Arif Wicaksono, pewaris ilmu medis kuno dan ketua organisasi rahasia Biro Akasa, turun gunung hanya untuk dihina dan ditolak mentah-mentah saat menagih janji perjodohan dari Keluarga Baskoro. Namun, nasib justru membawanya bertunangan dengan Shinta Liem, gadis bawel berenergi Yin murni penawar racun di tubuhnya, sekaligus memulai perjalanannya membuat orang-orang sombong yang meremehkannya berlutut menangis darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Sret! Sret! Sret!
Hana merobek surat perjanjian sakral itu menjadi serpihan kecil.
Lalu dia melempar sobekan kertas itu tepat ke wajah Arif.
"Kau pikir aku mau menikah dengan pengemis bau tanah sepertimu?" cibir Hana.
"Aku adalah pewaris Keluarga Baskoro, dan suamiku Rizki adalah pewaris Grup Mahakarya!"
"Kau tidak pantas bersanding denganku meski hanya menjadi keset di rumahku!" hina Hana dengan kejam.
Rizki ikut maju dan menatap Arif dengan seringai meremehkan.
"Anak muda, kau terlalu banyak membaca novel fiksi," ejek Rizki.
Baskoro berdeham memecah ketegangan dan merogoh saku jasnya untuk mengeluarkan sebuah buku cek.
Dia menuliskan nominal angka di sana dengan cepat dan merobek cek tersebut.
"Zaman sudah berubah, perjodohan konyol itu sudah tidak berlaku," ucap Baskoro sok bijak.
Baskoro lalu melempar cek itu ke arah dada Arif.
"Ini cek lima ratus juta rupiah, ambil dan anggap sebagai bentuk terima kasihku pada mendiang gurumu."
"Sekarang pergilah dari sini sebelum aku memanggil polisi untuk menyeretmu!" ancam Baskoro.
Cek itu melayang pelan di udara sebelum jatuh ke tanah berdebu.
Arif bahkan tidak melirik uang setengah miliar itu sedikit pun.
Dia hanya menatap wajah Baskoro, Hana, dan Rizki bergantian.
"Guruku mempertaruhkan nyawanya sendiri demi bajingan sepertimu," ucap Arif sangat pelan tapi menusuk.
"Dan bagimu, nyawa dan janjimu hanya bernilai lima ratus juta."
Arif menginjak cek itu dengan ujung sepatunya yang kotor.
"Hana Baskoro, kau merasa sangat tinggi hari ini?" tanya Arif dengan senyum sinis.
"Ingat baik-baik hari ini, karena suatu saat nanti kau akan merangkak di kakiku sambil memohon dan menangis darah."
Hana tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Arif.
"Banyak omong! Satpam, patahkan kedua kakinya dan lempar dia ke tong sampah!" perintah Rizki marah.
Puluhan penjaga keamanan bertubuh kekar langsung berlari mengepung Arif.
Arif hanya diam di tempat, mengalirkan energi ke kedua kepalan tangannya.
"Kalian yang mencari mati," batin Arif bersiap menghancurkan mereka semua.
Namun, sebelum pukulan pertama mendarat, tatapan Arif tertuju pada wajah Baskoro.
Arif melihat sebuah kabut hitam tebal mengelilingi dahi pria paruh baya itu yang menandakan ajal.
Itu adalah tanda aura kematian yang sangat pekat.
Arif menarik kembali energinya dan tersenyum sangat dingin.
"Tunggu," ucap Arif membuat para satpam menghentikan langkah mereka sejenak.
"Baskoro, karma dari guruku telah terputus hari ini."
Baskoro mengerutkan kening bingung mendengar ucapan pemuda itu.
"Mulai sekarang, cari kayu terbaik dan siapkan peti matimu."
Mata Baskoro langsung melebar mendengar vonis mengerikan itu.
"Karena umurmu, hanya tersisa lima hari lagi," sambung Arif dengan suara seperti malaikat pencabut nyawa.
