Indonesia
NovelToon NovelToon
Adik Titipan, Incaran Hatiku

Adik Titipan, Incaran Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cinta Terlarang
Popularitas:6
Nilai: 5
Nama Author: Amara Bulan

**Keira Halim** cuma minta satu hal di semester akhirnya yang sibuk: tidur nyenyak di akhir pekan. Bukan dibangunkan puluhan chat sahabatnya, **Vanessa**, yang panik dari bandara — dan bukan pula "menerima titipan" berupa **seorang cowok hidup-hidup** lengkap dengan koper, berdiri di seberang pintunya.

Namanya **Reynard**. Adik kandung Vanessa. Baru lulus SMA, tiga tahun lebih muda dari Keira, manja seperti anak anjing yang minta dielus. Katanya cuma numpang sampai sang kakak pulang dari Brasil.

Tapi "anak anjing" ini masak jauh lebih jago dari Keira, beres-beres tanpa disuruh, hafal jadwal kuliahnya, diam-diam menyingkirkan setiap cowok yang berani mendekat — dan entah kenapa, sudah tahu kode pintu apartemen Keira yang ternyata tanggal lahir Keira sendiri.

Keira pikir dia yang repot mengurus adik titipan. Ternyata **dialah yang jadi incaran.**

Sampai satu malam Reynard pulang mabuk, memeluknya erat, dan berbisik: *"Aku suka kamu, Ci. Dari dulu."*

Dan itu baru permukaannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amara Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31: Kondom

Seminggu kemudian, Keira dan Reynard pergi ke supermarket dekat Apartemen Meranti Park untuk membeli kebutuhan sebelum masa tinggal di asrama dimulai.

Troli mereka cepat penuh oleh sabun, mi, kopi, deterjen, dan makanan ringan yang menurut Reynard wajib dibawa ke asrama. Keira mengeluarkan tiga bungkus keripik pedas dari troli.

"Kamu nggak bisa makan ini."

"Untuk Vincent."

"Adikku bisa membelinya sendiri."

"Aku sedang membeli kedamaian sekamar."

Keira mengembalikan satu bungkus. "Dua cukup. Kamu tetap harus membawa obat maag."

"Sudah masuk tas."

"Coba tunjukkan."

Reynard merogoh tas selempangnya dan mengeluarkan dua bungkus obat maag. "Satu untukku, satu cadangan untuk Vincent. Ada obat demam, plester, dan vitamin juga."

Keira memeriksa tanggal kedaluwarsanya dengan serius. "Bagus. Sabun cuci?"

"Ada."

"Gantungan baju?"

"Sudah."

"Seprai tambahan?"

"Ci Kei, aku pindah ke asrama, bukan memulai hidup di pulau terpencil."

"Di asrama kamu akan sibuk. Kalau lupa, nanti memakai seprai yang sama sebulan."

"Aku bersih."

"Kamu meninggalkan kaus kaki di bawah sofa tiga hari."

Seorang ibu yang kebetulan lewat menahan senyum. Reynard menunduk mendekati Keira. "Pacarku membongkar aib di tempat umum."

"Siapa pacarmu?" bisik Keira cepat sambil melihat sekitar.

"Katanya nggak boleh menyangkal kalau ditanya langsung."

Keira memasukkan satu pak gantungan tambahan ke troli untuk membungkamnya. Sepanjang lorong berikutnya, Reynard terus berjalan dengan senyum puas karena berhasil membuatnya mengaku tanpa kata.

"Kamu nggak percaya?"

"Tidak untuk urusan makanan pedas."

Reynard tersenyum dan mendorong troli menuju kasir. Ketika mereka hampir tiba di antrean, ia menepuk saku celana seolah baru ingat sesuatu.

"Aku lupa mengambil baterai. Kamu antre dulu."

"Baterai ada di lorong tadi."

"Aku tahu. Sebentar."

Ia pergi membawa keranjang kecil. Keira tidak curiga. Lima menit kemudian, Reynard kembali dengan baterai, permen karet, dan satu kantong belanja buram dari kasir lain. Ia memasukkan semuanya ke bagian bawah troli dan menutupinya dengan kotak tisu.

"Kenapa bayar sendiri?"

"Antreannya kosong."

"Boros plastik."

"Maaf, Bu Penyelamat Bumi."

Di apartemen, mereka membagi barang di ruang tamu 8B. Reynard membawa perlengkapan mandi ke kamar, lalu masuk ke kamar mandi karena mengeluh gerah. Keira memindahkan makanan ke lemari sambil menyenandungkan lagu.

Tangannya menemukan kantong buram di bawah tisu.

"Baterainya taruh di mana?" teriaknya.

Suara air terdengar dari kamar mandi. Reynard tidak menjawab.

