Indonesia
NovelToon NovelToon
THE LAZY GENIUS

THE LAZY GENIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ardyan1

Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Reinkarnasi Menjadi Usia 15 Tahun — Part 5

[Warning: Do not trust the second consciousness. He is not who you think he is.]

Yamada menatap tulisan itu cukup lama.

Tidak berkedip.

Tidak bergerak.

Hanya diam. Duduk di tepi tempat tidur, dengan buku Sejarah Asteria yang masih terbuka di pangkuannya, lampu minyak yang bergoyang pelan karena angin malam dari jendela, dan Hutan Elaria yang hitam pekat terlihat di kejauhan.

Tulisan berwarna merah darah itu melayang di depan wajahnya. Terang, kontras dengan kegelapan kamar. Sistem sengaja menampilkannya di bawah Hidden Quest Return to Elaria, seolah-olah itu adalah catatan kaki yang paling penting.

Kemudian dia menghela napas. Napas panjang, berat, napas yang mengandung semua rasa lelah dari dua kehidupan.

"Ini mulai merepotkan." Gumamnya pelan. Kata favoritnya. Kata yang selalu dia pakai saat masalah mulai melebihi kapasitas malasnya.

Apa yang dikatakan sistem?

Suara Yamada yang lain, Yamada yang asli, pemilik sah tubuh ini, terdengar dari dalam pikirannya. Suaranya tadi sempat diam setelah mendengar kalimat "Akhirnya kau kembali" dari ingatannya sendiri, tapi sekarang muncul lagi, dengan nada waspada, cemas, dan sedikit terluka.

Yamada tidak langsung menjawab. Dia menatap jendela sistem yang berwarna ungu dan merah itu, lalu menatap bayangannya sendiri di kaca jendela yang gelap. Di kaca itu, dia melihat pantulan wajahnya yang berusia 15 tahun, disinari cahaya lampu minyak dari samping. Wajah yang terlihat tenang, tapi matanya terlihat lelah.

"Katanya aku tidak boleh mempercayaimu." Jawab Yamada akhirnya, jujur. Dia memutuskan untuk jujur. Karena berbohong di dalam satu kepala yang sama itu jauh lebih merepotkan daripada jujur. Kebohongan butuh diingat, butuh energi untuk dipertahankan.

Hening.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang begitu tebal hingga suara jangkrik di luar jendela terdengar sangat keras.

Di dalam kepala Yamada, keheningan itu terasa seperti dua orang yang duduk saling membelakangi di dalam ruangan yang sangat kecil.

...Dan kau percaya?

Suara itu akhirnya bertanya. Pelan. Ada nada sakit hati di dalamnya, tapi juga ada nada pasrah, seolah-olah dia sudah sering tidak dipercaya.

"Tidak." Jawaban Yamada begitu cepat, tanpa jeda, hingga kesadaran kedua terdiam, terkejut.

"Aku juga tidak mempercayai sistem." Lanjut Yamada, masih menatap bayangannya di kaca. "Tadi siang, di Kristal Jiwa, ada tulisan 'Jangan percaya sistem'. Sekarang sistem bilang 'Jangan percaya kesadaran kedua'. Kalau aku percaya tulisan di kristal, berarti aku tidak boleh percaya sistem. Kalau aku percaya sistem, berarti aku tidak boleh percaya kamu. Jadi keduanya saling menyuruh untuk tidak saling percaya. Itu seperti dua orang yang sedang bertengkar dan menyuruhku memilih salah satu."

Lalu kau mempercayaiku? Tanya suara itu lagi, dengan nada yang sedikit lebih berharap.

Yamada berpikir sejenak, menatap langit-langit kayu kamarnya.

"Belum." Jawabnya jujur lagi. "Aku baru mengenalmu kemarin. Kita baru ngobrol dua kali. Satu kali di dalam kegelapan, satu kali tadi pagi soal wajah lumayan. Itu belum cukup untuk membangun kepercayaan. Kepercayaan itu butuh waktu, butuh bukti. Dan aku belum punya bukti apa pun tentang kamu, selain kamu bilang ini tubuhmu, dan aku bisa merasakan sedikit emosimu tadi saat Ibu mengusap kepala kita."

Setidaknya jujur. Balas suara itu, dengan nada yang tidak bisa diartikan apakah dia kesal atau justru lega karena kejujuran itu.

