Indonesia
NovelToon NovelToon
Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Tak Terlihat

Pagi itu, cahaya matahari terbit perlahan, menyinari bukit yang sejak semalam tertutup kabut tipis. Udara terasa dingin dan lembap, menyisakan sisa dingin malam yang masih meresap ke dalam tulang. Di penginapan, seluruh kru sudah bangun sejak fajar menyingsing. Tidak ada yang tidur nyenyak malam itu. Setiap orang tampak lelah, matanya sembab, namun tatapan mata mereka lebih tajam dari sebelumnya mereka tidak lagi hanya datang untuk syuting. Mereka datang untuk mencari jawaban.

Raka duduk di meja kayu ruang tengah, menatap lurus ke arah cangkir teh yang belum disentuhnya. Ia terus memikirkan satu hal yang sejak kemarin menghantui pikirannya bunga melati putih di tengah meja ruang tengah rumah kedelapan. Bunga yang berasal dari halaman rumah Bu Wiyati. Bunga yang tidak ada di sana saat mereka pergi kemarin sore, namun sudah tergeletak rapi saat mereka kembali pagi itu.

"Siapa yang memetik bunga itu?" gumam Raka pelan, seakan bertanya pada dirinya sendiri. "Dan bagaimana caranya membawanya ke dalam rumah itu tanpa meninggalkan jejak sama sekali?"

Laras yang duduk di seberangnya mendengar gumaman itu. Ia mengangkat wajah perlahan, matanya tampak berat namun jernih. "Aku sudah memikirkannya sejak semalam, Raka. Dan aku tidak menemukan jawaban yang masuk akal. Kalau seseorang memetiknya dari rumah Bu Wiyati, lalu berjalan ke rumah kedelapan dan meletakkannya di meja pasti ada jejak kaki di tanah berumput dan di lantai semen yang berdebu. Tapi kemarin kita periksa semuanya. Tidak ada jejak baru. Tidak ada satu pun."

"Kecuali orang itu tidak berjalan di atas tanah," bisik Tika yang mendengar percakapan itu dari sudut ruangan. "Kecuali orang itu... melayang."

Keheningan menyelimuti ruangan itu sejenak. Tidak ada yang berani menatap satu sama lain. Kata-kata itu sederhana, namun mengandung makna yang begitu berat dan menakutkan.

"Kita tidak boleh berpikir begitu dulu," ucap Bu Sari memecah keheningan, suaranya berusaha tegas namun tetap lembut. "Harus ada penjelasan yang logis. Mungkin bunga itu sudah ada di sana sejak lama, tertutup debu, lalu angin yang menyapu debunya sehingga terlihat seperti baru diletakkan. Atau mungkin salah satu dari kita tanpa sadar membawanya masuk dan meletakkannya di sana tanpa menyadari."

"Kita semua masuk dengan tangan kosong," jawab Dimas yang berdiri di dekat pintu sejak tadi, menatap ke luar jendela ke arah bukit. "Aku perhatikan setiap orang. Tidak ada yang membawa bunga. Dan bunga itu segar. Kelopaknya utuh. Tidak kering karena debu. Itu baru dipetik, pagi itu, sebelum kita datang."

"Kalau begitu, siapa?" tanya Eko pelan. "Siapa yang tahu kita akan datang pagi itu? Siapa yang masuk ke rumah itu, meletakkan bunga di tengah meja, lalu pergi tanpa meninggalkan jejak sama sekali?"

"Pertanyaan yang lebih penting," ucap Raka pelan namun tegas, berdiri perlahan, "bukan siapa. Tapi untuk apa. Mengapa bunga itu diletakkan di sana. Sebagai tanda selamat datang? Sebagai peringatan? Atau... sebagai persembahan?"

Kata terakhir itu membuat bulu kuduk mereka semua merinding. Persembahan. Kata itu terasa begitu kuno, begitu sakral, dan begitu mengerikan.

"Kita harus bertanya pada Bu Wiyati," ucap Laras tiba-tiba berdiri. "Bunga itu berasal dari halaman rumahnya. Mungkin ia tahu ada yang sering memetik bunga itu. Mungkin ada kebiasaan warga yang tidak kita ketahui."

Mereka semua setuju. Tanpa menunda lagi, mereka berjalan menuju rumah Bu Wiyati dan Pak Tua Suryo. Jalan setapak pagi itu terasa lebih ringan dibandingkan sebelumnya bukan karena jaraknya lebih dekat, tapi karena mereka merasa perlu berbicara dengan orang yang paling tahu tentang kampung ini.

Sesampainya di sana, Bu Wiyati sudah menunggu di beranda. Wajahnya tampak cemas sejak melihat mereka berjalan mendekat. Ia segera menyambut mereka masuk, menyajikan teh hangat seperti biasa, namun kali ini tidak ada senyum yang tulus di wajahnya.

"Kalian datang pagi-pagi sekali," ucapnya pelan sambil duduk di kursi kayu di seberang mereka. "Dan wajah kalian... tidak tenang. Ada apa?"

