Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.
"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.
Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.
Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.
"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20
Cemburu, Lalu Berangkat Lomba
Seminggu setelah nilai keluar, Rayhan pulang untuk mengambil perlengkapan kompetisi.
Mbah Surti menyiapkan dua kotak bekal, satu tas camilan, obat masuk angin, minyak kayu putih, dan enam bungkus tempe kering.
"Mbah, aku pergi tiga hari, bukan pindah negara."
"Kalau lapar di jalan, medali nggak bisa dimakan."
Koh Kelvin yang ikut rombongan kompetisi sudah mengirim pesan agar Rayhan tidak membawa seluruh warung. Rayhan mencoba mengurangi isi tas, tetapi Mbah Surti memasukkannya kembali saat ia lengah.
Laras datang membawa map plastik untuk dokumen. Ponselnya berdering ketika ia sedang memeriksa kartu peserta. Nama Galih muncul.
"Halo? Iya, sudah sampai?"
Suara Laras santai. Ia bertanya soal perjalanan Galih dan kapan pulang ke Gang Mawar. Rayhan berdiri di dekat meja sambil melipat kaus lebih keras dari perlu.
Setelah telepon ditutup, ia berkata, "Ngobrol sama calon pengacara mesra banget."
Pak Darto yang sedang menghitung uang kas mengangkat kepala. "Galih pulang kapan?"
"Minggu depan," jawab Laras.
"Bagus. Minta bantu lihat surat sewa pelanggan yang kemarin."
Rayhan makin kesal karena nama Galih masuk ke urusan bengkel juga. "Semua masalah harus Galih?"
Pak Darto mengerutkan kening. "Dia ngerti hukum. Kamu kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa, Pak."
Suaranya langsung sopan, tetapi kaki kursi bergeser keras saat ia duduk. Laras melihat pergantian itu: anak baik di depan Pak Darto, remaja cemburu ketika hanya dengannya. Dulu kontras tersebut terasa lucu. Sekarang ia tahu sisi lembut dan sisi tajam sama-sama nyata.
Laras tidak menoleh. "Telepon dua menit disebut mesra?"
"Tanya kapan pulang, tanya makan, tanya capek. Lengkap."
"Gue juga tanya lo makan tiap hari."
"Berarti sama?"
"Jangan mulai."
Rayhan melihat senyum kecil yang tadi muncul saat Laras bicara dengan Galih. Kecemburuan mengalahkan semua pelajaran konseling.
"Dia pulang mau bawain jepit, kan? Senang?"
"Kalau pun iya, urusan gue."
"Janji kita gimana?"
"Janji gue nggak pacaran. Bukan nggak boleh punya teman."
"Galih nggak mau jadi teman."
"Lo juga nggak."
Kalimat itu tepat mengenai sasaran. Rayhan mengambil kotak bekal dan menaruhnya keras di meja. Tutupnya terbuka, tempe kering tumpah.
Mbah Surti keluar dari dapur. "Kalau mau berantem, jangan sama makanan!"
Laras membantu memungut. "Besok berangkat sendiri saja. Gue nggak jadi antar."
Mbah Surti menepuk kepala Rayhan dengan bungkus tempe kosong. "Orang mau lomba minta doa, bukan bikin orang marah."
"Mbah nggak ngerti."
"Mbah ngerti kamu cemburu buta. Dari kecil kalau Laras main sama Galih, gorengan ikut kamu remas."
Rayhan membeku. Laras menahan tawa meski masih marah.
"Tuh. Mbah punya arsip lebih lengkap," katanya.
"Kamu jangan senang. Kamu juga kalau Rayhan dekat teman perempuan mukanya berubah," balas Mbah Surti.
Laras langsung berhenti tersenyum. Rayhan menoleh dengan harapan baru, tetapi Laras memilih pergi sebelum percakapan berbalik menyerangnya.
Ia pergi sebelum Rayhan sempat menahan.
Satu jam kemudian, Laras sedang menutup bengkel ketika ujung kausnya ditarik pelan.
Rayhan berdiri di belakang dengan wajah yang sudah kehilangan ketajaman.
"Jangan marah, dong."
"Lepas."
Ia melepaskan kain, lalu berdiri di depan Laras. "Aku besok berangkat. Masa kita berantem terus?"
"Yang mulai siapa?"
"Aku."
"Yang banting bekal siapa?"
"Aku."
"Terus?"
"Maaf. Aku beresin lagi. Tempenya masih aman."
Laras ingin mempertahankan marah, tetapi cara Rayhan mengaku tanpa alasan membuatnya melunak sedikit.
"Konseling lo ngajarin apa?"
"Cemburu bukan izin mengendalikan."
"Terus kenapa masih dilakukan?"
"Belajarnya belum lulus."
"Juara kelas tapi ini remedial terus."
