Indonesia
NovelToon NovelToon
Sang Mafia di Biara

Sang Mafia di Biara

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Gizelly Ladislau

Dante Herrera adalah bos organisasi kriminal paling ditakuti—seorang pria yang tumbuh di dunia penuh timah panas, perintah, dan darah. Namun ketika sebuah bom menghancurkan helikopternya, takdir menjatuhkannya ke tempat yang paling mustahil: halaman sebuah biara yang sunyi.

Mary Mendez baru delapan belas tahun. Seorang yatim piatu yang dibesarkan di balik tembok biara, hidupnya adalah doa, ketenangan, dan kasih tanpa syarat untuk anak-anak panti asuhan. Sampai ia menemukan pria berlumuran darah itu di halaman—dan sesuatu dalam hatinya berbisik bahwa kedatangannya akan mengubah segalanya.

Dua dunia yang seharusnya tak pernah bersinggungan kini saling bertaut. Sang mafia yang tak percaya cinta, dan sang suster yang terikat sumpah pada Tuhan. Setiap tatapan adalah dosa. Setiap detak jantung adalah pertaruhan. Dan semakin keras mereka berusaha menjauh, semakin dalam mereka terjerat.

Namun cinta terlarang bukan satu-satunya bahaya. Rahasia masa lalu, sebuah keluarga yang mengubah gairah menjadi setia, dan musuh lama yang haus balas dendam—semua bersiap menyeret mereka ke dalam badai yang belum pernah mereka bayangkan.

Bisakah kemurnian menyelamatkan seorang pria yang tangannya berlumur dosa? Dan sanggupkah cinta bertahan ketika seluruh dunia menuntut mereka berpisah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gizelly Ladislau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

POV Dante Herrera

Perjalanan menuju bandara terasa sunyi secara aneh.

Di dalam limusin, hanya suara halus mesin dan gesekan ban di atas aspal yang mengisi ruangan.

Para suster menempati bangku bagian belakang.

Suster Mary Mendez duduk dekat jendela dengan kepala tertunduk. Di tangannya yang mungil bersandar sebuah Alkitab yang sudah sangat usang dan seuntai rosario berbutir bening yang ia jalankan perlahan di sela jari-jarinya.

Bibirnya bergerak nyaris tak kentara.

Mungkin ia sedang berdoa.

Atau mungkin sekadar berusaha menenangkan diri.

Di sebelahnya, Graziela mempertahankan sikap tenang seperti biasa. Natália tampak gelisah, mengamati segala sesuatu lewat jendela, sementara Bárbara bergantian antara mengagumi kota dan berbisik-bisik dengan sahabat-sahabatnya.

Kedua orang tuaku duduk di hadapanku.

Ayahku menggenggam tangan ibuku dengan sikap melindungi.

Sungguh mengherankan.

Setelah sekian tahun pernikahan, mereka masih saling menatap seperti dua remaja yang sedang jatuh cinta.

Pietro duduk di samping mereka, sepenuhnya tenggelam dalam laptopnya.

Jari-jarinya menari di atas keyboard.

Mungkin sedang menuntaskan suatu urusan bisnis.

Kevin sibuk dengan ponselnya.

Mungkin menganalisis laporan.

Mungkin membalas surel.

Mungkin menyelamatkan sebuah perusahaan dari kebangkrutan.

Tak pernah ada yang tahu.

Dan Giovanni...

Giovanni tertidur.

Dengan mulut menganga.

Sama sekali tanpa beban.

Kuamati adikku beberapa detik.

Mustahil untuk tidak teringat sosoknya semasa kami kanak-kanak.

Bahkan setelah dewasa, ada saat-saat ia tampak persis seperti bocah yang dulu menghabiskan berjam-jam bermain mobil-mobilan di seantero kediaman.

Aku tersenyum tanpa sadar.

Tak lama kemudian kami tiba di bandara.

Begitu mobil berhenti, para pengawal langsung turun.

Dalam hitungan menit, koper-koper sudah diangkut ke pesawat pribadi keluarga Herrera.

Para suster mengamati segalanya dengan rasa penasaran yang kentara.

Dunia itu benar-benar berbeda dari dunia yang biasa mereka kenal.

Ibuku turun lebih dulu.

Seperti biasa.

Dan mereka semua mengikutinya.

Ketika masuk ke dalam pesawat, mata mereka membelalak.

Dekorasi mewah, kursi-kursi lapang, jok-jok kulit, detail-detail keemasan...

Semua tampak membuat mereka terkesima.

Saat itulah aku memperhatikan sesuatu yang menarik.

