Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembantaian Sepihak Naga Selatan
Suara ledakan api kecil menggema di balik rimbunnya semak perbatasan hutan, disusul tawa angkuh yang menggantung di udara malam, mengejutkan Galih, Sekar, dan Larasati yang baru saja mendekati sumber bau amis darah yang mereka ikuti sejak tadi.
Ketiganya saling bertukar pandang, memberi isyarat tanpa kata untuk mengendap-endap mendekat, menghindari kemungkinan bentrok langsung dengan monster yang mungkin masih berkeliaran di area itu. Sekar memimpin di depan, tubuhnya merunduk rendah, langkahnya nyaris tanpa suara meski tanah di bawahnya dipenuhi ranting kering yang mudah patah. Galih mengikuti tepat di belakangnya, menahan napas setiap kali kakinya menginjak sesuatu yang berpotensi menimbulkan bunyi.
Mereka menyusuri celah semak, mengintip dari balik dedaunan lebat yang menutupi pandangan langsung ke arah sumber suara yang mereka kejar sejak tadi.
Yang terlihat di hadapan mereka sama sekali bukan pertarungan hidup dan mati yang mereka bayangkan sepanjang perjalanan tadi malam.
Raka berdiri di tengah lapangan terbuka, dikelilingi tumpukan bangkai Tuyakra yang sudah tidak bergerak, sebagian hangus terbakar, sebagian lagi tergeletak dengan luka tebasan bersih. Bayu dan Damar sibuk memunguti bagian tubuh monster yang bisa dijual, memasukkannya ke dalam karung besar sambil sesekali tertawa puas. Bau hangus bercampur darah monster memenuhi udara malam, menciptakan pemandangan yang jauh dari kesan heroik meski hasil akhirnya menyelamatkan nyawa warga.
"Sudah kubilang, monster level rendah begini cuma butuh waktu satu jam untuk dihabisi," ujar Raka bangga, menendang salah satu bangkai Tuyakra dengan santai sambil menyeka keringat di dahinya. "Tidak perlu strategi rumit, cukup kekuatan yang benar. Ini baru namanya pemburu sungguhan."
Sekar mengepalkan tangan, rahangnya mengeras menyaksikan pemandangan itu. Misi yang seharusnya menjadi ujian penting bagi Laskar Cakra, misi yang mereka kejar dengan penuh urgensi demi keselamatan warga desa, ternyata sudah diselesaikan lebih dulu oleh kelompok rival yang sama sekali tidak diminta. Semua kekhawatiran yang mereka bawa sepanjang perjalanan, semua kewaspadaan ekstra yang mereka siapkan, terasa sia-sia dalam sekejap.
"Kenapa mereka bisa lebih dulu sampai," bisik Larasati, suaranya penuh kekesalan yang tertahan, matanya tidak lepas dari tumpukan bangkai monster yang berserakan di hadapan mereka.
"Naga Selatan pasti mendengar kabar ini lebih cepat dari kita," jawab Sekar pelan, matanya masih terpaku pada sosok Raka yang kini berjalan mendekati kerumunan warga yang mulai berdatangan dari arah desa, tertarik oleh suara ledakan tadi. Sesuatu tentang timing kemunculan mereka terasa terlalu rapi untuk sekadar kebetulan.
"LIHAT INI!" teriak Raka lantang, mengangkat salah satu bangkai Tuyakra tinggi-tinggi di hadapan warga yang mulai berkerumun penasaran. "Naga Selatan berhasil membasmi seluruh kawanan yang mengancam ladang kalian! Tidak perlu khawatir lagi malam ini!"
Sorak sorai kecil terdengar dari kerumunan warga, campuran lega dan kagum melihat hasil kerja Raka dan anak buahnya. Beberapa di antara mereka bahkan bertepuk tangan, mengucapkan terima kasih berulang kali, beberapa ibu-ibu bahkan menawarkan hasil kebun mereka sebagai tanda terima kasih kepada Raka dan kelompoknya.
Raka menikmati sanjungan itu dengan seringai puas, sebelum matanya menangkap sesuatu di balik semak, tepat di mana Laskar Cakra bersembunyi mengamati.
"Oh, ternyata ada yang menonton dari balik semak," katanya keras, sengaja mengarahkan perhatian seluruh warga ke titik persembunyian mereka. "Keluarlah, tidak perlu malu-malu begitu."
