Rusaknya beberapa hektar tanaman padi yang tiba-tiba menguning, membuat penduduk desa yang khawatir akan gagal panen menyerbu balai desa. Mereka menuntut kelompok tani yang dipimpin Anneke Van Beek untuk bertanggung jawab.
Keadaan semakin pelik saat masa lalu sang ibu—Sulastri yang dianggap sebagai gundik kembali merebak, ditambah kedekatannya dengan Hans Williams, membuat Anne terjebak dalam pusaran tuduhan keji itu.
Mampukah Anne menyelesaikan kemelut ini dan membongkar dalang di balik terancam gagal panennya pertanian desa?
“Putra mu memanglah tampan paras rupa, bersahaja dalam tutur kata, tapi dia tak lebih dari keledai dungu yang bersembunyi di balik ketiak ibunya.” Anneke Van Beek.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AVB 33
Matahari telah sepenuhnya sembunyi berganti bulan yang bergulung awan mendung. Serangga liar berderik berat, membelah sunyi. Kepulan asap kretek menggantung tipis di udara berbaur wangi lumpur dan rumput basah sisa gerimis petang.
Sudah tiga hari sejak terbongkarnya kecurangan pada pertanian desa, Anne selalu berada di persawahan tiap malam menjelang, tubuhnya yang mungil memudahkannya menyusup pada rimbunnya tanaman padi.
Sudut bibir gadis telah bercampur dengan lumpur itu terangkat samar saat mendengar derap langkah yang mengendap-endap ke arahnya, manik tajamnya mengintai bagai elang tengah mencari mangsa.
“Cecunguk bodoh itu!” geramnya saat melihat Rusli berjalan sambil menoleh kanan kiri.
Penuh kehati-hatian Anne merayap lebih mendekat, wajah ayu tak lagi berupa, rambut hitam dibiarkan terurai berantakan, tepat saat Rusli sudah berjongkok, siap membuka tutup botol dan menumpahkan isinya, Anne muncul sambil setengah telungkup dari rimbunnya padi.
“Mau ngapain malam-malam begini, Kang mas,” suaranya terdengar pelan, mendayu dan penuh penekanan.
Rusli sontak terbelalak, badan sedikit gempal nyaris terjengkang, mulut belum sempat berteriak telah lebih dulu di bungkam Anne. Gadis itu begitu gesit menjatuhkan Rusli sampai tiarap ke tanah basah.
“Rupanya kowe selama ini wereng ee. Bagus.” Anne menduduki badan pria paling lantang melayangkan tuduhan padanya, tangan penuh lumpur menekan kuat mulut Rusli, hingga sedikit mendongak ke arahnya.
“Denger. Saiki belum waktune kowe diarak keliling kampung, jadi kalau kowe mau selamat, turuti semua perintahku. Denger tidak! Jawab?!” Anne menarik kuat rambut Rusli, tekanan pada mulut kian mengencang.
Susah payah Rusli mengangguk, badan gemetaran tak karuan.
“Berpura-puralah tak terjadi apa-apa, lanjutkan pekerjaan sesuai perintah mereka. Pakai obat yang sudah aku siapkan itu.” Anne menunjuk menggunakan mata botol sama rupa yang tergeletak tak jauh dari tempat ia melumpuhkan Rusli. “Setelah malam ini, laporkan semua yang diperintahkan Maria dan tua bangka itu padaku. Mengerti!”
Rusli hanya berkedip, tak mampu lagi sekedar menggerakkan kepala sebab tangan Anne telah melingkar di lehernya, siap mencekik, menghentikan napasnya.
“Tetap berada di posisimu sampai aku menghilang di pohon besar itu, cari alasan yang masuk akal kalau si tua bangka itu tanya kowe kenapa. Mengerti?!” tegas Anne.
Ia kemudian kembali merangkak menyusuri galengan, sampai pada sawah paling pinggir, lalu melompat masuk ke dalam parit, sebelum naik ke ladang singkong yang berada sedikit lebih tinggi dari sawahnya. Mendung gelap ditambah pakaiannya yang serba hitam, memudahkan gadis itu untuk menghilang di kegelapan.
Takut-takut Rusli mendongakkan kepala, memastikan Anne telah berada di tempat aman, lalu perlahan bangkit, duduk dengan berselonjor kaki. Napasnya terengah-engah, tenggorokan kesulitan menelan ludah bercampur tanah. Baru hendak berdiri, suara Kasman mengejutkan, membuatnya kembali terjerembab di kubangan.
“Bocah goblok! Malah ngopo kowe di tengah sawah ngunu?!” seru pria berkumis tebal itu.
Rusli meringis kesakitan, tangan mengusap kepala tak lagi berwujud manusia, mirip kerbau baru selesai membajak sawah. “A–anu, Pak. Nggak sengaja menginjak ular sawah.”
“Goblok! Cepat bangun dan selesaikan pekerjaan sebelum orang-orang itu sampai sini,” titah Kasman.
Tergopoh-gopoh Rusli berdiri, lalu mengambil botol obat untuk dicampurkan pada tangki semprot yang tadi sempat ia turunkan dari punggung sebelum Anne mengejutkannya.
