Di masa perkuliahan, di sela petualangan dan kebersamaan, benih cinta tumbuh tulus di antara Doni dan Kristin. Hati mereka saling tertaut, menyusun janji dan harapan akan masa depan. Namun setelah lulus, takdir masing-masing membawa mereka berdua ke jalan yang berbeda. Cinta yang sempat bersemi indah pun terpaksa terhenti, dan mereka berpisah — membiarkan waktu dan jarak memisahkan raga, meski perasaan itu tak sepenuhnya hilang. Beberapa tahun kemudian, takdir kembali menyatukan mereka. Saat mata mereka saling bertemu, kenangan lama bangkit seketika. Perasaan yang sempat terpendam seakan kembali menyapa, utuh seperti sedia kala. Namun kini keduanya bukan lagi anak muda yang dulu tanpa beban. Banyak hal telah berubah, banyak hal telah mengisi hidup mereka masing-masing. Di hadapan perasaan yang kembali menyapa, satu pertanyaan menggantung di udara: apakah kali ini mereka akan bersatu, atau justru kembali melanjutkan jalan masing-masing dengan kenangan yang tersimpan rapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KATA KATA YANG MENYENTUH HATI
Kristin masih berdiri terpaku di ambang pintu ruang tamu, menatap sosok Doni yang duduk dengan tenang di sana. Wajahnya masih terlihat terkejut tak percaya, namun perlahan ia melangkah mendekat dan berdiri tak jauh dari pemuda itu.
"Kak Doni..." ucap Kristin pelan, namun matanya menatap tajam penuh tanya. "Kenapa Kak Doni bisa tahu dan datang ke rumah saya?"
Doni menatap gadis itu sejenak, lalu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang seakan sengaja dibuat untuk menggoda. "Apakah itu pertanyaan yang biasa kau tanyakan kepada setiap tamu yang datang ke rumahmu?"
Pertanyaan balasan itu seketika membuat pipi Kristin memerah menahan kesal. Ia menatap lurus ke mata Doni, lalu berkata dengan nada yang sedikit meninggi namun tetap berusaha sopan.
"Tentu saja tidak! Kak Doni itu beda dari tamu-tamu lainnya. Kak Doni itu seperti makhluk asing dari Kutub Selatan yang tersesat dan nyasar sampai ke rumahku!"
Doni tak menahan tawanya lagi. Ia tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah dan tulus mendengar jawaban polos namun pedas dari Kristin. "Makhluk dari Kutub Selatan? Tidak pernah ada yang berani menyebutku demikian," ucapnya sambil tersenyum lebar. "Baiklah... aku datang hanya ingin berbicara sebentar saja. Tidak lama."
Belum lama berselang, Mamanya berjalan mendekat membawa nampan berisi dua gelas minuman dingin serta sepiring kue kering yang harum aromanya. Ia meletakkan hidangan itu di meja tamu tepat di hadapan Doni, lalu menatap pemuda itu dengan senyum ramah yang penuh selidik.
"Silakan dinikmati minumannya, Nak," ucap Mamanya lembut. "Kebetulan hari cukup panas tadi siang, semoga segar."
"Terima kasih, Tante," jawab Doni sopan sambil sedikit membungkukkan badan.
Mamanya lalu menatap Doni lekat-lekat sejenak, seakan ingin mengenal lebih jauh siapa pemuda yang berani datang ke rumah putrinya pada malam hari ini.
"Ngomong-ngomong..." buka Mamanya pelan. "Kau tinggal di mana, Nak? Dan kuliah di jurusan apa? Sepertinya wajahmu terlihat masih muda."
Doni menjawab dengan tenang dan sopan, tanpa sedikit pun terlihat ragu. "Saya tinggal seorang diri di rumah di Jalan XX, Tante. Orang tua saya bekerja jauh dan jarang pulang, jadi saya sudah terbiasa hidup mandiri sejak lama. Untuk usia, saya sekarang berusia sembilan belas tahun, sedang duduk di tingkat dua, dan mengambil kuliah di Fakultas Ekonomi."
Kristin yang berdiri di sampingnya tak henti-henti memperhatikan penampilan Doni malam itu. Matanya tak berkedip menatap pemuda itu, merasa ada sesuatu yang sangat berbeda dari biasanya. Malam itu, Doni tampak begitu rapi dan bersih. Ia mengenakan kemeja lengan panjang dengan ujung lengan digulung rapi hingga ke siku, memadukannya dengan celana bahan berwarna gelap yang tampak kekinian dan rapi. Yang lebih membuat Kristin tertegun, tak ada sepasang anting yang biasa melekat di telinga Doni, dan aroma tembakau yang kerap menyertai kehadirannya pun tak tercium sedikit pun. Malam itu, Doni tampak begitu bersih, tenang, dan berbeda dari sosok yang biasa Kristin kenal.
Mamanya tersenyum puas mendengar jawaban Doni yang begitu tenang dan tertib. "Baiklah... Kalian berdua mengobrol saja dulu ya. Biar Mama ke dapur sebentar." Melihat keduanya mengangguk, Mamanya pun melangkah kembali menuju dapur dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya.
