Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Angkatku Bukan Manusia

Adik Angkatku Bukan Manusia

Status: sedang berlangsung
Genre:Spiritual / Anak Genius / Crazy Rich/Konglomerat / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Eidolon

Satu keputusan membawa Elara masuk ke keluarga Halvar. Gadis yang ditemukan di sebuah desa mati itu tidak banyak bicara. Ia hanya tahu bahwa dirinya kini memiliki rumah, keluarga, dan kehidupan yang jauh berbeda dari sebelumnya.

Namun, sejak Elara datang, sesuatu mulai terasa tidak biasa. Gadis itu terkadang mengatakan sesuatu sebelum hal itu terjadi, menghilang tanpa jejak lalu muncul tiba-tiba. Dan seolah mengetahui rahasia yang bahkan belum pernah diceritakan.

Semakin keluarga Halvar mengenalnya, semakin mereka menyadari satu hal… gadis yang mereka bawa pulang mungkin bukanlah gadis biasa.

Lalu, siapa Elara sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eidolon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Sejak tadi Bianca berdiri di depan kelas, menunggu seseorang yang ingin ia temui. Beberapa siswa yang melihatnya mulai memperhatikan, terlebih ketika mereka menyadari siapa yang sedang ditunggu.

Hingga akhirnya, sosok yang ditunggu Bianca muncul dari dalam kelas.

“Mencariku?” tanya Elara tepat saat ia keluar dan berhadapan langsung dengan Bianca.

Untuk sesaat, tatapan Bianca terkunci pada mata hijau itu. Mata yang cantik, wajah yang cantik. Membuatnya tanpa sadar mengepalkan tangannya.

Namun, sedetik kemudian, senyum lebar Bianca mengubah ekspektasi para siswa. Alih-alih menunjukkan permusuhan, Bianca justru terlihat cukup senang bertemu dengan Elara.

Hingga membuat beberapa siswa mulai berasumsi jika Bianca ingin mendekati Leonard melalui Elara.

“Hai, akhirnya kita bertemu,” ucap Bianca sambil tersenyum.

“Kemarin kita juga sudah bertemu.”

Untuk sesaat senyum Bianca nyaris runtuh. Mereka memang sempat bertatap mata saat jam pulang sekolah.

“Maksudku bertemu berdua seperti ini.”

“Oh.” Elara mengangguk mengerti. “Ada yang ingin kamu bicarakan?”

Bianca menggeleng pelan. “Tidak, aku cuma ingin tahu saja seperti apa adik Leonard itu.”

Elara diam seolah tidak terpancing apapun, tatapannya datar menatap Bianca yang tersenyum ke arahnya.

Namun, dibalik senyuman itu, Elara dapat melihat sesuatu yang lain. Rasa penasaran, kewaspadaan, dan rasa iri. Perasaan yang sering muncul saat seseorang merasa posisinya terancam.

“Kamu tidak menyukaiku?” tanya Elara terus terang.

Senyum Bianca langsung membeku. “Apa?”

Namun, sebelum Elara sempat menjawab, tubuhnya tiba-tiba menegang.

Ekspresinya yang semula dingin berubah menjadi panik. Mata hijau itu membelalak tipis, seolah melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.

“Elara?” Bianca mengernyit bingung.

Di saat yang sama, dari kejauhan Leonard dan Lionel berlari menghampiri mereka. Keduanya berhenti tepat di hadapan Elara dengan napas yang sedikit memburu.

“Elara, ayo pergi. Kak Lucas—”

Belum sempat Leonard menyelesaikan kalimatnya, Elara sudah lebih dulu berlari meninggalkan mereka.

“Elara!” panggil Lionel.

Namun, gadis itu tidak berhenti. Ia terus berlari, seolah ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada apa pun yang sedang terjadi di belakangnya.

“Hey! Elara tunggu!”

Lionel segera berlari menyusulnya. Langkahnya lebih cepat dari sebelumnya, ia bahkan hampir melupakan saudara kembarnya yang masih berusaha mengatur nafas.

“Leonard cepat! Sebelum Elara menghilang!”

Ucapan Lionel membuat Leonard langsung menyusul mereka.

Mereka berlari menerobos kerumunan koridor sekolah, menuruni tangga, hingga menuju halaman depan.

Namun sesampainya di sana, langkah mereka mendadak berhenti.

Di depan mata mereka sendiri, tubuh Elara menghilang, seperti kabut tertiup angin.

“Leon…” suara Lionel terdengar pelan.

Ia masih berdiri mematung dengan wajah yang dipenuhi keterkejutan.

“Elara…dia…” Lionel tidak mampu untuk melanjutkan kalimatnya.

Leonard sendiri hanya menatap ke arah tempat menghilangnya Elara dengan tatapan rumit.

“Ternyata apa yang dikatakan Mama dan Kak Faresta memang benar.”

“Pastikan tidak ada yang melihatnya!” Lionel langsung menoleh ke sekeliling.

Sementara itu Leonard juga memastikan jika halaman sekolah memang sudah cukup sepi. Bel masuk berbunyi saat mereka berlarian mengejar Elara, sehingga sebagian besar siswa sudah kembali ke kelas masing-masing.

Beberapa siswa yang masih berada di luar terlihat berlarian menuju gedung sekolah tanpa memperhatikan mereka.

“Sepertinya tidak ada yang melihat,” ujar Lionel setelah mengamati.

Leonard menghembuskan nafas pelan. “bagus.”

