Masih dalam masa berkabung karena ayah dan semua saudara laki-lakinya gugur di medan perang. Bai Ningyuan, putri sulung jenderal Bai harus menerima kenyataan pahit yang sangat menyakitkan.
Putra mahkota, suaminya telah diangkat menjadi kaisar. Tapi titah pertama yang kaisar itu tulis adalah menurunkan pangkat Bai Ningyuan menjadi selir.
Tangan Bai Ningyuan gemetar, suaminya telah menjadikannya selir. Karena harus mengangkat putri perdana menteri Su menjadi permaisuri.
"Nyonya, silahkan berkemas. Dan pindah dari istana timur ini menuju istana Hanzi!" seru Kasim Wang.
"Nyonya..." pelayan di sisi Bai Ningyuan tampak sedih, matanya sudah berkaca-kaca.
"Lin'er, bereskan barang. Yang mulia ingin aku menjadi selir... " Bai Ningyuan terkekeh lirih, "maka aku akan menjadi selirnya!"
'Xuan Pingyan! jangan menyesali keputusanmu ini!' geram Bai Ningyuan dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Bai Ningyuan masih berdiri di depan pintu gerbang selatan. Bahkan dua gerbang sebelumnya, dia sama sekali tidak bisa lewat. Perdana menteri Su dan anak buahnya menghalanginya, mengatakan kalau Bai Ningyuan mau keluar istana harus punya surat ijin dari kaisar atau paling tidak dari permaisuri Su.
Tangan Bai Ningyuan terkepal, ketika di depan gerbang selatan ini pun, dia masih di hadang. Untungnya tabib He sudah di bawa oleh Pangeran Ziyu, kalau tabib He bersama dengannya. Entah bagaimana nasib kakaknya. Karena bahkan sampai sekarang, Bai Ningyuan belum bisa keluar dari Istana.
"Nyonya..." Lin'er yang melihat mata merah dan tangan terkepal Bai Ningyuan sudah merasa khawatir.
Namun yang dikhawatirkan oleh Lin'er bukan Bai Ningyuan terluka. Dia sama sekali tidak khawatir, kalau nyonya nya terluka. Hanya saja, Lin'er khawatir kalau para penjaga yang menghalangi nyonya nya itu akan berakhir dengan tragis nantinya.
Kusir kuda dari istana pangeran Ziyu sudah turun dan bicara baik-baik pada para penjaga itu. Sayangnya, para penjaga itu sudah diganti dengan orang-orang dari kediaman perdana menteri Su. Karena kaisar sedang bersama dengan ibu suri dan permaisuri di istana utama. Makanya perdana menteri Su sampai berani melakukan semua ini. Pastinya pertemuan itu tidak ada yang bisa menganggu. Tidak akan ada juga yang mengadukan apa yang dilakukan oleh perdana menteri Su ini pada kaisar. Katakanlah dia bebas melakukan apapun untuk saat ini.
Brukk
Kusir kuda yang bahkan membawa giok pengenal istana pangeran Ziyu. Bahkan di dorong oleh dua orang pengawal yang berdiri paling depan.
"Aku katakan tidak boleh keluar, itu artinya tidak boleh keluar! kami adalah pengawal khusus dari kediaman perdana menteri. Perdana menteri memerintahkan pada kami, tanpa surat ijin dari Kaisar atau permaisuri, yang bukan bagian dari keluarga kerajaan, sama sekali tidak boleh keluar dari istana!"
Pria yang berpakaian pengawal itu bicara dengan sangat sombong.
"Ini adalah sesuatu yang mendesak! pangeran Ziyu yang memberi perintah" kata kusir itu masih berusaha untuk bernegosiasi dengan para pengawal yang tidak mungkin akan pernah memberikan mereka kesempatan dan jalan untuk keluar.
Tangan Bai Ningyuan segera terkepal. Ketika salah satu pengawal bahkan menendang dada kusir itu.
Dugh
"Memangnya siapa pangeran Ziyu itu? pangeran yang sudah tidak punya kekuasaan di istana. Sudah tidak punya andil apapun di istana. Perintahnya bahkan tidak perlu dipatuhi oleh pelayan. Atas dasar apa kami harus patuh pada pecundang seperti itu!"
Rahang Bai Ningyuan mulia mengeras. Bahkan empat orang yang berjaga di atas gerbang bisa melihat kilatan cahaya mata Bai Ningyuan yang terlihat sangat marah itu. Mereka berempat saling pandang, mereka adalah penjaga yang benar-benar bertugas disana. Bukan seperti enam orang yang berada di bawah, yang merupakan antek-antek perdana menteri Su.
"Kalian, tidak bisa bersikap seperti ini. Dimana hati nurani kalian..."
Dugh
Satu orang lagi pengawal memukul kusir itu. Bai Ningyuan tidak bisa menahan diri lagi.
"Lin'er, apapun yang terjadi. Tetap di dalam kereta!" kata Bai Ningyuan.
Bai Ningyuan jangan cepat melompat turun dari atas kereta kuda itu. Dengan gerakan cepat, dia menarik pedang yang ada di salah satu pinggang pengawal perdana menteri Su.
Tak ada yang dia pikirkan lagi, anaknya sudah di jauhkan darinya, dia istana ini tadinya dia punya rencana menghancurkan Su Qingyue dan Xuan Pingyan. Tapi itu akan dia pikirkan lagi nanti. Sekarang yang ada di otaknya hanya, menghabisi enam penjaga yang sejak tadi terus menghina Xian Ziyuan di depannya.
Sringgg
Enam pengawal itu sama-sama menoleh. Hanya satu detik saja, Bai Ningyuan sudah berhasil menarik pedang tajamm dari sarung yang di gantung di pinggang salah satu pengawal perdana menteri Su itu.