Rayhan tersenyum kecil. "Besok antar, ya?"
Laras mendengus. "Kalau dokumen lo lengkap."
Malam itu mereka memeriksa kartu peserta, surat sekolah, pakaian, obat, dan bekal. Laras menuliskan nomor pelatih di belakang map. Rayhan duduk sangat dekat, tetapi tidak menyentuh tanpa perlu.
Pak Darto menguji Rayhan dengan pertanyaan jadwal bus, alamat penginapan, dan nomor pendamping. Rayhan menjawab semua. Mbah Surti menyelipkan uang darurat di saku dalam tas lalu memintanya salat dan menelepon setelah tiba.
"Menang kalah pulang tetap makan," kata Pak Darto. "Jangan cuma bawa beban harus juara."
Rayhan mengangguk. Seleksi ini penting untuk jalur akademiknya, tetapi setelah kejadian sekolah ia belajar bahwa satu hasil tidak boleh menjadi ukuran seluruh dirinya.
Laras menyerahkan map. "Bawa ini di tas tangan. Jangan masuk bagasi."
"Siap, Bos."
"Dan dengar pelatih. Bukan Koh Kelvin."
Dari panggilan video, Kelvin protes keras. Mbah Surti tertawa sampai harus memegang meja.
"Kalau aku menang, kamu traktir," katanya.
"Menang dulu."
"Janji?"
"Bakso. Nggak lebih."
"Berdua?"
"Sama Mbah."
"Mbah jaga warung."
"Sama Koh Kelvin."
"Kelvin alergi bakso."
"Dia tadi makan dua mangkuk."
Rayhan tertawa ketahuan berbohong. Ia lalu menjadi serius.
"Waktu aku nggak ada, jangan sering ke Galih."
Laras menatapnya. "Remedial lagi?"
"Aku cuma minta. Kamu boleh nolak."
"Gue bakal ketemu siapa pun kalau perlu. Tapi gue pegang janji kita. Itu cukup."
Rayhan mengangguk. Jawaban itu bukan yang ia mau, tetapi lebih sehat daripada larangan.
Pagi berikutnya, Laras mengantar dengan motor ke terminal antarkota. Rayhan memegang besi belakang, menjaga jarak seperti kesepakatan baru mereka.
Di lampu merah, Rayhan berkata dari balik helm, "Aku kangen waktu boleh peluk supaya nggak jatuh."
"Pegangan belakang cukup."
"Aku tahu. Cuma bilang."
Laras tidak menjawab. Ia menghargai perbedaan antara mengungkapkan keinginan dan memaksakannya. Rayhan masih posesif, masih mudah cemburu, tetapi setidaknya pagi ini ia membiarkan Laras memiliki batas tanpa membuat hukuman.
Saat mereka tiba, pelatih memeriksa kehadiran dan dokumen satu per satu. Kelvin membantu mengangkat kotak alat eksperimen tim, bukan hanya bercanda seperti biasanya. Laras melihat Rayhan masuk ke dunianya sendiri, dunia kompetisi dan teman sebaya yang tidak berpusat padanya. Pemandangan itu melegakan sekaligus membuat ruang aneh di dada.
Koh Kelvin sudah duduk dekat jendela bus. Saat melihat Laras, ia melambaikan tangan.
"Mbak Laras, titip Rayhan, ya! Eh, salah. Titip saya ke Rayhan!"
"Jangan ajarin dia aneh-aneh, Koh!"
"Dia yang ngajarin saya!"
Pelatih memanggil peserta naik. Laras menyerahkan map dan merapikan kerah jaket Rayhan.
Tangannya berhenti sesaat, mengingat hari ketika ia tidak bisa lagi mengacak kepala Rayhan tanpa mendongak.
"Jaga diri. Jangan telat makan."
"Tadi katanya cara kamu ngomong ke Galih mesra. Berarti sekarang kita mesra?"
"Naik bus sebelum gue tendang."
Rayhan tersenyum lalu naik. Dari balik jendela, ia menempelkan telapak tangan ke kaca, gerakan yang sama seperti Laras saat pergi ke Surabaya.
"Tungguin aku, ya," katanya melalui celah jendela.
Laras tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berdiri sampai bus bergerak keluar terminal.
Ketika kendaraan hilang di jalan, suasana di samping motor mendadak terlalu sepi. Laras memasang helm, tetapi ponselnya bergetar sebelum sempat dinyalakan.
Galih menelepon.
Laras mengangkat setelah dering ketiga.
"Ras," suara Galih terdengar tegang. "Gue ada masalah. Bisa nemenin nggak?"
Laras menatap jalan tempat bus Rayhan baru saja pergi.
Kalimat tungguin aku masih terasa dekat.
Jarinya mengencang pada ponsel, sementara panggilan Galih membuka ruang kosong yang baru ditinggalkan Rayhan.