Aku menikahi dia, tapi justru pamannya yang membuatku kehilangan akal. Setiap kali pria itu menatapku, ada bara yang tak bisa kupadamkan. Di mata keluarga, pria itu hanyalah paman dari suamiku. Di hatiku, dia adalah pria yang tak pernah boleh kusentuh. Namun, semakin aku menghindar, semakin dekat dia datang, membawa bisikan-bisikan yang memecah pertahananku. Bagaimana jika cinta ini terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MANA BISA BEGITU
Aura kepanikan merasuki seluruh tubuh Seline. Kakinya menekan gas sekuat yang dia bisa. Mobil pun melesat cepat meninggalkan ballroom. Xander duduk memakai sabuk pengaman sambil sedikit menelan Salivanya.
“Wanita ini pandai mengebut sepertinya!” pikir Xander sambil sedikit memiringkan kepalanya.
“Kau!” panggil Seline dengan sedikit nada membentak.
“Ya, aku!” jawab xander sambil membetulkan dasinya yang terlihat rapi licin.
Seline membasahi bibirnya, lalu berkata lagi, “kau Membuntutiku ya? Oh aku tahu! Kau membayar detektif ya?”
Xander tertawa kecil, “wah, wanita ini imajinatif sekali!” pikir Xander.
“Hei! Siapa yang bilang kau boleh tertawa!” kata kesal Seline.
Xander langsung mengangkat kedua tangannnya seraya memasang wajah serius dan bekata, “Ok, aku tidak akan tertawa lagi!”
Merasa sudah jauh dari Ballroom, Seline menghentikan laju mobilnya. “Bukankah sudah aku bilang, aku tidak butuh pertanggung jawabanmu!”
“Jadi aku tidak butuh kau mengejarku sampai sini!” lanjut kata Seline.
Xander menatap tajam sambil menaikan satu alisnya. Dalam hati dia merasa wanita yang sedang memarahinya ini malah terlihat semakin menjadi lebih cantik ketika wajahnya memerah karena marah.
Seline merasa Xander mengabaikannya, dia pun menarik dasi rapih pria itu. “Hei kau mendengarkan aku tidak?”
Tanpa sadar Seline menarik dasi Xander dengan kencang. Dan, itu malah membuat wajah mereka berjarak hanya beberapa inci saja. Membuat mereka saling merasakan deru panas di wajah dari napas mereka.
Napas seline tiba-tiba terasa tercekat, wajahnya seketika memerah bukan karena marah. Salah tingkah pun melanda. Seline langusng mendorong tubuh Xander, wajahnya memerah, teringat ketika dia terbangun dari pelukan Xander kala pagi itu.
Seline menarik napas panjang beberapa kali, lalu dia berkata. “Dengar Tuan Muda, aku hanya ingin menjalani hidup dengan tenang. Jadi bisakah kita lupakan malam bergairah waktu itu!”
Segaris senyum tanpan menjejak di wajah xander. “Oh! Jadi kau menikmatinya?”
Kedua mata Selina langsung terbelalak, “Eh itu… maksudku, bukan itu!”
Seline mengusap keningnya yang tidak berkeringat, “Sedari awal kita adalah orang asing, jadi aku ingin kita kembali asing. Apakah sesulit itu bagimu!”
Xander menatap Seline penuh arti, ditatap sedalam itu membuat Seline menahan napas. Rasa aneh menyelimuti dadanya. “Mengapa dia menatapku seakaan dia mengenalku?”
“Mana bisa begitu?” jawab dingin Xander sambil mengalingkan tatapannya.
“Mengapa tidak bisa?” tanya Seline.
Xander terdiam, belum juga menjawab pertanyaan Seline, Sebuah mobil hitam berhenti di samping mobil Seline. Melihat itu, Xander pun melepaskan sabuk pengamannya, lalu turun dari mobil dengan mimic wajah sedikit kesal, tanpa berkata apa-apa.
“Hei!” teriak Seline pada mobil hitam disampingnya yang baru saja melaju membawa Xander pergi.
“Argh…!” teriak kesal seline sambil berpikir, “Sebenranya pria itu kenapa sih!”
Di Ballroom, acara berlanjut, hanya saja Paman Kecil Keluarga Mo yang di tunggu-tunggu tidak terlihat hadri. Hanya asistenya saja, Chu Yichen yang malah duduk di kursi Tuannya itu dan mewakili menerima hadiah hadiah yang diberikan kepada Paman Kecil Mo.
Nyonya Mo terlihat sedikit kecewa karena, tidak bisa bercakap temu dengan Paman Kecil Mo. Dia ingin mendekatkan putranya dengan orang terpenting di Keluarga mereka saat ini, agar posisi mereka di keluarga Mo aman stabil.
Sedang merasa kesal, tiba-tiba dia teringat menantunya. “Kemana istrimu?” tanyanya kepada putranya itu.