"Aku memang seperti itu." Jawab Yamada, mengangkat bahu. "Aku pemalas, tapi aku tidak suka berbohong. Berbohong itu merepotkan. Harus mengingat kebohongan pertama untuk membuat kebohongan kedua, dan seterusnya. Lebih mudah jujur, meskipun jujur itu kadang menyakitkan."

Yamada menutup jendela sistem dengan gerakan mengibaskan tangan, seperti mengusir lalat. Jendela ungu dan merah itu hilang, bersama dengan quest dan warning-nya. Kamar kembali hanya diterangi lampu minyak.

"Untuk sekarang, bagaimana kalau kita begini saja: kita saling mengawasi. Kau awasi aku, aku awasi kau. Kalau salah satu dari kita melakukan sesuatu yang aneh, yang lain boleh protes. Fair?"

Setuju. Jawaban itu terdengar anehnya tenang, dewasa, tidak seperti anak 15 tahun yang panik tadi. Seolah-olah pemilik tubuh itu juga sudah lelah dengan semua kebingungan ini dan hanya ingin sebuah kesepakatan sederhana.

Yamada tersenyum tipis, untuk pertama kalinya malam itu.

"Bagus. Kesepakatan pertama antara dua Yamada dalam satu tubuh. Mulai sekarang, kita adalah teman kos."

Namun jauh di dalam pikirannya, jauh di dalam lapisan kesadaran yang bahkan tidak bisa didengar oleh Yamada yang asli, dia menyimpan satu kesimpulan untuk dirinya sendiri, kesimpulan yang tidak dia ucapkan dengan suara keras.

Kalau salah satu dari kami berbohong... kalau tulisan di kristal itu bohong, atau kalau sistem yang bohong, atau kalau ingatan "Akhirnya kau kembali" itu bohong... aku akan mencari tahu. Dengan cara paling malas sekalipun, aku akan mencari tahu kebenarannya. Karena aku benci dibohongi. Itu lebih merepotkan daripada ditipu.

Keesokan paginya.

Yamada bangun lebih awal.

Bukan karena rajin. Bukan karena dia tiba-tiba menjadi pribadi yang disiplin setelah bereinkarnasi. Bukan karena semangat baru kehidupan kedua.

Tetapi karena seseorang mengetuk pintunya berkali-kali, dengan ketukan yang tidak sabaran, keras, dan tidak sopan.

"Yamada!"

Tok!

Tok!

Tok!

Suara ketukan itu hampir membuat pintu kayu itu jebol.

"Bangun! Matahari sudah sampai di atas kepala! Kau bilang mau latihan!"

Yamada yang masih dalam keadaan setengah sadar, menarik selimut biru pudarnya menutupi kepala hingga tidak ada cahaya pun yang masuk. Aroma selimut itu masih sama, aroma deterjen dan kayu.

"Masih pagi..." Gumamnya dari balik selimut, dengan suara serak khas baru bangun tidur.

"Sudah jam tujuh! Jam tujuh itu siang bagi petani!" Suara itu membalas dari luar pintu, suara seorang gadis muda, tinggi, penuh energi.

"Masih pagi." Yamada bersikeras. Dalam kamus Yamada, jam tujuh pagi masih termasuk kategori tengah malam. Jam pagi yang ideal baginya adalah jam sepuluh, saat sarapan dan makan siang bisa digabung menjadi satu.

"Pagi apanya?! Bangun! Ibu bilang kau sudah sehat, jadi tidak ada alasan untuk bermalas-malasan!"

Pintu terbuka dengan suara berderit keras, tanpa menunggu jawaban.

Seorang gadis masuk tanpa izin, tanpa mengetuk lagi. Dia mendorong pintu dengan kakinya.

Rambutnya hitam panjang dan diikat sederhana menjadi kuncir kuda rendah di belakang, beberapa helai rambut jatuh ke depan karena dia berjalan cepat. Usianya terlihat sebaya dengan Yamada, mungkin 15 atau 16 tahun. Wajahnya tirus, dengan alis yang sedikit tebal, mata yang tajam, dan kulit yang sedikit kecokelatan karena sering di luar ruangan. Dia mengenakan baju latihan sederhana berwarna coklat muda dan celana panjang yang memudahkan bergerak.

Dia membawa sebuah tongkat kayu panjang di tangan kanannya, dan di tangan kirinya ada dua pedang kayu latihan.