Raka menatap Bu Wiyati dengan tatapan yang tulus namun serius. "Bu Wiyati, kami ingin bertanya sesuatu. Dan kami mohon Ibu menjawab dengan jujur, apa pun itu."

Bu Wiyati mengangguk pelan, tangannya saling bertaut di pangkuan. "Tanyakanlah. Apa yang bisa aku bantu."

"Apakah ada yang memetik bunga melati putih dari halaman rumah Ibu sejak kemarin?" tanya Raka perlahan, memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah wanita itu.

Mata Bu Wiyati membelalak sedikit, terkejut mendengar pertanyaan itu. "Melati putih? Di halaman samping rumahku?"

"Ya, Bu."

Bu Wiyati menggeleng mantap. "Tidak ada. Aku sendiri yang merawat tanaman itu. Setiap pagi aku memeriksanya. Dan kemarin sore hingga pagi ini, tidak ada satu pun bunga yang dipetik. Semuanya masih utuh di tempatnya. Bahkan bunga yang mulai layu pun belum aku petik."

"Apakah mungkin ada orang lain yang masuk ke halaman itu tanpa Ibu ketahui?" tanya Laras lembut.

"Pagar rumahku tertutup rapat," jawab Bu Wiyati pelan namun tegas. "Dan pintu depan selalu aku kunci sebelum tidur. Tidak ada yang bisa masuk tanpa aku ketahui. Dan... tidak ada warga sini yang berani memetik bunga dari rumah orang lain tanpa izin. Itu tidak sopan. Dan di kampung ini, sopan santun itu dijaga sangat ketat."

"Kalau begitu..." Dimas yang sejak tadi diam akhirnya berbicara, suaranya berat dan pelan. "Dari mana bunga itu berasal? Dan siapa yang membawanya ke rumah kedelapan?"

Bu Wiyati terdiam. Wajahnya perlahan berubah pucat. Ia menatap ke arah jendela, ke arah rumah-rumah yang berjejer di kejauhan, lalu pandangannya berhenti pada arah rumah kedelapan yang samar di balik pepohonan.

"Dulu..." mulainya pelan, suaranya bergetar sedikit. "Dulu, saat keluarga Candra Wijaya masih tinggal di sana, sering sekali aku melihat Ardita anak perempuan mereka berdiri di pagar rumahku. Ia sering menatap tanaman melati itu lama sekali. Suatu hari aku keluar dan menawarkannya untuk memetik bunga itu. Ia tersenyum dan berkata, 'Terima kasih, Bu. Tapi aku belum boleh memetiknya. Nanti kalau sudah waktunya.' Aku pikir itu cuma ucapan anak-anak. Tapi sejak hari itu, aku tidak pernah melihatnya memetik satu pun bunga itu."

Bu Wiyati berhenti sejenak, menelan ludah dengan susah payah. "Dan sejak mereka hilang... bunga melati itu tetap tumbuh dan berbunga setiap musimnya. Tapi tidak ada yang pernah memetiknya. Sampai sekarang."

Keheningan yang begitu dalam menyelimuti ruangan itu. Bunga itu yang tergeletak rapi di tengah meja rumah kedelapan berasal dari tanaman yang tidak ada yang berani memetiknya selama bertahun-tahun. Dan Ardita gadis yang hilang tanpa jejak pernah berkata "nanti kalau sudah waktunya". Dan waktu itu... adalah sekarang.

"Kita harus kembali ke rumah itu," ucap Raka perlahan, berdiri dari kursinya. "Tidak ada jawaban di sini. Semua jawaban ada di dalam sana. Di buku harian itu. Di tempat Ardita menulis setiap kata yang kini menjadi pesan untuk kita."

"Tapi hati-hatilah," ucap Bu Wiyati berdiri juga, menatap mereka satu per satu dengan tatapan penuh kekhawatiran. "Rumah itu tidak hanya menyimpan masa lalu. Rumah itu juga menyimpan apa yang belum terjadi. Dan jika ia sudah memetik bunga itu... berarti ia sudah memilih kalian."

"Memilih untuk apa?" tanya Laras pelan, meskipun ia sudah takut mendengar jawabannya.

"Untuk menjadi yang berikutnya," jawab Bu Wiyati berbisik, seakan takut kata-kata itu didengar oleh sesuatu yang sedang mengawasi dari luar.

Mereka keluar dari rumah itu dengan perasaan yang campur aduk takut, penasaran, namun juga merasa terikat takdir yang tak bisa mereka tolak. Langkah kaki mereka menuju rumah kedelapan kali ini terasa lebih berat, namun juga lebih mantap. Mereka tahu bahwa setiap langkah yang mereka ambil semakin mendekatkan mereka pada kebenaran sekaligus semakin mendekatkan mereka pada bahaya yang tak terlihat.

Dan di atas sana, di balik jendela besar rumah kedelapan, ada sosok yang sudah menunggu sejak pagi. Sosok yang memetik bunga itu tanpa menyentuh tanah. Sosok yang menulis di buku harian itu tanpa terlihat tangan siapa pun. Dan ia tersenyum saat melihat mereka berjalan mendekat. Karena akhirnya, mereka datang. Dan permainan itu baru saja dimulai.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!