Indonesia
NovelToon NovelToon
3 NASIB YANG SAMA

3 NASIB YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:BXB / Balas Dendam
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: Kal Ipah

tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri




#bl
#bxb

yang gak suka gak usah baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3.

Pagi hari, ketiga pemuda itu terbangun karena matahari sudah meninggi. Mereka segera bersiap-siap untuk pergi ke kafe milik Tian.

"Pagi, Kak Tian," ucap Elvian sembari duduk di samping Tian.

"Pagi," ucap Tian.

"Hoam... pagi," ucap Brian yang masih mengantuk.

"Hmm, pagi," balas Tian.

Tian yang tidak melihat Revangga di sana pun bertanya, "Kemana Revangga? Belum bangun?"

"Mungkin masih di kamar," ucap Elvian.

"Pagi, Kak Tian," ucap Revangga yang baru keluar dengan wajah masih mengantuk.

"Pagi. Sarapan dulu, baru kita ke kafe," ucap Tian.

"Iya, Kak." Mereka pun sarapan bersama dengan menu nasi goreng buatan Tian.

Setelah sarapan, mereka pergi ke kafe menggunakan mobil milik Tian, karena Tian tidak memperbolehkan mereka naik sepeda motor. Sekitar 15 menit kemudian, mereka akhirnya sampai di kafe.

Mereka membersihkan kafe itu bersama-sama sebelum jam buka. Setelah dirasa cukup bersih, mereka mulai membuka kafe. Tian dan Revangga bertugas sebagai barista, sementara Brian dan Elvian menjadi pelayan.

Para pembeli mulai berdatangan.

"Mau pesan apa, Mbak cantik?" tanya Brian ramah.

"Saya mau pesan americano satu," ucap wanita itu.

"Oke, tunggu sebentar ya, Kakak cantik," ucap Brian dengan sedikit gombalan.

"Oke, tampan," balas wanita itu merespons candaan Brian.

"Elo, Brian, suka banget deh gombalin cewek," bisik Elvian.

"Gue kan hanya bercanda doang buat mencairkan suasana," bela Brian.

"Mencairkan suasana gimana? Kalau cewek-cewek itu meleleh sama elo dan beneran suka, gimana?" tanya Elvian lagi.

"Ya dipacarin lah, gitu aja repot, Bro," ucap Brian santai.

"Haaa... terserah elo deh," sahut Elvian pasrah.

"Kenapa kalian malah ribut? Sana layani pembeli! Dan Brian, ini antar pesanan ke tempat wanita yang kamu gombalin tadi," lerai Tian.

"Siap, Pak Bos!" Brian segera membawa pesanan itu ke meja sang wanita. "Silakan dinikmati, Mbak cantik."

Terima kasih," ucap wanita itu tersenyum.

Di balik meja barista, Tian menatap Revangga. "Ternyata kamu bisa membuat kopi juga ya?"

"Aku pernah belajar dan sempat ikut teman bekerja jadi barista, jadi sedikit banyak aku bisa," jawab Revangga.

"Kamu sepertinya serba bisa. Apa kamu bisa memasak juga?" tanya Tian penasaran.

"Iya, aku juga bisa memasak, mencuci, dan beres-beres rumah."

"Wah, elo ternyata bisa semua hal ya," puji Elvian kagum.

"Gue kan tinggal sendiri di luar negeri, jadi dituntut harus mandiri dan bisa segala hal," jelas Revangga.

"Seharusnya kalian juga bisa seperti Rangga, serba bisa. Jadi kalau kalian menikah nanti, punya pasangan yang serba bisa juga," celetuk Tian.

"Loh, loh, kenapa ujung-ujungnya bahas nikah? Aku belum mau menikah, masih mau menikmati kebebasan dulu," protes Elvian.

"Gue straight, Kak. Jadi kalau mau menikah, setidaknya gue cari wanita yang cantik," timpal Brian.

"Tampang elo itu uke, bukan seme," ejek Elvian.

"Ogah banget gue jadi uke! Lagian gue gak pernah pacaran sama pria," bantah Brian tidak terima.

Iyalah, elo kan sukanya gombalin wanita, pasti belum pernah pacaran sama uke," sahut Elvian memanas-manasi.

"Gue kan emang straight!" tegas Brian.

"Mengaku straight juga tetap aja ditinggalin, iya kan, Brian? Hmm? Hmm?" Elvian menaik-turunkan alisnya sengaja menggoda.

"Ck, au ah!" Brian mendengus kesal sambil melemparkan tatapan sinis ke arah Elvian.

"Sudah-sudah, jangan berteman," lerai Revangga.

"Bertengkar!" koreksi Elvian dan Brian kompak.

"Iya, maksudnya itu. Tuh, ada pelanggan baru datang, layani sana," ucap Revangga menunjuk ke arah pintu.

Elvian segera mendekati pelanggan itu. "Halo, mau pesan apa..."

El, lama tidak bertemu. Sekarang kamu bekerja di sini?" tanya pria itu.

"Dek..." Wanita di sebelah pria itu ingin berbicara, tetapi Elvian langsung menyela dengan cepat.

"Mau pesan apa? Kalau tidak ada, saya permisi." Elvian berbalik hendak pergi, tetapi pergelangan tangannya langsung ditahan oleh wanita yang memanggilnya adik tadi.