"Nyonya..." lirih kusir yang sudah terjerembab di tanah karena di tendang beberapa kali oleh pengawal perdana menteri Su.
Bai Ningyuan berdiri dengan pedang terhunus di tangannya, tubuhnya tegak dan tak bergerak, tetapi seluruh auranya telah berubah menjadi begitu dingin hingga udara di sekelilingnya seolah ikut membeku. Sorot matanya tertuju lurus kepada enam pengawal di hadapannya.
Tidak ada lagi ketenangan di wajahnya, hanya kemarahan yang ditekan begitu dalam hingga justru terasa lebih mengerikan. Kedua matanya menyipit tajam, gelap dan penuh tekanan, seakan-akan setiap tatapan yang dilemparkannya mampu menembus tubuh keenam orang itu sampai ke tulang.
Tatapannya kemudian turun sekilas pada tubuh kusir yang tergeletak dalam keadaan mengenaskan, sebelum kembali mengarah kepada mereka. Rahangnya mengeras, jemarinya menggenggam gagang pedang semakin kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Keenam pengawal itu saling pandang. Mereka tentu saja bukan tidak tahu seperti apa sepak terjang keluarga Bai. Biarpun Bai Ningyuan perempuan, tapi dia juga pernah berada di medan perang. Justru enam orang berawal dari kediaman perdana menteri itu yang belum pernah merasakan bagaimana keras dan kejam nya medan perang.
Bai Ningyuan mengangkat sedikit ujung pedangnya, bilahnya berkilat di bawah cahaya matahari. Tatapannya menyapu keenam pengawal itu satu per satu, tanpa tergesa, tanpa berkedip. Pada saat mata Bai Ningyuan berhenti pada pengawal terakhir, pria itu tanpa sadar menelan ludah.
Ada sesuatu dalam tatapan tersebut yang membuat mereka semua mengerti, Bai Ningyuan tidak sedang mengancam mereka. Ia sedang menahan dirinya sendiri agar tidak langsung menghunus pedang lebih jauh daripada yang diperlukan.
"Enam orang mengeroyok seorang kusir yang tidak mampu melawan..." desisnya, matanya kembali menajam. "Kalian bahkan tidak pantas disebut pengawal." pekik Bai Ningyuan marah.
"Ka... kami hanya menjalankan tugas. Jika nyonya selir tetap memaksa keluar. Tuan perdana menteri pasti akan melaporkan nyonya selir pada kaisar!" gertak salah satu pengawal paling depan.
"Siapa yang mau memaksa keluar. Aku sedang menegakkan keadilan di sini. Kalian berenam, sudah membuat kusir pangeran Ziyu terluka parah. Aku akan menegakkan keadilan untuk orang lemah dan tak berdaya ini... dia tak bisa melawan kalian. Tapi aku bisa, ha...!"
Wajah keenam pengawal itu seketika berubah. Ketakutan yang sebelumnya hanya tersimpan di balik mata kini tampak jelas di wajah mereka. Mereka mundur beberapa langkah dengan napas memburu, sementara Bai Ningyuan terus menekan tanpa memberi celah sedikit pun. Setiap tebasannya datang cepat, keras, dan terukur, membuat mereka kewalahan bahkan ketika mereka berusaha menyerangnya secara bersamaan.
"Bagaimana ini?"
"Bagaimana apanya? lawan!" pekik salah satu pengawal yang merasa terpojok.
"Serang!"
Bai Ningyuan memutar tubuh, menghindari sabetan pedang dari sisi kanan, kemudian mengayunkan pedangnya dalam satu gerakan cepat hingga pengawal itu terpaksa mundur. Tatapan Bai Ningyuan tetap dingin, tetapi amarah di dalamnya semakin membara. Tidak ada keraguan dalam setiap gerakannya.
"Kusir, kamu dengar itu. Mereka menyerang ku. Katakan itu pada pangeran Ziyu nanti!" ucap Bai Ningyuan sambil menahan serangan para pengawal itu.
***
Bersambung...
Permaisuri udah capek² cari perhatian pun, masih juga di abaikan.. 🤭
Dia tak tahu, bahkan jika dia berhasil tidur dengan kaisar, Permaisuri tak akan punya keturunan..
👧🏻 :"Ape abang.. Ingat ya, dedek selir mulia.. "
🧔🏻 :"Abang mencintaimu Ning'er.. "🤤
👧🏻 :" Dihh.. Lap dulu tuh ilerrr woyy.. "🫢
Agar tak ada yg mempersulit mu untuk datang & pergi..
Kena kan dikit tuh pedang ke lehernya, biar cacat tuh kulit nya Permaisuri Su.. 🤭
kelakuanmu aja macam a Su , Bai terus yang kau salahkan dan jadi pelampiasan 😔
boleh tanya gak sama teman teman disini, aku kan baca neh, tapi aku gak bisa nge like cerita ( dan ada tulisan akun aku di blokir) itu kenapa ya.. padahal aku gak pernah ngelapor atau ngeblok loh tapi ko aku gak bisa koment itu cerita.. padahal bagus loh cerita dia.. selama ini aku baca baik baik aja.. ko di dia aku d blok ya.. sedih..
makasih teman semua udah dengerin curhatku...
semangat kaka othor nulisnya😍😍😍😍
Kenapa hanya Kaisar yg kau buat mandul..?
Andai saja jika kau ingin menaburkan racun di sumur kediaman Perdana Menteri itu, aku bisa membantu mu selir Bai.. 🤧
Termasuk tabib², tujuan nya untuk mempersulit Bai Ningyuan sebagai selir istimewa..
Begitulah intrik yg terjadi di dalam kehidupan dunia kerajaan..