Tiga tahun menjadi istri Anugrah Pratama, Cynara hanya dianggap sebagai beban. Pernikahan mereka bahkan disembunyikan karena Anugrah mengaku lajang demi mendapatkan pekerjaan. Ketika Anugrah memilih membuka hati untuk perempuan lain, Cynara menyerah dan perceraian pun terjadi.
Dua bulan kemudian, Cynara mengetahui dirinya hamil.
Lima tahun berlalu. Cynara kembali sebagai pemimpin Narendra Group, bersama putranya, Naren. Takdir mempertemukannya kembali dengan Anugrah, kini menjadi seorang manajer di perusahaan besar. Namun, bukan Anugrah yang akan mengubah hidupnya.
Ada Alvin Mahendra, CEO dingin yang diam-diam menyimpan luka kehilangan istrinya.
Pertemuan mereka membuka kembali rahasia masa lalu yang seharusnya terkubur.
#anakrahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Datang Menjemput Restu
Setelah perjalanan panjang yang melelahkan, akhirnya kendaraan itu berhenti. Kali ini yang keluar dari pintu pengemudi bukan lah Alvin. Yang keluar adalah Wak Jumal, tetangga orang tua Cynara yang tadi jadi knek di mobil Pak Cik Cynara yang kebetulan membawa hasil kebun keluar dusun.
Cynara yang sejak tadi memandangi pemandangan dari balik kaca langsung menegakkan tubuh.
Matanya menyapu jalan kecil di hadapan mereka.
Beberapa rumah kayu berdiri berjajar dengan jarak yang tidak terlalu rapat. Pepohonan tumbuh di antara halaman rumah. Di kejauhan, perbukitan hijau tampak seperti dinding raksasa yang mengelilingi desa.
Cynara tersenyum. “Sudah sampai.” Cynara mengintip ke luar kendaraan, melihat tetangganya.
"Wak, makasi ya udah tolongi membawa mobil ini," ucapnya.
"Tidak apa, sekali-sekali orang rantau balek dusun, tentu lah kita bantu. Apalagi membawa kabar gembira," ucap pria paruh baya itu.
Alvin turun dari pintu samping pengemudi dengan meregangkan badan. Sendi-sendinya cukup terasa linu karena perjalanan dahsyat yang baru pertama kali ia alami.
"Makasi, Wak ..." ucap Alvin hendak memberi uang tips kepada pria itu.
"Ekhem ..." Cynara berdehem membuat Alvin menoleh pada calon istrinya itu.
Ia mendekat ke jendela mobil double cabin itu.
"Di sini, tak semua bisa kamu bayar, Mas. Bisa jadi mereka bisa tersinggung kalau ketulusan mereka hanya kamu hargai dengan materi."
Alvin menatap Wak Jumal tadi. Pria paruh baya itu mengangkat tangan hendak pamit.
"Sekali lagi terima kasih, Wak. Nanti mohon bantuan waktu keluar desa ya?" ucap Alvin, mencoba memberi senyum ramahnya.
"Jangan khawatir! Asal kamu memperlakukan anak-anak kami dengan baik, kami akan memberi seribu kebaikan lain kepadamu. Saya pulang dulu," ucapnya lagi dan berbalik kembali ke rumah.
Alvin mengangguk kaku dan menghela napas melihat kendaraan yang ia sewa. Tadinya mobil ini begitu gagah dan mengkilap. Sekarang, sudah dipenuhi bercak lumpur di setiap bagian.
'Sepertinya aku harus mengusulkan sesuatu ke pemerintah pusat untuk desa ini,' batinnya penuh rencana.
Lalu, ia mulai memperhatikan rumah-rumah sederhana di sekeliling mereka, kemudian menoleh kepada Cynara.
“Yang mana rumah orang tuamu?”
"Itu." Ia menunjuk sebuah rumah yang terlihat sangat sederhana.
Dindingnya terbuat dari papan yang sudah mulai kusam dimakan usia. Beberapa bagian halaman masih basah. Di samping rumah terdapat kebun kecil dengan tanaman yang tumbuh tidak beraturan.
“Ayo turun,” ujar Alvin.
Cynara mengangguk pelan. Ia segera membuka pintu. “Naren, Keanu, turun pelan-pelan.” Ia memegangi keduanya turun
Kedua anak itu turun dengan antusias.
“Ini rumah Mama?” tanya Naren.
Cynara tersenyum. “Iya. Ini rumah Mama waktu kecil.”
Keanu memandang ke sekeliling dengan rasa ingin tahu. “Rumahnya dari kayu?”
“Iya.” Cynara menggenggam kedua tangan anak itu. “Dulu Mama tinggal di sini.”
