Indonesia
NovelToon NovelToon
Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Transmigrasi Menjadi Istri Gendut Sang Kapten

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:343k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Gak usah pura-pura amnesia. Dan ingat, meski kamu bunuh diri berkali-kali, aku bakal tetep ceraiin kamu."

"Hei, Pak Tentara! Saya benar-benar gak kenal Anda!"

Vivian, desainer ternama, mengalami kecelakaan mobil dan jatuh ke sungai. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Levia, istri gendut Kapten Arvandra Jayasena.

Semua orang tahu, Levia terobsesi pada Vandra. Demi menjadi istrinya, ia menjebak sang kapten hingga terpaksa menikahinya. Akibatnya, pernikahan mereka hanya dipenuhi kebencian, hingga Levia nekat mengakhiri hidupnya.

Kini, Vivian yang menempati tubuh Levia sama sekali tidak berniat mengejar cinta Vandra. Ia hanya ingin mengubah takdir pemilik tubuh dengan cara menurunkan berat badan dan mengejar kembali mimpinya sebagai desainer.

Namun, ketika Levia berhenti mengejar, perlahan Vandra malah enggan melepaskannya.

"Via... kita mulai dari awal."

"Mulai dari awal? Maaf, Kapten. Saya bukan aplikasi yang bisa di-reset ke pengaturan pabrik."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Ketika Mimpi Mendapat Restu

Levia masih duduk di kursi depan meja kerja Gultom ketika pandangannya tanpa sengaja jatuh pada beberapa berkas yang menumpuk di sisi meja.

Ada laporan keuangan, catatan produksi, serta beberapa lembar dokumen yang penuh angka.

Ia mengambil salah satunya. "Yah, ini berkas apa?"

Gultom melirik. "Itu laporan pabrik."

"Pabrik tekstil?"

"Iya."

Levia membolak-balik beberapa halaman. "Yang ini?"

"Laporan pemasukan dan pengeluaran bulan ini." Gultom menunjuk berkas lain. "Kalau yang itu. Catatan barang masuk dan keluar. Mulai dari bahan baku sampai hasil produksi yang dikirim ke pelanggan."

Levia mengangguk pelan. Selama ini ia tahu ayahnya memiliki pabrik tekstil. Namun hanya sebatas tahu. Pemilik tubuh asli bahkan tidak pernah benar-benar bertanya bagaimana ayahnya menjalankan bisnis. Padahal seluruh hidup pria itu seolah didedikasikan untuk putrinya.

Gultom bekerja keras membangun bisnis, sementara Levia menghabiskan sebagian besar waktunya mengejar seorang pria yang bahkan tidak pernah menginginkannya.

Entah kenapa, melihat tumpukan berkas itu membuat dada Levia terasa sesak. "Yah."

"Hm?"

"Kalau aku bantu, boleh?"

Gultom langsung menatapnya. "Bantu apa?"

"Ini." Levia menunjuk laporan keuangan. "Aku bisa bantu menghitung pemasukan dan pengeluaran. Yang barang masuk dan keluar juga."

Gultom sampai terdiam. "Kamu?"

Levia mengangguk. "Iya."

Gultom hampir tertawa karena kaget. "Via, kamu tahu Ayah kerja di bidang apa, tapi selama ini kamu bahkan gak pernah mau melihat laporan seperti itu."

Levia tersenyum malu. "Aku memang gak pernah tertarik."

"Itu sebabnya Ayah heran."

"Aku juga heran." Levia menarik kursinya lebih dekat. "Tapi sekarang aku ingin tahu."

Gultom menatap putrinya beberapa saat. Kemudian ia menyerahkan sebuah kalkulator. "Kalau begitu coba."

Levia menerima kalkulator tersebut. Ia mulai membaca laporan.

Awalnya Gultom hanya memerhatikan. Namun beberapa menit kemudian, alisnya terangkat.

Levia tidak sekadar menjumlahkan angka. Ia mulai membandingkan pengeluaran bulan ini dengan bulan sebelumnya.

"Yah, biaya bahan baku bulan ini naik cukup banyak."

"Memang."

"Karena harga kapas?"

"Sebagian."

Levia menunjuk beberapa angka. "Tapi biaya pengiriman juga naik. Kalau jumlah produksinya hampir sama, berarti ada biaya distribusi yang bisa ditekan."

Gultom mendekat. "Mana?"

Levia menunjukkan bagian yang dimaksud.

Gultom membacanya. Ia kemudian mengambil laporan lain. "Benar juga."

Levia tersenyum kecil. "Terus ini..." Ia mengambil laporan barang keluar. "Jumlah kain yang keluar lebih banyak daripada jumlah produk jadi yang tercatat."

Gultom langsung mengambil dokumen tersebut. "Sebentar." Ia membaca ulang.

