Di benua Est, tujuh kerajaan hidup dalam keseimbangan rapuh. Selama ratusan tahun, tidak ada satu pun penguasa yang mampu menyatukan seluruh wilayah. Perang, perebutan takhta, dan dendam antarkerajaan telah menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zai_zuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 32, PERSAHABATAN
Kamar yang diberikan kepada mereka sederhana namun bersih, terletak di sayap timur istana, menghadap ke arah pegunungan yang selalu tertutup kabut. Setelah pintu tertutup, Arvin melepaskan ikatan di pergelangan tangannya dan duduk di tepi tempat tidur, menatap Zhoo dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kau tahu apa yang aku pikirkan?" tanyanya akhirnya.
"Kau pikir aku terlalu berisiko," jawab Zhoo sambil duduk di kursi dekat jendela. "Bahwa aku terlalu cepat, terlalu berani, atau terlalu bodoh."
"Bukan bodoh," ujar Arvin pelan. "Tapi kau berubah, Zhoo. Dulu kita hanya berdua, berjalan dari satu desa ke desa lain, berbagi roti kering dan bermimpi tentang tempat yang lebih baik. Sekarang? Kau berbicara dengan raja seolah kau setara dengan mereka. Kau berbicara tentang menyatukan benua — hal yang belum pernah dilakukan siapa pun dalam sejarah."
"Dan itulah sebabnya harus dilakukan," jawab Zhoo lembut namun tegas. "Karena tidak ada yang berani mencobanya."
"Tapi dengan harga berapa?" Arvin menatapnya tajam. "Lihat dirimu. Kau mulai menikmati rasa kekuasaan itu, bukan? Cara Kael menatapmu — kau menyukainya. Kau ingin orang takut padamu, menghormatimu, tunduk padamu."
Zhoo terdiam. Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari sekadar pedang. Ia memandang ke luar jendela, ke kabut yang terus bergerak tanpa arah.
"Aku tidak ingin ditakuti," katanya pelan. "Tapi aku butuh didengarkan. Dan di dunia ini, hanya kekuasaan yang membuat orang mau mendengarkan."
"Kau pikir begitu?" Arvin berdiri, suaranya meninggi. "Lalu apa yang terjadi ketika kau mendapatkannya? Ketika kau duduk di atas tujuh takhta? Siapa yang akan berdiri di sampingmu? Aku? Atau kau akan melihatku sebagai alat yang sudah tidak berguna lagi?"
"Arvin —"
"Jangan!" Arvin mengangkat tangan. "Jangan katakan hal yang tidak bisa kau janjikan. Aku mengenal manusia, Zhoo. Dan aku melihat apa yang terjadi pada setiap orang yang memegang kekuasaan. Mereka berubah. Mereka melupakan orang-orang yang ada di saat mereka belum punya apa-apa."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan, hanya terdengar angin yang berdesir melewati celah batu. Zhoo berdiri perlahan, berjalan mendekati sahabatnya itu.
"Arvin," ucapnya lembut. "Dari hari pertama kita bertemu, kau adalah satu-satunya orang yang aku percaya. Kau melihatku saat aku tidak punya apa-apa. Dan kau akan tetap melihatku apa pun yang terjadi. Jika aku berubah — katakan padaku. Jika aku salah — hentikan aku. Tapi jangan pernah berpikir bahwa kau tidak berarti bagiku."
Arvin menatapnya lama, napasnya masih memburu. Perlahan, ketegangan di bahunya mereda. "Kau terlalu berharap pada manusia, Zhoo. Termasuk dirimu sendiri."
"Mungkin," akui Zhoo. "Tapi tanpa harapan, apa yang tersisa?"
Malam itu, mereka tidur dalam diam. Namun di antara mereka, ada sesuatu yang bergeser — retakan halus yang belum terlihat, tapi sudah mulai memisahkan dua jalan yang dulu berjalan sejajar.
Hari kedua di Kael-Vor. Zhoo berjalan menyusuri lorong-lorong batu istana. Ia tidak hanya berjalan — ia mengamati. Cara prajurit berjalan, cara pelayan menunduk, cara cahaya obor jatuh di dinding. Setiap detail menceritakan sesuatu tentang kerajaan ini.
Saat berbelok di sebuah lorong yang sepi, ia mendengar suara percakapan dari balik pintu yang sedikit terbuka. Suara itu rendah, namun jelas terdengar di keheningan lorong.
"...tidak bisa menunggu lebih lama lagi," suara seorang wanita — tajam dan penuh desakan. "Jika dia tetap menolak bersekutu dengan Vereon, dia akan menyesal. Dan kita semua akan binasa bersama kesombongannya."