"El, bisa bicara sebentar?" mohon wanita itu.

"Saya sedang bekerja." Elvian menatap mereka berdua dengan tatapan yang dipenuhi rasa benci. "Mau pesan apa?" tanya Elvian sekali lagi, menuntut jawaban cepat.

"Cappuccino satu, sama kopi biasa satu," jawab si pria akhirnya.

"Tunggu sebentar." Elvian langsung melenggang pergi dari hadapan mereka tanpa sepatah kata lain.

Tian dan Revangga menyadari ada yang aneh dengan ekspresi wajah Elvian yang tampak mati-matian menahan amarah.

"Kenapa wajah kamu, El?" tanya Tian khawatir.

"Seperti menahan amarah begitu. Apa pelanggan itu membuat masalah sama elo?" tanya Revangga menimpali.

"Huuuh... wanita itu sama suaminya ada di sini," ucap Elvian dengan helaan napas berat.

"Siapa maksud kamu?" tanya Tian bingung.

"Luna dan Bastian."

Kenapa mereka ada di sini? Bukankah seharusnya mereka ada di Inggris bersama keluarganya?" tanya Tian dengan wajah penuh kebingungan.

"Aku juga gak tahu, Kak. Aku malas banget ketemu mereka. Rangga, elo aja ya yang melayani mereka?" pinta Elvian memohon.

"Oke, apa pesanan mereka? Biar sekalian gue yang antar," jawab Revangga pengertian.

"Aaaa, elo baik banget sih!" ucap Elvian spontan sambil menempelkan pipinya ke pipi Revangga manja.

"Iya, iya." Revangga segera menyelesaikan pesanan itu dan langsung mengantarkannya ke meja Luna dan Bastian.

"Ini pesanan atas nama Kak Luna dan Mas Bastian," ucap Revangga sopan saat menyajikan cangkir-cangkir kopi.

"Kenapa kamu yang mengantar? Kemana pelayan yang tadi?" tanya Luna mencari-cari.

"Dia sudah pulang, Kak, soalnya ada jadwal kuliah," jawab Revangga berbohong demi melindungi Elvian.

"Sepertinya dia memang belum mau bertemu dengan kita. Dia masih marah pada kita," ucap Bastian pelan kepada istrinya.

"Aku tahu, Mas. Tapi sampai kapan dia akan marah pada kita? Sudah 4 tahun dia pergi dari rumah dan belum juga memaafkan kita," ucap Luna dengan wajah yang tampak begitu sedih.

(Nasib gue sama El ternyata sama saja ya,) ucap Revangga membatin pilu dalam hati.

"Silakan dinikmati, Kak, Mas," ucap Revangga pamit undur diri.

"Terima kasih," balas Luna.

Revangga berjalan kembali ke balik meja barista.

"Gimana? Orang-orang itu masih di sana?" tanya Elvian berbisik.

"Mereka tanyain elo tadi, dan gue bilang kalau elo sudah pulang karena ada kuliah," jawab Revangga.

"Makasih banyak ya, Ngga."

Tiba-tiba Brian datang mendekat seraya merebahkan kepalanya di meja. "Haaaa... sial, capek banget sumpah! Kaki gue pegal banget gara-gara pelanggan lagi ramai-ramainya."

"Seharusnya elo bersyukur hari ini pelanggan ramai, bukannya malah mengeluh," cibir Elvian.

"Bukan mengeluh, tapi cuma capek aja. Kak Tian, kenapa gak nambah karyawan aja sih? Biar banyak yang bantu dan kita gak perlu terlalu capek begini," usul Brian.

"Kalau nambah karyawan, Kakak takutnya nanti gak bisa gaji mereka. Kamu tahu sendiri kan kalau kafe ini kadang ramai, kadang sepi," jelas Tian bijak.

"Benar juga sih," gumam Brian pasrah.

"Jangan menyerah, tetap semangat!" seru Revangga memotivasi.

"SEMANGAT!" sahut semuanya bersamaan.

"Aye-aye, Joss!"

"Hahaha! Hahaha!"

Mereka tertawa bersama. Candaan sederhana itu tanpa sadar mengembalikan semangat mereka yang sempat luntur untuk kembali bekerja.

Tanpa mereka sadari, dari sudut ruangan, Luna dan Bastian terus memperhatikan Elvian yang bisa tertawa lepas bersama teman-temannya.

"Dia terlihat sangat bahagia bersama mereka," ucap Luna lirih.

"Saya baru sadar, kalau Elvian terlihat sangat indah dan manis saat tertawa seperti itu," ucap Bastian dengan suara sangat pelan.

"Ayo, Mas, kita pulang," ajak Luna.

"Hmm."

Sementara itu di meja kasir, tawa mereka masih tersisa. "Hahaha! Aduh, perut gue sakit banget," ucap Revangga sambil memegangi perutnya karena terlalu banyak tertawa.

"Kocak elo mah, Brian! Ada aja tingkah elo yang bikin kita ketawa," ucap Elvian menyeka sudut matanya.

"Sudah, sudah. Ayo kembali kerja lagi," lerai Tian sambil tersenyum hangat.

1
fakhri
Lanjutkan, semangat berkarya 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!