Levia menunjuk salah satu kolom. "Kalau ini bukan kesalahan pencatatan, berarti ada selisih."

Gultom terdiam. Ia memeriksa beberapa dokumen lain. Beberapa menit kemudian, pria itu memandang putrinya dengan ekspresi yang berubah. "Via."

"Iya?"

"Kamu belajar dari mana?"

Levia terdiam sesaat. Ia tentu tidak mungkin mengatakan bahwa kemampuan tersebut berasal dari kehidupan sebelumnya. Akhirnya ia tersenyum. "Aku cuma mencoba memahami angkanya."

Gultom menggeleng sambil tersenyum. "Selama ini Ayah gak tahu kamu bisa seperti ini."

Levia tertawa kecil. "Aku juga baru tahu."

Mereka melanjutkan pekerjaan. Tanpa terasa, hampir satu jam berlalu.

Ketika semuanya selesai, Gultom bersandar di kursinya. "Ayah senang."

Levia merapikan berkas. "Karena aku membantu?"

"Bukan cuma itu." Gultom tersenyum. "Ayah senang akhirnya kamu mau mengenal pekerjaan Ayah."

Levia menatap pria itu. "Maaf, Yah."

"Untuk apa?"

"Selama ini Ayah sudah bekerja keras, tapi aku hampir gak pernah peduli."

Gultom menggeleng. "Yang penting sekarang kamu mau."

Levia tersenyum. Beberapa detik kemudian, ia seperti teringat sesuatu. "Yah..."

"Hm?"

"Aku sebenarnya punya keinginan."

Gultom mengerutkan keningnya. "Apa?"

Levia menarik napas. "Aku ingin jadi desainer."

Gultom mengerjapkan mata. "Desainer?"

Levia mengangguk mantap. "Iya."

"Tapi kuliahmu bukan desain."

"Aku tahu."

Gultom masih terlihat bingung. "Kenapa tiba-tiba?"

Levia terdiam sejenak. "Karena aku merasa itu yang benar-benar ingin aku lakukan." Ia tersenyum. "Aku suka pakaian. Aku suka membuat desain. Dan aku ingin punya sesuatu yang benar-benar aku bangun sendiri."

Gultom memandangi putrinya. "Kamu sudah punya desain?"

"Iya," jawab Levia. "Sudah beberapa."

"Mana?" tanya Gultom.

"Di kamar." Levia langsung berdiri. "Biar kuambil."

"Ambillah." Gultom terlihat penasaran.

Levia pun keluar dari ruang kerja. Tidak lama kemudian ia kembali membawa sebuah map besar. Ia meletakkannya di atas meja di depan ayahnya.

Gultom membuka lembar pertama. Matanya langsung membesar. Sebuah desain gaun terlihat begitu detail. Potongan, ukuran, bahan, hingga detail jahitannya tercatat dengan rapi.

Ia membuka lembar berikutnya, lalu berikutnya. Semakin banyak yang dilihat, semakin sulit baginya menyembunyikan rasa kagum. "Ini kamu yang gambar?"

"Iya, Yah." Levia menjawab tanpa ragu.

Mata Gultom kembali pada putrinya. "Bagus banget."

Bibir Levia melengkung. "Aku ingin punya merek sendiri."

"Merek pakaian?"

"Iya," jawab Levia penuh keyakinan.

Gultom berpikir sebentar. "Kalau membuka butik di kabupaten ini, pasarnya mungkin gak sebesar kota besar."

"Itu yang aku pikirkan, Yah." Levia memang.sudah memperhitungkan hal ini.

"Tapi..." Gultom menutup map tersebut. "Kenapa harus mulai dari butik?"

Levia mengernyit. "Maksud Ayah?"

"Kalau kamu memang serius," ujar Gultom dengan nada suara tenang. "...buat perusahaan fashion kecil dulu."

Mata Levia membesar. "Perusahaan?"

 

...✨“Hidup bukan tentang berapa lama kita mengejar sesuatu yang tak pernah memilih kita, melainkan tentang apa yang kita bangun ketika akhirnya memilih diri sendiri.”...

...“Mimpi akan terasa jauh lebih berarti ketika ada seseorang yang tidak hanya percaya pada kemampuan kita, tetapi juga bersedia membantu kita mewujudkannya.”✨...

.

