Hutang budi membuat Pria setengah baya itu lupa pada gadis belia yang dulu menolongnya saat pingsan dalam melaksanakan tugas. Bertahun-tahun ia mencari, hingga akhirnya ia menemukan gadis itu dan menjodohkannya dengan 'putranya', Letnan Julang Wengkar (Elang), perwira muda yang gagah, berani, dan namanya di kenal kemiliteran.
Namun takdir punya jalan yang tak terduga. Di balik kesediaan gadis itu menerima perjodohan, tersimpan rahasia yang selama ini ia pendam dalam diam.. Hatinya bukan untuk Elang. Ia justru mencintai Letnan Dante, sahabat Elang sendiri.. Juga 'putra' dari mendiang sahabat Pak Riegan semasa muda dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Gadis menyebalkan.
"Serius??? Mati????"
"Kau kira ayam??? Mati segala???" Wajah Shanli sampai tertekuk kesal. "Pikir bagaimana caranya kita bisa lolos dari sini..!! Apa kau mau kita masuk penjara??"
"Gimana doonnkkk.." Cherry kelabakan, hatinya juga resah ketakutan.
"Kabur yuk..!!! Kita jangan sampai nampang. Kalau kita ketangkap, nanti kita jadi viral." Ajak Shanli.
"Bukannya kita mau viral???" Tanya Cherry.
"Viral karena prestasi donk, Cherry..!!!!!"
"Oiyaa ya. Kalau kita seperti ini, kita macam kriminal." Jawab Cherry.
//
Bang Dante tersadar dari pingsannya. Ia mengerjapkan mata, menatap ke arah sekitar.
"Awwhh.. Sh*t.. Sakit sekali." Bang Dante mengurut pelipisnya, wajahnya memercing merasakan nyeri di sekitar perutnya.
"Hidup juga kau, Bro." Bang Sabrang langsung menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.
Beberapa saat kemudian dokter datang untuk memeriksa tanda vital Letnan Dante.
:
"Secara keseluruhan, semua berjalan baik dan sebagainya mestinya. Kondisi fisik Letnan Dante sangat bagus hingga tubuhnya merespon obat yang di berikan dengan cepat." Kata dokter menjelaskan pada Pak Riegan sebagai Komandan sekaligus 'orang tua' dari Letnan Dante.
"Alhamdulillah.. Lalu bagaimana pasien di kamar sebelah?? Kinan namanya." Tanya Pak Riegan.
"Beliau juga sehat, sudah sadar, tadi ada kawannya yang menemani. Tapi, apakah ada penanggung jawab beliau yang lebih tua?" Balas dokter karena sejak tadi tidak ada yang mendampingi Cherry.
"Beliau sudah tidak punya orang tua, yang selalu bersamanya itu adalah sahabatnya satu panti. Setau saya, mereka selalu bersama." Jawab Pak Riegan.
"Bagai t*i dan pan*at." Celetuk Bang Dante saat baru saja sadar.
Pak Riegan menoleh, memang 'putranya' yang satu itu jarang bisa berkata lembut. Apa yang ada di dalam otaknya terlepas begitu saja mengiringi bibirnya.
"Kau ini, baru juga sadar. Bicaralah yang baik-baik..!!" Tegur Pak Riegan layaknya seorang ayah.
"Mulutnya belum pernah di tabok perempuan, Dan." Kata Bang Sabrang.
"Tau nih, asal jeplak aja." Imbuh Bang Elang.
"Kalian temani Dante dulu, saya mau lihat keadaan Kinan. Kasihan gadis lemah lembut begitu harus menjalani hidup sendiri."
"Oohh.. Maaf Pak, perawat akan membawa Pak Dante ke ruang pemeriksaan khusus. Setelah selesai pemeriksaan, Pak Dante boleh pindah ke ruang pemulihan." Arahan dari dokter.
"Ayah ke ruang sebelah saja, aku yang tangani Dante." Kata Bang Elang.
//
"Ayooo.. Panjat temboknya..!!!" Ajak Cherry sudah nyaris melompati pagar tembok rumah sakit setinggi empat meter. Tangannya sudah mencapai puncak batas pagar.
"Kau yakin itu aman???" Tanya Shanli.
"Aman, kita sedang di rumah sakit. Masalah patah tulang pun di tangani. Masa tidak aman??? Pakai logikamu..!!"