Suasana ruang tamu kembali hening sejenak setelah kepergian Mamanya. Doni menarik napas panjang perlahan, lalu menatap lurus ke arah Kristin yang kini telah duduk di kursi berhadapan dengannya.
"Kristin..." panggil Doni pelan namun tegas. "Kenapa kau tidak terlihat selama beberapa hari ini?"
Pertanyaan itu sederhana namun langsung. Kristin menunduk sejenak, lalu menjawab dengan nada yang berusaha terdengar biasa saja. "Aku... ada kesibukan mendesak di rumah. Jadi tidak sempat meluangkan waktu ke sekretariat setelah keluar kelas."
Doni diam sejenak. Ia tahu betul bahwa itu hanyalah alasan yang dibuat-buat. Namun ia tak memaksakan diri untuk membongkarnya. Ia menghargai jawaban Kristin dan keraguannya, memilih untuk tidak menyudutkan gadis itu.
"Besok..." ucap Doni pelan namun jelas. "Besok adalah pembukaan pembinaan materi sekaligus latihan fisik bagi peserta baru."
Kristin terdiam sejenak menatap lantai, lalu perlahan mengangkat wajahnya menatap Doni. "Apakah Kak Doni datang ke rumahku malam ini... hanya untuk mengajakku kembali bergabung sebagai peserta baru?"
Doni tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu. "Lagipula, aku hanyalah ketua panitia biasa yang tidak berhak memaksa tiap orang agar harus bergabung."
Jawaban itu membuat Kristin sebal. Ia menatap tajam ke arah Doni yang justru terlihat begitu santai dan bercanda di saat dirinya sedang berusaha bersikap serius.
Namun Doni perlahan menata kembali sikapnya. Tatapan matanya berubah menjadi serius dan tulus. "Kristin... Aku tidak akan memaksamu untuk kembali bergabung. Itu sepenuhnya adalah pilihanmu. Namun ingatlah satu hal..."
Doni menatap lekat ke dalam manik mata Kristin seakan ingin kata-katanya meresap hingga ke dalam hati gadis itu.
"Hidup itu adalah tentang pilihan yang kau ambil," ucap Doni dengan suara rendah namun begitu menyentuh. "Dan setelah memilih, kau harus menjalaninya dengan sepenuh hati tanpa penyesalan, karena itu adalah pilihanmu sendiri. Hidup tidak semudah melangkah maju sesuka hati, lalu mundur kembali saat merasa tak nyaman, dan berharap semuanya akan tetap berjalan seperti semula. Tidak begitu caranya. Hidup bukan ajang mencoba semua pilihan sesuka hati, tetapi hidup adalah ketika kita mengambil satu pilihan dan siap dengan konsekuensinya."
Doni berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap. Lalu ia melanjutkan dengan senyum lembut yang tulus. "Namun... aku percaya padamu. Aku yakin kau adalah gadis yang kuat."
Kristin terdiam mendengar kalimat itu. Hatinya terasa bergetar pelan. "Kalau begitu..." ucapnya pelan tak mau kalah. "Kalau Kak Doni bilang aku gadis yang kuat... kenapa dulu Kak Doni pernah mengatakan kalau aku gadis yang manja saat pertama kali kita bertemu?"
Doni tersenyum tenang seakan telah menebak pertanyaan itu akan muncul. "Terkadang... hidup butuh sedikit dorongan agar seseorang berani menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya. Kata-kata itu... adalah cara agar kau berani melangkah lebih jauh dari yang kau kira mampu kau lakukan."
Kristin tertegun mendengar jawaban itu. Belum sempat ia merespons, Doni perlahan berdiri dari duduknya, memberi isyarat bahwa ia hendak berpamitan pulang.
"Aku tidak akan menunggumu besok," ucap Doni pelan sambil menatap wajah Kristin terakhir kali. "Tapi aku sangat berharap... kau akan datang."
Doni pun melangkah menuju pintu keluar, lalu berpamitan kepada Kristin dan Mamanya yang muncul kembali dari arah dapur. "Permisi, Tante. Permisi, Kristin. Saya pamit pulang."
Mamanya mengantar Doni hingga ke pintu depan, sementara Kristin hanya berdiri terpaku di ruang tamu, menatap punggung pemuda itu yang perlahan menjauh. Hatinya penuh dengan kebingungan sekaligus perasaan yang tak sanggup ia gambarkan dengan kata-kata.
Setelah Doni hilang dari pandangan dan Mamanya kembali berdiri di hadapannya, Mamanya tersenyum penuh arti sambil menatap wajah putrinya yang tampak masih melamun.
"Kristin..." panggil Mamanya pelan. "Apakah pemuda itu... yang membuat hatimu merasa tumbuh dewasa dan merasa menjadi wanita sejati?"
Kristin menunduk perlahan, wajahnya memerah lembut. Dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia menjawab pelan.
"Iya, Ma..."
Mamanya tersenyum lembut, lalu mengusap pelan puncak kepala putrinya. Di dalam hati, Kristin pun tak mampu lagi menyembunyikan perasaannya sendiri. Kata-kata Doni tadi malam itu terus berputar di kepalanya, menembus jauh ke dalam hatinya, membuatnya semakin bingung sekaligus semakin tak mampu melupakan sosok pemuda itu.