Keira membuka kantong. Ada baterai dan permen karet seperti yang disebutkan. Di bawahnya terselip tiga kotak kecil tanpa logo merek yang mencolok. Ia mengira itu permen lain dan mengambil satu.

Plastik pembungkusnya terbuka di ujung jari.

Kata kondom tercetak jelas di bagian depan.

Keira membeku. Panas naik dari leher ke wajah begitu cepat. Ia membaca keterangan pada kotak seolah berharap hurufnya berubah jika dilihat cukup lama.

Pintu kamar mandi terbuka.

Reynard keluar dengan handuk melilit pinggang. Rambutnya basah, air mengalir dari leher ke dada yang telanjang. Ia sibuk mengeringkan kepala dan tidak melihat apa yang dipegang Keira.

"Aturan kedua," kata Keira.

Reynard berhenti. "Apa?"

"Baju. Pakai baju. Sekarang."

Tatapannya mengikuti tangan Keira. Wajah Reynard mengalami satu detik kepanikan murni ketika melihat kotak yang sudah terbuka.

Keira tanpa sengaja menjatuhkannya. Kotak itu memantul di lantai, diikuti dua kotak lain yang meluncur keluar dari kantong.

Keheningan jatuh.

Reynard membungkuk untuk memungutnya. Keira langsung memalingkan wajah karena gerakan itu membuat handuknya tampak berbahaya.

"Jangan membungkuk!"

"Kalau nggak dipungut, tetap ada di lantai."

"Pakai baju dulu."

"Kalau aku pergi, kamu akan menyembunyikannya."

"Tentu saja!"

Reynard mengumpulkan kotak-kotak itu dan menaruhnya di meja. Ia mengambil kaos dari sandaran kursi, memakainya, lalu duduk dengan sikap terlalu tenang.

Keira menunjuk meja. "Jelaskan."

"Itu kondom."

"Aku bisa membaca. Kenapa kamu membelinya diam-diam?"

"Karena kalau mengajakmu memilih di lorong supermarket, kamu mungkin meninggalkanku di sana."

"Berarti kamu tahu ini akan membuatku marah."

"Aku tahu kamu akan malu. Itu berbeda."

"Tiga kotak, Rey. Bukan satu."

Reynard menggaruk alis. "Sedang promo."

"Reynard Hartono!"

"Baik." Ia berhenti bercanda. "Aku membelinya karena kita akan jarang bertemu setelah aku masuk asrama. Kalau suatu hari kamu ingin dekat lagi, aku nggak mau kita panik mencari perlindungan atau mengambil keputusan ceroboh."

Keira melipat tangan, meski jemarinya masih gemetar. "Kamu menganggap aku pasti mau."

"Tidak." Reynard menatapnya lurus. "Aku menyiapkan kemungkinan, bukan menentukan jawabanmu. Kotak-kotak itu bisa tidak pernah dibuka. Aku nggak akan kecewa kepadamu."

Keseriusannya mematikan separuh kemarahan Keira.

Keira duduk di sisi sofa dan memandangi kotak-kotak itu lagi. "Kita juga harus bicara tentang keamanan lain."

Reynard mengangguk. "Aku sudah membaca cara penggunaan dan penyimpanannya. Jangan kena panas, jangan dipakai kalau kemasannya rusak, periksa tanggal."

"Aku bukan sedang menguji hafalanmu."

"Aku ingin kamu tahu aku nggak membelinya sembarangan."

"Dan kita tetap nggak boleh menganggap benda itu menghapus semua risiko."

"Aku paham. Kalau kamu ingin kita berkonsultasi atau memilih metode lain nanti, aku ikut."

Jawaban Reynard bebas dari gengsi. Tidak ada lelucon tentang tanggung jawab yang seluruh bebannya harus ditanggung Keira. Laki-laki itu memasukkan kembali kotak yang terbuka dan meletakkannya jauh dari sinar matahari.

"Kamu benar soal satu hal," ujar Keira.

"Apa?"

"Membeli perlindungan memang lebih bertanggung jawab daripada pura-pura nggak mungkin terjadi."

Reynard tersenyum kecil. "Aku akan mencatat ini sebagai kemenangan."

"Jangan. Kamu tetap bersalah karena berbohong soal baterai."

"Aku nggak berbohong. Aku benar-benar membeli baterai."

Keira melempar tisu ke arahnya.

"Aku ingin kalau suatu hari kamu siap, kamu nggak perlu mencemaskan keamanan," lanjut Reynard. "Ini bukan cara menjebakmu. Aku justru ingin memastikan kita bertanggung jawab."

Keira tahu alasan itu masuk akal. Yang membuatnya jengkel adalah Reynard memang memikirkan terlalu jauh, sementara ia sendiri bahkan belum terbiasa menyebut laki-laki itu sebagai pacar.

"Kenapa nggak bilang?"