Alvin masih memandang rumah sederhana tersebut beberapa saat. Sungguh jauh berbeda dengan tempat tinggal yang ada di kota.
Namun, entah mengapa, kehangatan rumah itu begitu terasa.
Cynara berjalan mendekati pintu. Tangannya terangkat. Belum sempat mengetuk, pintu itu sudah terbuka.
Seorang lelaki tua berdiri di sana. Rambutnya telah memutih. Tubuhnya terlihat lebih kurus daripada yang Cynara ingat.
Keduanya saling menatap.
Untuk beberapa detik, lelaki itu seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Cynara?”
Suara itu membuat dada Cynara langsung sesak. “Bak…”
Lelaki tua itu membeku. Kemudian matanya memerah. “Cynara!”
Ia segera melangkah keluar. Cynara langsung memeluk ayahnya. Tangis yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah.
“Maaf, Bak…” Tangannya mencengkeram pakaian ayahnya. “Maaf Cynara lama tidak pulang.”
Ayahnya menggeleng. Tangannya mengusap kepala putrinya berkali-kali.
“Bak yang seharusnya meminta maaf.”
“Kenapa?”
“Bak tidak bisa berbuat apa-apa ketika kamu mengalami masalah dengan suamimu.”
Cynara terdiam.
Ayahnya menunduk. “Bak bahkan tidak tahu bagaimana harus membantumu di sana." Air mata lelaki tua itu jatuh begitu saja.
“Bak…”
“Maafkan Bak yang sudah gagal menjadi ayah untukmu?”
“Jangan berkata begitu.” Cynara memeluknya lebih erat. “Bak tidak pernah gagal. Bahkan Bak sudah mengeluarkan biaya yang besar untuk biaya kuliah Cynara di kota. Dan semua, sangat berguna, Bak."
Dari dalam rumah terdengar suara langkah tergesa-gesa. Seorang perempuan keluar sambil menyeka tangannya dengan kain.
Begitu melihat Cynara, wajahnya langsung berubah. “Cynara?”
“Mak…”
Perempuan itu langsung menangis. Ia memeluk putrinya begitu erat hingga Cynara hampir tidak bisa bernapas.
“Anakku…”
Tangis keduanya pecah di halaman rumah. “Kenapa tidak pernah pulang, Nak?”
“Maaf, Mak.”
“Mak pikir kamu sudah melupakan kami.”
“Tidak pernah.” Cynara mengusap punggung ibunya. “Cynara tidak akan pernah melupakan Bak dan Mak.”
Namun, beberapa saat kemudian, tatapan ibunya beralih. Ada dua anak kecil berdiri di sisi Cynara.
Wajah perempuan tua itu langsung berubah. “Ini…”
Cynara tersenyum sambil menarik kedua anak itu mendekat. “Andung dan Datuk kalian nih…” Ia menatap kedua putranya.
“Kenalkan Mak, Bak ... Yang ini Naren.”
Naren berdiri sedikit malu-malu bersembunyi di belakang ibunya.
Kemudian Cynara menunjuk Keanu. “Dan ini Keanu.”
Keanu ikut mengangguk. “Halo, Datuk ... Halo Andung...”
Perempuan tua itu menutup mulut. Air matanya kembali mengalir.
“Cucu Andung…” Ia berjongkok.
Kedua tangannya terbuka. “Naren… Keanu… sini sama Andung.”
Naren langsung menghampiri. Keanu mengikuti. Keduanya dipeluk bergantian.
Tangisan yang tadi disebabkan kesedihan kini bercampur dengan kebahagiaan. “Sudah besar ya cucu Andung…”
Andung mencium kepala Naren. Kemudian memeluk Keanu. “Andung pikir tidak akan pernah melihat kalian.”
Cynara hanya tersenyum sambil menyeka air matanya.
Di belakangnya, Alvin berdiri diam. Ia memperhatikan keluarga kecil itu. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Cynara yang tidak pernah muncul di kantor.
Bukan pemimpin Narendra Group. Bukan perempuan yang tenang ketika dihadapi masalah.
Melainkan seorang anak perempuan yang kembali menjadi kecil ketika berada di hadapan orang tuanya.
Cynara akhirnya menyadari Alvin yang masih berdiri di belakang. Ia menoleh mengulurkan tangannya. “Mas Alvin.”
Kedua orang tuanya ikut menoleh. Barulah mereka menyadari keberadaan pria tinggi itu.
Ayah Cynara mengerutkan kening. “Siapa ini?”
Cynara menarik napas. Ia merangkul lengan Alvin.
“Bapak, Ibuk…” Alvin melangkah maju. Kemudian menyalami mereka dengan sopan.