“Besok lagi campurkan sewaktu kowe di daratan biar tak kerepotan seperti ini,” geram Kasman saat melihat tangan Rusli kesulitan membuka tutup botol sebab gemetaran.
Diambilnya paksa botol dalam genggaman, tanpa memeriksa isinya, langsung menumpahkan pada tangki.
“Semprot yang rata, kalau perlu tanaman kacang hijau yang baru bersemi itu semprot juga biar modar sekalian,” lanjutnya sambil mendorong punggung Rusli.
Rusli mengangguk ragu, bibir bergumam ingin berucap, namun seketika terkunci rapat saat netranya beradu tatap dengan seorang wanita yang menyeringai ngeri dari balik pohon besar.
Gegas ia memompa tangki, berjalan menyusuri petak satu ke petak lainnya, menyemprotkan obat yang tak ia yakini hanya berisi air biasa.
Lewat tengah malam pekerjaan pria berkulit hitam mengkilat itu selesai, keringat dingin bercucuran, bibir pucat, tatapan kosong. Perubahan itu menarik perhatian Kasman yang menunggunya di pinggir jalan, duduk bersila pada batu besar sambil menunggu gagang pancing yang ia letakkan asal di parit dangkal.
“Kowe habis lihat demit? Raimu kok pucet gitu,” seru pria yang merupakan bapak kandung dari Rusli.
“S-sepertinya iya, Pak, a-ada bayangan yang mengintai dari balik pohon besar itu.” Ditunjuknya pohon di mana Anne bersembunyi, badan semakin menggigil, kaki bak kehilangan tulang sampai tak sadar celana basah oleh cairan berbau pesing.
“Bocah edan! Asu!” umpat Kasman sebab terkena cipratan air kencing Rusli.
Laki-laki begitu memulai pekerjaan di tinggal sendiri itu tak seberapa yakin yang dilihatnya Anne sebab telah berganti pakaian tak lagi hitam-hitam, melainkan putih dengan rambut panjang terurai berantakan. Wajah terlihat pucat, tatapan tajam tak berkedip, seolah telah mengawasinya.
“P-pak, a-ayo …pu-pulang. A-aku … a-aku ….”
Rusli tak mampu menyelesaikan ucapannya, jatuh pingsan.
“Semprul! Malah semaput. Nyusahke orang tua saja,” dengus Kasman seraya menyeret badan Rusli ke atas dokar mereka.
Dibalik batang pohon besar, Anne terkikik sendirian. Ia sudah berjaga, memakai baju rangkap dua, takut masuk angin jika terlalu lama mengenakan pakaian basah. Gadis dijuluki berbahan baja oleh Hans Williams itu, memang paling tak tahan dengan pakaian basah juga air hujan. Bekerja tak mengenal waktu, begadang bermalam-malam tak kan membuatnya tumbang, namun akan langsung meriang jika terkena gerimis meski hanya setetes saja.
Sedikit terburu-buru, Anne merapikan baju serba hitam dipinjamnya dari Broto ke dalam karung, rambut sedikit lembab, terdapat banyak rumput kering serta lumpur digelung asal. Dahi Anne sempat mengernyit saat melihat botol bekas digunakan untuk tempat herbisida, namun urung saat ingin melihat isi dalamnya sebab kilat telah menyambar-nyambar di langit yang gelap.
Baru hendak beranjak dari tempatnya, sebuah tangan lebar membekap mulut gadis itu, seolah sekarung kapas yang baru saja di jemur dibawah terik surya, tubuh mungil Anne di panggul memasuki hutan belantara.
Tak memperdulikan geraman serta pukulan pada punggung, lelaki itu terus membawa Anne sampai pada jalan kecil berada di perbatasan hutan, cukup jauh dari pemukiman serta area persawahan.
“Turunkan aku!” pekik Anne, suasana asing membuatnya sedikit ngeri, terlebih jalanan itu jarang sekali ia lewati dengan kuda nya.
“Diam atau kau mati di makan monyet hutan!”
Bersambung.
Hai pemirsa yang budiman, bagaimana kabar Anda hari ini? Semoga selalu dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa. Gimana masih betah kah dengan kisah Anne?
Alurnya sedikit lambat yawwww, tapi tenang, habis ini kita masuk part baku hantam kok. Wehehehehhe …
Terima kasih untuk yang masih setia, jangan lupa terus like, komen dan pencet permintaan update yawww biar saya makin semangat menghayalnya, lebih lagi kalau diberi bintang 5.
Salam sehat untuk kita semua.
Luv, Anna🌾
apakah vampire nya bakallan bangkitt
aku pencett sesuaii mandattt yooww🙏
jgn2 pakde broto berucap
istrine ruslii jadi teman penghangatt kasmaan donkk 🤣
ngertio ngunuu
di potong habisss burunge kasman sama pak dokter dlu
di kasih racun ibu mu wae langsung ditenggak kog,
mana punya pendapat km gono
spy argono paham ,harta yg di incar nya
padahal itu jebakan terselubung
marni cuma mau memperalat nya saja
demi mengeruk kekayaan kartijo
anne dgn gamblang menjelaskan ke kamu argono , fakta nyata yang tertimbun doktrin busuk mbok mu Dewe
siapa yg nyulikk marni
kasman uduu kuii