Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Pengantin Pengganti (Seharusnya Ipar)

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen membahagiakan justru berubah menjadi mimpi buruk bagi Aura.
Tepat di hari pernikahan, Keisya, sang kakak, menghilang dan meninggalkan sepucuk alasan kuat yang membuatnya tidak bisa melanjutkan pernikahan tersebut.
Demi menyelamatkan nama baik keluarga dan mencegah kehancuran di depan ratusan undangan, Aura terpaksa mengambil keputusan terberat dalam hidupnya: melangkah ke pelaminan sebagai Pengantin Pengganti bagi pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
Hatinya hancur dan dilanda dilema hebat. Di satu sisi, Aura tidak tega untuk membiarkan nama baik Keisya dan keluarganya hancur berantakan.
Namun di sisi lain, pengorbanan ini menuntut harga yang sangat mahal. Aura harus merelakan cintanya pada Farhan, kekasih hatinya yang sejatinya sudah merencanakan pernikahan di tahun yang sama.
Bagaimanakah kehidupan Aura selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Sebuah kejutan

Langkah kaki Aura tergesa-gesa menuruni anak tangga setelah ia selesai mandi dan mengenakan dress santai berbahan katun lembut berwarna peach.

Rambut panjangnya digelung longgar, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai wajah putih mulusnya yang masih tampak merona segar.

Begitu menginjakkan kaki di lantai bawah, aroma gurdu kaldu ayam yang lezat langsung menyambut indra penciumannya.

"Neng Aura..." panggil Mbok Nah dari arah dapur dengan senyum penuh arti yang tak bisa disembunyikan. Wanita paruh baya itu berjalan membawakan nampan berisi semangkuk sup ayam hangat dan segelas jus jeruk segar.

Aura merasa pipinya makin panas. Ia yakin Mbok Nah, dengan segala pengalaman hidupnya, pasti sudah tau mengapa ia bisa bangun kesiangan hingga menjelang pukul sebelas siang.

"Eh, Mbok... Maafkan aku ya, kesiangan bangun," ucap Aura kikuk, sambil meremas jemarinya sendiri di hadapan Mbok Nah. "Kenapa tidak digedor lebih keras tadi?"

Mbok Nah terkekeh pelan sambil meletakkan nampan tersebut di atas meja makan. "Duh, Neng Aura. Tuan Fadil sendiri yang pesan tadi pagi sebelum berangkat ke kantor, katanya jangan dibangunkan terlalu siang karena Neng Aura kecapean." Mbok Nah sengaja menekankan kata ‘kecapean’ dengan nada bercanda yang sopan.

Aura pun menundukkan kepalanya, berharap lantai keramik di bawah kakinya tiba-tiba terbelah dan menelannya bulat-bulat karena rasa malu yang teramat sangat.

"Sudah, ayo duduk dulu, Neng. Makan sup hangatnya ya. Perut Neng Aura pasti kosong dari pagi," bujuk Mbok Nah.

Mau tidak mau, Aura pun duduk di kursi makan. Ia mulai memakan sup ayam buatan Mbok Nah yang terasa begitu pas di lidah, hingga menghangatkan tenggorokan sekaligus meredakan rasa lemas di sekujur tubuhnya.

Di tengah-tengah makannya, suara dering ponsel yang diletakkan di atas meja makan bergetar nyaring.

BZZT... BZZT...

Aura melirik layar ponselnya yang menyala terang, dan tertera nama ‘Mas Fadil’ di sana dengan ikon panggilan masuk. Jantung Aura langsung berdegup kencang seolah ia tertangkap basah sedang melakukan kesalahan.

Dengan jemari yang sedikit ragu, Aura menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan tersebut dan mendekatkannya ke telinga.

"Halo... Assalamu'alaikum, Mas," sapa Aura.

Di sebrang sana, suara tawa bariton Fadil yang renyah dan hangat langsung menyapa pendengarannya. "Wa'alaikumussalam, Sayang..."

Panggilan sayang itu sukses membuat aliran darah Aura berdesir hebat, pipinya kembali merona merah padam meskipun Fadil tidak melihatnya secara langsung.

"Udah bangun, hm?" tanya Fadil dengan nada suara yang terdengar begitu lembut dan memanjakan. "Tidur nyenyak?"

Aura menggigit bibir bawahnya, lalu melirik sekilas ke arah Mbok Nah yang tampak berpura-pura sibuk merapikan botol kecap di dekat kompor meski sudut bibirnya tersenyum lebar.

"I-iya, Mas... Sudah bangun," jawab Aura malu-malu. "Mas Fadil kenapa menelepon? Lagi sibuk di kantor, kan?"

"Menelpon istriku sendiri memangnya tidak boleh?" balas Fadil menggoda. "Aku hanya ingin memastikan kamu sudah bangun dan makan. Mbok Nah sudah menyiapkan supnya, kan?"