Natália.

Novis itu tampak berulang kali melirik ke arah Pietro.

Terlalu sering.

Andai ia bukan seorang biarawati...

Aku berani bersumpah ia sedang mengagumi adikku.

Kugelengkan kepala.

Tidak.

Mustahil.

Ia seorang biarawati.

Pasti itu hanya rasa penasaran.

Lagi pula, Pietro sama sekali tak menyadarinya.

Ia terus mengetik seolah dunia ini tak eksis.

Aku masuk ke pesawat tepat di belakang mereka.

Sementara menyusuri lorong, mataku bertemu dengan Mary sekejap.

Ia langsung mengalihkan pandangan.

Jantungku melakukan sesuatu yang aneh.

Sesuatu yang mulai kubenci.

Aku duduk dan berusaha mengabaikan perasaan itu.

Mungkin itu hanya rasa hormat pada seorang biarawati.

Mungkin itu semacam bentuk doa yang membisu.

Tak mungkin ada penjelasan lain.

Ia seorang biarawati.

Aku harus berhenti memikirkannya dengan cara seperti itu.

Lamunanku terputus ketika para pramugari mulai menyajikan minuman dan hidangan.

Dengan sopan luar biasa, mereka melewati setiap penumpang sambil menawarkan kopi, teh, air, jus, serta beragam sajian.

Kemudian menyusul instruksi keselamatan.

Para suster menyimak semuanya dengan saksama.

Natália bahkan sampai mengajukan beberapa pertanyaan yang memancing tawa kecil dari para awak kabin.

Perjalanan berlangsung tenang.

Tanpa guncangan.

Tanpa kekhawatiran.

Tanpa masalah.

Entah kapan, aku pun tertidur.

Ketika kubuka mata lagi, kudengar suara kapten memberitahukan bahwa kami akan memulai prosedur pendaratan.

Kutengok ke luar jendela.

Roma tampak di bawah kami.

Megah.

Bermandikan cahaya.

Berwibawa.

Tak lama kemudian kami mendarat.

Mobil-mobil sudah menunggu kedatangan kami.

Perjalanan menuju kediaman berlangsung singkat.

Ketika gerbang besi raksasa terbuka, kudengar seruan-seruan kecil penuh kekaguman dari para suster.

Mansion Herrera memang selalu menimbulkan efek semacam itu.

Air mancur yang bercahaya.

Taman-taman yang tanpa cela.

Tangga-tangga marmer.

Beranda-beranda berukir.

Nyaris seperti sebuah istana.

Ibuku langsung mengambil alih kendali situasi.

Bagai seorang jenderal.

Ia memerintahkan para pelayan menyiapkan kamar-kamar tamu.

Para suster diantar menuju sayap utama rumah.

Kulihat Mary menghilang di ujung lorong bersama sahabat-sahabatnya.

Dan, di luar kehendakku, aku mengikuti setiap langkahnya dengan pandangan.

Sampai ia lenyap sepenuhnya dari pandanganku.

Sialan.

Aku naik ke kamarku.

Aku perlu beristirahat.

Aku perlu membereskan pikiranku.

Aku perlu melupakan perempuan itu.

Aku masuk ke kamar mandi dan berendam lama.

Air hangat mengalir menuruni bahuku.

Kupejamkan mata.

Tapi cukup dengan memejamkan mata untuk kembali melihatnya.

Senyumnya.

Suaranya.

Mata hijaunya.

Kebaikan hatinya.

Imannya.

Mary.

Mary.

Mary.

Kuusap wajahku dengan kedua tangan.

Ini mulai berbahaya.

Sangat berbahaya.

Kumatikan pancuran.

Kukenakan pakaian yang nyaman.

Kurebahkan tubuh di ranjang.

Kupadamkan lampu.

Kupejamkan mata.

Dan kucoba tidur.

Lima menit kemudian aku masih terjaga.

Sepuluh menit.

Lima belas.

Dua puluh.

Sia-sia.

Aku berguling ke satu sisi.

Lalu ke sisi lainnya.

Kuembuskan napas dalam-dalam.

Lalu kutatap langit-langit kamar yang gelap.

Kenyataannya sederhana.

Aku sanggup menghadapi para mafia.

Para pengedar.

Para pembunuh.

Aku sanggup menghadapi bahaya apa pun.

Tapi aku tak sanggup menaklukkan seorang biarawati.

Dan itu membuatku lebih ketakutan ketimbang musuh mana pun yang pernah kuhadapi.

Karena untuk pertama kalinya sejak sekian tahun...

Aku benar-benar tersesat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!