Terpaksa, Sekar, Galih, dan Larasati melangkah keluar dari persembunyian mereka, disambut tatapan penasaran seluruh warga yang berkumpul, sebagian di antaranya mulai berbisik-bisik begitu mengenali wajah mereka bertiga.
"Wah, Laskar Cakra rupanya," ejek Raka, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar jelas oleh semua orang. "Kalian datang terlambat, ya? Untung ada kami yang sigap menyelesaikan masalah warga. Kalau menunggu kalian, mungkin petani-petani itu sudah jadi santapan Tuyakra semua. Lain kali biar kami saja yang urus misi penting."
Tawa mengejek dari Bayu dan Damar menyusul, disambut beberapa gelak tawa kecil dari warga yang mulai terpengaruh sindiran itu, meski tidak semuanya terlihat nyaman dengan cara Raka merendahkan kelompok lain di depan umum. Seorang lelaki tua di barisan belakang bahkan menggelengkan kepala pelan, tidak sepenuhnya setuju dengan sikap Raka meski tetap diam tidak berkomentar.
Larasati mengepalkan tangannya erat-erat, wajahnya memerah menahan amarah yang membuncah. Ia ingin sekali membalas, menjelaskan kepada warga bahwa Laskar Cakra sudah bergerak secepat mungkin sejak mendapat laporan pagi tadi, bahwa keterlambatan ini bukan karena kemalasan melainkan karena Naga Selatan sengaja mencuri start untuk mempermalukan mereka di depan umum. Lidahnya sudah siap melontarkan bantahan, namun ia menahan diri, menyadari betapa sia-sianya berdebat di tengah kerumunan yang sudah terlanjur mengagumi Raka.
Namun Sekar meletakkan tangan di pundak Larasati, menahan gadis itu agar tidak terpancing emosi di depan begitu banyak saksi mata.
"Jangan," bisik Sekar pelan, hanya cukup terdengar oleh Larasati dan Galih. "Ini yang mereka inginkan. Membuat kita terlihat kalah di depan warga desa."
Larasati menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam gejolak di dadanya meski matanya masih menatap tajam ke arah Raka yang terus tersenyum penuh kemenangan di hadapan warga yang mengelilinginya.
Galih berdiri diam, tangannya terkepal erat menahan amarah yang sama besarnya, namun ia memilih mengikuti sikap tenang Sekar. Ia menyadari bahwa membalas ejekan itu di depan warga hanya akan memperkeruh suasana, membuat mereka terlihat seperti anak-anak yang bertengkar memperebutkan pengakuan, sementara yang sebenarnya penting adalah keselamatan warga sudah terjamin, siapa pun yang menyelesaikannya. Ia teringat lagi nasihat Sekar tentang gengsi misi yang pernah diucapkan gadis itu beberapa hari lalu di perjalanan menuju hutan.
Sekar menarik napas panjang sekali lagi, mencoba meredam emosinya yang bergejolak, sebelum akhirnya menatap Raka dengan tenang. "Yang penting warga aman. Itu saja sudah cukup bagi kami."
Kalimat itu diucapkan tanpa nada kekalahan sedikit pun, namun juga tanpa perlawanan yang diharapkan Raka, membuat pemuda itu sedikit kehilangan momentum kemenangannya di hadapan para warga.
Tanpa berkata-kata lebih lanjut, Sekar berbalik badan, memberi isyarat kepada Galih dan Larasati untuk mengikutinya meninggalkan area ladang itu tanpa menoleh lagi. Mereka melangkah pergi dengan kepala tegak, mengabaikan sisa-sisa sorakan dan ejekan yang masih terdengar samar dari kejauhan.
Malam semakin larut ketika mereka berjalan pulang dalam diam, masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri, menyisakan area ladang yang kini sepenuhnya dikuasai oleh kesombongan Naga Selatan yang berhasil mencuri kemenangan yang seharusnya bisa menjadi bukti nyata kemampuan Laskar Cakra di hadapan seluruh desa. Suara jangkrik dan angin malam menemani langkah mereka, satu-satunya hal yang memecah keheningan sepanjang perjalanan pulang yang terasa jauh lebih berat dari perjalanan berangkat mereka tadi sore.