To be continued

1
Lucyana H
risa harus tanggung dgn segala resikonya karna emang dia yg salah,harusnya ga gitu jendral,anak salah kok masih di bela
Lucyana H
rasain Risa kena batunya,nikma aja hotel prodeo bareng si Ninis
Lucyana H
Risa jd cewek jgn murahan atuh..kmu itu dokter,anak jendral ,kmu jg berpendidikan pasti tau etika dong,masa ngejar "suami orang ,emang ga malu kmu,udah putus kalo ya urat malunya,salah di vandranya sih..knp ngasih harapan dulunya
Lucyana H
vandra harusnya masalah rumah tangga kmu jgn sampe denger sm orang luar,apalagi si Risa katanya seorang dokter,bapanya jendral masa dtg ke rumah yg masih jd suami orang,pantes jg ga,
Lucyana H
ih..Ninis ga jelas bgt,....ngarep bgt jd si levia...mimpi aja Lo nis
Lucyana H
dih siapa Lo Ninis sadar.....Lo tuh cuma Pembokat...ga usah ngarep .....cih ngehalu
Siska Safitri
lanjut
Sulati Cus
👍🏻
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Ninis ini masih saja ingin mencuri desain Levia. Otaknya perlu dicuci ini orang. Tak ada rasa bersyukur telah ditolong Gultom untuk bekerja dan tinggal di rumah Gultom.

Mimpi kali Ninis. Mau menjatuhkan Levia.

Ninis sendiri nanti yang nyungsep terjerembab karena ditendang keluar dari rumah Gultom.
anonim
Risa jangan berharap banyak pada Vandra yang masih belum mantap ingin menceraikan Levia.

Bagaimana caranya mau bikin Vandra mengurungkan niatnya untuk menceraikan Livia. Niat banget nih Risa.
anonim
Risa ini sudah disikapi dingin Vandra masih juga berharap.

Vandra tidak memberi peluang kepada Risa untuk membahas masa lalu.

Risa mau bikin Vandra cemburu atau marah ketika memberitahu tentang Levia yang menjalin kerjasama dengan Andri Mahesa.

Risa ngomongnya mbulet aja. Sudah Risa, kamu nggak ada peluang lagi untuk mendapatkan Vandra.
anonim
Vandra cemburu sama Andri makanya mengingatkan Levia masih istrinya.

Sekarang pusat dunia Vandra adalah Levia. Levia sendiri pusat dunianya Brenda, sudah bukan sang Kapten lagi.
anonim
Vandra menghubungi Levia, cemburu terselubung. Mengingatkan Levia masih istrinya.

Vandra belum bilang mau membatalkan perceraian. Belum punya nyali dia, belum tahu alasannya apa kalau Levia bertanya😁.

Salahnya sendiri kasih surat cerai untuk ditandatangani Levia. Kini menyesal.
anonim
Selama ini Vandra gigih untuk menceraikan Levia. Kini istrinya banyak mengalami perubahan terutama fisiknya dan tidak mengejar dirinya seperti dulu.

Sekarang Vandra tidak ingin kehilangan Levia. Mau membatalkan perceraian. Bingung sendiri jadinya.
anonim
Rekan-Rekan Vandra semakin gencar ngomong tentang Levia dengan segala perubahannya.

Mereka tertawa tanpa merasa dosa sedikitpun. Sedangkan Vandra tidak ikut tertawa. Ingatannya ada pada foto Levia yang tersenyum, berdiri di samping Andri Mahesa.

Vandra semakin diam, semakin nggak karuan rasanya ketika rekan-rekannya semakin gencar membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi nanti.

Rekan-rekan Vandra bicaranya semakin bikin Vandra benar-benar galau. Mereka dengan enaknya bicara seperti mengejek Vandra dengan kenyataan yang ada.
anonim
Rekan-rekan Vandra pada membicarakan Levia yang bekerja sama dengan Mahesa retail.

Yang punya Nahesa Retail masih muda, belum menikah pula.

Daun telinga Vandra panas ngga tuh mendengar obrolan rekan-rekannya.

Mereka juga membicarakan Levia di masa sebelum Vandra mendapat tugas tugas ke Libanon.

Vandra hanya diam.
anonim
Vandra membuka Akun Brenda.

Vandra melihat foto Levia sedang berjabat tangan dengan Andri yang dia tidak mengenalnya.

Perasaannya mulai tidak nyaman mengetahui Andri seorang pengusaha muda, belum menikah.

Vandra menyesal ngga setelah melihat foto-foto Levia dengan aktifitasnya dan segala perubahannya.

Belum bercerai namun sudah memberi surat perceraian untuk ditandatangani Levia.

Sepertinya Vandra masih punya harapan untuk bersama Levia yang belum menandatangani surat cerai.
anonim
Risa siap-siap saja menerima kenyataan kalau Vandra tidak jadi menceraikan istrinya yang sekarang jelas lebih menarik, lebih mandiri, punya perusahaan sendiri dan semua perubahan yang terjadi pada Levia.

Dari dulu Risa saja yang mengganggap remeh Levia.
A.R
knp ngk di ganti tuhh namanx calon mantan suami mu,,ntar dia liat teruss kepedeaan Krn km blum bisa move on
A.R
nihh Ninis jatuh cinta kh SM bpknx Levis atau gmna??
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!