"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Gelora Cinta dan Ancamannya di Tengah Malam
Suara derum halus mesin SUV hitam itu membelah jalanan kota Jakarta yang mulai merayap sore. Di kursi penumpang, Nadira duduk bersandar santai sambil memangku kotak kue berisikan strawberry shortcake favoritnya. Dengan antusias, jemarinya memotong remahan kue lembut yang dilapisi krim putih nan menggiurkan.
"Enak banget, Ka! Sumpah, lo harus cobain!" seru Nadira dengan mata berbinar, menyuapkan sepotong kue besar ke dalam mulutnya sendiri tanpa ragu.
Askara yang sedang fokus menyetir hanya bisa tertawa kecil melirik tingkah kekanak-kanakan istrinya. "Makannya pelan-pelan, Sayang. Gak ada yang mau merebut kue lo kok."
"Lagian rasanya gak berubah dari zaman gue SMA tahu!" celoteh Nadira heboh dengan pipi mengembung penuh kue. "Dulu tuh kalau mau beli ini harus antre panjang banget sama—"
"Nad, tunggu sebentar," potong Askara lembut. Ia memelankan laju mobilnya di persimpangan jalan yang lengang.
"Kenapa, Ka?" tanya Nadira polos, memiringkan kepalanya.
Askara memutar tubuhnya menghadap Nadira. Pandangan matanya mengunci sisa krim putih manis yang menempel di sudut bibir atas Nadira. "Ada krim di bibir lo."
"Eh? Mana?" Nadira refleks hendak mengambil tisu di dasbor.
Namun, sebelum jemari Nadira menyentuh kotak tisu, tangan kanan Askara sudah menahan pergelangan tangannya dengan lembut. Pria itu membungkukkan tubuhnya mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga napas hangatnya berembus di ceruk leher Nadira.
"Biar gue yang bersihin," bisik Askara dengan suara rendah yang amat menawan.
Bukannya menggunakan tisu atau ibu jarinya, Askara justru menyesap lembut krim di sudut bibir Nadira menggunakan bibirnya sendiri. Ciuman lembut itu tak berhenti di situ, Askara melumat bibir atas dan bawah Nadira secara perlahan, menyapu rasa manis stroberi dan krim berpadu dengan wangi maskulin khas dirinya.
"Mhnggh... As-ka..." desah Nadira menahan napas, matanya terpejam merasakan sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
Askara menyunggingkan senyuman tipis usai melepaskan pagutannya. Ia menyesap bibirnya sendiri seolah menikmati rasa kue tersebut. "Manis. Kue-nya enak, tapi bibir istri gue jauh lebih enak."
"ASKARA! Kebiasaan banget sih!" jerit Nadira gagap dengan wajah yang mendadak merona merah padam, buru-buru menyembunyikan wajahnya di balik kotak kue.
Askara tertawa renyah, mengelus lembut rambut gelombang Nadira sebelum kembali melajukan mobilnya menuju rumah mereka.
Rasa kenyang berpadu dengan hembusan AC mobil yang sejuk perlahan-lahan membuat kelopak mata Nadira terasa kian berat. Tak butuh waktu lama, wanita itu sudah terlap tertidur lelap dengan kepala bersandar miring di jendela mobil.
Pukul lima sore, mobil Askara akhirnya terparkir rapi di garasi rumah utama mereka.
Askara mematikan mesin mobil, lalu menoleh menatap wajah damai istrinya yang sedang tertidur pulas. Dengan sangat hati-hati, Askara keluar dari mobil dan membukakan pintu samping. Pria itu menyusupkan tangannya di bawah lipatan lutut dan punggung Nadira, merengkuh tubuh ramping wanita itu secara bridal style ke dalam pelukannya.
Nadira hanya bergumam pelan dalam tidurnya, melingkarkan lengannya di leher Askara tanpa terbangun. Askara melangkah perlahan menaiki tangga menuju kamar utama di lantai dua.
Begitu tiba di kamar dan membaringkan tubuh Nadira di atas king-size bed yang empuk, Askara tak langsung menjauh. Tatapan matanya yang pekat terkunci pada paras cantik istrinya. Mengingat bagaimana anggunnya Nadira dalam balutan gaun pengantin di butik tadi siang—yang terpaksa ia tahan rasa dahaganya karena tempat umum—gejolak dalam dada Askara kini membakar tanpa ampun.
Askara merangkak naik ke atas ranjang, mengurung tubuh Nadira di bawah naungan dada bidangnya. Ia membungkuk, mendaratkan ciuman bertubi-tubi di kening, pipi, hingga merayap turun ke leher mulus Nadira.
"Nghh... Aska..." gumam Nadira tersentak bangun, matanya yang menyipit menatap linglung pada suaminya yang sudah berada tepat di atasnya. "Udah sampai ya...?"
"Udah, Sayang," bisik Askara serak di dekat telinga Nadira.
Tanpa memberikan jeda bagi Nadira untuk mengumpulkan kesadarannya secara utuh, Askara langsung menyambar bibir wanita itu dalam sebuah ciuman yang amat intens, panas, dan liar. Lidahnya menyesap dalam, menuntut balasan penuh tanpa memberikan ruang untuk bernapas.
"Mmph... As-ka! Hah..." lenguh Nadira terengah-engah saat Askara melepaskan pagutannya sejenak hanya untuk memindahkan kecupannya ke sepanjang tulang selangka dan dada atas Nadira.