"Bunuh dia!" teriak Baskoro yang entah kenapa merasakan ketakutan luar biasa di dalam hatinya.
Para penjaga keamanan itu langsung menerjang Arif secara bersamaan.
Wusss!
Arif hanya memiringkan kepalanya sedikit untuk menghindari pukulan pertama.
Brak!
Satu tendangan kilat dari Arif bersarang di perut satpam berbadan paling besar.
Tubuh besar itu langsung terbang mundur sejauh lima meter dan menabrak meja makanan.
Prang! Cras!
Piring dan gelas berhamburan ke lantai memicu jeritan ketakutan para tamu.
"Cepat serang dia bersama-sama!" teriak Rizki yang mulai panik melihat kehebatan Arif.
Lima satpam menyerang dengan tongkat pemukul besi dari berbagai arah.
Arif tidak gentar sedikit pun dan melangkah maju menyambut serangan mereka.
Plak! Plak! Duagh!
Hanya butuh waktu lima detik untuk membuat lima orang itu terkapar patah tulang di tanah.
"Monster! Dia monster!" teriak seorang tamu yang berlari mundur mencari perlindungan.
Baskoro gemetar hebat dan bersembunyi di belakang Rizki.
Hana yang tadinya sombong kini memucat melihat kekuatan pria udik yang dihinanya.
Arif menepuk tangannya yang kotor seolah baru saja membuang tumpukan sampah.
"Hanya ini kemampuan Keluarga Baskoro?" sindir Arif menatap tajam ke arah panggung.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah terdengar dari arah gerbang.
Dua buah mobil Rolls-Royce hitam berhenti tepat di depan taman menghentikan keributan.
Belasan pengawal berjas hitam turun dan membentuk barisan di kiri kanan.
Seorang wanita anggun keluar dari mobil pertama, diikuti oleh seorang gadis cantik di belakangnya.
Itu adalah Nana Liem dan Shinta Liem!
Kehadiran mereka langsung membuat semua orang menahan nafas keheranan.
"I-itu Nona Nana dari Keluarga Liem! Raksasa bisnis Jakarta!" bisik seorang tamu dengan takjub.
Baskoro buru-buru merapikan jasnya dan memasang senyum paling manis.
Dia berlari kecil menghampiri Nana dengan sikap menjilat seorang bawahan.
"Nona Nana, sungguh sebuah kehormatan Anda bersedia hadir di pernikahan putri saya," sambut Baskoro membungkuk hormat.
"Saya minta maaf karena ada sedikit kekacauan di sini, ada pengemis gila yang mengamuk."
Nana melewati Baskoro begitu saja seolah pria itu hanya angin lalu.
Langkah Nana terus berlanjut hingga dia berdiri tepat di hadapan Arif.
Di bawah tatapan ratusan tamu elit yang melotot tak percaya, Nana membungkukkan badannya dalam-dalam.
"Tuan Arif, syukurlah saya berhasil menemukan Anda," ucap Nana dengan nada sangat hormat.
Baskoro membeku di tempatnya berdiri seperti patung es.
Hana Baskoro nyaris menjatuhkan rahangnya ke tanah melihat pemandangan tidak masuk akal itu.
"N-Nona Nana? Anda pasti salah orang!" teriak Hana tidak terima.
"Dia hanya gembel bau tanah dari gunung! Bagaimana Anda bisa mengenalnya?"
Nana menoleh dan menatap Hana dengan tatapan yang sangat tajam dan dingin.
"Tutup mulutmu, Gadis Kecil," desis Nana penuh ancaman.
"Pria yang kau sebut gembel ini adalah dewa penyelamat nyawaku!"
"Menghinanya, sama dengan kau menyatakan perang secara terbuka dengan seluruh Keluarga Liem!"
Seluruh taman itu seketika sunyi senyap seperti kuburan.
Baskoro gemetar hebat hingga lututnya nyaris lemas tidak bertulang.