"Sudah... Ini aku sedang makan," sahut Aura. "Maaf ya, Mas... Aku kesiangan tadi, sampai jam sebelas..."

Fadil kembali terkekeh di ujung telepon. Suara tawanya terdengar begitu seksi dan menenangkan di telinga Aura. "Tidak perlu minta maaf, Aura. Aku tau kamu lelah sekali semalam... dan tadi pagi."

Blush! Wajah Aura terasa terbakar seketika. Keterlaluan, batin Aura, suaminya itu benar-benar sengaja mengungkitnya.

"Mas Fadil...!" protes Aura dengan nada manja yang tertahan.

"Iya, iya, aku tidak akan menggodamu lagi," ucap Fadil diiringi sisa tawanya. "Fokuslah makan dulu, ya. Nanti siang aku usahakan pulang lebih cepat. Ada hal penting yang ingin kubicarakan berdua denganmu."

"Hal penting apa, Mas?" tanya Aura penasaran.

"Rahasia. Nanti kamu juga tau," jawab Fadil misterius. "Sudah ya, lanjutkan makannya. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam..."

Sambungan telepon pum terputus. Aura menurunkan ponselnya perlahan, lalu menarik napas panjang untuk menetralkan debar jantungnya yang menggila, sementara bayangan wajah Fadil dan janji kepulangan pria itu di siang hari kini berputar-putar memenuhi benaknya.

"Kejutan apa ya?"

Aura kemudian menghabiskan sisa sup ayam dan meneguk jus jeruknya hingga kandas. Tubuhnya pun terasa jauh lebih segar dan bertenaga.

Setelah mengucapkan terima kasih pada Mbok Nah, Aura membantu merapikan meja sebelum beranjak kembali ke lantai atas.

Ia melangkah ke kamar mandi di kamarnya untuk memulas sedikit riasan tipis pada wajahnya. Semburat kemerahan alami di pipinya membuat penampilannya nampak begitu anggun dan berbinar.

Aura lalu memilih gaun kasual berwarna biru muda yang lembut, menata rambutnya dengan rapi, lalu turun kembali ke ruang tengah untuk menunggu kepulangan Fadil.

Tepat pukul 13.15 WIB, suara deru mesin mobil sedan hitam milik Fadil terdengar memasuki area garasi rumah. Aura yang sedang duduk di sofa ruang tengah seketika berdiri. Degup jantungnya kembali berpacu liar saat mendengar bunyi engsel pintu depan yang terbuka.

Fadil melangkah masuk dengan setelan kemeja kerja yang sedikit tergulung di pergelangan tangan, tanpa jas luar. Wajah tegapnya langsung berbinar begitu matanya menangkap sosok Aura yang berdiri menunggunya di dekat lorong.

"Assalamu'alaikum," sapa Fadil seraya mengikis jarak di antara mereka.

"Wa'alaikumussalam, Mas..." jawab Aura halus.

Sebelum Aura sempat mengulurkan tangan untuk menyalami suaminya, Fadil justru menarik tubuh mungil Aura ke dalam dekapannya. Pria itu mendaratkan kecupan hangat di dahi Aura, disusul kecupan singkat di bibir merah istrinya.

"Mmmh, Mas Fadil..." gertak Aura dengan wajah yang memerah, lalu melirik canggung ke arah lorong dapur kalau-kalau ada Mbok Nah.

Fadil pun terkekeh renyah, lalu melepaskan pinggang Aura namun tetap menggenggam erat jemari wanita itu. "Bagaimana kondisi badanmu? Masih pegal?"

"Mas... jangan ditanya di sini," bisik Aura malu-malu seraya menarik pelan tangannya, hingga membuat tawa Fadil kian terdengar bahagia.

"Baiklah, ayo ikut ke ruang kerja sebentar," ajak Fadil seraya menuntun Aura menuju ruangan di lantai bawah tempat momen manis mereka bermula.

Di dalam kamar kerja yang kini terasa hangat dan penuh kenangan, Fadil mengajak Aura duduk berdua di sofa kulit. Pria itu meraih sebuah map dokumen tebal berwarna coklat dari atas meja kerjanya lalu meletakkannya di pangkuan Aura.

Aura menatap map tersebut dengan kening yang berkerut halus. "Ini apa, Mas?"

"Buka saja," tutur Fadil.

Dengan jemari yang sedikit gemetar, Aura membuka segel map tersebut. Di dalamnya terdapat sertifikat kepemilikan atas sebuah bangunan komersial strategis dua lantai serta dokumen kerja sama penerbitan dan ruang kreatif yang atas namanya sendiri: Aura Pertiwi Wijaya.

Aura mendongak seketika, matanya membelalak tak percaya. "Mas... ini..."