Tanpa menoleh kanan kiri, kaki Cherry menendang kesana kemari berusaha untuk naik ke atas tembok.
Tak ingin juga membuang waktu lama, Shanli ikut melompat di samping Cherry dan susah payah menaklukan dinding tersebut.
Siapa sangka saat itu Cherry melompat dan mendarat pada taman samping rumah sakit, tepat saat Letnan Sabrang mendorong kursi roda Bang Dante hingga dirinya jatuh terguling menyerusuk di semak-semak.
Sial pun terjadi pada Bang Elang, saat ia menoleh, seorang gadis melompat dan menubruknya dari atas. Keduanya juga terperosok masuk ke semak-semak.
"Lailaha ilallah, Allahu Akbar..!!" Pekik Bang Dante menggelinjang kesakitan. Matanya mengerjab merasakan nyeri yang lebih nyeri dari sebelumnya.
Di atas pahanya, Cherry berusaha keras mengumpulkan kesadaran dengan wajah tanpa dosa.
"Kau lagi????" Bentak Bang Dante.
:
Bang Dante meringis sambil sesekali menggigit bibirnya. Luka sobek di pinggangnya harus mendapatkan perawatan ulang.
"Sebenarnya kalian mau apa??? Mau kemana???" Tegur keras Bang Elang, pelipis nya ikut di tambal karena terkena ranting kayu.
"Kenapa kalian selalu mau tau urusan kami. Kami berdua tidak pernah mau tau apa yang kalian lakukan disini." Sergah Cherry.
"Coba buka mulutmu lagi..!!! Memang minta di lakban muter tuh mulut." Omel Bang Dante.
"Ijin, Ndan. Jadi mau di bagaimanakan dua ayam warna warni ini??" Tanya Prada Bono.
"Si Cherry biar satu kamar sama saya. Kalau antek-antek nya.. Terserah..!!" Perintah Bang Dante.
"Laaaahhhh........" Bang Elang mulai buka suara.
"Maksudku, biar kau juga gampang mengawasinya, mereka ini berkasus. Lagian saya luka begini, mana mungkin mau macam-macam sama calonmu." Sambar Bang Dante.
"Ya sudah, biar yang satu ini saya tenteng keluar." Ujar Bang Elang tidak ingin lagi banyak pikir. Kamar VIP itu juga terjaga sangat ketat.
"Nggak mau, aku mau disini..!!" Shanli melipat kedua tangan di depan dada, menolak di pisahkan dari Cherry.
"Ya Allah Ya Rabb.. Kalian ini terbuat dari apa sih?? Susah sekali di ajak bicara." Kata Bang Elang.
"Sudahlah, Lang. Hantam saja tengkuknya. Banting seret ke halaman belakang, ikat..!!!!" Ide Bang Dante.
"Kalian ini kenapa jadi begini??? Ini hanya perempuan lemah." Cegah Bang Sabrang.
"Gigi mu, Braaang???? Mulutnya aja ngoceh terus, rasanya pengen ku sumpal." Jawab Bang Dante geram.
Benar saja, Cherry langsung bereaksi dan hendak menendang. Tapi saat itu Pak Riegan masuk, wajah Cherry dan Shanli seketika berubah pias.
"Ada apa ini????" Tegur Pak Riegan.
"Paak.. Kami di bully dua om-om ini. Apa karena kami anak yatim, kami bisa di perlakukan seperti ini??" Tanya Cherry memelas.
Ekor mata Pak Riegan memelototi ketiga perwira secara bergantian. "Apa-apaan kalian ini?? Begitukah cara ayah mengajari kalian?? Menindas wanita lemah."
"Ini lagi... Lemah darimana nya????????" Gumam Bang Dante rasanya ingin mengajak dua gadis itu berkelahi, terutama si cantik Cherry. "Dia lompat dari tembok, menubruk saya seperti anak lutung begitu, masa di bilang lemah. Hampir mati dua kali saya di buatnya."
.
.
.
.
lanjut mba Nara
Tokoh ceritanya mba Nara...pria² yg bertanggungjawab👍
lanjut mba nara👍
mba Nara, ngasih bawangnya banyak bgt🥹🥹
huaaa...ga rela klo pada pisah😭
lanjut mba Nara🥰
itu lg si vivian...melu² ngobong blarak....adeeehhh koq yo ora kapok... njaluk dijak gelud ae iki
lanjut mba nara