lailatul Qadriah
mam mam dah tuh🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!