"Bangun!" Dia berteriak lagi, sambil menggunakan tongkatnya untuk menyodok gundukan selimut yang diduga adalah Yamada.

Yamada membuka satu mata dari balik selimut, mengintip.

"Siapa kau?" Tanyanya, dengan nada yang benar-benar bingung. Wajah gadis itu memang terasa familiar, ada rasa hangat yang muncul dari dalam dada tubuhnya saat melihatnya, tapi bagi Yamada yang pendatang, dia adalah orang asing.

Gadis itu membeku. Tongkat kayunya berhenti di udara. Matanya membelalak.

"Apa?" Dia berkata, dengan nada tidak percaya.

Yamada duduk perlahan, selimutnya merosot hingga ke pinggang, rambutnya berantakan total. Dia memperhatikan gadis tersebut dari atas ke bawah, mencoba mencari petunjuk.

Wajahnya terasa familiar bagi tubuh ini. Ada memori otot di dalam dada yang berdegup sedikit lebih kencang saat melihatnya. Jantung tubuh ini mengenalinya.

Namun Yamada sendiri, jiwa pendatang, tidak mengenalnya sama sekali. Tidak ada data.

Kesadaran kedua yang dari tadi diam karena masih mengantuk, langsung bereaksi dengan panik.

Dia teman masa kecilku! Jangan bersikap kasar! Dia tetangga sebelah!

"Namanya? Kasih tahu namanya." Bisik Yamada di dalam hati, dengan cepat.

Elena. Namanya Elena.

Yamada mengangguk kecil, seolah-olah mendapat contekan jawaban ujian. Lalu dia menatap gadis itu dan berkata dengan percaya diri,

"Elena."

Gadis itu, Elena, semakin bingung. Alisnya bertaut.

"Kau memanggil namaku." Katanya.

"Ya." Jawab Yamada.

"Lalu kenapa bertanya siapa aku dua detik yang lalu? Kau amnesia? Pingsan dua hari membuat otakmu rusak?"

Yamada terdiam sepersekian detik, otaknya yang malas dipaksa memutar alasan tercepat dan paling tidak merepotkan.

"Tes ingatan." Jawabnya akhirnya.

"Tes ingatan?" Elena mengulang, dengan nada curiga.

"Ya. Tes ingatan. Untuk memastikan apakah ingatanku sudah kembali normal setelah pingsan. Dan..." Yamada tersenyum kecil, senyum kemenangan kecil. "Berhasil. Aku ingat namamu. Berarti tesnya sukses."

Elena memicingkan mata, menatap Yamada seperti menatap orang aneh yang baru keluar dari hutan, yang memang benar.

"Kau aneh sejak bangun dari pingsan." Katanya pelan, tapi ada nada khawatir di balik nada kesalnya. "Kemarin Ibu bilang kau bahkan tidak ingat jalan ke dapur. Kau menabrak pintu."

Yamada menghela napas lega karena alasan tes ingatan itu diterima, meskipun dengan curiga.

"Terima kasih atas perhatiannya." Jawabnya.

"Itu bukan pujian, bodoh." Balas Elena, sambil menyilangkan tangan di depan dada.

"Lebih baik daripada tidak ada perhatian sama sekali. Berarti ada yang peduli." Jawab Yamada dengan logika malasnya yang terbalik.

Elena menggeleng keras, rambut kuncir kudanya bergoyang.

"Sudahlah. Aku tidak punya waktu berdebat dengan orang aneh. Ayo. Kita sudah terlambat."

"Ke mana?" Yamada bertanya, masih duduk di tempat tidur, belum ada niatan untuk berdiri.

"Latihan! Latihan pedang! Kau lupa?"

Yamada langsung menjatuhkan tubuhnya kembali ke tempat tidur dengan suara 'buk', menutup matanya kembali, menarik selimut.

"Tidak. Malas."

Elena mengerutkan kening, tidak terkejut dengan jawaban itu, seolah-olah ini adalah hal yang biasa dilakukan Yamada yang asli.

"Kenapa? Kau yang berjanji, bukan aku."

"Yamada." Elena memanggil dengan nada serius.

"Ya?" Jawab Yamada dari balik selimut.

