**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**
Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.
Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.
Satu malam nekat mengubah segalanya.
Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.
*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*
Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.
Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 027
Mulai dari Awal
“Selamat pagi. Nama saya Bram.”
Laras berdiri di depan pintu kos sambil memeluk map CV. “Kita pernah ketemu?”
“Kayaknya belum. Kalau pernah, saya pasti ingat.”
Bram menyodorkan satu gelas kopi. Ia bahkan menjaga jarak satu langkah, seolah Laras benar-benar perempuan yang baru ditemuinya. Kemeja putihnya rapi, jam tangan terpasang, dan tidak ada bekas lelaki yang kemarin duduk terluka di ruangan sempitnya.
Laras menerima kopi itu. “Saya Laras.”
“Saya tahu.”
“Katanya belum pernah ketemu.”
“Saya lihat nama kamu di CV.”
Laras menunduk ke map yang tertutup rapat. “Bohongnya masih jelek.”
“Berarti kita cocok. Kamu bisa ajarin.”
Candaan itu menyentuh masa lalu mereka, tetapi tidak terasa kotor. Bram membukakan pintu mobil dan bertanya apakah Laras nyaman diantar sampai UI. Baru setelah Laras mengangguk, ia mengambil map dari tangannya.
Di dalam mobil, tidak ada tangan yang langsung mencari pinggangnya. Bram bertanya soal pekerjaan Bu Ratna, jenis tes yang akan dijalani, dan apakah Laras sudah sarapan. Ia mendengarkan jawabannya tanpa memotong.
“Kamu tegang?” tanyanya.
“Sedikit.”
“Bagus. Berarti kamu peduli.”
Di lampu merah, Bram menoleh. Tatapannya turun ke bibir Laras, lalu kembali ke mata.
“Boleh cium kamu?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Laras diam. Dulu mereka mencuri sentuhan di balik pintu, selalu dikejar waktu dan rasa bersalah. Bram hampir tidak pernah bertanya karena tubuh Laras sudah lebih dulu mendekat.
Sekarang tidak ada pasangan yang mereka khianati. Anehnya, justru izin terasa jauh lebih penting.
“Belum,” jawab Laras.
Bram mengangguk. “Oke.”
Ia kembali melihat jalan tanpa menunjukkan kecewa. Tidak ada desakan kedua. Laras menatap profil wajahnya dan merasa satu simpul di dadanya terurai.
Di UI, Bu Ratna sudah menunggu bersama setumpuk dokumen. Ia menilai CV Laras, mengoreksi dua kalimat, lalu mengirimkannya kepada kenalan di PT Lingua Prima.
“Mereka mungkin telepon hari ini,” katanya. “Tesnya tertulis dan lisan. Jangan rendah hati berlebihan saat ditanya kemampuan.”
“Saya akan coba.”
“Bukan coba. Jawab sesuai bukti.”
Saat Laras keluar dari gedung, Bram masih menunggu di parkiran. Ia bekerja melalui laptop di kursi pengemudi dan baru turun ketika melihat Laras.
“Gimana?”
“CV-ku dikirim.”
“Kita rayakan?”
“Belum diterima.”
“Kita rayakan keberanian kirim dulu.”
Mereka makan soto di warung dekat kampus. Bram tidak mengeluh soal kursi plastik atau panas, meski keringat muncul di pelipisnya. Ia hanya memindahkan sambal menjauh setelah Laras bersin.
Hari-hari berikutnya, pendekatannya tetap seperti itu. Ia menjemput kalau diizinkan, mengirim makanan tanpa memaksa datang, dan berhenti menelepon sebelum pukul sepuluh malam. Setiap hendak menyentuh tangannya, Bram memberi Laras kesempatan untuk menarik diri.
Pada malam pertama, Bram mengirim foto dua pilihan menu dan membiarkan Laras memilih. Malam kedua, ia datang membawa payung karena ramalan cuaca menyebut hujan, lalu pulang sebelum gerimis turun. Malam ketiga, ia hanya menelepon lima menit untuk menanyakan tes.
Ketekunan yang tenang itu lebih sulit ditolak daripada rayuan. Laras mulai menunggu bunyi pesannya, lalu kesal pada diri sendiri ketika menyadari hal tersebut. Ia masih belum mengizinkan ciuman, tetapi suatu sore ia tidak menarik tangannya saat Bram membantu turun dari mobil. Laki-laki itu tidak merayakan kemenangan kecil tersebut. Jempolnya hanya mengusap buku jari Laras sekali sebelum melepaskan.
Pada hari ketiga, Laras pulang dari tes PT Lingua Prima dan mendapati dua petugas toko kosmetik menunggu bersama pengelola kos.