Jemari Askara dengan lincah membuka kancing gaun santai yang dikenakan Nadira, menyapukan ciuman-ciuman panasnya ke seluruh inci kulit mulus istrinya. Sensasi hangat dan getaran membakar itu membuat pertahanan Nadira runtuh seketika. Tubuhnya melengkung pasrah, jari-jarinya meremas erat rambut tebal Askara.
"Ah... Aska... pelan-pelan..." desah Nadira melayang, tak sanggup menolak sentuhan memabukkan dari pria yang amat dicintainya itu.
Namun, saat Askara mulai menyatukan tubuh mereka kembali, rasa sesak dan perih yang masih tersisa dari malam sebelumnya membuat Nadira tersentak kaget.
"Aww! Sakit, Askara!" omel Nadira spontan sambil menggigit bahu kokoh Askara karena kesal. "Katanya mau pelan-pelan! Punya lo kan gede banget, monster! Masih perih tahu!"
"Maaf, Sayang... maaf," bisik Askara meringis pelan merasakan gigitan di bahunya, namun ia tetap bergerak dengan ritme yang begitu lembut dan hati-hati hingga rasa sakit itu berganti menjadi gairah yang membakar.
Pergulatan di atas ranjang itu berlangsung begitu panjang dan penuh gairah. Di pertengahan pergumulan, Nadira yang tak mau kalah tiba-tiba membalikkan posisi tubuh mereka. Dengan wajah yang merona merah namun tatapan yang berani, Nadira duduk di atas tubuh Askara, mengambil kendali permainan sepenuhnya.
Mata Askara membelalak lebar, napasnya memburu menyaksikan keberanian istrinya. "Nad... lo..."
"Kenapa? Kaget?" ledek Nadira menahan senyum malu, menyapu rambutnya ke belakang dengan gaya anggun yang amat menggoda. "Jangan kira cuma lo doang yang bisa bikin gue gila, Aska!"
Pergerakan Nadira yang lihai dan berani di atasnya sukses membuat kontrol diri Askara benar-benar hancur berkeping-keping. Pria itu menyunggingkan senyuman liar yang amat ketagihan.
"Bagus, Istriku... bikin suami lo ini makin gila," geram Askara rendah, memegang pinggul Nadira dan membantunya mempercepat tempo hingga kepuasan membumbung tinggi menyelimuti mereka berdua di remang malam.
Usai gelora cinta yang melelahkan namun begitu harmonis itu usai, Nadira terkulai lemas di atas dada bidang Askara. Deru napas mereka menyatu. Askara mengusap punggung polos istrinya dengan penuh kehangatan hingga akhirnya Nadira terlelap pulas dalam dekapan nyamannya.
...****************...
Pukul sebelas malam, memastikan Nadira sudah benar-benar tertidur nyenyak di balik selimut tebal, Askara perlahan menyibakkan selimut. Ia mengenakan celana panjang dan kaus santainya, lalu melangkah keluar kamar menuju ruang kerja pribadinya yang terletak di sudut lantai dua.
Ruangan itu hening. Askara duduk di balik meja kerja jatinya, menyalakan lampu meja yang membiaskan cahaya kekuningan. Ia merogoh ponselnya dan menekan tombol panggilan.
"Halo, Pak Askara," suara Bimo terdengar sigap di seberang telepon.
"Gimana laporan mengenai mobil pengekor tadi siang?" tanya Askara dingin, raut wajahnya yang tadinya hangat kini berubah menjadi sangat tegas dan mengintimidasi.
"Laporan dari tim sekuritas sudah keluar, Pak. Mobil sedan hitam itu memang terdaftar atas nama kerabat Sagara—mantan anak magang di Ruella Creative yang dulu dipecat Bu Nadira," terang Bimo cepat. "Namun ada hal penting lainnya, Pak."
Askara menyipitkan matanya. "Apa?"
"Malam ini, sebuah kurir khusus mengirimkan sebuah bingkisan kain dan surat berstempel emas ke kantor pusat Pradipta Group. Bingkisan itu ditujukan langsung untuk Bapak dari Jaster Adiguna."
Mendengar nama Jaster Adiguna, rahang Askara seketika mengeras hebat. "Apa isi suratnya?"
"Isinya adalah anggur merah langka tahun 1982 dan sebuah kartu ucapan berukir, Pak. Tulisannya: 'Selamat atas pernikahanmu dengan Nadira Ruella, Askara. Nikmatilah kebahagiaanmu selagi kamu masih bisa menjaganya dari jangkauanku.'"
Pencahayaan remang di ruang kerja itu makin mempertegas garis wajah Askara yang mendingin bak es. Jaster Adiguna—musuh terbesarnya di dunia bisnis yang baru saja kehilangan proyek Dubai—kini secara terang-terangan sudah mengarahkan radar ancamannya pada Nadira.
"Bimo," panggil Askara dengan nada suara yang begitu dalam dan berbahaya.
"Ya, Pak Askara?"
"Mulai besok pagi, tingkatkan status keamanan di sekitar Nadira ke level tertinggi. Gandakan pengawal tersembunyi di kantor Ruella Creative. Pastikan Jaster maupun Sagara tidak bisa mendekati Nadira seinci pun," perintah Askara tegas.
"Baik, Pak! Langsung saya laksanakan!"
Askara mematikan panggilan telepon. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kerja, menatap lurus ke arah jendela luar yang gelap. Tangannya mengepal kuat di atas meja.
Siapapun yang berani mencoba mengusik atau menyentuh sehelai rambut pun dari Nadira—baik itu Sagara dengan obsesi gelapnya maupun Jaster dengan dendam bisnisnya—Askara bersumpah akan menghancurkan mereka tanpa sisa.
semangat terus thor...
/Heart/