“Perkenalkan. Nama saya Alvin Mahendra.”
Kedua orang tua Cynara saling berpandangan.
“Alvin?” ulang ayahnya.
“Iya, Pak.”
Cynara hanya menatap dengan kedua tangan saling menggenggam. Tib-tiba, ada rasa takut yang menyelimuti hatinya. “Dia calon suami Cynara.”
Sunyi. Benar-benar sunyi. Ayah dan ibu Cynara menatap Alvin. Kemudian menatap putrinya.
“Calon suami?” tanya ibunya dengan suara bergetar.
Cynara mengangguk. “Cynara akan menikah lagi, kali ini dengannya.”
Ayahnya masih terlihat tidak percaya. “Jadi, kamu akan menikah lagi?” tanya lelaki tua dengan raut sedikit tak percaya
“Iya, Bak. Aku dan Mas Alvin, akan menikah. Keanu adalah anak Mas Alvi. Naren adalah anakku. Kami, sudah sama-sama sendiri. Dan, kami sudah memantapkan hati untuk menikah,” jawab Cynara pelan.
Wajah ayahnya kembali murung.
Namun Alvin justru melangkah maju. “Bapak, Ibuk.”
Keduanya calon mertua menatapnya.
“Saya datang untuk memohon restu, izinkan kami untuk menikah. Meski saya adalah orang kedua dalam hidupnya, saya sangat berharap menjadi yang terakhir hingga kami menutup usia.”
Ibu Cynara kembali menitikkan air mata. “Kenapa harus putri kami, Cynara?”
Alvin menatap perempuan di sampingnya.
“Karena ..." Alvin menatap Keanu, yang tak mau menjauh satu inci pun dari perempuan itu. "Karena dia yang terpilih.”
Jawaban sederhana itu membuat Cynara terdiam.
Alvin melanjutkan. “Saya tahu dia pernah mengalami pernikahan yang tidak mudah.”
“Tapi saya tidak ingin menjadikan masa lalu itu sebagai alasan untuk memperlakukannya berbeda.”
Tatapannya mantap.
“Saya ingin menikahinya secara resmi. Saya ingin semua keluarga mengetahui. Dan saya ingin Bapak dan Ibuk datang menyaksikan langsung pernikahan kami.”
Ayah Cynara menatapnya cukup lama. “Anak kami bukan perempuan sempurna.”
“Saya juga bukan laki-laki sempurna.” Jawaban Alvin membuat Cynara menoleh. Namun Alvin tetap tenang.
“Tapi saya akan berusaha menjadi suami yang baik untuknya.”
Ruangan kembali hening.
Hingga akhirnya ayah Cynara menghela napas. “Kalau begitu…”
Tatapannya beralih kepada putrinya. “Cynara, apa kamu yakin?”
Cynara menatap Alvin, dan Keanu yang kini menggandeng Naren. Kemudian ia mengangguk.
“Aku yakin, Bak.”
Ayahnya tersenyum kecil. “Kalau begitu, Bak tidak akan menghalangi.”
Seketika Alvin menghela napas lega. Ia telah mendapat restu dari orang terpenting dalam hidup Cynara. Dengan demikian, semua pasti akan lebih mudah.
Alvin mengangguk. “Alhamdulillah, Terima kasih, Bapak ... Ibuk...”
"Bak dan Mak," sela Cynara memperbaiki.
.
.
Beberapa hari kemudian, setelah semuanya dipersiapkan.
Alvin, Cynara dan kedua putra mereka, kembali ke kota dengan memboyong orang tua Cynara dan tiga adiknya.
Dan pada waktu yang telah direncakan, hari ini adalah hari pernikahan antara Alvin dan Cynara yang masih dirahasiakan.
Mereka semua sudah berkumpul di sebuah masjid besar tempat akad pernikahan akan dilangsungkan.
Hari itu, keluarga Alvin juga mulai berdatangan.
Kehadiran keluarga Cynara di tempat acara pernikahan ternyata tidak luput dari perhatian keluarga Anugrah.
Ibu Anugrah yang sejak tadi memperhatikan kedua orang tua Cynara langsung mengenali mereka.
“Bukankah itu orang tua Cynara?”
Danisha menoleh. Ia memperhatikan sepasang suami istri yang berdiri dengan pakaian sederhana. “Benar, Bu.”
Ibu Anugrah mendengus. "Kenapa mereka datang ke sini? Atau mungkin adikmu Anugrah sengaja mengundang mereka, biar mereka tahu, betapa tingginya derajat keluarga kita?"
*bersambung*
Seru nih apalagi kalau mereka bertiga kompak kerjasama, bikin Anugrah tidak berkutik😂
terimakasih sudah update mskipun kondisi tidak fit