"Aku tau menulis dan berkarya adalah impian besarmu yang sempat tertunda," potong Fadil seraya mengusap lembut pipi Aura. "Tempat itu milikmu. Sebuah Studio & Creative Space untukmu mengembangkan semua karya-karyamu tanpa ada yang membatasi lagi. Aku ingin kamu mengejar impianmu, Aura, dan aku yang akan menjadi pendukung utamamu di belakang."

Air mata keharuan langsung membendung di pelupuk mata Aura.

"Mas Fadil... terima kasih... terima kasih banyak," bisik Aura seraya menghambur ke pelukan Fadil yang lalu memeluknya dengan erat.

Bersambung...

1
𝐀⃝🥀Weny
semoga Keisya tau diri dan gak jahat ke Aura karena dapat perhatian dari Fadil 😏
Aurora: /Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/ suka suka suka...
total 15 replies
𝐀⃝🥀Weny
tuhkan.. beneran mencari Keysha... jangan sampai kamu menyesal dengan keputusanmu itu.. meskipun Aura bahagia kakaknya ketemu, tapi sebagai seorang istri yg gak dikasih tau dlm mengambil keputusan pasti juga sakit hati😏
Aurora: udah up lagi tuh kak...🤗
total 5 replies
𝐀⃝🥀Weny
kalau memang punya niatan untuk mencari Farah, diskusikan dulu dengan Aura ya.. supaya gak salah faham 😊
Aurora: Wkwkwk... sekangen itu juga sama cerita Aura ya 🤭🤗🤗😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya aura plong, sudah gak ada beban.. tinggal menata hatinya lagi, semoga Fadil tetap mempertahankan pernikahannya😊
Aurora: wkwkwkw...😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
katakanlah Aura, kebenaran yang terlalu lama kamu pendam sendiri akan membuat luka di kemudian hari...
Aurora: Betul betul betul...
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
nyamuknya besar banget Farah 🤣🤣🤣
Aurora: lah... kalau sampai di lahap habis dong Aura 🤣🤣🤣😅
total 3 replies
𝐀⃝🥀Weny
ceritanya bagus dan gak ngebosenin.. authornya juga asyik 🥰 semangat terus kak, jangan patah semangat untuk berkarya🤗 sukses slalu😊
𝐀⃝🥀Weny: sama² kak🥰🥰
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
orang tua kalau ngeliat keluarga anaknya bahagia jadi ikut senang.. gak seperti bayangannya karena sebelumnya Fadil sangat menolak pernikahan itu😊
Aurora: Makasihh kakak..🥰🥰🙏🙏
total 13 replies
sunaryati jarum
Tidak apa-apa Aura kamu bangun kesiangan kan sudah ada Mbok.Semoga bibit unggul Mas Fadil ada yang tumbuh,Ya.
Aurora: hehehe iya ya, semoga...🤗
total 1 replies
sunaryati jarum
Jadi candu dan move on dari Kesya ya Nak Fadil,semoga Kesya menemukan orang yg tulus mencintainya.Dan Ryan si pemerkosa dapat karmanya,siapun yang terlibat saat itu juga mendapat karmanya.Bahagia selalu Aura, Fadil,Kesya.dan Farhan mantan calon suami Aura.
sunaryati jarum
Pagi- pagi sudah sarapan Aura, mantaaap
𝐀⃝🥀Weny
walaah.. aku pikir kalau mau dikasih tiket untuk bulan madu🤦🤣🤣🤣🤣
Aurora: xixixixi... bulan madunya di rumah aja dulu, ydha cape itu juga 🫣🤭
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
kasihan auranya samapi kecapean kyk gitu.. gara² si Fadil, kyk orng kesurupan 🤣🤣
Aurora: hmmm... perdebatan batin yang bergelora tuh 😅😅
total 7 replies
Aurora
wkwkwkk... jangan bikin Fadil malu dong kak..🤣🤣🤣🤭
𝐀⃝🥀Weny
ciiiee... mas Fadil, sudah tau rasanya minta lagi dan lagi 🤣 tadinya aja gak mau sekamar sama aura😜
sunaryati jarum
Akhirnya terjadi penyatuan juga, selamat kalian sudah jadi suami istri seutuhnya
sunaryati jarum
Nah jadilah suami istri sesungguhnya, semoga Kesya entar tidak ingin merebut suami kamu, karena selama ini kalian hidup rukun dan saling menyayangi
sunaryati jarum
Mungkin Fadil makin lama makin nyaman , apalagi Aura sabar,patuh ,dan lebih muda kan
Aurora: yes, betul bangetttt 😅🤗
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
waaah... si Fadil pagi² dh menang banyak lagi tuuuh🤣🤣🤣
𝐀⃝🥀Weny: hadeeech🤦🤣🤣🤣
total 8 replies
𝐀⃝🥀Weny
akhirnya gol juga🤣🤣🤣
tapi authornya nyebelin, pagi² dah disuguhin kek gituan🤦 jadi panas dingin🤣🤣🤣
Aurora: wkwkwk bahaya ta🤭🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!