“Kiriman untuk Mbak Laras,” kata salah satu petugas.
Di belakang mereka ada beberapa kotak besar.
Laras mengira Bram membeli satu paket perawatan wajah. Setelah kotak dibuka, meja riasnya hampir hilang di bawah deretan botol dan jar bermerek. Produk pembersih, toner, serum, pelembap, sunscreen, masker, dan krim malam tersusun seperti etalase toko.
Yang membuatnya terpaku bukan jumlahnya, melainkan label kecil tulisan tangan.
`Melembapkan.`
`Mencerahkan.`
`Untuk kulit sensitif.`
`Pakai malam, dua kali seminggu.`
Bram datang beberapa menit kemudian sambil membawa kantong makan malam. Laras berdiri di tengah kamar dengan tangan bersedekap.
“Ini apa?”
“Skincare.”
“Aku bisa lihat.”
“Berarti labelnya jelas.”
“Bram, ini kebanyakan.”
Laras menghitung cepat. Ada beberapa merek yang pernah hanya ia lihat di meja rias Tiara. Satu botol serum mungkin setara dengan belanja dapurnya selama berminggu-minggu. Naluri lama langsung menyuruhnya mengembalikan semua.
“Kamu bahkan nggak tahu kondisi kulitku.”
“Makanya aku simpan nomor konsultan tokonya.” Bram mengangkat ponsel. “Kalau kamu bersedia, konsultasi video dulu. Kamu yang pilih produk mana yang dipakai. Sisanya dikembalikan.”
Jawaban itu meredakan kekhawatiran Laras. Hadiah tersebut tetap berlebihan, tetapi setidaknya Bram tidak memaksanya mengoleskan sembarang bahan ke wajah. Ia sudah memikirkan pilihan dan keamanan, bukan cuma harga.
Ia menaruh kantong makanan. “Aku nggak tahu kamu cocok yang mana. Konsultannya bilang kulit harus dicek dulu, tapi aku nggak mau bawa kamu tanpa izin. Jadi aku pilih beberapa seri yang aman. Kalau nggak cocok, ditukar.”
Laras mengambil salah satu label. Tulisan Bram biasanya tegas dan miring. Kali ini hurufnya pelan, seolah ia benar-benar mencatat penjelasan pegawai toko.
“Kenapa tiba-tiba?”
Wajah Bram berubah lebih serius. “Aku ingat waktu Tiara bilang skincare kamu nggak sampai dua ratus ribu.”
Laras menahan napas.
Hari itu terasa sangat jauh, tetapi rasa malu ketika Tiara menertawakan barang-barangnya masih jelas. Laras bahkan tidak menyadari Bram mendengarnya.
“Aku bukan beli ini supaya kamu kelihatan mahal,” katanya. “Aku cuma nggak mau kamu terus merasa harus memilih yang paling murah untuk dirimu sendiri.”
“Barang murah nggak selalu jelek.”
“Benar. Barang mahal juga nggak otomatis cocok. Aku sedang belajar bedanya.”
Laras memandang deretan label. “Kamu nulis semua ini sendiri?”
“Dua jam di tokonya. Pegawainya hampir menyerah ngajarin aku.”
“Aku sekarang punya penghasilan.”
“Aku tahu. Kalau kamu mau beli sendiri setelah ini, bagus. Yang ini anggap saja hadiah dari laki-laki yang lagi PDKT.”
“Laki-laki PDKT biasanya kasih bunga.”
Bram menunjuk krisan di meja. “Kamu sudah beli sendiri. Aku harus cari celah lain.”
Laras tertawa, lalu cepat-cepat menoleh karena matanya mulai panas.
Ponsel Bram menyala di meja. Foto profil WhatsApp-nya bukan lagi wajah formal atau pemandangan. Hanya satu hati merah di latar putih.
Laras membuka profilnya. Kalimat di bagian info sudah berubah.
`Pilih satu kota untuk menua, temani satu orang sampai rambut memutih.`
“Kamu pasang ini di semua akun?” tanya Laras.
“IG juga.”
“Orang-orang bakal tahu.”
“Memang itu tujuannya.”
“Kalau nanti kita gagal?”
Bram tidak menjawab dengan janji besar. Ia hanya berdiri di sisi lain meja, membiarkan jarak di antara mereka tetap menjadi milik Laras.
“Kalau gagal, setidaknya kali ini aku nggak menyembunyikan kamu.”
Air mata Laras akhirnya jatuh ke label kecil di tangannya.
Bram mengingat harga yang pernah mempermalukannya, jenis kulit yang tidak ia pahami, dan batas yang baru saja ia pasang. Ia mengingat semuanya.