"Karena aku gugup."

"Kamu? Gugup membeli itu?"

"Kasirnya menatapku seperti tahu seluruh hidupku."

Keira membayangkan Reynard berdiri sendirian di kasir sambil menyembunyikan tiga kotak di bawah permen karet. Tawa kecil lolos sebelum ia sempat menahannya.

"Jangan tertawa," protes Reynard. "Aku berkorban demi tanggung jawab bersama."

"Korbannya cuma harga dirimu."

"Itu sangat berharga."

Ketegangan pecah. Namun ketika Keira hendak memasukkan kotak-kotak itu kembali ke kantong, Reynard menahan tangannya.

"Aku sungguh-sungguh," katanya. "Kamu yang menentukan apakah dan kapan."

"Aku tahu."

"Dan aku minta maaf soal handuk. Aku lupa pakai baju."

"Kamu selalu lupa pada aturan yang menguntungkanmu."

"Mungkin karena pacarku terlihat sangat cantik saat marah."

Keira melepaskan tangannya dan mundur. Reynard ikut berdiri, tetapi tidak menyentuhnya. Jarak mereka hanya satu langkah.

"Sekarang kamu siap?" tanyanya rendah.

Pertanyaan itu tidak terdengar seperti tuntutan. Ada ruang di antara mereka, dan Reynard tetap menunggu di tempatnya.

Keira menatap wajahnya, lalu kotak di atas meja. "Kalau aku bilang tidak?"

"Aku menyimpan semuanya di laci dan kita lanjut membereskan belanjaan."

"Kalau aku bilang ya?"

Napas Reynard tersendat, tetapi ia menjawab tenang. "Aku tetap bertanya sekali lagi sebelum kita melakukan apa pun."

Keira mendekat dan menarik ujung kaosnya. "Aku benci ketika kamu benar."

"Itu jawaban yang membingungkan."

"Aku nggak menolak."

Reynard tidak langsung meraih tubuhnya. Ia menyentuh pipi Keira dan bertanya, "Kamu yakin?"

Keira mengangguk, lalu mencium bibirnya sebagai jawaban kedua.

Kotak belanja tertinggal di ruang tamu. Mereka masuk ke kamar Keira dengan langkah pelan, masih sempat bertengkar kecil karena Reynard ingin membawa air minum dan Keira menuduhnya terlalu banyak persiapan.

"Aku memang suka bersiap," katanya.

"Aku sudah tahu sejak kamu memilih enam kampus."

"Dan rencanaku berhasil."

"Jangan sombong."

"Aku sedang sangat bersyukur."

Di ambang kamar, Keira berhenti lagi. "Aku ingin mengatakan satu hal."

Reynard langsung diam.

"Aku memilih ini karena aku mau. Bukan karena kamu membeli sesuatu, bukan karena kamu akan tinggal di asrama, dan bukan karena takut kamu kecewa."

"Aku tahu."

"Biarkan aku selesai. Kalau kapan pun aku berubah pikiran, kita berhenti."

"Tanpa pertanyaan," janji Reynard.

"Begitu juga kalau kamu berubah pikiran."

Reynard terlihat terkejut, seolah tidak menyangka batasnya sendiri ikut diperhitungkan. Ia lalu menyentuh kening Keira dengan keningnya. "Sepakat."

Kesetaraan sederhana itu membuat Keira merasa lebih tenang daripada semua persiapan lain.

Ciuman berikutnya menutup perdebatan. Reynard tetap memeriksa setiap perubahan ekspresi Keira, berhenti ketika napasnya menegang, dan membiarkan Keira menentukan kapan mereka bergerak lagi. Keintiman mereka berlangsung dalam batas yang telah dibicarakan, dengan rasa aman yang kini tidak lagi terasa asing.

Pagi berikutnya, Keira terbangun dalam pelukan Reynard. Kotak kecil di meja samping ranjang langsung membuat wajahnya memanas lagi.

"Lain kali jangan membeli sesuatu diam-diam," katanya.

Reynard yang masih mengantuk mengangguk di rambutnya. "Baik."

"Dan jangan keluar kamar mandi hanya memakai handuk."

"Baik."

"Kamu mendengarkan?"

"Sangat."

Nada suaranya terlalu puas untuk dipercaya. Keira mencubit lengannya, tetapi Reynard hanya memeluknya lebih rapat.

Saat kantuk kembali menarik Keira, bibir laki-laki itu menyentuh telinganya.

"Kalau perkuliahan mulai dan aku tinggal di asrama," bisik Reynard, "aku akan sangat merindukanmu."

Ada nada tidak aman yang tipis dalam kalimat itu. Keira ingin bertanya, tetapi matanya sudah terlalu berat. Ia hanya menggenggam tangan Reynard sebelum kembali tertidur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!