"Kau berjanji. Tiga hari sebelum kau pingsan di hutan, kau bilang setelah sembuh dari demam, kau akan berlatih pedang bersamaku setiap pagi. Kau bilang kau ingin menjadi lebih kuat agar bisa menjaga desa."

Yamada membuka matanya dari balik selimut, menatap langit-langit kayu. Informasi baru lagi.

"Aku? Berjanji seperti itu?" Gumamnya pelan.

Tubuh ini ternyata cukup merepotkan. Pemilik aslinya ternyata punya mimpi dan janji yang mulia.

Dia memang selalu ingin menjadi pendekar. Suara Yamada yang asli terdengar di dalam kepala, dengan nada sedikit malu. Aku ingin seperti Ayah. Ayah dulu seorang kesatria.

Yamada duduk kembali, kali ini dengan lebih tegak. Rasa malasnya berperang dengan rasa tidak enak karena sudah membuat janji, meskipun bukan dia yang berjanji. Tapi tubuh ini yang berjanji, jadi dia yang harus menepatinya. Itu adalah aturan tidak tertulis dari berbagi tubuh.

"Baiklah." Katanya akhirnya, mengalah. "Satu jam saja. Setelah itu aku mau tidur lagi."

Elena tersenyum, senyum kemenangan yang cerah. "Ayo. Satu jam lebih baik daripada tidak sama sekali."

Lapangan latihan berada di belakang rumah Yamada, agak tersembunyi di balik gudang kayu. Tanahnya tidak rata, ada beberapa rumput liar yang tumbuh, tapi cukup luas.

Beberapa boneka kayu berdiri berjajar, terbuat dari batang pohon yang diikat jerami. Boneka-boneka itu sudah penuh dengan bekas tebasan, tusukan, dan ada yang sudah miring karena terlalu sering dipukul.

Elena menyerahkan salah satu pedang kayu kepada Yamada. Pedang kayu itu terbuat dari kayu keras, ujungnya tumpul, tapi cukup berat.

"Pegang. Pegang yang benar."

Yamada menerima pedang itu. Berat. Namun tidak terlalu berat bagi tubuh barunya ini. Beratnya sekitar dua kilo, cukup untuk melatih otot lengan.

Dia memutar pedang sekali di tangannya, mencoba merasakan keseimbangannya. Kemudian dua kali, dengan gerakan yang canggung.

Elena mengerutkan kening, memperhatikan cara Yamada memegang pedang.

"Kenapa kau memegangnya seperti itu? Seperti memegang sapu?"

"Seperti apa seharusnya?" Yamada bertanya balik, jujur.

"Seperti orang yang belum pernah memegang pedang sama sekali." Elena menjawab ketus.

Yamada terdiam. Memang belum pernah. Di kehidupan sebelumnya, pedang yang paling dekat dengannya adalah pedang mainan plastik dari toko mainan, atau pedang di dalam game.

Dia memang pernah melihat orang menggunakan pedang dalam film samurai dan permainan video, dengan gerakan yang keren dan tebasan yang cepat.

Tetapi itu jelas berbeda dengan dunia nyata, di mana pedang kayu ini terasa berat, licin karena keringat, dan pusat gravitasinya aneh.

Elena mengambil posisi di depannya, memegang pedang kayunya sendiri dengan sikap yang jauh lebih berpengalaman. Kaki kirinya di depan, kaki kanan di belakang, lutut sedikit ditekuk, pedang diangkat setinggi bahu.

"Begini. Perhatikan. Ini kuda-kuda dasar. Kaki harus stabil. Bahu rileks. Jangan tegang. Lihat."

Dia memperagakan gerakan dasar: tebasan vertikal dari atas ke bawah.

Satu gerakan. Bersih, cepat, dengan suara 'swish' yang tajam.

Dua. Tebasan horizontal dari kanan ke kiri.

Tiga. Tusukan lurus ke depan, dengan langkah kaki maju.

Dia tidak langsung menirunya. Kebiasaan Yamada yang pemalas tapi jenius muncul.

Dia mengamati. Tidak hanya melihat, tapi mengamati dengan detail yang tidak normal.

Posisi kaki Elena, sudut 45 derajat.

Sudut bahu, sedikit miring 10 derajat untuk menambah jangkauan.

Pusat gravitasi yang berpindah dari kaki belakang ke kaki depan saat menebas.

Panjang ayunan, dari mana tenaga itu berasal, bukan dari lengan, tapi dari pinggang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!