Meski begitu,keduanya masih berdiri di tempatnya. Terdiam seolah melupakan hal yang harus mereka lakukan.

Hingga akhirnya Lionel yang pertama kali sadar akan kebodohan mereka.

“Bodoh, ayo cepat ke rumah sakit!” Lionel segera menuju ke arah motornya.

Begitu juga dengan Leonard yang menyusul dengan penuh makian pada diri sendiri.

Sementara di sisi lain kota, suasana rumah sakit yang biasanya tenang berubah menjadi kacau.

Suara teriakan terdengar di sepanjang koridor rumah sakit.

“Mana dokter yang menangani anak saya?”

“Kami ingin penjelasan!”

Beberapa petugas keamanan berusaha menenangkan keluarga pasien yang mulai kehilangan kendali. Para perawat berlarian ke sana kemari.

Sementara pengunjung lain hanya bisa menonton dengan wajah bingung.

Di tengah kekacauan itu Lucas baru saja keluar dari ruang ICU.

“Dokter Lucas!” Seorang perawat menghampirinya dengan wajah panik. “Keluarga pasien itu mencari anda!”

Belum sempat Lucas menjawab, seorang pria paruh baya tiba-tiba menerobos kerumunan. Wajahnya terlihat penuh amarah, membuat beberapa orang yang berada di dekatnya langsung mundur memberi jalan.

Tanpa banyak bicara, pria itu langsung mencengkeram kerah baju Lucas dengan kuat hingga tubuh Lucas sedikit terdorong ke belakang.

“Kalau sampai terjadi sesuatu pada anak saya, saya tidak akan memaafkan Anda!”

Koridor seketika menjadi semakin ricuh.

“Pak, tenang dulu!”

“Lepaskan dulu, Pak!”

Beberapa petugas keamanan segera berusaha melerai. Namun, pria itu tidak peduli.

Tatapannya masih penuh kemarahan, sementara Lucas hanya berdiri diam menghadapi semua itu.

Di balik keributan tersebut, seseorang berdiri mengamati dari kejauhan. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis. Ia terlihat puas, seolah kekacauan yang terjadi di depan matanya adalah sesuatu yang memang sudah ia inginkan.

Sementara itu, ayah pasien masih terus berusaha mendapatkan jawaban dari Lucas.

“Apa yang kamu lakukan pada anak saya?” tanya ayah pasien dengan penuh emosi.

“Sebelum kamu yang mengambil alih penanganannya, kondisi anak saya sudah stabil. Lalu kenapa sekarang jadi seperti ini?”

Suara pria itu menggema di sepanjang koridor. Beberapa petugas keamanan masih berusaha menahannya agar tidak kembali menyerang Lucas.

Sementara itu, Lucas berdiri beberapa langkah dari kerumunan. Wajahnya tetap tenang, tetapi pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan.

Ia yakin tidak melakukan kesalahan saat menangani pasien. Kondisi pasien yang mendadak memburuk terasa terlalu janggal.

Tanpa sadar, Lucas teringat pada Elara. Jika gadis itu ada di sini, mungkin ia bisa melihat sesuatu yang tidak mampu dilihatnya.

Di tengah pikirannya yang penuh pertanyaan, pandangan Lucas menyapu koridor rumah sakit. Dan saat itulah ia melihat sosok wanita yang berdiri di balik tembok.

Meski hanya sebagian wajahnya yang terlihat, Lucas langsung mengenalinya.

Wanita itu tersenyum. Bukan senyum ramah, melainkan senyum penuh kepuasan. Seolah sedang menikmati kekacauan yang terjadi di hadapannya.

“Dia…”

Jantungnya berdegup lebih cepat. “Dokter Tirta kembali tidak ada kabar, pasti karena ulahnya lagi.”

Tatapan Lucas mengeras, tangannya mengepal kuat. Melihat senyum puas di wajah wanita itu membuat amarahnya mendidih. Namun, ia tahu tidak bisa bertindak gegabah.

“Kalau sampai terjadi sesuatu dengan anak saya, saya pastikan kariermu sebagai dokter akan berakhir!”

Pria itu kembali berusaha menerobos barisan petugas keamanan. Wajahnya memerah, dipenuhi amarah dan kecemasan.

“Dokter Lucas, bagaimana ini?” tanya suster yang sejak tadi menemaninya dengan cemas.

Lucas masih berusaha untuk tetap tenang. Kondisi pasien memang kembali kritis, tetapi ia sudah menerima pertolongan dan kini hanya tinggal menunggu kabar selanjutnya.

Sekarang, yang perlu ia pikirkan adalah bagaimana cara menenangkan keluarga pasien yang sudah terlanjur terbawa amarah. Koridor rumah sakit sudah seperti arena pertarungan hanya karena teriakan satu orang.

Hingga sebuah suara lain terdengar dan menghentikan teriakan pria itu.

“Anakmu belum mati.”

Suara itu terdengar begitu tenang, tetapi cukup untuk membuat seluruh koridor seketika terdiam.

Semua orang menghentikan gerakannya. Bahkan pria yang sejak tadi terus berteriak ikut terdiam.

Lucas perlahan menoleh ke arah sumber suara. Tatapannya menyipit, berusaha mengenali siapa yang baru saja mengatakan kalimat tersebut.

Namun, saat melihat siapa yang berdiri di sana, matanya sedikit melebar.

“Elara…”

1
Nonik Anda Swl
next please Thor, seru dan keren, semangat💪💪
Queen AL
👍
Yani
lanjut Thorrr 🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!