Indonesia
NovelToon NovelToon
Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Musuh Disekolah, Pasutri Dirumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Romantis / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Di luar pagar sekolah, Affan dan Monisha adalah sepasang suami istri karena perjodohan wasiat keluarga.

Di dalam kelas, mereka adalah dua kutub yang berpura-pura tidak kenal. Affan si ketua OSIS yang harus menjaga reputasinya, sementara Mona hanya ingin lulus dengan tenang.

Mereka sepakat merahasiakan pernikahan ini rapat-rapat. Namun, menyembunyikan status pernikahan di lingkungan SMA tidaklah mudah. Hanya dalam waktu satu minggu, kecemburuan merusak segalanya. Kecurigaan teman-teman, teror dari siswa yang menyukai Mona, hingga kecerobohan mereka sendiri meledakkan rahasia besar tersebut ke seluruh sekolah.

Kini, mereka harus menghadapi konsekuensi sosial, aturan ketat sekolah, di atas perasaan sayang yang sudah tumbuh di antara mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bungkam 30.

Papan pengumuman digital di koridor utama SMA Pancasila dikerumuni ratusan murid.

Hari ini adalah hari hasil Ujian Tengah Semester (UTS) paling menegangkan sepanjang sejarah sekolah. Biasanya, suasana hanya riuh oleh bisikan-bisikan persaingan biasa.

Namun kali ini berbeda. Satu bulan yang lalu, rahasia besar terbongkar: Mona, siswi kelas 12 A yang terkenal hobi datang terlambat dan selalu berada di peringkat 30 ke bawah, ternyata sudah menikah secara sah dengan Affan, mantan ketua OSIS sekaligus pangeran sekolah dari kelas 12 A. Sejak rahasia itu bocor, hidup Mona berubah menjadi neraka di sekolah. Dimulai dari terjangan perkataan

"Palingan menikah juga hamil duluan."

"Binal"

Yang perlahan perkataan itu menjadi,

"Numpang hidup ya? Sadar diri dong, Affan itu aset berharga sekolah yang dapat nilai tinggi, kok dapetnya remah-remah rengginang kayak dia."

"Gak pantas banget. Affan itu cocoknya sama Selly, sama-sama jenius dan bersaing di peringkat atas paralel. Mona mah apa, cuma jadi beban di peringkat tiga puluh kebawah"

Semua makian, tatapan merendahkan, dan bisikan sinis itu ditelan Mona bulat-bulat selama tiga puluh hari terakhir. Dia tidak membalas dengan kata-kata. Dia membalasnya dengan begadang setiap malam, ditemani sang suami dengan buku-buku tebal yang mereka pelajari hingga matanya berkantung hitam.

"Minggir, minggir! Juara paralel kita mau lewat!"

Suara lantang itu membuat kerumunan terbelah. Selly berjalan dengan dagu terangkat, diikuti oleh beberapa temannya. Selly melemparkan senyum sinis saat berpapasan dengan Mona yang berdiri di barisan belakang.

"Siap-siap liat nama kamu di urutan paling bawah lagi ya, Mona. Lagian, ngapain sih repot-repot liat papan pengumuman? Peringkat kamu kan gak bakal pindah dari angka tiga puluh, Hahaha," cibir Selly keras-keras, memancing tawa dari murid-murid lain.

Mona hanya diam, meremas ujung seragamnya. Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh yang terasa sangat familier menggenggam jemari tangannya yang dingin. Mona menoleh. Affan sudah berdiri di sampingnya, wajahnya penuh sorot tajam menatap ke arah papan pengumuman.

Kedatangan Affan membuat suasana mendadak senyap. Affan tidak melepaskan genggaman tangannya dari Mona, justru semakin mempereratnya di depan semua orang.

"Liat aja ke depan," bisik Affan lembut, tepat di samping telinga Mona. Suara beratnya seketika menenangkan detak jantung Mona yang sedang maraton.

Layar digital besar itu berkedip, menampilkan Top 3 Peringkat Paralel Nilai UTS Gabungan angkatan kelas tiga.

Mata Selly langsung mencari namanya. Dia tersenyum lebar saat melihat baris ketiga.

[PERINGKAT 3: AFFAN PRADIPTA – TOTAL NILAI: 96,8]

Selly mengernyit. Affan turun ke peringkat tiga? Berarti dirinya naik ke peringkat satu! Selly dengan cepat melihat baris kedua.

[PERINGKAT 2: SELLY ANANDA – TOTAL NILAI: 97,2]

Napas Selly tertahan. Kalau dia di peringkat dua, lalu siapa yang ada di peringkat satu? Seluruh koridor mendadak sunyi senyap, seolah-olah mesin waktu menghentikan detak jam. Semua mata terbelalak menatap baris paling atas yang tertulis dengan huruf tebal berwarna emas.

[PERINGKAT 1 PARALEL: MONISHA ZARA KUSUMA – TOTAL NILAI: 99,1]

"Gak... Gak mungkin! Ini pasti salah cetak!" teriak Selly histeris, melangkah mundur dengan wajah pucat pasi.

Murid-murid lain saling berpandangan, syok. Mulut-mulut yang sebulan ini merendahkan Mona seketika bungkam seribu bahasa. Tidak ada satu pun kata makian yang lolos. Nilai Mona mutlak, hampir sempurna, mengalahkan Selly si genius sekolah dan bahkan mengalahkan Affan, suaminya sendiri.

Mona menutup mulutnya dengan tangan yang bebas, air mata haru mulai mengenang di pelupuk matanya. Usaha kerasnya begadang setiap hari, tangisnya di tengah malam karena kelelahan, semuanya terbayar lunas. Semua tatapan merendahkan di koridor itu kini berubah menjadi tatapan tidak percaya dan penuh rasa hormat yang dipaksakan.

Affan tersenyum tipis, sebuah senyuman bangga yang jarang sekali dia perlihatkan di depan umum. Dia berbalik, menghadap penuh ke arah Mona, mengabaikan ratusan pasang mata yang menonton mereka.

Affan mengulurkan tangan, menghapus setitik air mata yang lolos ke pipi Mona dengan ibu jarinya. "Kan saya udah bilang. Kamu pasti bisa, Istriku."

Kata 'Istriku' yang diucapkan Affan dengan begitu lantang dan bangga membuat beberapa siswi di dekat mereka memekik tertahan karena baper.

"Makasih... ini semua karena kamu yang ngajarin saya tiap malam," bisik Mona dengan wajah yang merona merah.

Affan terkekeh pelan, lalu mengecup kening Mona dengan lembut di depan seluruh koridor yang membeku. "Nggak, itu karena kamu hebat. Sekarang, gak ada yang berani ngerendahin kamu lagi di sekolah ini."

Affan kemudian melirik tajam ke arah Selly dan murid-murid lain yang tadi mencemooh Mona. Tatapan dingin sang ketua OSIS seolah memberi peringatan mutlak: Siapa yang berani menyentuh miliknya lagi, akan berurusan langsung dengannya.

Affan merangkul pundak Mona dengan posesif, membawa gadis itu berjalan membelah kerumunan koridor yang kini tertunduk malu. Sejak hari itu, tidak ada lagi yang berani menyebut Mona sebagai beban, karena dia adalah sang ratu yang sesungguhnya.

......................

...****************...

To be continue,

1
Shabrina Darsih
keahuan juga sm sahabat mona
jujur aja mona sm sahabatnya
klo sudah menikah sm afan
Shabrina Darsih
mona. mennding jujir aja sm sahabat nya andini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!