“Toilet!” kata Eric sambil menyesap anggur mahal yang hanya boleh dikeluarkan atas perintah para tetua.
Eric meletakan gelasnya, lalu merasa memang aneh, “Mengapa pergi ke toilet lama sekali!”
“Aku akan mengeceknya!” kata Eric seraya berdiri, menuju ke arah toilet.
Eric segerta bertanya kepada petugas kebersihan yang baru saja keluar dari Toilet. “Eum… apakah di dalam ada seorang wanita yang memakai gaun bermodel kerah tinggi khas oriental?”
Bibi pembersih toilet itu terdiam, sedikit berpikir, lalu wajahnya sumringah, “Ah wanita cantik yang memakai Cheongsam!’
“Ya… ya wanita cantik itu!” jawab Eric. “Apa kau melihatnya?”
“iya, aku ada melihatnya!” jawab Bibi pembersih toilet itu.
“Di mana dia, apakah di dalam?” tanya Eric mulai tidak sabaran.
“Eum.., dia sudah pergi sedari tadi dengan seorang pria!” jawab Bibi pembersih toilet itu dengan polos.
“Seorang pria!” tanya Eric dengan wajah tidak enak dipandang.
Bibi pembersih toilet itu langsung merasa panik dan canggung melihat mimic wajah Eric yang berubah menjadi padam gelap. Tanpa bekata terima kasih dia tergesa kembali ke kursinya. Tanpa berkata dia mengambil jas tuxedonya.
“Kau mau kemana?” tanya Rania.
“Mencari Seline?” jawab Eric sembari memakai jas Tuxedonya.
Rania memicingkan matanya, melihat Eric mengkhawatirkan Seline, sungguh hatinya merasa tidak rela. Dia pun ikut berdiri, “Oh ya Tuhan… perutku! Perutku sakit!” ujarnya sambil memegangi perutnya.
Nyonya Mo langsung berdiri juga, “Oh ya ampun cucu-ku… kenapa cucu-ku? Apaynya yang sakit?”
Nyonya Mo sedikit berteriak kepada Eric yang sudah melangkah pergi akan meninggalkan ballroom. Pria itu pun membalikan badan. Dia membasahi bibirnya ketika melihat Rania yang terlihat kesakitan sambil memegangi perutnya.
Dia pun berjalan balik ke arah Rania, lalu menggendongnya. “Kita pergi ke rumah sakit!”
Semua yang disana melihat serius kegaduhan yang sedang terjadi, termasuk Chu Yiche yang ikut pergi meninggalkan acara itu. Di parkiran Ballroom, terlihat Eric terburu-buru memasukan Rania ke dalam mobilnya.
Mobil pun dilajukan dengan cepat. Mereka menuju ke rumah sakit. Tapi, pikiran Eric melayang ke perkataan Bibi pembersih toilet. “Dia pergi dengan seorang pria!”
“Siapa pria itu!” pikirnya lagi.
Rania lagi-lagi memperhatikan mimic wajah Eric. Dia sangat yakin pira yang sedang mengemudi itu sedang memikirkan Seline, istrinya. “Awww… sakit, sangat sakit!”
Teriakan Rania membuyarkan lamunan Eric. Dia pun menoleh kepada Rania, lalu satu tangannya menggenggam tangan wanita itu seraya menenangkan, “Tenanglah, sebentar lagi kita sampai di Rumah Sakit!”
Rania mengangguk, sedikit tersenyum tipis sambil mengenggam erat tangan Eric. Seakaan tidak mau melepaskannya demi apa pun juga. Mereka pun tiba di RS, Dokter iGD dan perawat sudah bersiap menunggu.
Begitu melihat mobil Eric tiba. Roda ranjang pun pun terdengar di dorong. Perawat yang sedari tadi menunggu langsung dengan sigap membantu Rania naik ke atas ranjang beroda. Eric tertegun sesaat, lalu menghampiri Dokter Dre. “Kau periksa dia, lakukan apa yang harus kau lakukan, beri perawatan terbaik!”
Eric berjalan ke arah yang berlawan, dia mempercepat langkahnya ke koridor kantor istrinya. Dalam hati berharap, istrinya ada di sini di Rumah sakit, sedang menangani pasien yang sedang melahirkan. Memikirkan Seline sedang bersama pria lain hatinya sungguh terbakar api cemburu.
Langkahnya terhenti ketika melihat Seline berdiri di tengah koridor, sedang tersenyum manis, lembut anggun. Senyuman yang bisa menggoda siapa yang melihatnya.
seline kamu polos bed
thor pengen visuaaaaalllllll
biar halu ny enak🤭
semoga si pelakor kena jebakan Batman..niat hati menjebak Selin malah dia yg terbukti bersalah
suka banget dg ketegasan tuan Mo..tapi lebih suka lagi kalau mereka di izinkan berpisah biar Selin jadi adik ipar saja 🤭
pph you the best,,,tp maaf bentar lg bkal jd istri paman
xender aku mau satuuuu